Apa yang Sebenarnya Diinginkan Kim Jong Un dari Presiden Trump?
Asia

5 Hal yang Perlu Kita Tahu tentang Pertemuan Trump-Kim

Olah grafis foto Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dan Presiden Amerika Donald Trump. (Foto: CNN/Getty Images via GDP)
Home » Featured » Asia » 5 Hal yang Perlu Kita Tahu tentang Pertemuan Trump-Kim

Kim Jong Un dari Korut akan segera bertemu ‘musuh bebuyutannya’ Donald Trump dari Amerika. Spekulasi meningkat mengenai di mana pertemuan bersejarah pertama antara kedua pemimpin negara tersebut akan diadakan. AS hanya mengatakan bahwa pertemuan tersebut akan diadakan “di tempat dan waktu yang akan segera ditentukan.” Apa prospek dari pertemuan bersejarah antara para pemimpin ini?

Oleh: Kim Jaewon dan Masayuki Yuda (Nikkei)

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengejutkan dunia dengan setuju untuk bertemu dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, yang akan menjadi sebuah pertemuan bersejarah antara dua negara yang sebelumnya terus mengancam untuk saling menyerang. Hasil pertemuan puncak itu tidak dapat diprediksi. Inilah beberapa petunjuk mengapa keduanya memutuskan untuk bertemu, dan bagaimana pertemuan itu dapat berjalan.

Mengapa sekarang?

Salah satu alasan mengapa Pyongyang menawarkan untuk bertemu adalah bahwa pendekatan garis keras pemerintahan Trump akhirnya membangun ketakutan, bahwa penggunaan opsi militer Washington semakin dekat. Perundingan Wakil Presiden Mike Pence dengan delegasi Korea Utara di Olimpiade Pyeongchang secara efektif meningkatkan rasa takut itu.

    Baca Juga : Perang Dagang Trump dengan China: Apa yang Dipertaruhkan?

Korea Utara tampaknya memiliki dua tujuan lagi. Salah satunya adalah untuk melonggarkan sanksi yang diberlakukan oleh AS dan anggota Dewan Keamanan PBB, termasuk China. Sanksi tersebut telah mencekik kediktatoran komunis tersebut, membuat pelonggaran tekanan ekonomi menjadi isu yang mendesak. Kedua, rezim tersebut mungkin akan mengulur-ulur waktu untuk terus membangun gudang senjata nuklirnya secara rahasia, sementara negosiasi berlangsung. Beberapa ahli percaya bahwa Korea Utara memerlukan sedikit waktu untuk menyempurnakan program nuklir dan rudalnya.

AS tampaknya berpikir sebaliknya. Negara adikuasa tersebut berusaha untuk mengakhiri perkembangan nuklir dan rudal Korea Utara sesegera mungkin, sebelum rezim Kim memperkuat teknologinya dan memperoleh kapasitas untuk melakukan penyerangan besar-besaran di wilayah AS dengan rudal nuklirnya.

Menurut seorang pejabat AS yang tidak ingin disebutkan namanya, AS berpikir bahwa “Kim Jong Un adalah satu-satunya orang yang dapat mengambil keputusan berdasarkan sistem otoriter yang unik, atau sistem totaliter mereka.” AS tampaknya percaya bahwa meyakinkan pemimpin tersebut adalah cara terbaik yang tersedia untuk mewujudkan denuklirisasi di semenanjung tersebut.

Di Mana Pertemuan Tersebut akan Dilaksanakan?

Spekulasi meningkat mengenai di mana pertemuan bersejarah pertama antara kedua pemimpin negara tersebut akan diadakan. AS hanya mengatakan bahwa pertemuan tersebut akan diadakan “di tempat dan waktu yang akan segera ditentukan.”

Nam Sung-wook—seorang profesor di Universitas Korea, Sejong—mengatakan bahwa Korea Selatan adalah kandidat kuat untuk tempat tersebut, karena Trump dan Kim akan enggan mengunjungi negara satu sama lain karena alasan keamanan.

Seorang tentara Korea Selatan berjaga-jaga di dalam ruang konferensi Area Keamanan Bersama, di desa perbatasan Panmunjom di Zona Demiliterisasi antara Korea Selatan dan Korea Utara. (Foto: Getty Images)

Seorang tentara Korea Selatan berjaga-jaga di dalam ruang konferensi Area Keamanan Bersama, di desa perbatasan Panmunjom di Zona Demiliterisasi antara Korea Selatan dan Korea Utara. (Foto: Getty Images)

“Pilihan pertama mungkin Panmunjeom karena mereka tidak perlu tidur di sana,” kata Nam. Panmunjeom berada di Zona Demiliterisasi antara Korea Utara dan Korea Selatan, sehingga Kim bisa kembali ke Pyongyang, sementara Trump tinggal di Seoul setelah pertemuan tersebut. “Pilihan lainnya mungkin Pulau Jeju,” menurut Nam. Jeju adalah sebuah pulau resor Korea Selatan yang telah menyelenggarakan banyak konferensi internasional.

Untuk menghindari munculnya terlalu banyak kesepakatan, kedua pihak mungkin akan mengakhiri pertemuan puncak di negara ketiga, seperti Swiss atau Singapura.

Bagaimana reaksi Korea Selatan, Jepang, dan China?

Presiden Korea Selatan Moon Jae-in menyatakan dukungannya atas keputusan dua pihak tersebut. “Jika kedua orang ini bertemu—setelah pertemuan tingkat tinggi antar-Korea—denuklirisasi lengkap di Semenanjung Korea akan berada di jalur yang benar,” kata Moon dalam sebuah pernyataan, dan memberikan dirinya kredit sebagai pemecah masalah.

Jepang merasa tidak nyaman. Perdana Menteri Shinzo Abe menghargai perubahan sikap Pyongyang, namun mengatakan bahwa pemerintahannya “akan terus memaksimalkan tekanan sampai Korea Utara mengambil langkah nyata (denuklirisasi).” Abe berbicara dengan Trump melalui telepon pada Jumat (9/3). Dia berencana mengunjungi AS pada bulan April untuk bertemu dengan presiden itu. Bagi Jepang, apakah Pyongyang setuju untuk melakukan denuklirisasi atau hanya membekukan program nuklirnya, sangatlah penting. Beberapa ahli percaya bahwa pembekuan tersebut hanya akan mengunci kapasitas nuklir negara tersebut yang terbatas, di mana kemampuannya masih dapat menyerang Jepang dan Korea Selatan, sementara AS masih berada di luar jangkauan.

China menyambut baik sinyal positif dari AS dan Korea Utara. “Kami berharap semua pihak akan menunjukkan keberanian politik,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Geng Shuang pada Jumat (9/3). China berharap agar semua pihak “melakukan yang terbaik untuk memulai kembali dialog dan negosiasi untuk penyelesaian damai dari masalah nuklir di semenanjung tersebut,” tambahnya.

Tapi ini bisa jadi hanya sebuah jalur resmi. Beberapa ahli melihat bahwa China menjadi lebih berhati-hati terhadap AS dan Korea Utara, seiring keduanya semakin dekat. Negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia tersebut telah bertindak sebagai salah satu aktor kunci dalam menyelesaikan krisis di Semenanjung Korea. Sampai batas tertentu, peran ini berfungsi sebagai strategi diplomatik yang dapat menghentikan sikap keras AS dalam hal-hal lain seperti konflik perdagangan. Kelengahan bisa menghancurkan strategi itu dari China.

Hasil apa yang para ahli harapkan dari pertemuan puncak ini?

Paik Hak-soon, pengamat senior di Institut Sejong, mengatakan bahwa jalan yang panjang dan berliku harus dihadapi menjelang perundingan denuklirisasi. Para peneliti veteran—yang telah mempelajari Korea Utara selama lebih dari dua dekade—mengatakan bahwa keberhasilan Pyongyang dalam pengembangan rudal balistik antarbenua dan bom hidrogennya, memberi kepercayaan pada Korea Utara bahwa mereka dapat berunding dengan AS dalam pijakan yang sama.

“Saya memperkirakan bahwa hal itu akan memakan waktu yang sangat lama, dan (menjadi) proses yang rumit (untuk perundingan). Dan akan ada banyak pasang surut, karena AS memerlukan CVID, sementara Korea Utara ingin mendapatkan jaminan untuk apa yang mereka miliki sekarang.” CVID adalah singkatan dari Pembubaran Program Senjata Nuklir Korut yang lengkap, Dapat Diverivikasi dan Tidak Dapat Diubah.

Sebuah layar televisi menampilkan berita dengan Presiden Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un di sebuah stasiun kereta api di Seoul pada tanggal 29 November 2017. (Foto: AFP/Getty Images/Jung Yeon-Je)

Sebuah layar televisi menampilkan berita dengan Presiden Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un di sebuah stasiun kereta api di Seoul pada tanggal 29 November 2017. (Foto: AFP/Getty Images/Jung Yeon-Je)

Robert Dujarric—Direktur Institute of Contemporary Asian Studies di Temple University—agak pesimis tentang bagaimana pertemuan itu akan berlangsung. “Hasilnya tidak mungkin signifikan,” katanya. “Trump tidak memiliki pengalaman dalam diplomasi, dan dia bahkan bukan pembuat keputusan yang bagus, berdasarkan catatan bisnisnya.”

“Satu risikonya adalah bahwa Trump—yang menganggap dirinya sebagai pembuat keputusan yang baik—akan menyetujui sesuatu yang sangat merugikan bagi para pemangku kepentingan seperti Korea Selatan dan Jepang,” Dujarric memperingatkan.

Beberapa spesialis mengatakan bahwa pertemuan tersebut mungkin tidak akan terjadi sama sekali, jika proses pra-negosiasi tidak berjalan dengan baik. “Korea Utara harus menunjukkan langkah-langkah denuklirisasi nyata kepada AS dalam satu hingga dua bulan ke depan, agar pertemuan benar-benar terjadi,” kata Lee Jong-wong, seorang profesor di Graduate School of Asia-Pacific Studies di Universitas Waseda. “Pada saat yang sama, Korea Utara harus meyakinkan warganya, apa manfaat yang mereka dapatkan dari sanksi yang dicabut sebagai pengganti pelucutan senjata nuklir.”

Seberapa mampu Kim dalam Diplomasi?

Kemampuan diplomatik Kim Jong Un tidak diketahui oleh dunia, hanya karena dia belum pernah bertemu dengan pemimpin asing sama sekali sejak dia mengambil alih posisi sebagai pemimpin Korea Utara. Dia bahkan belum meninggalkan negaranya, setidaknya sejak dia naik ke posisi sekarang. Namun pertemuan makan malam selama empat jam dengan utusan Korea Selatan pada Senin (12/3) menawarkan beberapa kilasan mengenai gaya diplomatiknya.

    Baca Juga : Moon Jae-In: Master Taktik yang Bisa Bawa Trump dan Kim ke Meja Perundingan

Kantor kepresidenan Rumah Biru mengatakan bahwa Kim berbicara dengan terus terang dan menentukan dalam pertemuan yang diadakan di Pyongyang, yang membahas semua agenda yang telah dikatakan oleh Presiden Moon Jae-in dalam pertemuannya dengan Kim Yo Jong—saudara perempuan pemimpin tersebut—di Seoul pada bulan lalu.

Pendahulunya dan ayahnya, Kim Jong Il, dikenal sebagai negosiator yang berhati-hati dan tangguh. Pada tahun 2002 dan 2004, Perdana Menteri Junichiro Koizumi dari Jepang mengunjungi Pyongyang untuk bertemu dengan Kim Jong Il.

Sebagai hasil dari negosiasi antara kedua negara itu, Jepang berhasil membawa pulang beberapa korban penculikan yang ditangkap dan dikirim dari Jepang oleh Korea Utara. Sebagai gantinya, rezim Korea Utara menerima 250 ton bantuan makanan dan barang medis senilai $10 juta.

Pihak AS juga tidak dilengkapi dengan alat diplomatik. Pejabat utama AS di Korea Utara—utusan khusus Joseph Yun—mengumumkan pengunduran dirinya pada akhir Februari. Tidak ada penerus yang ditunjuk sejauh ini. Lebih dari satu tahun, pemerintahan Trump belum menunjuk seorang Duta Besar untuk Korea Selatan. Senat bahkan belum mengkonfirmasi diplomat tertinggi AS untuk Asia timur.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Olah grafis foto Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dan Presiden Amerika Donald Trump. (Foto: CNN/Getty Images via GDP)

5 Hal yang Perlu Kita Tahu tentang Pertemuan Trump-Kim

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top