Mahmoud Abbas Dihantui oleh Rencana Damai Empat Puluh Tahun
Timur Tengah

Mahmoud Abbas Dihantui oleh Rencana Damai Empat Puluh Tahun

Berita Internasional >> Mahmoud Abbas Dihantui oleh Rencana Damai Empat Puluh Tahun

Pemimpin Otoritas Nasional Palestina tidak bersedia mengakui bahwa garis bahaya di masa lalu mungkin sedang bergeser. Otonomi untuk Tepi Barat tidak gila. Ketakutan Mahmoud Abbas ialah bahwa rencana baru AS untuk perdamaian Timur Tengah, yang disebut Donald Trump sebagai Kesepakatan Abad Ini, tidak jauh dari rencana yang ditetapkan 40 tahun lalu di perundingan damai Camp David. Tapi meski ditolak, hal itu tidak terlalu aneh sekarang.

Oleh: Zev Chafets (Bloomberg)

Pekan lalu, pemimpin Otoritas Nasional Palestina Mahmoud Abbas memperingatkan dewan nasional Organisasi Pembebasan Palestina (PLO/Palestinian Liberation Organization) bahwa Palestina sedang berada dalam kesulitan. “Musuh berencana untuk memiliki negara mini di Gaza dan otonomi di Tepi Barat,” tuturnya.

Abbas percaya bahwa “musuh” (sebuah istilah yang mencakup Israel, Hamas, dan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump) sedang merencanakan untuk menciptakan negara Palestina merdeka di Gaza. Dia telah bersumpah untuk melawan hal ini. “Tidak ada negara [Palestina] yang akan didirikan di Gaza, tidak ada negara [Palestina] yang akan didirikan tanpa Gaza, dan tidak ada negara yang akan didirikan dengan perbatasan sementara,” katanya kepada dewan PLO.

Ketakutan Abbas ialah bahwa rencana baru AS untuk perdamaian Timur Tengah, yang disebut Donald Trump sebagai Kesepakatan Abad Ini, tidak jauh dari rencana yang ditetapkan 40 tahun lalu di perundingan damai Camp David. Tapi meski ditolak, hal itu tidak terlalu aneh sekarang.

Di Camp David, Perdana Menteri Israel Menachem Begin mempresentasikan rencana otonomi untuk Palestina, sebuah kerangka kerja untuk kuasi-kemerdekaan di mana orang-orang Arab dari wilayah yang diduduki (“dibebaskan,” demikian dia akan memanggil mereka) akan bebas untuk memilih pemimpin mereka sendiri dan menjalankan urusan internal mereka sendiri.

Israel akan tetap bertanggung jawab atas keamanan secara keseluruhan dan mengizinkan permukiman Yahudi untuk berkembang. Dunia Arab, yang menentang proses Camp David, menolaknya. Majelis PBB, yang berdiri bersama Liga Arab, mendukungnya. Hal itu membuat PLO semakin berani, yang tujuan utamanya pada saat itu adalah kehancuran Israel.

Baca Juga: Bagaimana Google Hapus Palestina dari Peta

Presiden AS Jimmy Carter, yang menjadi perantara proses perdamaian, bukan pendukung Begin. Dia menjelaskan bahwa “otonomi” tidak akan memecahkan masalah utama, yaitu penentuan nasib sendiri Palestina. Presiden Mesir Anwar Sadat mengabaikan isu Palestina dan mengakhiri perdamaian bilateral dengan Israel yang masih bertahan. Rencananya tenggelam di bawah bobotnya sendiri.

Tahun 1994, Israel dan PLO menutup Persetujuan Oslo, yang memimpikan dua negara merdeka. Hal itu pun telah terbukti tidak berjalan efektif. Oslo hanya menjadi ajang jabat tangan dan tidak ada keputusan nyata yang dibuat. Segera menjadi jelas bahwa jarak antara kedua belah pihak tidak terjembatani.

Sementara negosiasi sia-sia berlanjut, PLO mendirikan kuasi-pemerintah di Tepi Barat dan Gaza, dengan ibukotanya di Ramallah. Tahun 2005, Israel memutuskan bahwa menduduki Gaza menimbulkan terlalu banyak beban.

Israel mengevakuasi para pemukim Yahudi dan menyerahkannya kepada orang-orang Palestina. Serangan teror menyusul, begitu pula pemilihan umum. Tahun 2006, Hamas memenangkan pluralitas, memicu perang sipil. PLO diusir dari Gaza.

Secara ideologis, Hamas berada di tempat yang sama dengan PLO 40 tahun lalu, berperang melawan Israel yang keberadaannya ditolak. Namun dalam kenyataannya, terdapat banyak kontak antara Yerusalem dan Gaza, yang sebagian besar ditengahi oleh Mesir. Ide negara yang berbasis di Gaza dengan otonomi untuk Tepi Barat tidak lagi begitu menggelikan.

Gaza memang kecil, tetapi jika Mesir menyerahkan tanah di Sinai utara (sebagai imbalan untuk wilayah Israel di Negev), wilayahnya akan cukup besar untuk menampung penduduk saat ini dan serta pengungsi Palestina dari tempat lain. Gaza memang miskin, tetapi memiliki sumber daya manusia dan lingkungan Mediterania untuk menjadi, seperti yang baru-baru ini dinyatakan oleh salah satu pemimpinnya Yahya Sinwar, “Singapura atau Dubai baru.”

Gaza saat ini diperintah oleh fanatik anti-Zionis, tetapi belum lama lalu Presiden PLO Abbas bisa digambarkan dengan cara seperti itu juga.

Waktu telah berubah. Israel bukan lagi pariah yang terisolasi di Timur Tengah. Pada minggu yang sama ketika Abbas berbicara kepada dewan nasional PLO, Netanyahu sedang melakukan kunjungan ke Oman, di mana Sultan menyambutnya dengan hangat dan terbuka menyatakan waktu yang tepat untuk menerima negara Yahudi sebagai tetangga yang sah.

Palestina sama sekali tidak disinggung sekalipun. Di Abu Dhabi tak jauh dari situ, pemenang Israel dari turnamen judo internasional diiringi dengan lagu kebangsaan Israel, Hatikvah, saat dia naik podium. Solidaritas dengan Palestina di masa lalu akan mencegah hal seperti ini terjadi.

Baca Juga: Organisasi Pembebasan Palestina Tak Lagi Akui Negara Israel

Sebuah negara Palestina Gaza yang didemilitarisasi dapat memberikan solusi untuk salah satu masalah dunia yang paling sulit. Hal itu bisa menawarkan orang-orang Arab penentuan nasib sendiri di Tepi Barat. Atau, jika mereka lebih suka, Yerusalem dapat memungkinkan mereka membatasi pemerintahan sendiri. Hal itu hampir seperti rencana otonomi Begin.

AS belum mengungkapkan detil apapun tentang rencana yang akan diajukan oleh utusan Timur Tengah, Jared Kushner, tetapi Abbas mencurigai ini adalah arah perjalanan yang akan berlangsung. Sementara Israel belum berbicara tentang Gaza sebagai negara merdeka, kesediaannya untuk bernegosiasi dengan Hamas, melalui Mesir dan Qatar, tampak seperti langkah ke arah itu.

Hanya ada sedikit kemungkinan bahwa skenario yang akan dikejar oleh Abbas akan terjadi. Tetapi hal itu juga bukannya mustahil sama sekali. Di Timur Tengah saat ini, tidak ada musuh permanen.

Zev Chafets adalah seorang jurnalis dan penulis 14 buku. Dia adalah asisten senior Perdana Menteri Israel Menachem Begin dan editor pelaksana pendiri Jerusalem Report Magazine.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Pemimpin Otoritas Nasional Palestina Mahmoud Abbas khawatir tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. (Foto: Anadolu Agency/Anadolu/Getty Images)

Mahmoud Abbas Dihantui oleh Rencana Damai Empat Puluh Tahun

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top