Amerika

Krisis Venezuela dalam 5 Grafik

Berita Internasional >> Krisis Venezuela dalam 5 Grafik

Venezuela sedang mengalami krisis, yang berawal dari ekonomi dan berujung di politik. Pemerintahan Nicolas Maduro telah membuat salah satu negara penghasil minyak terbesar itu merosot, memaksa jutaan orang mengungsi. Protes besar-besaran berusaha menggulingkan Maduro dan menempatkan Juan Guaido sebagai penerusnya. 

Baca Juga: Krisis Venezuela: Siapa, Mengapa, dan Apa Penyebabnya?

Oleh: Siobhán O’Grady, Chris Alcantara, dan Armand Emamdjomeh (The Washington Post)

Konsekuensi dari krisis ekonomi, kemanusiaan dan politik Venezuela sangat besar: Ekonomi anjlok. Kekurangan pangan. Darurat medis. Jutaan orang terlantar. Krisis ini mencapai titik balik pada hari Rabu (23/1), ketika pemimpin oposisi Juan Guaido menyatakan dirinya sebagai presiden sementara.

Amerika Serikat dan negara-negara lain mengakui peran barunya, bahkan ketika Presiden Nicolás Maduro menolak untuk mundur. Grafik-grafik ini membantu menjelaskan bagaimana negara itu sampai di krisis ini.

Runtuhnya ekonomi minyak

Nilai ekspor minyak Venezuela terendah dalam lebih dari satu dekade

GRAFIK:  (Sumber: Organization of the Petroleum Exporting Countries)

Venezuela adalah rumah bagi cadangan minyak terbesar di dunia. Tetapi dalam beberapa tahun terakhir, kesalahan dalam pengelolaan kekayaan minyaknya menyebabkan penurunan tajam dalam produksi minyak dan ekspornya. Hal itu merusak ekonomi negara itu di saat Venezuela merosot ke dalam kekacauan politik.

Hanya beberapa tahun setelah Hugo Chavez menjabat pada tahun 1999, ia memecat ribuan karyawan di perusahaan minyak milik negara, Petróleos de Venezuela, setelah pemogokan yang kontroversial. Ribuan karyawan yang dipecat itu termasuk para ahli dalam produksi minyak, Chavez mengganti mereka dengan orang-orang yang setia kepadanya.

Baca Juga: Juan Guaido, Presiden Baru Venezuela yang Didukung AS

Kemudian, pada pertengahan 2000-an, ketika harga minyak tinggi, Chavez memompa pendapatan minyak negara itu ke dalam program kesejahteraan sosial, termasuk menetapkan harga bensin domestik yang sangat rendah agar konsumsinya melonjak. Namun, rencana itu tidak berkelanjutan. Ketika harga minyak global anjlok dari lebih dari $100 per barel pada 2014 menjadi kurang dari $30 pada awal 2016, kesengsaraan ekonomi negara itu semakin parah.

Produksi minyak mentah Venezuela dan ekspor tetap menurun

GRAFIK: (Sumber: Organization of the Petroleum Exporting Countries)

“Salah pengelolaan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir dikombinasikan dengan penurunan harga minyak yang sangat dramatis telah merugikan ekonomi Venezuela,” kata Sarah Ladislaw, direktur energi dan program keamanan nasional di Center for Strategic dan Pembelajaran Internasional.

Selama enam tahun terakhir, produk domestik bruto Venezuela telah terbagi dua, menurut proyeksi baru yang dikeluarkan oleh Dana Moneter Internasional pada Januari.

Ketika situasi ekonomi Venezuela memburuk, investor mundur, khawatir pemerintah tidak akan mampu membayar utangnya. “Penurunan yang telah kami saksikan selama tiga tahun terakhir ini benar-benar berdasarkan fakta bahwa orang belum berinvestasi kembali dalam produksi [minyak] baru di Venezuela dalam waktu yang lama,” kata Ladislaw.

Hiperinflasi

Inflasi di Venezuela telah berjalan seiring dengan ketidakmampuan orang-orang biasa untuk membeli barang-barang pokok. Ketika harga melonjak, makanan dan obat-obatan menjadi tidak terjangkau bagi banyak orang Venezuela, yang merasa mereka tidak punya pilihan selain melarikan diri.

Baca Juga: Opini: Nicolas Maduro Tak Akan Hentikan Krisis Venezuela

Tahun lalu, Maduro menerapkan rencana baru untuk menghapus lima nol dari mata uang negara—upaya untuk menghadapi masalah inflasi yang melonjak.

“Sebelum pengumuman Maduro hari Jumat, satu kilo buah persik—atau 2,2 pon—harganya sekitar 1,1 juta bolivar,” tulis Anthony Faiola dan Rachelle Krygier dari The Post pada bulan Agustus. “Pada hari Selasa, harganya naik hampir dua kali lipat, melonjak menjadi 2,1 juta bolivar lama, atau 21 bolivar baru.”

Akhir tahun lalu, Dana Moneter Internasional memperkirakan bahwa tingkat inflasi negara itu akan mencapai 1,37 juta persen pada akhir 2018. Untuk tahun 2019, prediksi IMF menunjukkan bahwa inflasi dapat mencapai 10 juta persen.

Tidak semua ekonom sepakat dengan angka IMF tersebut. Steve Hanke, seorang profesor di Universitas Johns Hopkins yang mengukur hiperinflasi, yang terjadi ketika tingkat inflasi bulanan mencapai 50 persen, mengatakan kepada The Post’s Matt O’Brien pada bulan Juli bahwa “Anda tidak dapat meramalkan arah dan durasi hiperinflasi,” dan mengatakan bahwa Upaya IMF “tidak bertanggung jawab.”

Di Forbes, Hanke menulis bahwa hiperinflasi tahunan Venezuela mencapai 80.000 persen pada tahun 2018, menyebutnya “dahsyat,” tetapi tidak ekstrim seperti perkiraan IMF.

Inflasi di Venezuela tetap pada rekor tertinggi

GRAFIK: (Sumber: International Monetary Fund)

Kemunduran medis

Venezuela telah membuat kemajuan signifikan dalam mengurangi angka kematian bayi, dan berjanji untuk berusaha lebih keras lagi. Tetapi penelitian yang diterbitkan Kamis (24/1) dalam jurnal Lancet Global Health memperkirakan bahwa tingkat kematian bayi di Venezuela tumbuh dari 15 kematian per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2008 menjadi 21,1 pada 2016. Peneliti utama studi tersebut, Jenny García, mengatakan kepada The Post bahwa Venezuela “kehilangan 18 tahun kemajuan.”

Dia dan rekan-rekannya mengklaim bahwa kemunduran ini disebabkan karena pemotongan dana perawatan kesehatan. Dan mereka berharap bahwa ketika data baru muncul untuk tahun 2017 dan 2018, angka ini akan terus meningkat, karena Venezuela telah kewalahan dengan timbulnya kembali penyakit seperti polio dan difteri, yang pernah mereka berantas.

Baca Juga: Amerika Serikat dengan Militer Venezuela Rencanakan Kudeta Presiden

Angka kematian bayi telah meningkat sejak 2008

Penelitian memperkirakan bahwa kematian bayi telah meningkat dari 15 kematian per 1000 kelahiran hidup pada 2008 menjadi 21,1 per 1.000 pada tahun 2016, tingkat yang tidak terlihat sejak 1996. Tingkat kematian adalah perkiraan berdasarkan model yang dibuat dari Kementerian Kesehatan Venezuela, Komisi Ekonomi PBB untuk Amerika Latin dan Karibia dan data dari Buletin Penyakit yang Dilaporkan.

GRAFIK: (Sumber: The Lacet Global Health Journal)

Populasi yang melarikan diri

Semua faktor ini berkontribusi pada keputusan warga Venezuela untuk meninggalkan negara itu, menyebabkan salah satu krisis migrasi terbesar dalam sejarah wilayah tersebut.

Beban terbesar jatuh pada negara-negara terdekat. Kolombia telah mengerahkan pasukannya ke perbatasan mereka setelah ratusan ribu warga Venezuela menyeberang ke negara itu pada awal tahun 2018.

Baca Juga: Amerika Masukkan Venezuela dalam Daftar Negara Pendukung Terorisme

Mereka yang melarikan diri termasuk orang-orang yang berprofesi menjadi guru dan dokter yang tidak mampu lagi makan atau memberi makan keluarga mereka di Venezuela.

Jumlah warga Venezuela di luar negeri telah meningkat sejak 2015, sebagian besar di negara-negara Amerika Selatan lainnya.

Dari 2,3 juta warga di luar negeri, 1,5 juta berada di Amerika Selatan. Negara-negara tujuan lainnya termasuk Amerika Serikat, Spanyol, dan Italia.

GRAFIK: (Sumber: International Organization for Migration)

Keterangan foto utama: Seorang peserta memegang bendera Venezuela pada rapat umum hari Sabtu (26/1) di Caracas. (Foto: Bloomberg News/Carlos Becerra)

Krisis Venezuela dalam 5 Grafik

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top