Logika Diplomatik di Balik Debat Penuh Komedi Dewan Keamanan PBB
Eropa

Logika Diplomatik di Balik Debat Penuh Komedi Dewan Keamanan PBB

Duta Besar Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia memegang salinan “Petualangan Alice di Negeri Ajaib” saat ia berbicara dalam pertemuan Dewan Keamanan, New York, 5 April 2018. (Foto: AP/Mary Altaffer)
Home » Featured » Eropa » Logika Diplomatik di Balik Debat Penuh Komedi Dewan Keamanan PBB

Setelah mengumpulkan dorongan yang kuat pada kasus keracunan mata-mata di Salisbury di awal, bagaimana cara Inggris menurunkan intensitas responsnya tanpa kehilangan muka? Pertemuan komedi Dewan Keamanan PBB setidaknya membawa keseruan setelah beberapa minggu kesengsaraan, di mana perdebatan sengit tentang Suriah dan Gaza telah menghambat diplomasi.

Oleh: Richard Gowan (World Politics Review)

Jika Anda ingin melihat beberapa komedi improvisasi yang unik di New York minggu lalu, Perserikatan Bangsa-Bangsa adalah tempatnya.

    Baca Juga : Serangan Kimia Suriah Terkonfirmasi, Utusan PBB Rusia: OPCW Harus Selidiki Langsung!

Pada hari Kamis (5/4), Rusia meminta diadakannya pertemuan publik Dewan Keamanan PBB untuk membantah tuduhan bahwa pihaknya bertanggung jawab atas keracunan bekas mata-mata Rusia, Sergei Skripal, di kota Salisbury, Inggris. Ini adalah kedua kalinya dewan telah membahas percobaan pembunuhan agen ganda Rusia dan putrinya menggunakan agen saraf canggih, racun Novichok.

Inggris meminta pertemuan pertama pada bulan Maret sebagai bagian dari kampanye terkoordinasi dengan baik untuk menempatkan Rusia dalam pembelaan, yang juga termasuk permintaan kepada Organisasi untuk Larangan Senjata Kimia, atau OPCW, serta Uni Eropa dan NATO. Kantor Luar Negeri Inggris mungkin bukan raksasa diplomatik yang seperti dulu, tetapi masih tahu bagaimana menggunakan organisasi multilateral untuk menyampaikan pesannya kepada dunia.

Serangan balik Rusia di Dewan Keamanan PBB sangat kacau. Duta besar Rusia, Vassily Nebenzia, dengan agresif mengatakan pembelaannya, bersikeras bahwa negaranya tidak bersalah dan menuntut untuk mengetahui apa yang terjadi pada kucing dan marmut (guinea pig) Skripal—pemerintah Inggris mengatakan bahwa semua hewan telah mati.

Nebenzia mengutarakan referensi “Alice in Wonderland,” menceritakan kisah pertengkaran sengit dari novel Lewis Carroll dan sindiran fiksi-jahat dengan mitranya dari Inggris, Karen Pierce. Diplomasi PBB jarang berlangsung seaneh ini.

Pertemuan itu setidaknya membawa keseruan yang sangat dibutuhkan dewan setelah beberapa minggu kesengsaraan di mana perdebatan sengit tentang Suriah dan Gaza telah membawa diplomasi ke keadaan yang hampir macet.

Walaupun kasus Skripal merupakan masalah serius, masalah itu tampak pucat apabila dibandingkan dengan kengerian Timur Tengah, karena penggunaan senjata kimia terbaru di Suriah akhir pekan ini digambarkan dengan sangat serius. Tidak ada yang membayangkan bahwa Rusia atau AS akan mengalah megenai kasus Salisbury di PBB. Jadi apa gunanya perdebatan ini?

Ada tiga interpretasi yang mungkin dari perilaku Rusia, jika kita mengesampingkan kemungkinan yang tidak mungkin bahwa Presiden Vladimir Putin benar-benar khawatir tentang kesejahteraan hewan peliharaan ekspatriat Rusia.

Yang pertama adalah bahwa Rusia hanya menggunakan PBB untuk menghalangi diskusi serius tentang insiden Salisbury. Yang kedua adalah bahwa ia percaya bahwa ia dapat menggunakan pertemuan semacam itu untuk menunjukkan bahwa Inggris sedikit histeris. Yang ketiga adalah bahwa pemerintah Rusia memberi isyarat kepada pemerintah Inggris bahwa mereka ingin mengubur persoalan ini di dalam perdebatan multilateral.

Rusia memiliki rekam jejak yang panjang dalam menggunakan proses PBB untuk memperlambat aksi internasional. Mereka bersikeras bahwa dewan mengadakan perdebatan rutin mengenai status Kosovo, yang dikenal sebagai diskusi paling membosankan dari PBB, untuk menunjukkan bahwa pihaknya masih menentang kemerdekaan provinsi Serbia sebelumnya.

Jauh lebih buruk, Rusia juga telah berulang-ulang menghambat upaya PBB untuk menyelesaikan perang Suriah untuk melindungi Damaskus (rezim Suriah).

Pemerintah Rusia jelas ingin memainkan permainan serupa di Salisbury. Pekan lalu, mereka mengusulkan penyelidikan bersama Inggris-Rusia tentang persoalan di Dewan OPCW di Den Haag, mencoba untuk mendahului laporan independen OPCW pada kasus tersebut. Inggris dan sekutunya menghalangi manuver ini. Namun Rusia akan terus mencari cara untuk memperluas perdebatan atas masalah di New York dan The Hague untuk mengulur waktu.

Pemerintah Rusia mungkin berpikir waktu ada di pihaknya. Sementara Inggris berhasil memicu kemarahan internasional atas percobaan pembunuhan Skripal, tidak jelas bahwa sekutunya ingin berpartisipasi dalam perang terbuka dengan Rusia.

Bahkan pemerintah Inggris tampaknya segan untuk mengambil langkah-langkah yang berat untuk mengekang investasi Rusia di Inggris, yang oleh sebagian besar ahli percaya merupakan cara terbaik untuk menghukum orang-orang terdekat Putin.

Semakin lama Inggris terus mengkritik publik Rusia, semakin banyak teman-temannya akan mempertanyakan apakah pemerintah Inggris terlalu berlebihan.

Perdebatan terbaru di Dewan Keamanan PBB dapat dirancang untuk memicu kekhawatiran ini. Dengan berkembangnya kesusastraannya, Nebenzia membuat perdebatan lebih mirip permainan salon daripada pertanyaan nyata tentang perdamaian dan keamanan internasional.

Seluruh aspek spionase dari peristiwa Salisbury, yang menampilkan mata-mata dan senjata kimia eksotis, dapat membuatnya sedikit sulit bagi masyarakat umum untuk memperlakukannya secara serius.

    Baca Juga : Di PBB, China dan Rusia Menangkan Skor dalam Perang Hak Asasi Manusia

Rusia tampaknya percaya bahwa jika mereka dapat meningkatkan absurditas atas persoalan tersebut, upaya Inggris untuk membangun kasus konkrit terhadap Moskow akan kehilangan daya tarik. Jadi Nebenzia memiliki alasan bagus untuk meningkatkan melodrama di PBB.

Namun dalam melakukannya, ia mungkin juga menawarkan pemerintah Inggris jalan keluar dari keruwetan. Pemerintah Inggris telah memutuskan untuk menghadapi Rusia karena agresinya dan mungkin telah cukup menghalangi pemerintah Rusia untuk mengulangi tindakan yang sama dalam waktu dekat. Tapi pemerintah Inggris tidak banyak mendapat untung dari tindakan saling menghukum ini.

Tapi persoalan ini meninggalkan pertanyaan terbuka. Setelah membuat dorongan yang kuat pada episode Salisbury di awal, bagaimana cara Inggris meruntuhkan responsnya tanpa kehilangan harga diri? Polisi dan pengadilan Inggris akhirnya dapat mengidentifikasi orang-orang tertentu yang terlibat dalam plot kasus racun dan menuntut agar pemerintah Rusia menyerahkannya.

Rusia pasti akan menolak. Lalu apa?

Dewan Keamanan PBB dapat menjadi bagian dari jawabannya. Jika Inggris ingin membawa seluruh urusan Salisbury ke titik klimaks yang memuaskan tetapi secara fundamental tidak merusak, mereka selalu dapat kembali ke PBB untuk menyelesaikan kasus terakhirnya melawan pemerintah Rusia. Hal itu bisa menuntut resolusi yang mengecam Rusia.

Nebenzia akan memveto itu sebagaimana mestinya, sama seperti saat dia memveto resolusi atas Suriah yang tidak disukai oleh pemerintah Rusia. Akan ada kemarahan dan saling tuduh selama berhari-hari atau berminggu-minggu. Tapi pemerintah Inggris setidaknya bisa mengklaim bahwa kehormatan telah terlaksana.

Ini mungkin terdengar sinis. Tetapi Dewan Keamanan adalah rumah dari kompromi yang sinis. Jika Rusia dan Inggris ingin menenangkan konflik mengenai Salisbury, PBB menawarkan sebuah jalan yang cukup mudah.

Richard Gowan adalah seorang rekan di European Council on Foreign Relations dan tidak lagi menetap di NYU Center on International Cooperation, di mana dia sebelumnya menjadi direktur penelitian. Dia juga mengajar di Universitas Columbia. Kolom WPR mingguannya, Diplomatic Fallout, terbit setiap hari Senin.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Duta Besar Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia memegang salinan “Petualangan Alice di Negeri Ajaib” saat ia berbicara dalam pertemuan Dewan Keamanan, New York, 5 April 2018. (Foto: AP/Mary Altaffer)

Logika Diplomatik di Balik Debat Penuh Komedi Dewan Keamanan PBB
Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top