Perang Aljazair
Eropa

Macron Akui Prancis Bersalah atas Penyiksaan Aktivis dalam Perang Aljazair

Presiden Prancis Emmanuel Macron bersama Michele Audin, putri mendiang Maurice Audin, pada tanggal 13 September 2018. (Foto: AFP)
Macron Akui Prancis Bersalah atas Penyiksaan Aktivis dalam Perang Aljazair

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengakui bahwa Prancis bersalah atas penyiksaan seorang aktivis dalam perang Aljazair tahun 1957. Ia mengatakan hal itu kepada istri aktivis tersebut pada Kamis (13/9). Aktivis Aljazair pro-kemerdekaan itu, Maurice Audin, diculik dari rumahnya dan disiksa di pusat penahanan oleh tentara, hingga akhirnya tewas dalam tahanan.

Baca juga: Macron tentang Bertelepon dengan Trump: ‘Ibarat Makan Sosis, Lebih Baik Tak Tahu Apa Isinya’

Oleh: (France 24/AFP/Reuters)

Presiden Prancis Emmanuel Macron secara resmi mengakui pada Kamis (13/9), bahwa negara Prancis bertanggung jawab atas hilangnya Maurice Audin—seorang aktivis anti-kolonial yang ditangkap selama Perang Aljazair tahun 1957 dan tidak pernah terlihat lagi.

Macron bertemu istri Audin, dan menawarkan pengakuan resmi bahwa ahli matematika komunis dan aktivis pro-kemerdekaan pro-Aljazair tersebut disiksa dan kemudian dieksekusi—atau disiksa sampai mati—oleh tentara yang menculiknya dari rumahnya di Aljazair pada 11 Juni 1957, dan bahwa penyiksaan tersebut “berasal dari sistem yang berawal saat Aljazair adalah bagian dari Prancis”, menurut Istana Élysée, kediaman resmi presiden.

Presiden Prancis itu meminta maaf kepada Josette Audin atas tanggung jawab negara Prancis atas kematian suaminya, dan mengatakan kepadanya bahwa “Anda tidak pernah menyerah atas upaya Anda agar kebenaran diakui”.

“Saya tidak pernah berpikir hari ini akan datang,” kata Josette Audin.

Audin menghilang selama Perang Aljazair 1956-1957, di mana Front Pembebasan Nasional Aljazair (FLN) melancarkan serangkaian serangan gerilya terhadap tentara dan warga sipil Prancis di Aljir, yang militer Prancis tanggapi dengan pembalasan yang semakin keras, termasuk eksekusi dan pemaksaan penghilangan.

Macron Akui Prancis Bersalah atas Penyiksaan Aktivis dalam Perang Aljazair

Maurice Audin hilang setelah ditangkap pada tanggal 11 Juni 1957. (Foto: AFP/Getty Images)

Perang Aljazair selama enam tahun tersebut, baru berakhir ketika Prancis memberikan kemerdekaan kepada negara itu pada tahun 1962.

“Audin ditangkap di rumahnya oleh tentara yang membawanya ke pusat penahanan El Biar, yang kemudian menginterogasi dan menyiksanya,” kata Sylvie Thénault, seorang sejarawan yang mengkhususkan diri dalam Perang Kemerdekaan Aljazair, dalam wawancara dengan FRANCE 24. “Itu adalah fakta-fakta yang telah ditetapkan.”

“Sejak Aubin masuk ke pusat penahanan, tidak ada jejak lebih lanjut dari dia, kecuali pernyataan saksi oleh Henri Alleg (seorang aktivis anti-kolonial komunis yang ditahan sehari setelah Audin), yang mengatakan bahwa dia melihat Audin dan mengetahui bahwa dia telah disiksa,” lanjut Thénault.

Tentara Prancis kemudian memberi tahu istri Audin bahwa dia telah melarikan diri. Yakin bahwa mereka telah membunuhnya, istrinya mengajukan gugatan terhadap negara Prancis terkait keterlibatan dalam pembunuhan suaminya, pada akhir tahun 1957, sementara komite dibentuk untuk mendukung klaimnya.

Tidak ada kemajuan yang dibuat sampai tahun 2014, ketika presiden saat itu François Hollande secara resmi menyatakan bahwa Audin “meninggal dalam tahanan”. Namun apa yang “kurang” dalam pernyataan Hollande adalah “pengakuan bahwa Audin meninggal karena penyiksaan yang diberikan kepadanya saat berada di tangan militer”, kata Thénault.

Baca juga: Macron Harap Hubungan dengan Trump Bisa Buat Prancis Hebat Lagi

Deklarasi Macron menandai “bukan sebuah momen tuduhan tetapi momen kebenaran”, kata Cédric Villani, seorang matematikawan dan pembuat hukum untuk partai Macron La République En Marche (LREM), yang telah berkampanye atas nama keluarga Audin untuk pengakuan tanggung jawab dari negara Prancis, dalam wawancara dengan stasiun radio Prancis Inter.

Pernyataan presiden tersebut menunjukkan bahwa “kebohongan pemerintah yang telah berlangsung selama 61 tahun telah terungkap”, kata Pierre Laurent, Pemimpin Partai Komunis Prancis. “Ini adalah momen yang luar biasa bagi Josette Audin dan keluarganya, bagi PCF (Partai Komunis) yang mengorbankan sangat banyak dalam perjuangan anti-kolonial, dan semua aktivis anti-kolonialis,” tulisnya di Twitter.

Keterangan foto utama: Presiden Prancis Emmanuel Macron bersama Michele Audin, putri mendiang Maurice Audin, pada tanggal 13 September 2018. (Foto: AFP)

Macron Akui Prancis Bersalah atas Penyiksaan Aktivis dalam Perang Aljazair

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top