korea utara
Global

Korea Utara ‘Sangat Marah’ pada Amerika Serikat

Korea Utara ‘Sangat Marah’ pada Amerika Serikat

Presiden Donald Trump mengatakan, pembicaraan dengan Korea Utara berlangsung dengan baik. Namun, sumber-sumber di lapangan memberikan gambaran yang jauh berbeda. Beberapa permasalahan terus muncul dan kini, Korea Utara “sangat marah” kepada Amerika Serikat.

Baca Juga: Pompeo: ‘Korea Utara Sepakat Izinkan Pengawas ke Situs Uji Nuklir’

Oleh: Nicole Gaouette, Michelle Kosinski dan Barbara Starr (CNN)

Korea Utara semakin marah kepada Amerika Serikat, seiring pembicaraan mengalami kebuntuan dan tekanan di antara kedua negara itu meningkat, seorang sumber yagn akrab dengan diskusi itu mengatakan pada CNN.

Sumber-sumber dari Amerika dan luar negeri yang dekat dengan pembicaraan itu memberikan gambaran perbedaan yang mencolok dari citra yang berusaha ditampilkan Presiden Donald Trump pada hari Rabu (7/11), ketika ia mengatakan pada para wartawan bahwa administrasinya “sangat senang dengan bagaimana hal itu berlangsung dengan Korea Utara. Kami rasa semuanya akan baik-baik saja.”

Trump telah ditanya tentang pengumuman administrasinya, di tengah malam seiring hasil dari pemilihan paruh waktu mulai masuk, bahwa pertemuan hari Selasa Menteri Luar Negeri Mike Pompeo dengan asisten kunci Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un telah ditunda.

“Kami sangat senang dengan bagaimana keadaan berlangsung dengan Korea Utara. Kami rasa semuanya akan baik-baik saja. Kami tidak terburu-buru. Kami tidak tergesa-gesa,” ujar Trump kepada para wartawan dalam sebuah konferensi pers Gedung Putih. “Sanksi-sanksi diterapkan. Misil-misil telah berhenti. Rudal telah berhenti. Para sandera telah pulang. Pahlawan-pahlawan hebat telah pulang.”

‘Sebuah Kebuntuan’

Namun pejabat militer Amerika Serikat, diplomat-diplomat asing, dan sumber-sumber yang akrab dengan perkembangan mengatakan, kedua pihak terkunci dalam kebuntuan tentang siapa yang harus lebih dulu melakukan konsesi, bahwa orang-orang dari Republik Rakyat Demokratik Korea (Democratic People of Republic Korea (DPRK)-nama resmi Korea Utara) “sangat marah” atas penolakan Amerika untuk menawarkan pelonggaran sanksi dan gesekan pribadi antara perunding Amerika dan Korea Utara bisa jadi memperlambat proses.

Baca Juga: Surat untuk Perwakilan AS di Korea Utara: Misi Anda Menghindari Neraka Nuklir

“Hal itu tidak terlihat baik untuk negosiasi, yang memang sudah berlangsung tidak lancar,” ujar Bruce Klingner, rekan senior di Heritage Foundation.

Mantan wakil ketua divisi CIA untuk Korea, Klingner menunjukkan ancaman terbaru Korea Utara untuk memulai kembali “membangun kekuatan nuklir” jika Amerika tidak meringankan sanksi, fakta bahwa Pyongyang belum lagi bertemu dengan Perwakilan Khusus Pompeo untuk Korea Utara, Stephen Biegun, dan bahwa kedua negara masih belum menyetujui artian dasar dari istilah “denuklirisasi”—lima bulan setelah KTT bersejarah Trump dengan Kim.

“Jelas bahwa kedua pihak masih terpisah sangat jauh,” tambah Klingner.

Seorang sumber yang akrab dengan langkah-langkah yang sedang dilakukan oleh para pejabat di Washington dan Pyongyang mengatakan, Korea Utara “mulai sangat marah” atas kurangnya penawaran keringanan sanksi dari Amerika dan bahwa posisi mereka adalah Amerika “harus mengambil langkah sebelum kami membuat langkah lain.”

Media resmi Korea Utara KCNA mengatakan pada tanggal 2 November: “Kami memberikan segalanya yang mungkin kepada Amerika, hal-hal yang hampir tidak layak didapatkan, dengan mengambil tindakan proaktif dan berniat baik, apa yang tertinggal untuk dilakukan adalah balasan korespondensi Amerika. Kecuali jika ada jawaban DPRK tidak akan bergerak 1 mm pun, tidak peduli seberapapun besar biayanya.”

Amerika telah menunda dan membatalkan latihan militer dengan Korea Selatan atas dasar kepentingan diplomasi. dan Kepala dari Ketua Gabungan Jenderal Jospeh Dunford mengisyaratkan pada Senin (5/11) bahwa jika ada progres dalam pembicaraan AS-Korea Utara, hal itu bsia berujung pada potensi perubahan dalam kehadiran militer AS di semenanjung Korea, di mana 28.500 tentara sekarang ditempatkan—tujuang jangka panjang untuk Pyongyang.

“Sejujurnya semakin sukses kita dalam jalur diplomasi semakin tidak nyaman kita dalam lingkup militer,” ujar Dunford pada sebuah acara di Duke University, “karena seiring waktu, negosiasi ini akan mengambil bentuk dimana kami harus mulai membuat perubahan dalam postur militer di semenanjung dan kami siap melakukan hal itu untuk mendukung Menteri Pompeo.”

Analis militer dan diplomatik CNN, John Kirby mencatat bahwa Dunford “berusaha untuk berkaca dari fakta-fakta dasar bahwa postur kekuatan militer AS di semenanjung adalah penyebab ketegangan sekaligus hasilnya. Hal itu diperlukan karena memang diperlukan, bukan karena mereka memang selalu ada di sana.”

“Dan memang, militer memang peranan kunci dalam proses diplomasi, sebagai benteng dan alat tawar-menawar,” tekan Kirby. “Seandainya Dunford tidak mengakui akan ada perubahan dalam bentuk kekuatan militer sebagai hasil dari pembicaraan yang sukses, dia sama saja dengan mengutuk pembicaraan itu akan gagal.”

‘Sebagian besar dipermukaan’

Sementara Korea Utara mengklaim mereka telah mengambil langkah-langkah menuju denuklirisasi, pakar-pakar mengatakan pergerakan itu sebagian besar hanya dipermukaan dan dengan mudah bisa dikembalikan.

Baca Juga: Korea Selatan Terus Memikat Rezim Kim Bahkan Ketika Amerika Menjauh

Rezim Kim telah menutup sebuah fasilitas uji coba nuklir; menghancurkan pintu masuk ke situs nuklirnya; dan berjanji untuk menutup fasilitas nuklir Yongbyon, tempat Korea Utara diyakini memproduksi material fisi nuklir untuk senjata nuklir, jika Washington melakukan apa yang mereka sebut sebagai “tindakan korespondensi/balasan.”

“Telah ada pergeseran dari pendekatan administrasi sebelumnya kepada Korea Utara dalam urusan ‘kami akan memberimu sedikit jika kamu juga memberi kami sedikit’ … sejenis timbal-balik…kami belum melihat hal itu berhasil di masa lalu, jadi Presiden menekankan untuk melanjutkan kampanye penekanan total sampai dia mendapatkan denuklirisasi total,” ujar seorang pejabat Amerika kepada CNN.

Pejabat itu menambahkan, salah satu kekhawatiran saat ini adalah memastikan negara-negara lain dan terutama Korea Selatan, mempertahankan tekanan penuh kepada Pyongyang. “Saya rasa ada kekhawatiran bahwa Korea Selatan mengabaikan hal itu,” ujarnya.

Hal itu adalah masalah, tidak hanya karena KTT Trump membuka pintu dunia bagi pemimpin dunia yang lain untuk bertemu dengan orang-orang Korea Utara, mengikis isolasi diplomatik Pyongyang, namun Korea Selatan, bersama China dan Rusia, telah menekan Amerika untuk meringankan sanksi terhadap DPRK.

Sementara itu, ancaman Pyongyang pada akhir pekan, untuk memulai kembali program nuklir juga meningkatkan ketegangan, menurut sumber-sumber yang akrab dengan perseteruan antara Amerika dan Korea Utara. Mereka juga mengatakan, friksi pribadi antara para perunding dari kedua negara telah menjadi masalah.

Pihak Amerika memandang jenderal Korea Utara yang bertugas memimpin negosiasi, Kim Yong Chol, sebagai sosok “yang sulit dan kuno” dalam negosiasi dan akan lebih memilih untuk bekerja sama dengan orang lain.

Seorang pejabat departemen pertahanan mengatakan pada CNN, bagian dari masalah adalah bahwa dari sudut pandang Amerika, Kim Yong Chol tetap seorang garis keras dan mungkin akan menjadi lebih sulit untuk dihadapi Amerika.

Pada hari Rabu, juru bicara Departemen Luar Negeri Robert Palladino mengklaim bahwa dibatalkannya pertemuan antara Mike Pompeo dan Kim Yong Chol hanya “masalah jadwal.”

“Hal ini benar-benar hanya masalah jadwal,” ujar Palladino berulang-ulang ketika ditanya tentang penundaan itu pada pegarahan pers di hari Rabu. “Jadwal berubah,” ujarnya. “Bahkan, jadwal berubah setiap saat.”

‘Awal Tahun Depan’

Ditekan oleh wartawan tentang apakah pembicaraan dengan Pyongyang akan mencapai kebuntuan karena permintaan yang berbeda baik dari Washington maupun Pyongyang, Palladino mengatakan pembicaraan itu “berada di posisi yang baik” dan penjadwalan pertemuan tidak akan diarahkan oleh “lini waktu artifisial,” dan bahwa kedua pihak “akan terus membuat progres.”

Wakil juru bicara mengatakan, Departemen Luar Negeri percaya bahwa para penyidik akan diizinkan untuk memeriksa fasilitas nuklir Korea Utara.

Dua pejabat senior departemen pertahanan mengatakan, pengamatan Washington melihat bahwa Kim tetap memiliki tujuan ke arah denuklirisasi, namun beberapa keterlambantan disebabkan karena dia perlu menarik kelompok “elitnya” bergabung.

Para pejabat ini mengatkan, hal ini terus menjadi permasalahan bagi pemimpin Korea Utara itu, yang mungkin berhubungan dengan kesabaran publik Trump. Para pejabat ini juga mengatakan bahwa Korea Utara kemungkinan akan membuat deklarasi denuklirisasi pendahuluan yang bisa jadi tidak akurat atau jujur, namun Amerika rasa mereka bisa berkelit dari hal itu.

Trump juga mengatakan, dia akan bertemu dengan Kim “di satu waktu tahun depan, kira-kira awal tahun depan” dan mengatakan jadwal perjalanan Pompeo telah berubah karena “perjalanan-perjalanan yang sedang dilakukan. Kami akan menjadwalkannya lain waktu.”

Baik Dewan Keamanan Nasional maupun Departeman Luar Negeri tidak bisa memberikan penjelasan tentang perjalanan-perjalanan lain yang dimaksud Trump.

Jennifer Hansler, Jamie Crawford, Brian Todd, Zachary Cohen dan Joshua Berlinger berkontribusi untuk laporan ini.

Keterangan foto utama: Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un bertemu dalam sesi bilateral satu-lawan-satu pada awal pertemuan puncak mereka di Hotel Capella di pulau resor Sentosa, Singapura, pada tanggal 12 Juni 2018. (Foto: Reuters/Jonathan Ernst)

Korea Utara ‘Sangat Marah’ pada Amerika Serikat

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top