Apa yang Sebenarnya Diinginkan Kim Jong Un dari Presiden Trump?
Asia

Korea Utara Tolak Denuklirisasi ‘Gaya Libya’

Olah grafis foto Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dan Presiden Amerika Donald Trump. (Foto: CNN/Getty Images via GDP)
Home » Featured » Asia » Korea Utara Tolak Denuklirisasi ‘Gaya Libya’

Wakil Menteri Luar Negeri Korea Utara Kim Kye Gwan, mengatakan bahwa negaranya akan mempertimbangkan kembali pertemuan bersejarah tanggal 12 Juni, jika Amerika Serikat bersikeras agar Korea Utara menyerahkan senjata nuklirnya. Dia menekankan bahwa Pyongyang menolak denuklirisasi gaya Libya.

    Baca juga: Korea Utara Ancam Batalkan Pertemuan dengan Trump

Oleh: Nyshka Chandran (CNBC)

Korea Utara pada Rabu (16/5) memberikan ketidakpastian lebih lanjut dalam rencana pertemuan puncak yang sangat diantisipasi antara Pemimpin Kim Jong Un dan Presiden Donald Trump.

Dalam sebuah pernyataan yang disampaikan oleh kantor berita milik pemerintah KCNA, Wakil Menteri Luar Negeri Korea Utara Kim Kye Gwan, mengatakan bahwa negaranya akan mempertimbangkan kembali pertemuan bersejarah tanggal 12 Juni, jika Amerika Serikat (AS) bersikeras agar Pyongyang menyerahkan senjata nuklirnya.

Perkembangan ini adalah tanda terbaru dari kemungkinan kemunduran oleh Kim, setelah serangan karisma internasional pemimpin tersebut selama beberapa bulan lamanya, yang secara luas diharapkan akan menghapus ketegangan di Semenanjung Korea. Sebelumnya, negara itu membatalkan pembicaraan dengan Korea Selatan dan mengancam akan meninggalkan pertemuan tanggal 12 Juni, sebagai protes atas latihan militer gabungan antara Washington dan Seoul.

Berita pada Rabu (16/5) “adalah strategi klasik Korea Utara,” kata Sean King, wakil presiden senior di perusahaan konsultan Park Strategies.

Upaya perdamaian yang sedang berlangsung, yang meliputi pertemuan puncak Kim dengan Pemimpin Korea Selatan Moon Jae-In pada bulan lalu, mungkin “bergerak lebih cepat dari yang diperkirakan Korea Utara, dan ini adalah semacam alasan pasif-agresif mereka untuk keluar dari itu,” lanjutnya.

Tidak ada denuklirisasi gaya Libya

Baru-baru ini “pernyataan yang tidak terkendali” dari Washington sebelum pertemuan tanggal 12 Juni merupakan tanda-tanda perilaku “tidak adil,” Kim Kye Gwan menyatakan.

Secara khusus menyebut Penasihat Keamanan Nasional John Bolton, Menteri Korea Utara tersebut mengatakan bahwa para pejabat AS “membiarkan pernyataan lepas dari apa yang disebut model Libya terkait peninggalan senjata nuklir,” dan membahas formula untuk “meninggalkan senjata nuklir terlebih dulu, (dan) imbalan kemudian.”

Langkah tersebut bisa dibilang “sangat jahat,” untuk menjatuhkan kepada Pyongyang “nasib (yang sama seperti) Libya atau Irak, yang telah runtuh karena menyerahkan seluruh negara mereka kepada negara besar,” kata menteri itu, dan menekankan bahwa Pyongyang menolak denuklirisasi gaya Libya.

Libya secara sukarela menyerahkan ambisi nuklirnya pada tahun 2003, untuk keluar dari sanksi ekonomi. Diktator negara tersebut Moammar Gadhafi akhirnya digulingkan dalam kudeta yang didukung Barat dan dibunuh pada tahun 2011.

Pyongyang menganggap senjata nuklir sama pentingnya dengan pertumbuhan ekonomi, sehingga “tanpa nuklir sebagai pelindung—jika sewaktu-waktu Korea Utara ingin memaksa atau menyerang Korea Selatan lagi—Korea Utara benar-benar tidak memiliki jaminan untuk keluar,” menurut King.

Definisi yang berbeda dari istilah denuklirisasi dipandang sebagai hambatan utama untuk negosiasi.

Bagi AS, konsep tersebut mengharuskan Korea Utara menyerahkan seluruh persenjataan nuklirnya—tetapi Pyongyang mungkin setuju hanya jika persyaratan tertentu terpenuhi, para ahli memperingatkan. Prasyarat itu termasuk mengakhiri kehadiran militer Amerika di Korea Selatan, serta mengakhiri payung nuklir AS di wilayah tersebut.

    Baca juga: Tantangan Logistik Korea Utara dalam Pertemuan Trump-Kim di Singapura

Jika Kim menarik diri dari pertemuan tanggal 12 Juni, itu tidak akan menjadi contoh pertama di mana Pyongyang membalikkan komitmennya. Negara yang terisolasi itu telah menipu beberapa pemerintahan kepresidenan AS, yang masing-masingnya telah menyerahkan masalah Korea Utara ke pemerintahan berikutnya.

Di bawah kesepakatan tahun 1994 dengan pemerintahan Presiden Bill Clinton, Pyongyang berkomitmen untuk membekukan program senjata plutonium terlarang, tetapi pada tahun 2002, Korea Utara sekali lagi mulai mengoperasikan fasilitas nuklirnya.

Korea Utara tidak akan pernah menyetujui perdagangan ekonomi dengan AS sebagai imbalan untuk meninggalkan senjata nuklirnya, menurut Kim Kye Gwan, yang memperingatkan bahwa Trump “akan dicatat sebagai presiden yang lebih tragis dan tidak berhasil daripada pendahulunya,” jika ia mengikuti langkah-langkah pemimpin AS sebelumnya.

Keterangan foto utama: Olah grafis foto Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dan Presiden Amerika Donald Trump. (Foto: CNN/Getty Images via GDP)

Korea Utara Tolak Denuklirisasi ‘Gaya Libya’

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top