Hasilkan Deklarasi Sydney, KTT Istimewa ASEAN-Australia Berkomitmen pada Keamanan Global dan Perdagangan Bebas
Asia

KTT Istimewa ASEAN-Australia Hasilkan Deklarasi Sydney

Home » Featured » Asia » KTT Istimewa ASEAN-Australia Hasilkan Deklarasi Sydney

KTT Istimewa ASEAN-Australia yang diadakan selama dua hari antara pemimpin-pemimpin Australia dan ASEAN, ditutup pada Minggu (18/3). KTT tersebut diakhiri dengan kedua belah pihak yang membuat sebuah pernyataan bersama—Deklarasi Sydney—yang menetapkan komitmen bersama mereka untuk meningkatkan kerja sama dalam berbagai isu, seperti pada keamanan global dan perdagangan bebas.

Oleh: Liyana Othman (Channel NewsAsia)

SYDNEY—”Kesuksesan yang menggembirakan”—begitulah cara Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull menggambarkan KTT Istimewa ASEAN-Australia yang pertama.

Berbicara pada penutupan pertemuan selama dua hari dengan sembilan pemimpin negara ASEAN pada Minggu (18/3), Turnbull mengatakan bahwa KTT tersebut dilaksanakan pada “masa kritis dalam sejarah”, di mana kecepatan dan skala perubahan “belum pernah terjadi sebelumnya”.

     Baca Juga : Indonesia Dorong Patroli Gabungan Negara-negara ASEAN di Laut China Selatan

“KTT ini telah memberi kita kesempatan untuk mempertegas komitmen Australia yang kuat terhadap ASEAN, sentralitas ASEAN, dan Australia sebagai teman setia, saat ini dan di masa depan,” kata Turnbull.

“Selama 50 tahun terakhir, ASEAN telah menggunakan pengaruhnya untuk mendukung dan mempertahankan supremasi hukum, dan KTT Istimewa ini telah menunjukkan bahwa Australia berkomitmen untuk mendukung ASEAN dalam peran ini,” tambahnya, dan mengatakan bahwa kepemimpinan kelompok regional tersebut sangat penting dalam mengembangkan dan memelihara kesejahteraan wilayah.

Sementara itu, Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong—yang ikut memimpin KTT tersebut—mengatakan bahwa dia senang dengan hasil pertemuan tersebut.

“Tujuan KTT ini adalah untuk memusatkan pikiran kita, dan memberi para pegawai negeri kita dorongan untuk menyelesaikan proyek-proyek spesifik, dan pada saat bersamaan, untuk memiliki pertukaran pandangan tingkat tinggi… dan itulah yang telah kita capai,” kata Lee.

Keamanan Siber Menjadi Topik Utama dalam KTT Tersebut

KTT tersebut diakhiri dengan kedua belah pihak yang membuat sebuah pernyataan bersama—Deklarasi Sydney—yang menetapkan komitmen bersama mereka untuk meningkatkan kerja sama dalam berbagai isu.

Para pemimpin bertukar pandangan mengenai cara-cara untuk meningkatkan kerja sama dalam masalah keamanan, terutama keamanan dunia maya. Untuk itu, nota kesepahaman untuk memerangi terorisme internasional ditandatangani pada Sabtu (17/3), dengan fokus pada pengembangan kemampuan untuk melawan penggunaan teknologi teroris yang dimanfaatkan untuk menyebarkan ideologi mereka.

Hasilkan Deklarasi Sydney, KTT Istimewa ASEAN-Australia Berkomitmen pada Keamanan Global dan Perdagangan Bebas

Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull pada KTT Istimewa ASEAN-Australia, pada tanggal 17 Maret 2018. (Foto: AFP/Dan Himbrechts)

“Tidak ada tempat yang jauh ketika menyangkut terorisme, dan tidak ada satu pun dari kita yang bisa mengatasi ancaman ini sendirian,” kata Turnbull, dan menambahkan bahwa undang-undang yang berlaku secara offline harus diterapkan pula secara online.

Beberapa inisiatif diumumkan di KTT tersebut, seperti standar digital baru untuk memudahkan bisnis-bisnis untuk melakukan perdagangan digital lintas batas.

Lebih dari itu, investasi senilai US$ 24 juta diumumkan oleh Turnbull pada Sabtu (17/3), untuk mengembangkan kota-kota pintar, melalui pendirian sebuah bank pengetahuan tentang gagasan urbanisasi yang berkelanjutan.

Sebuah pertanyaan diajukan saat konferensi pers bersama, mengenai apakah dana tersebut akan cukup. Kedua pemimpin tersebut sepakat bahwa uang tidak menjadi masalah, namun berbagi pengalaman akan menjadi sangat penting.

“Tantangan dalam inisiatif kota pintar adalah untuk menerapkannya, dan untuk mengubah cara-cara di mana kota-kota dan pemerintahan kami beroperasi… dalam hal ini, bersama-sama kita dapat bekerja sama untuk saling mengoperasikan dan berbagi pendekatan… yang akan memperluas jejak bagi warga kami,” kata Lee.

“Saya yakin bahwa ketika proyek menarik yang spesifik muncul—yang tentu akan terjadi—proyek-proyek tersebut tidak akan menemui kesulitan untuk mendapatkan pendanaan.”

Tidak Ada Proteksionisme yang Dirundingkan

Kesepakatan seperti itu—begitu pula konferensi bisnis yang diadakan di sela-sela KTT untuk mempromosikan perdagangan dan investasi antara ASEAN dan Australia—adalah persetujuan terhadap liberalisasi perdagangan dan integrasi ekonomi regional.

“Kami sangat percaya bahwa sistem perdagangan multilateral yang bebas, terbuka, dan berbasis aturan, adalah kunci pertumbuhan dan kemakmuran kawasan ini,” kata Lee.

Turnbull juga mengamati bahwa tidak ada proteksionisme yang dirundingkan pada KTT Istimewa ASEAN-Australia.

Kedua belah pihak berkomitmen untuk menyelesaikan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP) pada tahun ini. Perjanjian perdagangan bebas tersebut memiliki 16 mitra negosiasi—sepuluh negara anggota ASEAN, Australia, China, Selandia Baru, India, Jepang, dan Korea Selatan—dan akan mencakup 30 persen dari PDB global. RCEP telah melewatkan tiga tenggat waktu sejak perundingannya dimulai pada akhir tahun 2012.

“Ini akan mengirim sinyal yang jelas kepada mitra eksternal ASEAN dan semua negara lain, mengenai komitmen kami untuk mempromosikan perdagangan internasional, menentang proteksionisme, dan menjaga agar arsitektur regional tetap terbuka dan inklusif,” kata Lee.

Menekankan bahwa terdapat “dukungan yang sangat kuat” untuk kesimpulan cepat RCEP, Turnbull mengatakan bahwa jika negara-negara yang melakukan negosiasi mendapatkan kesepakatan yang baik, “ini akan menjadi… sebuah antitesis terhadap proteksionisme. Ini akan memastikan di bagian belakang TPP-11, bahwa wilayah Indo-Pasifik terus menjadi poros perdagangan yang bebas dan terbuka”.

Menjelang KTT tersebut, Turnbull telah menyebut proteksionisme sebagai “jalan buntu”, dan meminta seluruh negara untuk mendorong perdagangan bebas.

Laut China Selatan, RAKHINE, dan KOREA UTARA juga Ada dalam Agenda

Yang juga ada dalam agenda: Resolusi damai terkait sengketa di Laut China Selatan, di mana anggota ASEAN Brunei, Malaysia, Filipina, dan Vietnam adalah negara-negara yang mengajukan klaim. Negosiasi sedang berlangsung untuk menyimpulkan Kode Etik antara ASEAN dan China.

Lee mengatakan bahwa setiap negara ASEAN memiliki hubungan yang unik dengan China, namun perselisihan teritorial di Laut China Selatan menimbulkan tantangan keamanan dan stabilitas di seluruh wilayah.

Hasilkan Deklarasi Sydney, KTT Istimewa ASEAN-Australia Berkomitmen pada Keamanan Global dan Perdagangan Bebas

Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong. (Foto: REUTERS/Athit Perawongmetha)

“Ini adalah masalah yang bisa kami atasi, yang bisa kami bantu untuk mencegah agar tidak meningkat. Tapi ini bukan masalah yang bisa—dengan cara yang tepat—bisa diselesaikan dalam waktu singkat,” kata Lee.

Para pemimpin juga mempertimbangkan situasi kemanusiaan di negara bagian Rakhine, Myanmar, di mana pemimpin de facto Aung San Suu Kyi menangani masalah ini cukup lama, kata Turnbull. Dia juga dikatakan telah mencari dukungan kemanusiaan dan peningkatan kapasitas dari ASEAN dan negara-negara lain.

“Ini menjadi perhatian semua negara ASEAN, namun ASEAN tidak dapat melakukan intervensi dan memaksakan sebuah hasil,” kata Lee. Namun kelompok regional tersebut bekerja untuk memberikan bantuan kemanusiaan kepada ratusan ribu orang yang terkena dampaknya, kata Lee, dan menambahkan bahwa ASEAN akan terus mendukung upaya oleh semua pihak untuk mencapai solusi jangka panjang dan berkelanjutan.

     Baca Juga : Australia dan Indonesia: Tetangga yang Saling Terasing?

Perdana Menteri Malaysia Najib Razak telah memperingatkan pada Sabtu (17/3), bahwa krisis pengungsi Rohingya bisa menjadi ancaman keamanan serius bagi wilayah tersebut, dengan mengatakan bahwa “Rakhine, dengan ribuan orang yang putus asa dan sedih yang tidak melihat harapan di masa depan, akan menjadi tempat yang subur untuk radikalisasi dan perekrutan kelompok ISIS dan afiliasi ISIS.”

Lee mengatakan bahwa ini adalah kemungkinan yang tidak dapat dikesampingkan.

“Kami akan cemas jika terdapat ketidakstabilan di salah satu negara anggota kami. Kami juga prihatin sebagai manusia, jika terdapat krisis kemanusiaan yang telah berkembang, dan kesejahteraan masyarakat serta kehidupan dan keamanan mereka dipertaruhkan,” tambah Lee.

Terkait yang terjadi di Korea Utara, Lee mengatakan bahwa para pemimpin “dengan waspada terdorong” oleh komitmennya terhadap denuklirisasi, dan berjanji untuk menahan diri dari uji coba nuklir dan rudal lebih lanjut untuk saat ini.

Keterangan foto utama: KTT Istimewa ASEAN-Australia 2018. (Foto: Getty Images/Alan Peter Cayetano)

KTT Istimewa ASEAN-Australia Hasilkan Deklarasi Sydney

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top