Lawan China di Eurasia, Begini Permainan Jalur Sutra Putin
Eropa

Lawan China di Eurasia, Begini Permainan Jalur Sutra Putin

Lawan China di Eurasia, Begini Permainan Jalur Sutra Putin

Dalam permainan Jalur Sutra Putin, Kremlin khawatir bahwa insiatif Sabuk Ekonomi Jalur Sutra China akan mengancam proyek Rusia, Uni Ekonomi Eurasia. Walau Rusia memiliki kekuatan besar dalam hal politik, keamanan, dan diplomatik, namun terdapat kenyataan bahwa ekonomi China delapan kali lebih besar dari Rusia, dan kesenjangan pun terus berkembang.

Oleh: Artyom Lukin (The Washington Post)

VLADIVOSTOK, Rusia—Pada bulan September 2013, ketika Presiden China Xi Jinping meluncurkan konsep Sabuk Ekonomi Jalur Sutra, Moskow bereaksi dengan ketakutan. Kremlin khawatir bahwa inisiatif besar China tersebut akan bersaing dengan proyeknya sendiri, Uni Ekonomi Eurasia, yang berusaha mengintegrasikan kembali ruang pasca-Soviet di bawah naungan Moskow. Fakta bahwa Xi memberikan pidato terkait Jalur Sutra di Astana, ibu kota Kazakhstan, membuat Moskow semakin tidak nyaman—Kazakhstan adalah negara terbesar dan terkaya di Asia Tengah, di mana Kazakhstan memiliki perbatasan panjang dengan Rusia dan dipandang oleh Moskow sebagai sekutu utama.

Bagaimana krisis Ukraina membuat Rusia membutuhkan Jalur Sutra

Untuk sementara, Moskow tampak ragu-ragu tentang bagaimana menanggapi narasi Jalur Sutra yang baru. Tapi krisis Ukraina tahun 2014 mengubah perhitungan Kremlin. Konfrontasi dengan perekonomian Barat, dan Rusia yang memburuk akibat sanksi yang dipimpin Amerika Serikat (AS), serta turunnya harga minyak, memberikan Moskow sedikit pilihan.

Pukulan lain adalah hilangnya Ukraina sebagai peserta yang potensial dalam proyek integrasi pimpinan Rusia. Tanpa Ukraina—yang merupakan negara dengan perekonomian pasca-Soviet terbesar kedua, dan pasar dengan sekitar 44 juta orang—harapan Moskow untuk menciptakan blok terpadu yang setara dengan Uni Eropa dan pusat kekuatan ekonomi global lainnya, pada dasarnya hancur. Karena tidak memiliki pasar dengan ukuran yang cukup untuk menciptakan wilayah geo-ekonomi yang layak, Rusia ditinggalkan dengan satu-satunya pilihan untuk beralih ke orbit ekonomi negara lainnya.

Setelah beberapa keragu-raguan pada awalnya, Rusia bergabung dengan Bank Investasi Infrastruktur Asia yang dikendalikan China pada bulan Maret 2015. Namun langkah yang paling menentukan terjadi beberapa bulan kemudian di bulan Mei, ketika Presiden Xi dan Presiden Rusia Vladimir Putin, bertemu di Moskow untuk berjanji akan bekerja menuju sebuah “kerja sama” antara Uni Ekonomi Eurasia milik Rusia dan Sabuk Ekonomi Jalan Sutra milik China.

Dua tahun kemudian, Putin menjadi tamu kehormatan utama di KTT Satu Sabuk, Satu Jalan di Beijing untuk memberikan dukungan internasional terhadap ambisi Eurasia China. Dalam pidatonya pada forum tersebut—sesaat setelah pidato pembukaan Xi—Putin menyambut baik inisiatif China.

Namun tetap saja, sambil memuji rencana Sabuk dan Jalan, Moskow sangat ingin mencegah dominasi geopolitik Beijing atas wilayah Eurasia. Dan bukannya sepenuh hati mendukung skema China, Kremlin mempromosikan visinya sendiri tentang “kemitraan Eurasia yang lebih besar” atau “Eurasia yang Lebih Hebat,” dan sebuah jaringan “format integrasi” yang ada dan sedang berkembang. “Sabuk dan Jalan Beijing hanya menjadi satu elemen, di samping Uni Ekonomi Eurasia, Organisasi Kerjasama Shanghai, Asosiasi Negara-negara Asia Tenggara, dan bahkan Uni Eropa.”

Lawan China di Eurasia, Begini Permainan Jalur Sutra Putin2

Presiden China Xi Jinping berbicara dalam sebuah konferensi pers di akhir Forum Sabuk dan Jalan di Beijing, pada Senin, 15 Mei 2017. (Foto: AP)

Mengumpulkan kekuatan di Eurasia

Seperti biasa, permainan utama Moskow adalah politik dan bukan ekonomi. Kremlin memahami dengan baik, bahwa di dunia perdagangan dan keuangan, posisi Rusia di Eurasia jauh lebih lemah daripada China. Kekuatan penting Rusia secara tradisional terletak pada domain politik-militer dan diplomatik. Oleh karena itu, dengan menyerahkan inisiatif ekonomi ke China, Moskow berusaha memiliki peran utama dalam merancang tatanan politik dan keamanan Eurasia yang akan mencerminkan preferensinya sendiri, dan bertepatan dengan kepentingan dasar negara-negara utama di benua tersebut.

    Baca juga: Demi Dapatkan Senjata Cyber yang Dicuri, Mata-mata Amerika Bayar Orang Rusia yang Menjual Rahasia Trump

Jenis tatanan politik yang diimpikan Rusia untuk Eurasia pada dasarnya adalah salah satu pengumpulan negara-negara—sebuah model yang berasal dari Eropa abad ke-19—dan menempatkan premi pada hubungan di antara beberapa negara besar: Rusia, China, India dan—dengan beberapa kualifikasi—Pakistan,Iran, dan mungkin Turki. Mempertimbangkan sebagian besar populasi Eurasia kontinental dan potensi daratan dan militer, enam pemain besar tersebut harus secara kolektif mengelola urusan keamanan dan ekonomi wilayah besar tersebut.

Rusia bercita-cita menjadi penengah utama dalam masalah keamanan dan diplomatik di Eurasia, sambil memberikan China peran kepemimpinan ekonomi. Seperti yang dikatakan oleh seorang pengamat, “China akan menjadi banknya, dan Rusia akan menjadi senjata besar.” Pengaturan semacam itu mungkin kembali ke sejarah Komunitas Eropa, ketika Prancis bertindak sebagai pemimpin politik, sementara Jerman Barat adalah mesin ekonomi. Preferensi Moskow untuk tatanan Eurasia baru ini tercermin dalam aktivisme diplomatiknya, seperti peran utamanya dalam mengamankan pengakuan India dan Pakistan ke dalam Organisasi Kerjasama Shanghai, dan dalam advokasi untuk keanggotaan Iran di masa depan.

Terdiri dari negara-negara non-Barat Eurasia yang paling kuat, “Greater Eurasia” dibayangkan sebagai antitesis terhadap tatanan dunia yang didominasi Barat. Seluruh negara-negara calon anggota Eurasia—dengan pengecualian penting India—adalah negara-negara autokrasi atau demokrasi yang tidak liberal. Beijing mungkin menyukai gagasan kontinentalisme Eurasia yang tidak liberal. Dan masih tidak jelas apakah China menerima gagasan Rusia, bahwa keunggulan China bagaimanapun harus dibatasi dan seimbang dalam perpolitikan negara-negara utama.

Dari Asia Tengah ke Samudera Arktik

Terlepas dari kekhawatiran awal Moskow, masuknya China ke Asia Tengah di bawah spanduk Sabuk dan Jalan, sejauh ini tidak membahayakan kepentingan Rusia. Justru Rusia mendapatkan keuntungan darinya—kargo China yang menuju Eropa melintasi Kazakhstan dan kemudian transit melalui jaringan kereta api Rusia. Sama seperti Rusia sendiri, negara-negara Asia Tengah bergerak sangat hati-hati sehubungan dengan seruan China untuk melakukan perdagangan bebas, karena khawatir ekonomi mereka akan dilahap oleh ‘naga’ China. Yang paling penting, populasi di Asia Tengah, khususnya di Kazakhstan dan Kirgistan, menunjukkan tingkat Sinophobia (sentimen anti-China) yang tinggi, yang sejauh ini melebihi kebencian yang mungkin mereka rasakan terhadap imperialisme Rusia.

Negara-negara Asia Tengah tidak akan meninggalkan Rusia untuk mendukung China. Kemungkinan besar, mereka akan membutuhkan Moskow untuk membatasi pengaruh ekonomi Beijing yang meningkat.

Asia Tengah bukanlah satu-satunya wilayah di mana Jalur Sutra berpotongan dengan kepentingan vital Moskow. China semakin mengamati Samudra Arktik (Kutub Utara). Di sinilah lengkungan ketiga Sabuk dan Jalan—selain kontinental di Eurasia dan rute maritim Indo-Pasifik—bisa diletakkan.

China telah menyatakan dirinya sebagai “Negara Dekat Arktik” dan bertujuan untuk membangun “Jalur Sutra Polar”. Rusia tampak bimbang dengan ambisi Arktik China. Di satu sisi, wilayah Kutub Utara yang ekstrem dianggap oleh Rusia sebagai tempat perlindungan yang penting bagi keamanan negara dan identitas nasional. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Rusia semakin dan semakin bergantung pada eksploitasi sumber daya Kutub Utara.

Perkembangan Arktik membutuhkan investasi besar, seperti mendanai pembangunan pemecah es yang besar. Dengan Rusia yang kekurangan uang tunai, China tampaknya merupakan satu-satunya sumber pembiayaan yang realistis. Mungkin bukan kebetulan bahwa investasi tunggal terbesar China di Rusia telah berada dalam proyek LNG Yamal di pesisir Kutub Utara Siberia—pabrik gas alam cair terdingin di dunia—di mana Beijing memperoleh saham utama dan memberikan pinjaman sebesar $12 miliar, bahkan ketika proyek tersebut berada di bawah sanksi AS.

Putin dan Xi Seimbang, tapi ekonomi mereka tidak

Rusia dikelilingi oleh Jalur Sutra China—di bagian tengahnya di Asia Tengah dan di utara Arktik— dan sejauh ini, Rusia tampaknya menerima hal itu. Moskow tampaknya telah menghitung bahwa potensi manfaat lebih besar daripada risikonya. Sedangkan untuk sentimen publik, ada insiden ketika warga setempat memprotes “invasi China,” namun sikap umum di Rusia terhadap China tetap positif. Menurut jajak pendapat baru-baru ini, China dipandang sebagai negara kedua setelah Belarus yang termasuk di antara teman-teman terbaik Rusia. Hanya dua persen orang Rusia yang melihat China sebagai musuh, mungkin karena slot musuh utama diduduki oleh AS, sebesar 68 persen.

    Baca juga: Rusia Minta Amerika Berhenti ‘Memburu’ Warganya di Seluruh Dunia

Terlepas dari melihat AS sebagai musuh biasa, sumbu Sino-Rusia didorong oleh ikatan pribadi yang nyata antara Putin dan Xi. Sejak tahun 2013, mereka telah bertemu puluhan kali, dan bisa dibilang hal ini menjadikan mereka pasangan yang paling tangguh dan efisien di antara para pemimpin dunia modern.

Namun, kedekatan mereka tidak bisa menyembunyikan kenyataan bahwa ekonomi China delapan kali lebih besar dari Rusia, dan kesenjangan terus berkembang. Masih harus dilihat apakah, dalam jangka panjang, ketimpangan ekonomi ini akan berkembang menjadi ketidaksetaraan politik, dengan Rusia menjadi negara sampingan di sepanjang Jalur Sutra China.

Artyom Lukin adalah seorang profesor politik internasional di Far Eastern Federal University di Vladivostok, Rusia.

Keterangan foto utama: Presiden Rusia Vladimir Putin (kanan), berjabat tangan dengan Presiden China Xi Jinping, menjelang KTT G-20, di Antalya, Turki, pada tanggal 15 November 2015.(Foto: Ria Novosti/Kremlin/Reuters/Mikhail Klimentyev)

Lawan China di Eurasia, Begini Permainan Jalur Sutra Putin

BERLANGGANAN

1 Comment

1 Comment

  1. Adian

    July 15, 2018 at 12:05 am

    Pandangan jenius

Beri Tanggapan!

To Top