Latihan Perang Terbesar Rusia Vostok 2018: Yang Perlu Anda Tahu
Eropa

Latihan Perang Terbesar Rusia Vostok 2018: Yang Perlu Anda Tahu

Presiden Rusia Vladimir Putin berjabatan tangan dengan Presiden China Xi Jinping saat pertemuan dengan para peserta diskusi meja bundar terkait Kerja Sama Rusia-China, di sela-sela Forum Ekonomi Timur di Vladivostok, Rusia, pada tanggal 11 September 2018. (Foto: TASS Host Photo Agency/Pool via Reuters/Donat Sorokin)
Home » Featured » Eropa » Latihan Perang Terbesar Rusia Vostok 2018: Yang Perlu Anda Tahu

Rusia melaksanakan latihan perang besar-besaran dengan nama Vostok 2018, di mana ini adalah latihan militer terbesar sejak era Soviet dan dijadwalkan akan dilaksanakan pada tanggal 12-15 September 2018. Berikut hal-hal yang perlu Anda tahu tentang latihan militer ini yang sangat penting bagi Presiden Rusia, Vladimir Putin.

Oleh: Alice Tidey (Euronews)

Selama dua hari terakhir, militer Rusia telah melakukan latihan terbesar negara tersebut dalam beberapa dekade, seiring Presiden Vladimir Putin berusaha mengirim pesan kepada Barat—tetapi juga kepada para pemilihnya sendiri yang semakin tidak puas.

Euronews menjelaskan mengapa latihan militer Rusia Vostok 2018 ini sangat signifikan.

Latihan militer terbesar sejak era Soviet

Menurut Kementerian Pertahanan Rusia, latihan militer Vostok 2018—yang diluncurkan pada Selasa (12/9) dan dijadwalkan akan berakhir pada Sabtu, 15 September 2018—adalah yang terbesar di negara itu sejak tahun 1981. Latihan perang tersebut diduga melibatkan sekitar 300.000 pasukan dan termasuk kontingen dari negara tetangga China dan Mongolia.

Seribu pesawat, helikopter, dan pesawat tanpa awak, hingga 80 kapal dan 36.000 tank, kendaraan pengangkut personel lapis baja, dan kendaraan lainnya, akan digunakan, menurut kementerian tersebut.

Latihan tersebut berlangsung di timur jauh Rusia—Vostok berarti “Timur”—dan akan melihat kolaborasi yang erat antara unit darat, udara, dan unit spesialis, serta penyebaran pengintaian dan peperangan elektronik.

Para ahli, bagaimanapun, telah meragukan jumlah pasukan yang terlibat.

“Rusia memiliki dorongan yang kuat untuk memberikan angka yang menyesatkan tentang ukuran latihannya—mengklaim bahwa latihan perang di Barat, seperti Zapad 2017, lebih kecil dari yang sebenarnya, dan latihan perang di Timur, seperti Vostok, lebih besar,” kata Keir Giles, rekan peneliti senior di Chatham House yang berbasis di London, kepada Euronews.

Baca Juga: Vostok 2018: Permainan Perang Terbesar Rusia-China, Peringatan bagi Amerika?

Itu karena menurut aturan Eropa, negara-negara Barat dapat meminta untuk mengirim inspektur yang beroperasi di bawah Organization for Security and Cooperation (OSCE) jika latihan militer melibatkan lebih dari 15.000 pasukan.

Tentara Rusia berpartisipasi dalam latihan Vostok 2018 di Siberia. (Foto: AP/ Kementerian Pertahanan Rusia)

Mengapa Barat peduli terhadap latihan perang Rusia

Rusia secara teratur melakukan latihan militer, dan di masa lalu telah menggunakan latihan yang sering kali mengejutkan ini untuk meluncurkan serangan, termasuk invasi ke Georgia pada tahun 2008 dan aneksasi Krimea dari Ukraina pada tahun 2014.

Dalam dua tahun terakhir, tampaknya Rusia telah meningkatkan latihan dari segi skala maupun kompleksitas. Rusia mengatakan bahwa 12.000 tentara mengambil bagian dalam latihan Zapad (“Barat”) tahun lalu di perbatasan dengan negara-negara NATO, meskipun perkiraan dari pengamat berkisar antara 30.000 hingga 100.000.

Yang menarik bagi Barat adalah apa yang telah dipelajari oleh tentara Rusia dari konflik yang saat ini terlibat di dalamnya, menurut Emily Ferris, seorang peneliti di wadah pemikir RUSI yang berbasis di London.

“Selama hampir sepuluh tahun, tentara Rusia telah mengalami modernisasi pasukan dan peralatannya secara luas.”

“Keterlibatan militer Rusia dalam konflik di timur Ukraina dan Suriah sama-sama menginformasikan pengalaman pertempuran mereka, dan militer mengadaptasi taktik dan teknologinya untuk menyesuaikan, serta menggunakan ini sebagai kesempatan untuk mendemonstrasikan peralatan barunya,” katanya kepada Euronews.

Ferris menjelaskan, bagaimanapun, bahwa sebagian besar perusahaan bersenjata Rusia berada di bawah sanksi internasional, “yang membuat mereka sulit untuk mencari mitra internasional” dan membuat “industri pertahanannya masih kekurangan banyak komponen.”

Namun, juru bicara NATO Dylan White—yang mengumumkan pada akhir Agustus bahwa NATO telah diberitahu tentang latihan tersebut—mengatakan di Twitter: “Vostok menunjukkan fokus Rusia pada latihan konflik berskala besar. Ini cocok dengan sebuah pola… Rusia yang lebih tegas secara signifikan. meningkatkan anggaran pertahanannya & kehadiran militernya.”

Mengapa latihan militer ini sangat penting bagi Putin?

Rusia telah menyadari bahwa negara tersebut semakin terisolasi secara diplomatis, karena negara-negara Barat memberikan sanksi kepada mereka atas tindakannya di Ukraina, menyalahkannya atas serangan agen saraf Novichok terhadap mantan mata-mata Rusia di Inggris awal tahun ini, dan menuduh Rusia ikut campur dalam pemilihan umum. Rusia dengan keras menyangkal dua tuduhan terakhir.

Pertunjukan kekuatan adalah cara bagi Putin untuk “memastikan bahwa angkatan bersenjatanya siap untuk terlibat dalam konflik, dan bahwa musuh potensial menerima kesan kekuatan bersenjata yang sangat besar untuk menghalangi mereka,” kata Giles kepada Euronews.

Sanksi AS Terhadap Rusia Terkait Agen Saraf Mulai Berlaku Senin Terkait Agen Saraf Mulai Berlaku Senin

Presiden Rusia Vladimir Putin. (Foto: AFP)

Latihan ini juga baik bagi sebuah negara yang sangat membanggakan kekuatan militernya, dan dilaksanakan pada saat yang tepat bagi Putin, yang peringkatnya merosot sejak mengumumkan kenaikannya di usia pensiun, yang mendorong protes luas di seluruh negeri.

Baca Juga: Permainan Perang Vostok 2018: China Belajar dari Militer Rusia di Suriah

Latihan militer tersebut, kata Giles, mungkin “meyakinkan Rusia bahwa walau standar hidup mereka mungkin memburuk di bawah kepemimpinan saat ini, namun setidaknya sekali lagi Rusia memiliki pasukan yang kuat sebagai hiburannya.”

Pergeseran Rusia ke Timur

Ini bukan pertama kalinya China bergabung dengan Rusia untuk latihan militer, tetapi tahun ini sangat signifikan, Ferris menjelaskan, karena itu “bagian dari strategi Rusia untuk secara simbolis dan secara politis menyelaraskan diri dengan China, sebagai keseimbangan balik terhadap pengaruh geopolitik AS.”

Kedua negara itu terikat oleh keprihatinan keamanan bersama mereka atas program nuklir Korea Utara dan keduanya juga makin giat bekerja sama di Suriah. Rusia adalah peserta militer aktif yang mendukung pemimpin rezim Suriah Bashar al-Assad, sementara China tertarik pada investasi pasca-konflik.

“Juga sangat signifikan bahwa latihan ini bertepatan dengan Forum Ekonomi Timur (EEF) di wilayah timur jauh Vladivostok—sebuah acara tahunan yang dirancang untuk mempromosikan investasi asing dan domestik di Timur Jauh,” kata Ferris.

“Rusia sangat tertarik untuk menarik investasi dari Jepang dan China, khususnya di bidang infrastruktur,” tambahnya, dan menekankan bahwa Presiden Xi Jinping menghadiri EEF tahun ini.

Keterangan foto utama: Presiden Rusia Vladimir Putin berjabatan tangan dengan Presiden China Xi Jinping saat pertemuan dengan para peserta diskusi meja bundar terkait Kerja Sama Rusia-China, di sela-sela Forum Ekonomi Timur di Vladivostok, Rusia, pada tanggal 11 September 2018. (Foto: TASS Host Photo Agency/Pool via Reuters/Donat Sorokin)

Latihan Perang Terbesar Rusia Vostok 2018: Yang Perlu Anda Tahu

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top