Polisi Indonesia melakukan tindakan pengamanan. (Foto: Getty Images/Eko Siswono Toyudho)
Berita Politik Indonesia

Melawan ‘Radikalisasi’ Pemuda di Indonesia: Akankah Berhasil?

Polisi Indonesia melakukan tindakan pengamanan. (Foto: Getty Images/Eko Siswono Toyudho)
Home » Berita Politik Indonesia » Melawan ‘Radikalisasi’ Pemuda di Indonesia: Akankah Berhasil?

Di Indonesia, telah dilakukan beberapa upaya untuk melawan apa yang disebut ‘radikalisasi’ pemuda. Apakah upaya tersebut efektif? Benarkah intoleransi memang berkembang di Indonesia? Seperti apa upaya-upaya yang dikatakan bisa menangkal ‘radikalisasi’ pemuda tersebut? 

Oleh: Cameron Sumpter (Lowy Institute)

Sepuluh siswa Muslim yang berkumpul di halaman teduh Gereja Katedral Katolik Roma di Jakarta Pusat, enggan melewati pintu bergaya neo-gotiknya.

Beberapa orang berpendapat bahwa memasuki katedral tersebut akan bertentangan dengan ketaatan mereka terhadap Islam, dan setara dengan meninggalkan iman. Pemandu mereka menanggapi dengan pertanyaan, “Pernahkah Anda mengunjungi Borobudur (kuil Buddha abad kesembilan di Jawa Tengah yang menarik jutaan wisatawan domestik setiap tahunnya)?”

    Baca Juga : Ambisi Pembangunan Infrastruktur Indonesia Memakan Korban Nyawa

“Ya, tentu saja,” jawab mereka.

“Lalu apa perbedaan antara pergi ke sana dan memasuki gereja ini?”

Karena tidak dapat melawan logika tersebut, sebagian besar remaja itu setuju untuk mengikutinya masuk.

Pemandu mereka, M Abdullah Darraz, Direktur Eksekutif Maarif Institute, percaya bahwa penerimaan ini merupakan titik balik bagi para pemuda garis keras. Pemaparan terhadap perbedaan bisa menjadi langkah awal untuk menghentikan apa yang disebut intoleransi.

Jambore Nasional

Kunjungan ke katedral tersebut merupakan satu dari beberapa kegiatan yang diselenggarakan oleh Maarif Institute yang berbasis di Jakarta, sebagai bagian dari kamp pemuda tahunan, yang telah berjalan sejak tahun 2011 dan bertujuan untuk melawan pandangan-pandangan keagamaan eksklusif dan mencegah radikalisasi di kalangan kaum pemuda. Jambore Nasional mengundang 100 siswa sekolah menengah atas dari seluruh negeri selama sepekan, untuk melakukan “pengalaman belajar”, termasuk kunjungan dan diskusi tentang apa artinya menjadi pemuda Indonesia.

Pada tahun 2017, Maarif Institute menerima sekitar 450 pendaftar dari 57 sekolah di 19 provinsi. Calon peserta diminta untuk menulis tentang identitas dan keragaman agama di Indonesia, dan motivasi mereka untuk mengikuti program ini. Mereka yang diterima adalah para pendaftar yang menunjukkan tanda-tanda intoleransi, di mana para peneliti Maarif percaya bahwa para pemuda Indonesia terpapar intoleransi selama kegiatan keagamaan ekstrakurikuler yang diselenggarakan di sekolah menengah umum.

Usai sekolah

Rohani Islam (atau Rohis) adalah gerakan nasional untuk kemajuan iman dan pengetahuan Islam, yang disampaikan melalui kelompok belajar, ceramah, dan keterlibatan pendampingan (mentoring) untuk siswa kelas satu. Praktik tersebut mulai dilakukan setelah jatuhnya rezim Orde Baru Suharto pada tahun 1998, namun para pengamat saat ini khawatir bahwa pandangan eksklusif atau bahkan radikal dapat mendominasi banyak aktivitas Rohis.

Sebuah penelitian Wahid Institute tahun 2017 yang mewawancarai lebih dari 1.600 peserta Rohis, menemukan bahwa lebih dari 40 persen responden mendukung sebuah alasan untuk menjadikan Indonesia sebagai negara Islam di bawah kekhalifahan, dan 60 persen akan bepergian ke luar negeri untuk berjihad jika diberi kesempatan.

Menurut Darraz, orang tua pada umumnya tidak peduli dengan pandangan sektarian anak-anak mereka. Bagi orang tua, kelompok belajar yang tampak alim adalah ekstrakurikuler yang jauh lebih dapat diterima daripada menggunakan narkoba, melakukan hubungan seks sebelum menikah, atau berpartisipasi dalam tawuran (kekerasan jalanan oleh murid sekolah yang terorganisir).

Pemerintah Indonesia menyadari masalah ini, namun skala dan sensitivitas isu ini membuat tindakan perbaikan menjadi sulit. Aktivitas Rohis berada di bawah wewenang Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) yang diatur oleh Kementerian Pendidikan. Meskipun hubungan antara OSIS dan organisasi luar—seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)—secara teknis dilarang, namun pemantauan tetap sulit dilakukan.

Rohis telah menjadi jalan bagi kelompok-kelompok pihak ketiga yang memiliki pandangan garis keras, untuk melibatkan dan merekrut para pemuda Indonesia.

Keterlibatan yang lebih konstruktif

Inisiatif Maarif Institute menawarkan penyeimbang yang sederhana namun sangat dibutuhkan, terhadap pengaruh Rohis yang berpotensi merugikan.

Jambore Nasional selama satu minggu tersebut melibatkan sebuah buku teks yang dirancang khusus, yang mencakup dua belas bab tematik, yang mencakup konsep seperti iman, rasa ingin tahu, keadilan, empati, toleransi, dan demokrasi. Filosofi dasar Pancasila sangat menonjol. Diskusinya dipimpin oleh pembicara tamu seperti seorang wartawan Indonesia yang meliput dari Suriah pada tahap awal konflik.

    Baca Juga : Indonesia Incar Perjanjian Maritim Setelah Kesepakatan Timor Leste-Australia

Setelah pelajaran interaktif, kelompok tersebut melakukan kerja sukarela di lingkungan sekitar. Selama kamp tahun 2017, staf Maarif membawa peserta Jambore ke sebuah panti asuhan yang dikelola oleh sebuah gereja Kristen di Jakarta Selatan, memberikan kesempatan untuk menjangkau dan melihat langsung karya amal agama lain.

Membangkitkan Semangat Digital

Di penghujung kamp-kamp sebelumnya, tiga puluh peserta jambore yang berprestasi diundang untuk mengikuti pelatihan “jurnalisme perdamaian.” Lokakarya selama tiga hari di Jakarta tersebut bertujuan untuk memperkuat literasi media peserta, meningkatkan kemampuan berpikir kritis mereka, dan mengajari mereka cara memproduksi dan menyunting film pendek mereka sendiri.

Dukungan dari Google kini telah memungkinkan Maarif untuk memperluas ambisinya. Pada tahun 2017, inisiatif ini menampung 1.250 siswa dari lima lokakarya terpisah di Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, dan Semarang. Diskusi awal membahas tantangan online dan offline terhadap Pancasila, dan kegiatan mengasah otak selanjutnya berfokus pada metode untuk melawan pesan dan propaganda berbahaya.

Dari 250 peserta yang hadir di setiap acara, 50 orang dipilih untuk kembali pada hari kedua yang berkonsentrasi pada produksi konten. Dalam kelompok yang terdiri dari lima anggota, siswa membuat film pendek yang memuat tema, seperti keragaman agama dan persamaan, menggunakan drama dan komedi. Klip tersebut kemudian diunggah ke YouTube dan dibagikan di media sosial.

Di tahun-tahun mendatang, Maarif Institute berharap dapat memperluas inisiatif untuk mengikutsertakan peserta dari Sumatera dan Sulawesi.

Pemimpin Muda dan Positif

Negara-negara di seluruh dunia sedang melakukan upaya untuk mencegah radikalisasi di kalangan pemuda. Meskipun upaya ini disesuaikan dengan konteks nasional mereka, namun satu dinamika yang melampaui budaya adalah pentingnya kepemimpinan pemuda yang aspiratif. Ceramah dari para pendidik senior mengenai tanggung jawab dan bahaya ekstremisme tidak akan seefektif seinteraktif yang diselenggarakan oleh pemuda yang penuh gairah.

Para fasilitator kamp Maarif muda dan bangga untuk mendorong anak didik Jambore mereka untuk menjadi pemimpin muda di kota dan desa mereka masing-masing. Idealnya, mereka akan membawa pesan toleransi dan inklusivitas, dan suatu hari membimbing rekan-rekan mereka yang skeptis ke tempat-tempat suci agama lain.

Cameron Sumpter adalah Analis Senior di Center of Excellence untuk Keamanan Nasional di Sekolah Tinggi Studi S. Rajaratnam. Kepentingan penelitiannya meliputi proses radikalisasi dan mobilisasi, organisasi ekstremis dan dinamika gerakan intra-gerakan, pelepasan dan inisiatif kontra-radikalisasi, psikologi terorisme, dan teori gerakan sosial.

Keterangan foto utama: Polisi Indonesia melakukan tindakan pengamanan. (Foto: Getty Images/Eko Siswono Toyudho)

Melawan ‘Radikalisasi’ Pemuda di Indonesia: Akankah Berhasil?

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top