Latihan Militer Rusia ‘Ancam Perang dengan Georgia’
Eropa

Latihan Militer Rusia ‘Ancam Perang dengan Georgia’

Berita Internasional >> Latihan Militer Rusia ‘Ancam Perang dengan Georgia’

Beberapa negara telah menyetujui untuk Georgia gabung NATO. Sementara itu, negara tetangga mereka, Rusia menegaskan, bergabungnya Georgia bisa memicu konflik yang “mengerikan.” Di saat yang sama, Georgia menuduh militer Rusia meningkatkan kehadiran militernya di wilayah mereka.

Oleh: Tom Parfitt (The Times)

Baca Juga: Setelah Rusia, Turki Tingkatkan Kerjasama Militer dengan China

Georgia menuduh militer Rusia meningkatkan kehadiran militernya di wilayah mereka setelah Rusia memperingatkan bahwa jika Georgia gabung NATO itu dapat memicu “konflik yang mengerikan”.

Pemerintah Georgia mengatakan, pasukan Rusia telah melakukan latihan di wilayah-wilayah separatis Ossetia Selatan dan Abkhazia yang didukung Kremlin. Mereka juga mengatakan, Rusia telah “semakin memperkuat kehadiran militernya yang ilegal”.

“Ini adalah perang melawan Georgia, agresi, pendudukan, dan pelanggaran terhadap hukum internasional,” kata Presiden Giorgi Margvelashvili pada pertemuan pemerintah. “Nafsu agresor semakin meningkat setelah invasi ini.”

Perselisihan ini, yang terjadi tepat saat peringatan ke-10 tahun perang lima hari antara kedua negara tersebut, menggarisbawahi kerentanan Georgia dan permusuhan Rusia dengan prospek perluasan NATO hingga ke perbatasannya.

Bulan lalu, Jens Stoltenberg, sekretaris jenderal NATO, mengatakan bahwa para anggota telah setuju untuk menerima Georgia, memancing kemarahan Kremlin empat tahun setelah Kremlin tidak setuju terhadap hubungan NATO yang semakin mendalam dengan Ukraina.

Pada hari Senin (6/8) Perdana Menteri Rusia, Dmitry Medvedev, memperingatkan bahwa niat NATO untuk mengakui Georgia dapat memunculkan kembali permusuhan. Kemarin ini, kedua negara tersebut memperingati 10 tahun perang, ketika pasukan Rusia menyerbu setelah Georgia menyerang ke wilayah Ossetia Selatan yang pro-Rusia.

Medvedev, presiden Rusia pada saat itu, mengatakan bahwa komitmen NATO untuk akhirnya memasukkan Georgia ke dalam barisannya adalah “keputusan yang benar-benar tidak bertanggung jawab dan merupakan ancaman terhadap perdamaian”. “Semua orang tahu tentang ketegangan internal di Georgia, yang percaya bahwa wilayah tetangga, yang kita anggap sebagai negara merdeka, masih menjadi miliknya,” katanya.

Berbicara kepada surat kabar Kommersant, ia menambahkan: “Ini adalah konflik teritorial yang belum terselesaikan. Bisakah Anda bayangkan apa yang akan terjadi jika Georgia bergabung dengan blok militer? Ini bisa memancing konflik yang mengerikan.”

georgia gabung nato

Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev berbicara saat wawancara dengan Kommersant di kediaman negara Gorki di luar Moskow, pada tanggal 6 Agustus. (Foto: TASS/Kantor Pers Pemerintah Rusia)

Pernyataan itu mendorong sekutu Georgia untuk menegaskan dukungan mereka untuk negara Kaukasus Selatan itu. “Uni Eropa telah berkomitmen untuk memberikan dukungan kami demi kedaulatan dan integritas wilayah Georgia dan untuk mencapai resolusi damai dari konflik,” kata Donald Tusk, presiden Dewan Eropa.

Sir Alan Duncan, menteri luar negeri Inggris, mengatakan bahwa Inggris dengan tegas mendukung kedaulatan Georgia, menambahkan bahwa masih terbaginya wilayah Georgia merupakan “tragedi”. Kementerian luar negeri Jerman menyebut pengakuan Rusia atas Abkhazia dan Ossetia Selatan tidak dapat diterima.

Abkhazia dan Ossetia Selatan, keduanya berada di perbatasan selatan Rusia, memisahkan diri dari Georgia pada awal tahun 1990-an dan sejak saat itu telah mandiri secara de facto. Setelah perang tahun 2008, Rusia mengakui kemerdekaan mereka, memberikan dukungan keuangan dan meningkatkan garnisun militernya di kedua wilayah, yang membuat marah pemerintah Georgia.

Konflik etnis atau teritorial yang belum terselesaikan di dalam sebuah negara menghalangi aksesi ke NATO, tetapi bulan lalu di sebuah pertemuan aliansi di Brussels, Stoltenberg mengatakan bahwa negaranya telah sepakat bahwa Georgia akan menjadi anggota.

Baca Juga: Militer China Gantikan Rusia Sebagai Saingan Utama Amerika Serikat

Georgia mengeluhkan pasukan yang didukung Rusia itu menggunakan taktik yang disebut ‘pembatasan’ untuk secara bertahap memperluas wilayah yang memisahkan diri. Misi Pemantauan Uni Eropa, yang mengamati pembatasan itu, mengatakan bahwa perbatasan telah “menguat” dalam beberapa tahun terakhir, menegaskan adanya perampasan lahan.

Kementerian luar negeri Georgia mengatakan bahwa “perluasan batas pendudukan secara terus menerus melalui pemasangan pagar kawat berduri dan hambatan buatan lainnya serta penculikan warga dan penahanan ilegal oleh personel Rusia FSB (Dinas Intelijen Domestik) semakin mengacaukan lingkungan keamanan di lapangan”.

Terlepas dari dukungan verbal untuk Georgia, beberapa diplomat Barat mengekspresikan ketidaknyamanan pribadi mereka pada prospek bergabungnya Georgia dengan NATO. Mereka percaya aliansi itu tidak akan bisa melindunginya jika terjadi konflik dengan Rusia. Perjanjian pendiri NATO mewajibkan anggotanya untuk menganggap serangan terhadap salah satu anggota sebagai serangan terhadap semua anggota.

NATO belum menetapkan jadwal untuk aksesi Georgia, sebuah negara yang berpenduduk 3,7 juta orang. Negara itu berharap akan bergabung sebelum tahun 2021 meskipun ini mungkin tidak akan terjadi.

 

Keterangan foto utama: Ossetia Selatan dan Abkhazia telah diduduki oleh Rusia sejak invasi tahun 2008 (Foto: AP/ Mikhail Metzel).

Latihan Militer Rusia ‘Ancam Perang dengan Georgia’

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top