pilpres 2019
Berita Politik Indonesia

Laga Pilpres 2019: Prabowo Dekati Etnis Tionghoa, Jokowi Manfaatkan Kebencian pada Prabowo

Berita Internasional >> Laga Pilpres 2019: Prabowo Dekati Etnis Tionghoa, Jokowi Manfaatkan Kebencian pada Prabowo

Ikatan Prabowo dengan komunitas yang pernah menakutinya menunjukkan bahwa daya tariknya bisa jadi lebih besar dari yang diduga sebelumnya. Sementara itu, Jokowi diperkirakan akan menang di Pilpres 2019. Namun, ekonomi, milenial, dan pandangan apakah ia layak menjabat dua periode akan menjadi faktor penentu.

Oleh: Lynn Lee (South China Morning Post)

Seiring lagu dari bintang Taiwan Teresa Teng yang berjudul The Moon Represents My Heart memenuhi ruang ballroom di Jakarta Utara bulan lalu, sejumlah ponsel diarahkan ke penyanyinya, Titiek Suharto.

Titiek, putri dari diktator Indonesia yang telah mangkat, Suharto, bernyanyi dengan sepenuh hati dalam Bahasa Mandarin yang terbata. Menyaksikan, dengan muka berseri, adalah mantan suaminya Prabowo Subianto, mantan jenderal yang tengah maju untuk kedua kalinya untuk menjadi presiden Indonesia.

Pasangan itu berada di satu acara makan malam yang diselenggarakan oleh para pengusaha beretnis Tionghoa. Prabowo—yang dituduh melakukan pelanggaran HAM di era Suharto, dan merupakan komandan kekuatan militer di Jakarta pada bulan Mei 1998 ketika kerusahan anti-etnis Tionghoa yang mematikan pecah—adalah tamu kehormatan.

Dalam pidatonya, pria berusia 67 tahun itu mengatakan: “Jika saya terpilih dan menerima mandat, saya memahami  saya harus menjadi pemimpin untuk semua budaya, agama, ras dan kelompok etnis.”

Dia menekankan dia tidak memandang Tionghoa Indonesia, yang membentuk sekitar 2 persen dari populasi 260 juta penduduk negara, sebagai kelompok yang berbeda dari warga negara lain.

Di Sun City Luxury Club malam itu, 16 pengusaha mendonasikan 460 juta rupiah untuk kampanye pemilihan Prabowo.

Dia dan calon wakilnya yang seorang pengusaha, Sandiaga Uno, akan menghadapi calon petahanan Presiden Joko Widodo—juga dikenal sebagai Jokowi—dan ulama Islam Ma’ruf Amin dalam pemilihan presiden tanggal 17 April nanti.

Ahli kebudayaan China Leo Suryadinata, mengomentari makan malam itu di surat kabar Singapura, Lianhe Zaobao, menekankan bahwa generasi yang lebih tua mungkin masih agak sulit untuk mempercayai Prabowo. Mereka mengkhawatirkan nasionalismenya yang berapi-api—dan bahwa beberapa pengusaha, jengkel terhadap penggerebekan anti-korupsi Jokowi, mungkin menginginkan administrasi baru.

Suryadinata mengangkat fakta bahwa tamu yang hadir di acara makan malam itu bukanlah mereka yang mengisi daftar tahunan Forbes yang kaya raya—kelompok super-kaya yang tidak akan secara publik mengaliansikan diri mereka dengan pihak manapun, alih-alih memfokuskan taruhan mereka untuk melindungi kepentingan bisnis.

“Namun pemilik bisnis kecil dan menegah tidak akan memiliki kekhawatiran itu dan sejujurnya, tidak akan ada yang tahu identitas mereka,” pantaunya.

Prabowo

Kandidat presiden dari koalisi oposisi, mantan jenderal Prabowo Subianto. (Foto: Bloomberg/Dimas Ardian)

Upaya Prabowo untuk menjalin hubungan dengan komunitas yang pernah menakutinya adalah refleksi dari bagaimana dia mungkin memiliki daya tarik yang lebih besar dari yang selama ini diduga.

Pada tahun 2014, Prabowo dan rekan pendampingnya Hatta Rajasa, mendapatkan 47 persen suara. Ia menang di 10 dari 34 provinsi Indonesia, termasuk provinsi padat seperti Sumatera Barat, Jawa Barat, dan Banten.

Survei sejak masa kampanye dimulai tiga bulan lalu telah menunjukkan bahwa pasangan Prabowo-Sandiaga mengekor di belakang Jokowi-Ma’ruf—bulan lalu, Jaringan Survei Indonesia menemukan 54 persen dari 1.200 orang yang disurvei akan memilih Jokowi dan 31 Prabowo. Sisanya belum memutuskan atau tidak menjawab.

Namun, kontes yang akan datang, bukanlah pertandingan ulang antara dua populis dari cetakan yang berbeda—Prabowo yang “beringas dan galak” dan Jokowi yang “inklusif… dan sangat sopan”, seperti bagaimana akademisi dari Australian National University Marcus Mietzner mendeskripsikan mereka pada tahun 2014.

Seperti yang dijelaskan editor senior Jakarta Post Endy Bayuni dalam op-ed bulan lalu, pemilih tidak akan merenungkan apakah Prabowo yang belum teruji akan menjadi presiden yang lebih baik: “Hal ini lebih tentang apakah Jokowi telah melakukan pekerjaan yang baik dalam lima tahun terakhir sehingga dia layak mendapatkan periode kedua.”

Baca Juga: Jokowi Ragu Amerika-China Bisa Perbaiki Hubungan pada Pertemuan G20

Dalam kebanyakan pertimbangan, Jokowi—seorang pengusaha mebel yang beralih menjadi teknokrat—telah bekerja dengan baik. Dia tidak berhasil mencapai targetnya untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 7 persen, tapi telah meluncurkan beberapa reformasi dan proyek-proyek infrastruktur sambil melipatgandakan jaminan sosial—menciptakan jaminan kesehatan gratis universal, mempertahankan subsidi BBM, dan memberikan subsidi uang tunai bersyarat bagi kelompok miskin.

Dana bantuan tahun ini, yang akan didistribusikan bulan ini dan di bulan April, meningkat dua kali lipat menjadi 38 triliun rupiah untuk 10 juta keluarga.

Prabowo terus menggambarkan dirinya sebagai seorang nasionalis sejati, mempertanyakan keuntungan sebenarnya dari investasi infrastruktur China dan menarik perhatian publik ke masalah ekonomi, termasuk pelemahan rupiah baru-baru ini.

Sandiaga, seorang pria 49 tahun dengan penampilan yang awet muda, telah membantunya di garis depan itu, mengkritik pemerintah karena meningkatkan harga barang-barang sambil menjanjikan lapangan kerja yang lebih besar kepada pemilih.

Presiden Indonesia Joko Widodo dan pasangannya, Ma’ruf Amin (kiri), dengan calon presiden Prabowo Subianto dan pasangannya, Sandiaga Uno (kanan). (Foto: AFP)

Jokowi dan Prabowo keduanya memasukkan diri mereka dalam peningkatan iklim politik identitas dengan memilih wakil presiden yang berafiliasi dengan kelompok Islam berpengaruh. Keputusan tersebut berhasil menumpulkan ketegangan sektarian “yang akan diluncurkan sebagai alat yang sangat memecah-belah”, menurut Kevin Evans dari Australia-Indonesia Centre.

Agama telah selalu menjadi faktor pemutus di politik domestik Indonesia yang mayoritas Muslim. Namun, masyarakatnya yang memiliki banyak keyakinan diuji ketika kelompok Islam garis keras dan konservatif mengadakan demonstrasi besar-besaran melawan gubernur Jakarta yang beragama Kristen dan beretnis China, Basuki Tjahaja Purnama, atau Ahok, pada tahun 2016.

Saat berkampanye untuk periode kedua, Ahok mengatakan dia percaya bahwa Alquran tidak melarang Muslim untuk memilih non-Muslim. Di 2017, dia didakwa telah melakukan penistaan agama dan dipenjara selama dua tahun.

Baca Juga: Persaingan Dua Rival Lama dalam Pilpres 2019

Ma’ruf, saat itu adalah pemimpin dari Majelis Ulama Indonesia, badan ulama tertinggi di Indonesia, menyatakan komentar Ahok tersebut tergolong penistaan agama di persidangannya. Ketika Jokowi memilih ulama itu, orang-orang moderat dan liberal mundur, tapi pamor sang presiden di kalangan konservatif mengalami peningkatan.

Pendukung Prabowo termasuk kelompok-kelompok yang berunjuk rasa untuk kejatuhan Ahok, dan Sandiaga adalah wajah dari meningkatnya kelompok kelas menengah Muslim urban. Ella Prihatini dari Public Policy Institute di University of Western Australia mengatakan, Sandi juga berusaha menggaet suara perempuan.

“Strategi ini juga penting, karena perempuan membentuk 50,07 persen pemilih dan beberapa kajian menyimpulkan bahwa partisipasi mereka lebih tinggi dibanding pria,” ujar Ella.

Namun tidak ada pengamat politik yang mendeklarasikan kemenangan mudah bagi Jokowi. Egans, dalam laporan bulan September tentang pemilihan Indonesia, mengatakan bahwa keadaan ekonomi akan mempengaruhi petahanan, terutama jika harga minyak naik dan barang impor di Indonesia dipaksa untuk menarik janjinya untuk mempertahankan harga BBM agar tetap rendah.

Juga ada ketidakpastian di kalangan milenial, yang dianggap tidak suka pada badan politik, tentang apakah mereka akan memilih. Data dari Komisi Pemilihan Umum menyiratkan bahwa mereka yang berusia di bawah 40 tahun membentuk 54 persen dari 192 juta pemilih, menurut Ella.

Tidak ada pengamat politik yang mendeklarasikan kemenangan mudah bagi calon petahanan Jokowi, walaupun ia terus mendapatkan dukungan. (Foto: AP)

Evans menunjukkan bahwa Prabowo telah menjadi seorang penampil yang “energik dan penuh semangat” dalam kancah politik di satu dekade terakhir ini, kualitas penting yang menjaring pemilih dan memotivasi mereka memberikan suara.

“Harapan rakyat meningkat lebih cepat dibanding penyampaian. Saya tidak yakin apakah tim Jokowi telah secara efektif menyampaikan pencapaian mereka… orang-orang tidak merasa terinspirasi, terutama di komunitas bisnis.

“Saya jelas yakin hal itu bukan merupakan sesuatu yang fatal untuk prospek pemilihan kembali Jokowi, tapi hal itu seharusnya memberi pakar strategi di kampanyenya jeda pikirin tentang bagaimana cara yang lebih baik untuk terhubung dengan para pemilih,” ujarnya.

Ilmuwan politik Yohanes Sulaimen mengatakan, ancaman terbesar bagi Jokowi adalah kurangnya antusiasme dari basis pemilih tradisional-nya, yang berisi para sekuler dan orang-orang moderat relijius, akibat keputusannya untuk memilih Ma’ruf. Dukungan untuk Jokowi di media sosial lebih teredam jika dibandingkan dengan bagaimana ia akan membawa perubahan di tahun 2014. Bahkan, pendukung Prabowo dinilai lebih vokal.

Tagar #2019GantiPresiden dimulai bulan Maret lalu hanya mendapatkan balasan lemah dari tim Jokowi.

Sulaiman mengatakan, ia tidak yakin pendukung Jokowi akan berbalik haluan ke Prabowo, mengingat adanya ketidaksukaan kepada pendukung garis keras mantan jenderal itu dan retorika anti-asingnya. Itulah mungkin kenapa Prabowo-Sandiaga tidak bergabung dengan kelompok-kelompok Muslim yang mengecam dugaan pelanggaran HAM China terhadap komunitas Uighur di Provinsi Xinjiang.

Melakukan hal itu akan mengingatkan yang lain tentang catatan pelanggaran HAM Prabowo yang mungkin bahkan akan mendongkrak semangat pendukung Jokowi yang tengah melempem.

“Saya rasa kelompok itu mungkin akan abstain atau setidaknya menutup mata dan memilih Jokowi ketika tiba waktunya, hanya untuk mencerca para Islamist. Namun hal itu adalah harapan yang cukup tipis untuk menjadi sandaran,” ujar Sulaiman, yang mengajar di Universitas Jenderal Achmad Yani di Jawa Barat.

Jokowi bisa menang mudah jika tidak ada kejutan ekonomi yang diluar kontrolnya, seperti memburuknya perang dagang AS-China—tapi untuk mengamankan kemenangannya ia perlu secara proaktif menggerakkan pendukungnya dan menginspirasi mereka sekali lagi, ujar Sulaiman.

“Dia mungkin merasa dia tidak perlu mendorong terlalu keras. Tapi saya tidak pernah melihat pemilihan yang dimenangkan hanya dari seorang kandidat mempertahankan posisinya.”

Keterangan foto utama: Presiden Indonesia Joko Widodo dan kandidat presiden Prabowo Subianto. (Foto: AFP)

Laga Pilpres 2019: Prabowo Dekati Etnis Tionghoa, Jokowi Manfaatkan Kebencian pada Prabowo

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top