situasi terkini korut dan as
Asia

Korea Utara Ancam Batalkan Pertemuan dengan Trump

Jet tempur F-22 Raptor AS lepas landas dari pangkalan udara di Gwangju, 329 kilometer selatan Seoul, Korea Selatan, pada awal bulan ini. Pesawat tempur AS sedang melakukan latihan bersama dengan sekutu Korea Selatan. (Foto: Yonhap/EPA)
Home » Featured » Asia » Korea Utara Ancam Batalkan Pertemuan dengan Trump

Korea Utara menyatakan tak tertarik melakukan pertemuan dengan Amerika,  jika itu didasarkan pada tuntutan “satu pihak” untuk menyerahkan semua senjata nuklirnya. Negara tersebut menolak ‘denuklirisasi gaya Libya’ yang diterapkan Washington untuk melumpuhkan pemimpin Libya Muammar Gaddafi. Pernyataan itu mengemuka setelah Korea Utara membatalkan pertemuan dengan para pejabat Korea Selatan, sebagai protes atas latihan militer gabungan AS-Korsel.

    Baca juga: Rencana Penutupan Situs Nuklir Korea Utara Mendapat Berbagai Reaksi

Oleh: Julian Borger, Justin McCurry (The Guardian)

Korea Utara telah secara tiba-tiba membatalkan perundingan tingkat tinggi dengan Seoul, dan mengancam akan keluar dari pertemuan puncak yang direncanakan bersama Donald Trump, jika Amerika Serikat (AS) terus mendesak rezim tersebut untuk menyerahkan semua senjata nuklirnya.

Seorang pejabat Korea Utara mengatakan bahwa negara itu tidak tertarik dengan pertemuan puncak dengan AS, jika itu didasarkan pada tuntutan “satu pihak” untuk menyerahkan senjata nuklir, menurut media pemerintah.

Mengutip Wakil Menteri Luar Negeri Pertama Kim Kye Gwan, kantor berita sentral Korea Utara juga mengatakan bahwa nasib pertemuan puncak serta hubungan bilateral dengan AS “akan menjadi jelas,” jika Washington berbicara tentang denuklirisasi gaya Libya untuk Korea Utara.

Pernyataan itu menambahkan, bahwa Trump akan tetap menjadi “presiden gagal” jika dia mengikuti langkah para pendahulunya.

“Kami akan secara sesuai menanggapi pemerintahan Trump, jika AS mendekati pertemuan puncak Korea Utara-AS dengan maksud yang jujur untuk meningkatkan hubungan,” kata Kim.

Dia menambahkan: “Tapi kami tidak lagi tertarik pada sebuah negosiasi yang akan menyudutkan kami, dan membuat permintaan sepihak bagi kami untuk melepaskan nuklir kami, dan ini akan memaksa kami untuk mempertimbangkan kembali apakah kami akan menerima pertemuan puncak Korea Utara-AS.”

Pernyataan itu mengemuka setelah Korea Utara membatalkan pertemuan dengan para pejabat Korea Selatan, hanya dua jam sebelum pertemuan dijadwalkan dimulai pada Rabu (16/5), sebagai protes terhadap latihan gabungan militer AS-Korea Selatan, dengan nama sandi Max Thunder.

Latihan tersebut—yang dimulai pada Jumat (11/5)—melibatkan sekitar 100 pesawat tempur dari AS dan Korea Selatan, termasuk delapan pesawat tempur siluman F-22 dan sejumlah pesawat pengebom B-52.

Kantor berita Yonhap mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya, yang mengatakan bahwa sebuah pesawat pengebom B-52—yang belum bergabung dalam latihan tersebut—mungkin tidak berpartisipasi, dalam apa yang dapat ditafsirkan sebagai konsesi untuk Pyongyang.

Namun, Kementerian Pertahanan Korea Selatan mengatakan bahwa latihan akan dilanjutkan, dengan mengatakan bahwa latihan itu hanyalah bentuk pertahanan diri, dan dirancang untuk membantu para pilot untuk meningkatkan keterampilan mereka.

Max Thunder adalah salah satu dari beberapa latihan tahunan yang melibatkan militer AS dan Korea Selatan, yang secara rutin dikecam oleh Korea Utara sebagai persiapan untuk invasi.

Menteri Pertahanan Korea Selatan, Song Young-moo, akan mengadakan pertemuan darurat dengan Jenderal Vincent Brooks, Komandan Pasukan AS Korea, untuk membahas tanggapan sekutu terhadap protes Korea Utara.

Bagi Korea Utara, kehadiran pesawat pengebom dalam latihan gabungan AS-Korea Selatan memicu kenangan menyakitkan dari perang Korea 1950-1953.

Menurut perkiraan angkatan udara AS, serangan bom oleh B-29 AS menyebabkan lebih banyak kerusakan pada pusat perkotaan Korea Utara selama konflik itu, daripada yang terlihat di Jerman atau Jepang selama perang dunia kedua, di mana AS menjatuhkan 635 ribu ton bom di Korea, dibandingkan dengan 503 ribu ton selama perang Pasifik.

Baik Tae-hyun—Juru Bicara Kementerian Unifikasi Korea Selatan—menggambarkan bahwa keputusan Pyongyang sangat “disesalkan”, dan mengatakan bahwa itu bertentangan dengan “semangat dan tujuan” dari deklarasi Panmunjom yang disetujui oleh Kim dan Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in, pada bulan lalu.

Baik mendesak Korea Utara untuk segera kembali ke perundingan, tetapi tidak akan berspekulasi mengenai apakah langkah Korea Utara akan mempengaruhi pertemuan bulan depan yang direncanakan antara Kim dan Trump.

KCNA mengatakan bahwa strategi tersebut mewakili “tantangan yang mencolok” terhadap deklarasi bersama oleh Kim dan Moon pada pertemuan puncak di “desa gencatan senjata” Panmunjom, pada garis pemisah antara negara mereka pada bulan April.

Kedua pemimpin tersebut sepakat untuk sepenuhnya “menghentikan semua tindakan bermusuhan satu sama lain di setiap wilayah, termasuk tanah, udara, dan laut, yang merupakan sumber ketegangan dan konflik militer”.

Juru bicara Departemen Luar Negeri, Heather Nauert, mengatakan bahwa AS belum mendengar langsung dari Korea Utara tentang adanya pertimbangan ulang.

“Apa yang harus kita lakukan adalah apa yang Kim Jong-un katakan sebelumnya, bahwa dia memahami dan menghargai pentingnya bagi Amerika Serikat untuk melakukan latihan gabungan ini,” kata Nauert. “Kami tidak mendapatkan pemberitahuan formal atau informal tentang apa pun.”

“Kami akan terus merencanakan pertemuan tersebut.”

Kim Hyun-wook, seorang profesor di akademi diplomatik nasional Korea di Seoul, mengatakan: “Korea Utara tahu bahwa membatalkan pertemuan (Trump-Kim) tidak akan baik untuk kepentingannya sendiri, dan tidak baik untuk kepentingan AS juga. Tetapi rezim Korea Utara tidak dapat menerima tuntutan AS untuk denuklirisasi tanpa terlebih dahulu menerima jaminan tentang keamanannya. Mari kita lihat apa yang dilakukan Trump tentang ini.”

    Baca juga: Opini: Presiden Trump, Jangan Jatuh ke dalam Perangkap Korea Utara

Dalam keluhannya tentang latihan tersebut, rezim Pyongyang menggambarkannya sebagai permainan perang ofensif yang menargetkan Korea Utara. Seorang juru bicara Pentagon, Kolonel Rob Manning, mengatakan bahwa latihan tersebut bersifat defensif.

Para pejabat AS dan Korea Selatan sebelumnya mengatakan bahwa Korea Utara akan menerima latihan militer gabungan menjelang pertemuan puncak Trump.

Pertemuan puncak Panmunjom seharusnya diikuti oleh pertemuan para pejabat senior dari kedua Korea pada Rabu (16/5), untuk melaksanakan deklarasi yang disepakati oleh Moon dan Kim. Agenda itu mencakup isu-isu seperti akhir resmi perang Korea, denuklirisasi, dan reuni keluarga yang dipisahkan oleh konflik 1950-1953.

“Korea Utara tahu bagaimana membuat ancaman tegas. Dalam standar mereka, ini cukup berhati-hati,” kata Adam Mount, seorang rekan senior di Federasi Ilmuwan Amerika. “Ini bisa menjadi permainan untuk pengaruh tambahan, atau untuk melihat bagaimana reaksi tim Trump.”

Mintaro Oba, seorang mantan ahli Departemen Luar Negeri Korea, mengatakan dalam sebuah tweet:

“Pertanyaannya adalah apakah mereka bersedia untuk melangkah lebih jauh, atau apakah mereka terutama mencoba untuk mendapatkan beberapa pengaruh (dan) menguji seberapa besar kami menginginkan pertemuan puncak tersebut.”

Sementara itu, foto-foto satelit menunjukkan bahwa para pemimpin Korea Utara sejauh ini telah menepati janjinya untuk membongkar tempat uji coba nuklirnya di Punggye-ri.

Gambar-gambar yang diterbitkan oleh 38 North—sebuah situs web yang menganalisis masalah Korea—menunjukkan bahwa beberapa bangunan di sekitar situs gunung tersebut telah dihancurkan dalam beberapa hari terakhir.

Keterangan foto utama: Jet tempur F-22 Raptor AS lepas landas dari pangkalan udara di Gwangju, 329 kilometer selatan Seoul, Korea Selatan, pada awal bulan ini. Pesawat tempur AS sedang melakukan latihan bersama dengan sekutu Korea Selatan. (Foto: Yonhap/EPA)

Korea Utara Ancam Batalkan Pertemuan dengan Trump

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top