Perang Yaman
Amerika

Lawan Trump, Senat Setuju Akhiri Dukungan AS dalam Perang Yaman

Senator Bob Corker berbicara kepada para wartawan sebelum serangkaian pemungutan suara tentang legislasi yang mengakhiri dukungan militer AS untuk perang di Yaman. (Foto: Reuters/Joshua Roberts)
Berita Internasional >> Lawan Trump, Senat Setuju Akhiri Dukungan AS dalam Perang Yaman

Senat AS pada Kamis (13/12) melakukan pemungutan suara yang menyetujui berakhirnya dukungan AS dalam perang Yaman. Pemungutan suara terakhir dari resolusi Yaman ini mendapatkan suara 56-41, di mana tujuh anggota Republik menentang partai mereka dan memilih mendukung resolusi tersebut. Para senator juga meloloskan resolusi yang mengatakan bahwa Mohammed bin Salman bertanggung jawab atas pembunuhan Jamal Khashoggi.

Baca juga: Perundingan untuk Akhiri Perang Yaman Dimulai di Swedia

Oleh: William Roberts (Al Jazeera)

Senat Amerika Serikat (AS) melakukan pemungutan suara pada Kamis (13/12), untuk menyetujui resolusi yang menyerukan berakhirnya keterlibatan AS dalam kampanye militer yang dipimpin Saudi-UEA di Yaman, yang menimbulkan kemungkinan pertentangan pada tahun depan antara Kongres dan Presiden Donald Trump atas dukungan militer AS untuk Arab Saudi.

Senat juga meloloskan resolusi yang mengatakan bahwa Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman (MBS) bertanggung jawab atas pembunuhan Khashoggi.

Para politisi AS menjadi semakin marah, seiring jumlah warga sipil yang tewas di Yaman oleh pesawat Saudi dan UEA—dan menggunakan senjata buatan AS—telah meningkat secara dramatis dalam dua tahun terakhir. Koalisi Saudi-UEA meluncurkan intervensi pada tahun 2015 melalui kampanye udara besar-besaran yang menargetkan pemberontak Houthi. Menurut kelompok-kelompok hak asasi manusia dan badan pengawas perang, lebih dari 60 ribu orang tewas akibat kampanye pengeboman atau akibat kelaparan dan kondisi lainnya sejak perang dimulai.

Pemungutan suara terakhir dari resolusi Yaman ini mendapatkan suara 56-41, di mana tujuh anggota Republik menentang partai mereka dan memilih mendukung resolusi tersebut.

“Peperangan melibatkan lebih dari satu medan perang dan lebih dari sekadar personel militer yang saling menembak dengan senjata,” Senator Mike Lee dari Utah—pendorong terkemuka resolusi tersebut—mengatakan kepada Al Jazeera dalam konferensi pers di Capitol Hill.

“Ada banyak aspek peperangan modern yang melibatkan aktivitas dunia maya, dan tentu saja ada banyak aspek peperangan modern yang melibatkan pengintaian, pengawasan, pemilihan sasaran, dan hal-hal seperti pengisian bahan bakar di udara.”

Para pejabat pemerintahan Trump telah mendesak Kongres untuk tidak merusak kemampuan Pentagon untuk mendukung Arab Saudi dalam konflik di Yaman, dalam melawan pemberontak Houthi yang didukung oleh Iran. Menteri Luar Negeri Mike Pompeo dan Menteri Pertahanan Jim Mattis menggambarkan konflik tersebut dalam arahan pribadi untuk anggota parlemen, sebagai bagian dari kontes regional yang lebih besar dengan Iran. Pentagon pada tanggal 9 November mengumumkan penundaan pengisian bahan bakar udara oleh AS untuk pesawat tempur Saudi dan UEA.

Karena taktik yang digunakan oleh Partai Republik di DPR, majelis rendah tidak akan meloloskan resolusi Senat sebelum mengambil keputusan—yang membuat masalah ini belum terselesaikan sampai Kongres yang baru bersidang pada bulan Januari.

Para Senator menekankan kemajuan dalam perundingan perdamaian yang ditengahi PBB, dan mengklaim bahwa tekanan dari Kongres telah mendorong Saudi untuk membuat konsesi.

Faksi-faksi yang bertikai dalam pertemuan pekan ini di Rimbo, Swedia, menyetujui gencatan senjata di kota pelabuhan utama Hodeidah dan menukarkan 16 ribu tahanan. Houthi setuju untuk melepaskan kendali atas pelabuhan Yaman—yang memungkinkan bantuan internasional yang sangat dibutuhkan untuk masuk.

“Amerika Serikat tidak akan lagi berpartisipasi dalam intervensi yang dipimpin Saudi di Yaman, yang telah menyebabkan krisis kemanusiaan terburuk di muka bumi, di mana 85 ribu anak mati kelaparan,” kata Senator Bernie Sanders—seorang Independen dari Vermont yang mendukung resolusi tersebut bersama Lee—dalam sambutannya kepada Senat penuh.

Seorang pria memeriksa puing bus sekolah di Yaman pada bulan Agustus 2018 akibat serangan udara koalisi pimpinan Saudi yang menewaskan 26 anak dan melukai 19 orang. (Foto: Associated Press/Hani Mohammed)

Kemarahan atas pembunuhan Khashoggi

Resolusi Yaman telah diajukan oleh Senat dalam pemungutan suara dengan hasil 55-44 pada tanggal 20 Maret, tetapi setelah pembunuhan tanggal 2 Oktober terhadap penulis Arab Saudi Jamal Khashoggi, kemarahan meluas di Washington yang mendorong para politisi memajukan resolusi Yaman.

Khashoggi terbunuh setelah memasuki Konsulat Saudi di Istanbul untuk mendapatkan dokumen yang diperlukan untuk rencana pernikahannya.

Setelah memberikan pernyataan yang kontradiktif tentang keberadaan penulis tersebut, Arab Saudi mengakui bahwa Khashoggi terbunuh di dalam konsulat dan tubuhnya dipotong-potong. Kerajaan itu mempertahankan bahwa Pangeran Mohammed tidak mengetahui tentang pembunuhan itu, yang dikatakan Turki diperintahkan oleh tingkat tertinggi di kepemimpinan Saudi.

Meskipun laporan dari penilaian CIA menunjukkan bahwa MBS setidaknya mengetahui tentang pembunuhan itu, namun Trump menegaskan kembali pada Selasa (11/12) dalam sebuah wawancara dengan kantor berita Reuters, bahwa ia percaya pada putra mahkota itu.

Senat pada Kamis (13/12) dengan suara bulat mengadopsi resolusi yang terpisah dan tidak mengikat, yang mengecam pembunuhan Khashoggi dan menyerukan resolusi damai terhadap perang Yaman. Resolusi pada Kamis (13/12) ini diikuti serangkaian pemungutan suara prosedural dalam dua minggu terakhir, yang menandakan ketidakpuasan luas dalam Kongres terkait hubungan AS dengan Arab Saudi.

“Apa yang dikatakan Senat Amerika Serikat hari ini—dengan cara yang sangat keras—adalah bahwa postur militer kita tidak akan terus didikte oleh rezim pembunuh di Arab Saudi, sebuah rezim yang tidak menghormati demokrasi, tidak menghormati hak asasi manusia, sebuah rezim yang pemimpinnya, tidak diragukan lagi, terlibat dalam pembunuhan mengerikan terhadap seorang wartawan pembangkang di Konsulat Saudi di Turki,” kata Sanders kepada para wartawan.

War Powers Act

Untuk pertama kalinya dalam 45 tahun, resolusi Senat Yaman menggunakan Undang-Undang Kekuatan Perang (War Powers Act)—sebuah undang-undang yang disahkan oleh Kongres untuk mengurangi pengerahan pasukan AS yang terus menerus oleh Presiden Richard Nixon dalam Perang Vietnam. Undang-undang tahun 1973 tersebut menetapkan bahwa Kongres—yang memegang otoritas tunggal untuk menyatakan perang—dapat menahan presiden itu dari mengerahkan pasukan AS dengan sebuah resolusi bersama.

Apakah undang-undang itu akan dimajukan dalam Kongres berikutnya masih belum pasti. Para pendukung mengatakan bahwa mereka bermaksud untuk memajukannya.

“Kecuali kita mundur dari permusuhan itu, kecuali kita berhenti terlibat sebagai negara yang berperang dalam perang ini, saya akan terus mendorongnya,” kata Lee.

Baca juga: Senat Dorong Resolusi untuk Akhiri Dukungan Amerika dalam Perang Yaman

Partai Demokrat—yang mendukung berakhirnya perang di Yaman—akan mengontrol Dewan Perwakilan tahun depan, tetapi Partai Republik akan mempertahankan kendali Senat, dan Presiden Trump mengancam akan memveto resolusi itu.

Selama perang, kelaparan dan kolera terus merenggut nyawa masyarakat sipil di Yaman, dan kekhawatiran tentang peran Mohammed bin Salman dalam pembunuhan Khashoggi masih tidak terjawab, anggota Kongres mengatakan bahwa mereka akan berusaha untuk menerapkan tekanan pada Arab Saudi.

Selain melarang kerja sama militer di Yaman, Kongres dapat memblokir penjualan senjata di masa depan, menjatuhkan sanksi, dan menarik dana dari proyek-proyek bersama.

Keterangan foto utama: Senator Bob Corker berbicara kepada para wartawan sebelum serangkaian pemungutan suara tentang legislasi yang mengakhiri dukungan militer AS untuk perang di Yaman. (Foto: Reuters/Joshua Roberts)

Lawan Trump, Senat Setuju Akhiri Dukungan AS dalam Perang Yaman

BERLANGGANAN

1 Comment

1 Comment

  1. Warok Southend

    December 15, 2018 at 11:21 am

    maju terus,jangan takut dengan siapapun untuk menciptakan kedamaian,karna itu pekerjaan mulia.dan kamulah best prend i.maafkan saya karnah tidak bisa terjun langsung kearea konflik,karnah keterpurukkan perekonomian saya saat ini.yang pastinya saya suka dengan tawa bahagia you all the best.

Beri Tanggapan!

To Top