Marty Natalegawa: Apakah ASEAN Penting?
Asia

Marty Natalegawa: Apakah ASEAN Penting?

Berita Internasional >> Marty Natalegawa: Apakah ASEAN Penting?

Buku baru mantan Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa tentang relevansi kelompok regional ini, bergulat dengan berbagai tantangannya. Bahkan setelah mengakhiri masa jabatannya sebagai menteri luar negeri, ia terus aktif berbicara dan menulis tentang perkembangan kawasan tersebut. Natalegawa bersikap jujur ​​tentang masalah-masalah yang dihadapi ASEAN, tetapi juga masih berharap bahwa kawasan tersebut akan dapat mengatasinya jika langkah-langkah yang tepat diambil.

Oleh:  Erin Cook (The Diplomat)

Baca Juga: Survei Buktikan Asia Tenggara Khawatirkan Inisiatif Sabuk dan Jalan China

Marty Natalegawa—seorang diplomat berpengalaman Indonesia yang terakhir menjabat sebagai menteri luar negeri di bawah mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono—telah lama dianggap sebagai salah satu juara dari sepuluh anggota organisasi regional Perhimpunan Bangsa Bangsa Asia Tenggara (ASEAN).

Dalam peran sebelumnya termasuk sebagai menteri luar negeri, Natalegawa menghadapi sejumlah tantangan berat yang dihadapi kelompok itu, dari bentrokan perbatasan antara Thailand dan Kamboja hingga pengelolaan sengketa Laut China Selatan. Bahkan setelah mengakhiri masa jabatannya sebagai menteri luar negeri, ia terus aktif berbicara dan menulis tentang perkembangan kawasan tersebut, bersikap jujur ​​tentang masalah-masalah yang dihadapi ASEAN, tetapi juga masih berharap bahwa kawasan tersebut akan dapat mengatasinya jika langkah-langkah yang tepat diambil.

Natalegawa kini telah menangkap esensi dari tahun-tahun itu dalam bukunya Does ASEAN Matter? (Apakah ASEAN Penting?). Tidak ada jawaban yang mengejutkan di sini bagi siapa pun yang telah mendengar Natalegawa merenungkan tentang blok itu. Jawabannya tegas, ya, tapi selalu ada ruang untuk perbaikan, katanya kepada The Diplomat di sela-sela Festival Penulis dan Pembaca Ubud akhir tahun lalu, yang mencerminkan semangat buku barunya.

Pentingnya Perhimpunan Bangsa Bangsa Asia Tenggara (ASEAN)—di mana Thailand menjadi tuan rumah tahun ini—telah menghadapi kritik dalam beberapa tahun terakhir atas kegagalan untuk bertindak atau campur tangan dalam pelanggaran hak asasi manusia atau serangan terhadap demokrasi di wilayah tersebut. Ini bukan kerusakan tetapi fitur ASEAN, dan Natalegawa tahu ini lebih baik daripada siapa pun.

Dengan buku itu ditulis seiring kekerasan terbaru terjadi pada orang-orang Rohingya di Myanmar, buku ini tidak banyak menyentuh penindasan bersejarah terhadap minoritas. Alih-alih, buku itu mengambil momen-momen penting dalam kariernya untuk sedikit menunjukkan bagaimana diplomasi dilakukan terlepas dari pengekangan blok tersebut.

Myanmar banyak ditampilkan di sini, dan transisi Myanmar ke demokrasi masih sangat membebani Natalegawa. Dengan periode reformasi 2011-2015 yang hampir selaras dengan waktunya sebagai menteri luar negeri, perannya dalam upaya regional dan implikasinya sangat menonjol dalam buku ini. Dia membandingkan transisi itu dengan sengketa Laut China Selatan, di mana kedua contoh tersebut telah menjadi “ujian untuk kemampuan ASEAN dalam mengelola tantangan urusan kawasan.”

Walau ASEAN beroperasi dengan prinsip non-interferensi, tapi terdapat kekhawatiran bahwa reputasi global kelompok itu akan dirusak oleh kekacauan serta pertikaian dalam kesatuan ASEAN, seiring Myanmar menyedot tenaga blok itu. “Berkali-kali pertemuan ASEAN dibuat lelah oleh perkembangan di Myanmar, yang merugikan upaya ASEAN lainnya,” tulisnya tentang era tersebut.

Di sinilah Natalegawa menjelaskan pentingnya kepemimpinan Indonesia. Terlepas dari prinsip formal kesetaraan di antara semua negara anggota, tapi ukuran Indonesia yang besar secara ekonomi, populasi, dan geografis, sering mendorong peran kepemimpinan de facto Indonesia.

Natalegawa menunjuk pada dua pengalaman utama dalam sejarah Indonesia baru-baru ini, yang memberikan negara tersebut kualifikasi unik dalam kepemimpinan—transisi demokrasi pasca-1998 dan konflik Timor-Leste dan penataan kembali hubungan pasca-konflik.

Dalam buku Does ASEAN Matter? ia menceritakan upaya-upaya untuk membimbing dan memberi nasihat kepada negara-negara anggota lainnya berdasarkan pelajaran yang dipetik. “Saya memberi tahu rekan-rekan Myanmar saya bahwa pengalaman Indonesia sendiri tentang Timor-Leste menyarankan bahwa adalah kepentingan Myanmar untuk membuat ASEAN terlibat dan memberi informasi, yang dapat secara efektif dan kredibel memberikan dukungan dalam menghadapi kritik internasional,” tulisnya.

Dia melihat ASEAN sebagai penggerak demokrasi—walaupun dia cepat-cepat mengingatkan bahwa blok itu tidak berusaha untuk mengubah dan menekan negara-negara non-demokratis—dan transformasi demokrasi pasca-1998 di Indonesia sendiri telah menginspirasi pandangan itu. Walau buku ini adalah kisah yang cukup jelas tentang insiden dan perkembangan yang mendefinisikan era Natalegawa di puncak diplomasi regional, tapi buku itu sering sesekali berbelok ke arah keyakinan pribadinya yang lebih dalam.

Keanggotaan Timor-Leste di ASEAN yang telah lama disebut-sebut, adalah salah satu keyakinan yang berulang. Ini jelas dari penggambarannya tentang masalah tersebut dalam buku ini.

“Pengakuan Timor-Leste di negara-negara ASEAN yang lebih luas—setelah secara resmi memilih memisahkan diri dari Indonesia—akan membantu memperluas area perdamaian dan stabilitas di Asia Tenggara,” tulisnya. Bahwa kedua negara sekarang menikmati hubungan positif adalah hal yang terpisah secara global, katanya menunjuk pada perpecahan Uni Soviet dan baru-baru ini Sudan, yang menyebabkan kekacauan regional.

Tapi, katanya di Bali, pengakuan atas apa yang disebutnya “hubungan khusus” berisiko dilupakan, begitu berpuluh-puluh tahun berlalu. “Ada saat di masa lalu, peluang kritis di mana kami memiliki kepemimpinan di Timor-Leste dan kepemimpinan di Indonesia, yang telah melalui tahun-tahun sulit bersama,” katanya, merujuk pada tahun-tahun pasca-konflik langsung. “Saya tidak yakin sampai sejauh mana generasi kepemimpinan saat ini dan di masa depan di Indonesia dan Timor-Leste mempertimbangkan hal itu.”

Di luar pertanyaan besar tentang kemampuan Timor-Leste untuk berkomitmen pada jadwal pertemuan dan KTT yang melelahkan, atau agar industrinya berkembang di tengah ekonomi regional lainnya—tanpa seruan Indonesia—keanggotaan penuh di blok itu tampaknya semakin jauh dari sebelumnya. Natalegawa menunjuk pada mentalitas untuk menghindari risiko di dalam ASEAN.

“Mereka mungkin bertanya pada diri mereka sendiri, apakah mereka perlu potensi tambahan untuk memiliki negara anggota yang lain? Dan mengingat prinsip mereka dalam pengambilan keputusan konsensus, ini dapat membuat keputusan menjadi lebih rumit,” katanya.

Namun, sinisme umum terhadap keanggotaan tidak merusak pandangan pribadinya. “Saya pikir misi Timor-Leste untuk ASEAN sangat penting,” katanya, mengulangi poin yang dibuat berulang kali di Does ASEAN Matter? bahwa anggota ASEAN yang kesebelas akan vital bagi stabilitas dan kemakmuran kawasan tersebut.

Secara keseluruhan, untuk semua tantangan yang terus dihadapi ASEAN—dalam bukunya serta dalam sambutan publiknya—Natalegawa masih mempertahankan secercah harapan bahwa kelompok regional itu akan dapat bangkit menghadapi tantangan-tantangan ini, dengan mengambil beberapa pelajaran yang telah dipelajarinya di masa lalu. Namun apakah hal itu dapat dilakukan atau tidak, masih harus dilihat.

Baca Juga: Medco dan Ophir Energy Rundingkan ‘Pembangkit Tenaga Minyak’ Asia Tenggara

Keterangan foto utama: Mantan Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa. (Foto: Wikimedia Commons)

Marty Natalegawa: Apakah ASEAN Penting?

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top