Pemilu
Global

3 Pemilu Penting di 2019 (Termasuk Indonesia) dan Pengaruhnya bagi AS

Musim pemilu bisa ubah arah politik dunia di 2019. (Foto: iPolitics.ca)
Berita Internasional >> 3 Pemilu Penting di 2019 (Termasuk Indonesia) dan Pengaruhnya bagi AS

Pemilu di Nigeria, Ukraina, dan Indonesia, bisa menjadi pemilu-pemilu penting yang akan berdampak bagi Amerika Serikat. Misalnya, jika timbul kerusuhan, rusaknya stabilitas, dan menyebarnya ekstremisme pasca-pemilu di tiga negara ini, maka hal itu dapat memengaruhi kepentingan AS.

Baca juga: Bagaimana Gelombang Anti-Komunis Warnai Kampanye Pemilu Indonesia

Oleh: Scott Mastic (Washington Examiner)

Seiring para anggota Demokrat akhirnya memutuskan untuk berpartisipasi dalam pemilu, siklus berita di Amerika Serikat (AS) sudah berfokus pada Pemilihan Presiden AS berikutnya pada tahun 2020. Namun, dengan lebih dari seperempat populasi global bersiap menuju tempat pemungutan suara pada perempat awal tahun ini saja, tahun 2019 akan menjadi tahun yang memiliki konsekuensi pemilu mendalam di seluruh dunia, dengan potensi mengganggu atau memperkuat Amerika dan sekutu-sekutunya.

Berikut ini tiga pemilu utama dan apa artinya bagi kepentingan Amerika Serikat.

Presiden Nigeria

Presiden Nigeria Muhammadu Buhari menghabiskan waktu tiga bulan di London pada tahun 2017 untuk cuti sakit. (Foto: Shannon Stapleton/Reuters)

1) Nigeria

Nigeria akan mengadakan pemilihan presiden dan parlemen pada tanggal 16 Februari 2019 dan pemilihan gubernur dan Majelis Nasional pada tanggal 2 Maret 2019. Ini akan menjadi pemilu keenam yang diadakan Nigeria sejak transisi dari militer ke pemerintahan demokratis sipil pada tahun 1999. Pemilu akan berlangsung dengan latar belakang tantangan ekonomi yang serius.

Mengapa pemilu Nigeria penting bagi Amerika Serikat?

Nigeria adalah negara terpadat di Afrika dan merupakan negara ekonomi terbesar di benua itu. Negara itu juga menjadi produsen minyak utama dunia. Bahkan, pada tahun 2050, populasi Nigeria diproyeksikan melebihi Amerika Serikat.

Langkah-langkah serius diperlukan untuk mengatasi utang negara yang melonjak, ekonomi yang tidak terdiversifikasi, urbanisasi yang cepat, dan meroketnya populasi kaum muda. Setiap kemunduran dalam demokrasi negara akan semakin merusak upaya untuk menghadapi tantangan-tantangan ini.

Institusi yang stabil dan efektif mendorong kemakmuran, pertumbuhan ekonomi, dan kesempatan hidup bagi warganya, sementara kegagalan negara akan memicu ekstremisme seperti Boko Haram, dan potensi migrasi ilegal skala besar, yang sebagian besar menuju ke Eropa.

Jika integritas pemilu dipertanyakan atau jika pemungutan suara dirusak oleh kekerasan pemilu, ini bisa mengikis kepercayaan pada sistem, dengan konsekuensi negatif bagi benua Afrika dan sekitarnya.

Siapa yang mencalonkan diri dan apa yang bisa kita harapkan?

Pemilihan presiden dan gubernur diharapkan akan dilangsungkan. Lebih dari 70 kandidat akan bersaing untuk jabatan puncak di negara itu, termasuk Presiden Muhammadu Buhari dan pemimpin oposisi serta mantan Wakil Presiden Atiku Abubakar dari Partai Demokrat Rakyat.

Sebagai petahana, Buhari memiliki keunggulan dalam pemilu, tetapi ekonomi yang gagal dan situasi keamanan yang memburuk dapat merusak posisinya. Pengamatan terhadap lingkungan sebelum pemilu telah menimbulkan kekhawatiran serius terhadap potensi pembelian suara, persiapan keamanan yang tidak memadai, dan kekerasan pemilu.

Presiden Ukraina

Presiden Ukraina Petro Poroshenko menginginkan pemerintah Rusia menarik pasukan mereka di sepanjang perbatasan Rusia-Ukraina. (Foto: Reuters)

2) Ukraina

Putaran pertama pemilihan presiden Ukraina akan berlangsung pada 31 Maret 2019. Jajak pendapat menunjukkan bahwa tidak ada kandidat yang akan mengamankan mayoritas suara di putaran pertama, sehingga pemilu kemungkinan akan dilanjutkan ke putaran kedua, pada 21 April 2019.

Mengapa pemilu Ukraina penting bagi Amerika Serikat?

Pada tahun 2014, pasukan tidak teratur Rusia menginvasi Ukraina dan menduduki Semenanjung Krimea, memulai era agresi Rusia yang diperbarui tidak hanya terhadap Ukraina, tetapi juga ke seluruh Eropa. Hingga hari ini, Krimea masih berada di bawah pendudukan Rusia. Ukraina Timur adalah zona perang, dan Rusia terus mengganggu demokrasi Ukraina melalui kampanye disinformasi yang dimaksudkan untuk melemahkan kandidat anti-Kremlin.

Pemilu yang akan datang akan menunjukkan apakah Ukraina dapat terus membangun negara demokrasi yang berhasil dalam menghadapi tantangan sistemik dan serangan Rusia yang berkelanjutan pada kedaulatan nasionalnya.

Ukraina yang merdeka dan demokratis mungkin merupakan benteng terpenting terhadap ambisi Presiden Rusia Vladimir Putin untuk membangun kembali lingkup pengaruh Rusia di Eurasia. Mengingat bahwa Rusia telah diidentifikasi sebagai musuh geopolitik utama dan ancaman strategis dalam Strategi Keamanan Nasional Presiden Trump, Ukraina yang stabil dan demokratis sangat penting bagi kepentingan strategis AS.

Siapa yang mencalonkan diri dan apa yang bisa kita harapkan?

Presiden petahana Petro Poroshenko dan pemimpin oposisi yang karismatik Yulia Tymoshenko adalah yang terdepan saat ini, di mana posisi Tymoshenko saat ini memimpin. Namun, sejumlah besar pemilih masih ragu-ragu, sehingga pertarungan masih terbuka lebar.

Agama sebagai Kuda Hitam dalam Politik Indonesia Menjelang Pemilu 2014

Meski didukung oleh kelompok Muslim garis keras, Prabowo Subianto di setiap kampanye selalu menekankan komitmennya terhadap pluralisme. (Foto: Al Jazeera.)

3) Indonesia

Indonesia akan mengadakan pemilihan umum nasional serentak pertama untuk presiden, wakil presiden, dan parlemen nasional dan provinsi pada 17 April 2019.

Mengapa pemilu Indonesia penting bagi Amerika Serikat?

Sejak berakhirnya era kediktatoran Presiden Soeharto selama 32 tahun pada tahun 1998, Indonesia telah menjadi model demokrasi toleran yang mayoritas penduduknya Muslim. Saat ini, Indonesia berada di tengah pergulatan internal atas karakter negara dan komitmennya terhadap toleransi dan pluralisme.

Baca juga: Tahun Pemilu Sibuk, 2019 Bisa Ubah Politik Global

Kelompok-kelompok Islam mengambil sikap yang semakin keras terhadap tokoh-tokoh masyarakat yang mengadvokasi pandangan moderat dan menyerang komunitas minoritas untuk mempolarisasi populasi.

Sebagai negara terpadat kedua di kawasan Asia-Pasifik dan negara mayoritas Muslim terpadat di dunia, kesehatan demokrasi Indonesia sangat penting bagi stabilitas kawasan. Selain itu, sebagai mitra kontraterorisme yang penting bagi AS dan target-target utama ISIS, potensi ekstremisme di Indonesia adalah masalah serius bagi kepentingan Amerika.

Siapa yang mencalonkan diri dan apa yang bisa kita harapkan?

Petahana Joko Widodo (Jokowi) berhadapan dengan penantang Prabowo Subianto, mantan menantu diktator Suharto dan seorang kandidat presiden 2014.

Sebagai seorang komandan militer, Prabowo disebut-sebut terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia yang mengerikan selama protes yang dipimpin mahasiswa yang menjatuhkan Suharto pada Mei 1998. Pemilihannya tidak akan menjadi pertanda baik bagi lembaga-lembaga demokratis dan kebebasan sipil.

Prabowo secara oportunis menyejajarkan dirinya dengan kelompok Islamis dalam upaya menyatukan pemilih di belakang pencalonannya, dan telah menjadikan lawannya sebagai pihak “anti-Islam” karena hubungannya dengan mantan Gubernur Jakarta beretnis China yang beragama Kristen, yang dipenjara dengan tuduhan penistaan agama. Masa kampanye diperkirakan akan tegang, dan ada kemungkinan kekerasan pemilu.

Scott Mastic adalah wakil presiden program di International Republican Institute (IRI). IRI akan ikut memimpin misi observasi internasional untuk mengamati pemilu Nigeria dan juga akan mengerahkan sebuah delegasi untuk mengamati pemilu Ukraina.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Musim pemilu bisa ubah arah politik dunia di 2019. (Foto: iPolitics.ca)

3 Pemilu Penting di 2019 (Termasuk Indonesia) dan Pengaruhnya bagi AS

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top