Perundingan Nuklir
Asia

Korea Utara Usir Warga Amerika di Tengah Perundingan Nuklir

Pria yang diidentifikasi sebagai Lawrence Bruce Byron, telah ditahan setelah menyeberang ke Korea Utara dari China pada tanggal 16 Oktober, kata kantor berita resmi KCNA. (Foto: AFP / Greg Baker)
Berita Internasional >> Korea Utara Usir Warga Amerika di Tengah Perundingan Nuklir

Di tengah perundingan nuklir, Korea Utara mengusir warga negara Amerika Serikat (AS) yang memasuki Korea Utara secara ilegal pada 16 Oktober lalu. Mengetahui hal itu, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo pun merasa lega, mengingat kasus ini dapat menghambat hubungan antara kedua negara tersebut. Langkah ini pun dilihat sebagai upaya Korea Utara untuk tetap melanjutkan dialog dengan AS.

Baca juga: Denuklirisasi Korea Utara: Siapa yang Sebenarnya Menipu?

Oleh: AFP/Channel NewsAsia

Korea Utara mengatakan pada Jumat (16/11), bahwa pihaknya telah mengusir seorang warga negara Amerika Serikat (AS) yang mencoba masuk ke dalam perundingan nuklir secara ilegal—sebuah penyelesaian kasus yang luar biasa cepat, di mana kasus ini dapat memperumit proses rekonsiliasi antara kedua negara.

Pria itu—yang diidentifikasi sebagai Lawrence Bruce Byron—telah ditahan setelah menyeberang ke Korea Utara dari China pada tanggal 16 Oktober, kata Kantor Berita Pusat Korea (KCNA).

“Ketika ditanya, dia mengatakan bahwa dia secara ilegal memasuki negara itu di bawah komando Badan Intelijen Pusat AS,” kata KCNA.

“Pihak berwenang yang relevan telah memutuskan untuk mengusirnya dari negara itu.”

Seorang pria dengan nama yang sama, ditangkap di Korea Selatan ketika mencoba menyelinap melewati perbatasan antar-Korea pada November tahun lalu.

Bryon—yang berusia 50-an dari Louisiana—kemudian dideportasi kembali ke Amerika Serikat.

Menteri Luar Negeri Mike Pompeo—yang telah melakukan perjalanan diplomatik sebanyak empat kali tahun ini ke Pyongyang—terdengar lega dengan penyelesaian kasus yang cepat.

“Amerika Serikat menghargai kerja sama Republik Rakyat Demokratik Korea dan Kedutaan Besar Swedia dalam memfasilitasi pembebasan seorang warga negara Amerika,” kata Pompeo, menggunakan nama resmi Korea Utara.

Swedia mewakili kepentingan AS di Korea Utara, karena tidak adanya hubungan diplomatik.

“Amerika Serikat berterima kasih atas dukungan berkelanjutan Swedia, negara pelindung kami di Korea Utara, atas pembelaannya atas nama warga Amerika,” kata Pompeo.

Opini: Inilah Alasan Sebenarnya Mengapa Kim Jong-un Ingin Akhiri Perang Korea

Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un mengadakan upacara penandatanganan pada akhir pertemuan puncak mereka di Hotel Capella di pulau resor Sentosa, Singapura, pada tanggal 12 Juni 2018. (Foto: Reuters/Jonathan Ernst)

AKSI CEPAT

Laporan media mengatakan bahwa Bryon mengatakan kepada para pejabat Korea Selatan, bahwa dia berusaha untuk memfasilitasi perundingan antara Korea Utara dan Amerika Serikat, meskipun dia adalah warga negara pribadi.

Sangat jarang bagi Korea Utara untuk membebaskan tahanan Amerika dengan begitu cepat.

“Sikap ini berarti Korea Utara ingin menjaga momentum untuk berdialog dengan AS,” kata Profesor Yang Moo-Jin dari Universitas Studi Korea Utara kepada AFP.

Dari jurnalis hingga misionaris, kebanyakan orang Amerika yang ditahan oleh Korea Utara telah dibebaskan setelah intervensi profil tinggi.

Rezim tertutup itu membebaskan tiga tahanan AS pada bulan Mei lalu, dengan isyarat niat baik yang jelas sebelum pertemuan puncak antara Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dan Presiden AS Donald Trump di Singapura.

Ketiga orang itu melakukan perjalanan pulang dengan Pompeo dan disambut oleh Trump ketika mereka tiba di pangkalan udara dekat Washington.

Tidak ada tahanan AS yang diketahui masih ditahan oleh negara komunis tersebut. Washington tahun lalu melarang warganya bepergian ke Korea Utara tanpa izin khusus—satu-satunya negara di mana terdapat pembatasan semacam itu.

Pembebasan terbaru itu juga terjadi setelah terdapat tuduhan baru bulan lalu, bahwa Otto Warmbier—seorang mahasiswa AS yang meninggal setelah ditahan di Korea Utara—disiksa dalam tahanan.

Pria berusia 22 tahun itu dipenjara di Korea Utara selama lebih dari satu tahun, dan dibebaskan dalam keadaan koma pada tahun 2017, tetapi meninggal tak lama setelah pulang ke rumah.

Baca juga: Pangkalan Rudal Korea Utara Lainnya Terungkap, KTT Kim-Trump Dipertanyakan

Sebuah laporan media AS baru-baru ini mengatakan, terdapat bukti baru bahwa dia dipukuli oleh rezim Korea Utara—tuduhan yang dibantah oleh rezim itu, yang mengatakan bahwa Warmbier mengalami botulisme dalam tahanan.

Pada pertemuan bersejarah di Singapura, Trump dan Kim menandatangani dokumen yang samar-samar tentang denuklirisasi di semenanjung itu.

Sejak saat itu, kemajuan terhambat seiring Washington dan Pyongyang berdebat tentang makna dokumen tersebut.

KCNA, sementara itu, melaporkan bahwa Kim telah mengawasi uji coba “senjata taktis ultramodern yang baru dikembangkan”.

Ini menandai laporan resmi pertama uji coba senjata oleh Korea Utara, sejak Korea Utara memulai proses diplomatik yang rumit dengan Washington.

Departemen Luar Negeri AS meremehkan pengumuman itu, dan mengatakan pihaknya “percaya” bahwa proses negosiasi tetap berada di jalurnya dengan Korea Utara.

Keterangan foto utama: Pria yang diidentifikasi sebagai Lawrence Bruce Byron, telah ditahan setelah menyeberang ke Korea Utara dari China pada tanggal 16 Oktober, kata kantor berita resmi KCNA. (Foto: AFP/Greg Baker)

Korea Utara Usir Warga Amerika di Tengah Perundingan Nuklir

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top