Malapetaka di Suriah Selatan: 300.000 Warga Melarikan Diri dari Serangan Rezim Assad
Timur Tengah

Malapetaka di Suriah Selatan: 300.000 Warga Melarikan Diri dari Serangan Rezim Assad

Para pekerja pertahanan sipil memeriksa bangunan yang rusak akibat pengeboman pasukan pemerintah Suriah di kota Deraa di Suriah selatan pada 26 Juni 2018. (Foto: AP/Nabaa Media)
Malapetaka di Suriah Selatan: 300.000 Warga Melarikan Diri dari Serangan Rezim Assad

Rezim Assad memang telah menang—memenangkan perang melawan rakyatnya sendiri. Luka dan panas bukan satu-satunya dampak perang Suriah yang dihadapi oleh pengungsi Suriah di perbatasan Yordania. Para pengungsi juga meninggal karena gigitan kalajengking, dehidrasi, dan penyakit karena meminum air yang terkontaminasi. 

Baca juga: Kami Adalah Saudara: Warga Yordania Ramai-ramai Bantu Pengungsi Suriah yang Terlantar di Perbatasan

Oleh: Loubna Mrie (The Nation)

Pada tanggal 28 Juni, rudal jatuh mengenai rumah tetangga Saeed di kota El Taebah, di provinsi Deraa. Ledakan itu tidak hanya menghancurkan rumah tetangganya itu, tapi juga menghancurkan setengah rumah Saeed—kamar tidur anak-anaknya dan ruang tamu.

“Tetangga saya telah melarikan diri satu jam sebelumnya. Saya tidak tahu apakah mereka akan hidup jika mereka tidak melarikan diri,” kata Saeed melalui Skype (dia meminta saya untuk menggunakan nama depannya, demi keselamatannya).

“Setelah saya menenangkan diri saya dan memproses apa yang baru saja terjadi, saya memutuskan untuk pergi. Saya mengemas apa pun yang dapat bisa di masukkan ke dalam mobil kami, dan saya, istri saya, dan enam anak saya melaju ke selatan, berharap kami dapat menyeberang ke Yordania pada hari yang sama,” kenang Saeed.

Wilayah Deraa menghadapi serangan militer terburuk sejak pemberontak mengambil alih pada tahun 2012. Pada awal Juli, puluhan orang tewas, termasuk anak-anak. Sebagian besar fasilitas kesehatan dan pendidikan di Deraa, yang terletak di bagian selatan Suriah yang berbatasan dengan Yordania, ditutup atau tidak bisa digunakan karena serangan udara yang semakin meluas.

Menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), serangan itu telah memaksa lebih dari 271.800 warga mengungsi dari rumah mereka pada 2 Juli: 164.000 bergerak menuju Quneitra, dekat perbatasan Israel, dan 60.000 lainnya, termasuk Saeed dan keluarganya, di perbatasan Yordania, berharap mereka akan diizinkan masuk ke Yordania (akhirnya, warga yang melarikan diri berjumlah lebih dari 300.000).

Namun para pejabat di Yordania, yang sudah menampung lebih dari 650.000 pengungsi Suriah, tidak akan membiarkan lagi pengungsi masuk ke negara mereka karena faktor keamanan dan ekonomi.

“Tetapi para warga berharap kondisi ini bisa berubah dan perbatasan mungkin akan dibuka setidaknya untuk anak-anak dan wanita,” kata Saeed.

“Kami tiba di zona bebas tengah hari, dekat persimpangan Naseeb [daerah perlintasan perbatasan dekat kota Naseeb, Suriah, di mana dulu ada zona komersial bebas pajak]. Daerah itu tidak siap menampung ribuan orang. Tidak ada roti, tidak ada air minum yang bersih, dan daerah itu tanahnya kering, tidak ada tempat untuk berteduh. Kami duduk di bawah tenda darurat, yang kami bangun dengan seprai yang kami bawa dari rumah,” kenang Saeed.

“Dua hari kemudian anak-anak saya mulai sakit. Karena panas yang ekstrem—mencapai di atas 110 derajat—dan kekurangan air minum. Putri bungsu saya—yang berusia 4 tahun—mengalami demam dan mencapai titik di mana dia memuntahkan semua yang dia makan. Ketika dia mulai berhalusinasi, saya memeluknya, membuat saya pergi dekat ke pagar, dan meminta tentara Yordania di belakang kawat berduri untuk membolehkan dia masuk. Jika mereka takut pada saya, tidak apa-apa, bawa saja dia masuk. sendirian, dia mungkin mati. Saya memohon pada mereka. ”

Permintaannya tidak dipedulikan. “Hanya untuk yang terluka parah,” mereka menjawab, bahkan tanpa memandangnya. Kenyataannya, pernyataan mereka tidak sepenuhnya benar: Banyak korban luka berdarah tepat di sebelah pagar, tetapi mereka juga tidak diizinkan untuk melintasi perbatasan.

“Saya melihat seorang wanita, dia kehilangan sebagian lengannya, dia terus berdarah dan lengannya dibungkus handuk,” kata Saeed. “Dia terus memohon sampai dia pingsan. Kemudian mereka membawanya ke sisi Yordania. Saya tidak tahu apakah dia masih hidup atau tidak. ”

Luka dan panas bukan satu-satunya dampak perang Suriah yang dihadapi oleh pengungsi Suriah di perbatasan itu. Menurut OCHA, para pengungsi juga meninggal karena gigitan kalajengking, dehidrasi, dan penyakit karena meminum air yang terkontaminasi. Dan tidak ada obat yang disediakan.

“Di berita lokal mereka, para pejabat Yordania mengatakan mereka mendistribusikan makanan dan bantuan kepada kami, tetapi mereka tidak mengatakan bagaimana. Mereka melemparkan kaleng tuna dan ikan sarden pada orang-orang terlantar yang paling dekat dengan pagar. Pengungsi yang sangat lapar berusaha mendorong pagar kawat itu. Selama 39 tahun saya hidup, saya tidak pernah merasakan penghinaan seperti itu.”

“Kesehatan anak-anak saya semakin buruk seiring berjalannya waktu. Jadi saya mulai mempertimbangkan untuk kembali,” kata Saeed. “Saya lebih baik mati karena bombardir di rumah saya daripada hina di perbatasan.”

Pada 4 Juli, gencatan senjata antara pemerintah Suriah dan para pemberontak dimediasi oleh Rusia. Pemerintah Suriah mengeluarkan pernyataan yang meminta orang-orang untuk meninggalkan perbatasan dan kembali ke rumah, mengklaim bahwa mereka tidak akan menangkap siapa pun.

Saeed, bersama ribuan orang Suriah lainnya di perbatasan Yordania, kembali dengan keluarganya ke rumahnya yang sebagian hancur, yang ia tinggalkan sembilan hari sebelumnya. Hari ini, dari 60.000 warga yang mengungsi, masih ada 150-200 warga Suriah yang belum meninggalkan perbatasan Yordania.

“Ya, saya kembali karena kami hanya punya dua pilihan: mati karena dehidrasi di perbatasan Yordania, atau mengakui bahwa kami telah kalah dalam perang ini dan menerima hidup di bawah pemerintahan yang dilawan Deraa sehingga memicu pemberontakan.”

Baca juga: Perang Suriah: Deraa Hancur Lebur dan ‘Terbakar Habis’ Setelah Serangan Rezim Assad

Sekarang media seperti Al Mayadeen, saluran televisi pro-Hizbollah Lebanon, dan televisi pemerintah Suriah merayakan kemenangan itu, dengan liputan khusus dari perbatasan Naseeb. Analis berbicara tentang bagaimana bus pemerintah akan membawa orang-orang yang terlantar dari perbatasan Yordania kembali ke desa-desa mereka, yang sekarang dikendalikan oleh pemerintah Suriah.

Mereka mengklaim bahwa orang-orang yang terlantar ini dipaksa keluar dari desa mereka karena para pemberontak meneror mereka—bukan karena serangan pemerintah baru-baru ini. Dan sekarang mereka kembali, karena para pemberontak setuju dengan gencatan senjata. Tidak disebutkan kondisi mengerikan di perbatasan Yordania—atau pengeboman pemerintah Suriah yang terus-menerus terhadap kota-kota di seluruh Deraa yang memaksa mereka melarikan diri.

Sekarang Deraa, yang merupakan salah satu provinsi pertama yang memberontak melawan pemerintah, menunjukkan kesetiaannya kepada Presiden Bashar al-Assad—dengan terpaksa. Pemerintah Suriah memang menang. Ia telah memenangkan perang melawan rakyatnya sendiri.

Keterangan foto utama: Para pekerja pertahanan sipil memeriksa bangunan yang rusak akibat pengeboman pasukan pemerintah Suriah di kota Deraa di Suriah selatan pada 26 Juni 2018. (Foto: AP/Nabaa Media)

Malapetaka di Suriah Selatan: 300.000 Warga Melarikan Diri dari Serangan Rezim Assad

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top