Berita Politik Indonesia

Membersihkan Sungai Terkotor di Dunia Sekarang Jadi Tugas Militer Indonesia

Berita Internasional >> Membersihkan Sungai Terkotor di Dunia Sekarang Jadi Tugas Militer Indonesia

Presiden Indonesia Joko Widodo meluncurkan program tujuh tahun pembersihan Sungai Citarum dengan mengandalkan militer Indonesia. Namun, para kritikus percaya langkah itu lebih bersifat politis daripada ekologis. Aktivis mengatakan bahwa sulit untuk mengurangi pencemaran industri tekstil. 

Baca juga: Kepulauan Seribu Kumpulkan 40 Ton Sampah Sehari

Oleh: Nadine Freischlad (South China Morning Post)

Provinsi Jawa Barat adalah pusat manufaktur Indonesia. Jawa Barat juga merupakan zona industri di pinggiran ibu kota provinsi, Bandung, menurut Kementerian Perindustrian, yang bertanggung jawab atas lebih dari 14 persen produk domestik bruto Indonesia. Sebagian besar pabrik di sini memproduksi tekstil, dengan beberapa operasi menjadi penghubung penting dalam rantai pasokan merk mode global seperti Zara, Gap, Adidas, dan H&M.

Akses ke air yang murah dan berlimpah telah menjadi kunci pertumbuhan cepat di daerah itu sejak tahun 1990-an: proses seperti pemutihan dan pewarnaan tekstil memakan banyak sumber daya alam. Menurut data terbaru dari Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, sekitar 2.800 pabrik sekarang mengandalkan Citarum, sungai terpanjang di Jawa Barat, untuk pasokan dan pembuangan air limbah.

Secara hukum, pabrik-pabrik semacam itu diharuskan untuk membersihkan air limbah mereka sebelum membuangnya kembali ke sungai, tetapi kelompok-kelompok aktivis mengklaim bahwa penegakan hukum minimal, ditambah dengan pelaporan dan penyuapan palsu yang meluas, berarti fasilitas terus membuang limbah bahan kimia beracun dan berbahaya ke dalam Sungai Citarum dan kanal-kanal yang terhubung. Tahun 2013, penyelidikan oleh kelompok aksi lingkungan Greenpeace menemukan bahan kimia berbahaya termasuk kadmium, timbal, dan kobalt berada dalam air limbah yang memasuki Citarum.

Puluhan tahun pengabaian dan kesalahan pengelolaan, menurut para aktivis, telah mengubah jalur air menjadi rawa beracun. Sungai Citarum yang dulu murni telah mendapatkan julukannya sebagai sungai paling kotor di dunia, yang diberikan oleh Bank Dunia satu dekade lalu.

Sungai Citarum bermuara di Laut Jawa di berbagai titik di sepanjang pantai utara Jawa Barat, sekitar 80 kilometer timur ibukota Indonesia, Jakarta. Menurut sebuah studi oleh Universitas Georgia di Amerika Serikat, Indonesia, dengan jumlah penduduknya mencapai 260 juta, ketika menyangkut limbah plastik, merupakan pencemar lautan terbesar kedua, dikalahkan hanya oleh China.

Sungai Citarum telah dijuluki “sungai paling kotor di dunia” oleh Bank Dunia. (Foto: James Wendlinger)

Menanggapi degradasi sungai, bulan Februari 2018, Presiden Indonesia Joko “Jokowi” Widodo memulai kampanye pembersihan Sungai Citarum selama tujuh tahun. Keputusan tersebut menempatkan Citarum di Jawa Barat ke tangan militer Indonesia, sementara Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman memimpin arahan strategis.

Tentara sekarang memiliki hak untuk “memperbaiki, mencabut, dan/atau mengubah ketetapan peraturan yang ada,” sebuah langkah kontroversial yang menandakan bahwa, dalam hal lingkungan, penegakan hukum konvensional telah dianggap gagal di wilayah tersebut. Safri Burhanuddin, wakil Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, mengharapkan perbaikan yang terlihat dan terukur di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum akan tercapai dalam waktu empat hingga lima tahun.

Pembangunan yang tidak terkendali menimbulkan kerusakan ekologis dan kesehatan manusia yang besar di Jawa Barat, yang merupakan provinsi terpadat di Indonesia. Sekitar 46 juta orang tinggal di Jawa Barat, 27 juta di antaranya berada di DAS Citarum. Di antara mereka adalah Bambang Wiharsa, 43 tahun, seorang petani padi di Majalaya, sebuah kabupaten yang menjadi rumah bagi banyak bisnis manufaktur tekstil.

Rumah-rumah bobrok tersebar di Majalaya. Jalanannya rawan banjir. Para petani di sana membajak sepetak tanah menyedihkan yang berada di antara jalan dan pabrik. Sementara itu, udara Majalaya jenuh dengan asap dari tungku batu bara terdekat. Sedikit dari kekayaan yang diciptakan oleh bisnis tekstil, tampaknya, tetap ada di daerah tersebut.

Duduk di sofa di rumah seorang teman, Bambang menunjuk ke kaki dan tangannya. Ruam luka telah tersebar pada bagian-bagian permukaan kulitnya yang bersentuhan dengan air ketika ia masuk ke sawah untuk merawat padi. Penduduk desa lainnya juga menunjukkan gejala yang sama.

Permukaan kulit kaki petani Bambang Wiharsa mengalami kerusakan karena kontak dengan air yang terkontaminasi. (Foto: James Wendlinger)

Pabrik tekstil bukan satu-satunya sumber polusi di Citarum, cabang-cabang utama sungai yang, menurut perkiraan pemerintah, membentang hingga 297 kilometer.

Selama tiga dekade urbanisasi dan industrialisasi, Sungai Citarum dan anak-anak sungainya telah dipaksa masuk ke saluran, kanal, dan waduk buatan untuk mengairi ladang dan menyediakan pasokan air bagi puluhan juta orang. Degradasi dimulai pada ketinggian: di daerah yang basah, penggundulan hutan menyebabkan erosi tanah dan peningkatan lumpur yang sesuai di sungai, memperburuk banjir di daerah dataran rendah.

Pertumbuhan populasi dan pertanian intensif berarti bahwa lebih banyak pupuk serta limbah hewan dan rumah tangga yang berakhir di sistem sungai. Tiga bendungan raksasa, Saguling, Cirata, dan Jatiluhur, telah menciptakan danau buatan. Digunakan untuk menghasilkan tenaga air, ketiganya juga menjadi rumah bagi fasilitas budidaya perikanan komersial skala besar.

Sebuah laporan baru, yang pertama kali menganalisis secara sistematis kualitas air di berbagai bagian Citarum serta kesehatan ikan dan hewan air lainnya, termasuk yang dibudidayakan secara komersial, akan dirilis bulan Desember 2018. Profesor Etty Riani dari Departemen Manajemen Sumber Daya Air di Institut Pertanian Bogor, Jawa Barat, yang memimpin penelitian ini, mengatakan kepada South China Morning Post bahwa temuan itu mengkhawatirkan. Ekosistem di waduk “rusak dan sangat tercemar,” katanya, dan para peneliti menemukan adanya merkuri dan logam berat lainnya dalam jaringan ikan, serta deformasi di antara larva ikan.

“Anda masih bisa makan ikan, tetapi Anda harus mengontrol jumlah dan frekuensi,” kata Etty, menambahkan bahwa ia akan membagikan rekomendasi untuk konsumsi ikan yang aman dengan Kementerian Koordinator Kemaritiman Indonesia.

Sampah di tepi Sungai Citarum. (Foto: James Wendlinger)

Budidaya perikanan di berbagai waduk, yang menyediakan ikan untuk sebagian besar Jakarta, juga menciptakan polusi, kata Burhanuddin, melalui makanan ikan dan limbah terkait. Jumlah keramba ikan di bendungan harus dikurangi hingga 10 persen dari total saat ini, ia menyarankan.

Beberapa upaya yang dilakukan untuk mengelola ekosistem sungai selama bertahun-tahun telah berhasil.

Sebuah rencana ambisius, yang dirancang oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional, merencanakan beberapa inisiatif untuk diimplementasikan antara tahun 2009 dan 2023. Sekitar 3,5 miliar Dolar AS dialokasikan untuk memulihkan DAS Citarum. Bank Pembangunan Asia telah meminjamkan dana kepada pemerintah Indonesia sebesar 500 juta Dolar AS untuk itu.

Kanal-kanal baru telah dibangun, demikian pula bendungan untuk mengatasi banjir. Reboisasi dilakukan di daerah yang paling rentan terhadap longsor dan degradasi tanah, tetapi masalah kualitas air, pembuangan sampah, dan limbah industri baru kali ini mulai ditangani.

Yang memperumit masalah adalah kenyataan ialah bahwa sistem sungai tersebar di banyak distrik administratif. Sungai itu sendiri berada di bawah kendali pemerintah pusat, tetapi pengelolaan lahan, pengelolaan limbah, dan pengelolaan terhadap masyarakat serta usaha kecil dan menengah adalah tanggung jawab masing-masing kabupaten, atau terkadang diawasi di tingkat provinsi.

Asep Kusumah, direktur Badan Konservasi Sumber Daya Alam Bandung, mengatakan bahwa kantornya kekurangan staf dan tidak ada tenaga kerja untuk mengendalikan industri. Ketika sebuah pabrik dicurigai membuang air yang terkontaminasi, misalnya, peraturan departemen menetapkan bahwa seorang anggota staf harus hadir sejak saat sampel air diambil hingga dibawa ke laboratorium dan dianalisis, yang dapat membutuhkan waktu berhari-hari.

Peringatan harus dikeluarkan untuk para penghasil limbah sebelum hukuman dijatuhkan. Pabrik dapat dengan mudah mengubah titik di mana pipa mereka mengalirkan limbah ke dalam kanal, sehingga kasus terhadap mereka seringkali membutuhkan penyelidikan secara luas.

Memberlakukan aturan ketat dengan pabrik bukan tanpa kesulitan, karena manufaktur tekstil merupakan lahan yang banyak mempekerjakan SDM di Jawa Barat. Banyak petani seperti Bambang, meskipun secara pribadi terdampak oleh air beracun di ladang mereka, memiliki teman dan keluarga yang bekerja di industri ini.

Bagian Sungai Citarum yang tersumbat sampah. (Foto: James Wendlinger)

Untuk alasan ini dan yang lainnya, banyak yang senang melihat militer sekarang berada di garis depan dalam pertempuran melawan para produsen limbah. “Militer seperti dosis kuat oleh dokter spesialis. Langkah-langkah lainnya hanya seperti obat generik,” kata Kusumah. “Tetapi waktu mereka terbatas dan kami harus membangun struktur cadangan saat ini. Mereka berada di sini selama tujuh tahun.”

Yang penting, sebagai bagian dari upaya anti-polusi Presiden Joko Widodo, tentara diizinkan untuk menutup pipa-pipa pabrik yang mereka curigai menyalurkan air yang terkontaminasi ke dalam aliran sungai tanpa terlebih dahulu mengumpulkan bukti dan mengeluarkan peringatan.

Kolonel Purwadi, yang mengawasi suatu daerah dengan banyak pabrik tekstil, telah menggunakan kekuatan ini secara bebas, dan mengatakan kepada South China Morning Post bahwa, setelah pipa-pipa disegel tanpa peringatan, beberapa pabrik telah mengalami banjir karena air limbah mereka tidak punya tempat untuk pergi. Purwadi juga menceritakan bagaimana pasukannya memaksa pekerja pabrik dan manajer mereka untuk bergabung dengan mereka dalam pekerjaan pembersihan. Upaya mempermalukan publik tersebut dimaksudkan untuk mengirim sinyal.

Setelah belajar di Jepang dan China, Purwadi memegang gelar dalam manajemen air. Selama pemeriksaan pabrik rutin, ia akan melibatkan manajer umum dalam percakapan tentang metode penyaringan dan bahan kimia yang digunakan dalam pengolahan tekstil. Di bawah pengawasannya, sebuah pabrik pengolahan air limbah komunal baru telah dibangun di sektornya.

Kolonel Purwadi, kepala Sektor Satuan Tugas Citarum 7. (Foto: James Wendlinger)

Beberapa kilometer menuju Bandung, sektor Kolonel Yudi Zanibar sebelumnya berisi salah satu bentangan sungai yang paling tercemar, tempat tumpukan sampah rumah tangga, bahkan bangkai hewan, telah menumpuk. Dalam upaya sebelumnya untuk mengelola Sungai Citarum, sebuah kanal telah dibangun untuk mengarahkan air ke hilir. Sebuah bendungan tapal kuda (oxbow) yang dipotong tidak lagi mengalir ke sistem sungai, dan dengan cepat diisi dengan sampah, sebagian besar berasal dari tempat pembuangan sampah terdekat.

“Di sinilah Al Jazeera mengambil foto pada bulan April,” kata Zanibar dengan riang, mengingat esai foto mengejutkan oleh stasiun berita al Jazeera yang menyoroti keadaan Sungai Citarum.

Para bawahan Zanibar menyambut semua orang yang mereka temui dengan teriakan dan mengangkat tangan. Mereka tidur di lokasi, terus mengeruk muatan truk sampah dari air. Tempat sampah akan segera dikompres dan diratakan. Sang kolonel ingin membuat lapangan sepakbola di sana. Pengerukan juga akan menghilangkan lumpur yang menumpuk di kanal serta gejala penggundulan hutan dan erosi tanah di bagian hulu.

“Terapi kejut” tentara, kata Burhanuddin, sedang membuat perbedaan karena itu ada sepanjang waktu. “Kami tidak pernah mengalami hal ini sebelumnya,” katanya, menambahkan bahwa di masa lalu, sampah baru dengan cepat menumpuk di daerah yang telah dibersihkan. Pabrik-pabrik tekstil akan membuang limbah mereka di malam hari, mengetahui bahwa para penyelidik tidak akan mengintip setelah petang.

Namun, kelompok masyarakat sipil mengaku heran atas keterlibatan tentara.

“Kami tidak mengharapkan [Presiden Jokowi] untuk melibatkan TNI [Tentara Nasional Indonesia], Angkatan Bersenjata Indonesia,” kata Dadan Ramdan, direktur Jawa Barat dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), organisasi lingkungan terbesar di Indonesia, yang telah melobi pengelolaan lingkungan yang lebih baik untuk Sungai Citarum sejak tahun 1990-an.

Dadan Ramdan, direktur Walhi Jawa Barat. (Foto: James Wendlinger)

Ramdan mengatakan bahwa sementara masyarakat menghargai bantuan militer, penempatan mereka belum terorganisir secara efektif, dan kemungkinan merupakan langkah politik oleh Presiden Indonesia Joko “Jokowi” Widodo, yang akan mencalonkan kembali dalam pemilihan presiden bulan April 2019.

“Langkah pembersihan mereka dilihat sebagai hal positif,” katanya. “Apa yang kami kritik tentang perintah presiden adalah bahwa tidak ada evaluasi awal, tidak ada data awal. Bagaimana kita tahu apa yang telah membaik? Kami melihat ini lebih politis. Jika kami hanya menghitung dua distrik di sini, terdapat hampir 20 juta orang pemilih potensial.”

“Banyak proyek yang belum terkoordinasi,” tambah Burhanuddin, menunjukkan bahwa pengerukan lumpur di kanal sedang berlangsung sementara erosi tanah di bagian hulu belum terkendali, sehingga kotoran baru terus tersapu aliran sungai. Burhanuddin dan timnya di Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman telah mendatangkan para pakar asing untuk membantu menilai situasi.

Salah satu penilaian yang dilakukan oleh Melinda Laituri, profesor ilmu ekosistem dan keberlanjutan di Colorado State University, Amerika Serikat, menekankan perlunya upaya terkoordinasi jangka panjang yang akan bertahan melampaui program pembersihan tujuh tahun oleh Presiden Joko Widodo. “DAS Citarum mewakili situasi yang menantang di mana solusi yang berhasil akan diukur dalam langkah-langkah tambahan,” tulis Laituri. “Sementara investasi jangka panjang sangat penting [20-30 tahun], proyek jangka pendek [2-5 tahun] juga diperlukan.”

Instalasi pengolahan air limbah komunal di Cisirung, Jawa Barat. (Foto: James Wendlinger)

Laituri menunjukkan bahwa unit militer telah efektif dalam melakukan pembersihan limbah, re-vegetasi, dan relokasi pemukiman, tetapi menunjukkan bahwa kegiatan ini “perlu melibatkan penduduk desa setempat dan organisasi non-pemerintah, berdasarkan praktik ilmiah yang kuat, dan mengidentifikasi pendekatan berkelanjutan.”

Tahun 2015, Walhi adalah salah satu dari sekelompok LSM yang meluncurkan kampanye yang menargetkan industri tekstil Jawa Barat. Tujuannya adalah mengekspos merk-merk internasional yang membeli dari pabrik-pabrik yang dikenal sebagai penghasil polutan.

Mereka mengumpulkan bukti tentang praktik pembuangan limbah dari pabrik-pabrik semacam itu, dan tiga fasilitas mencabut izin persetujuan pengelolaan air limbah mereka. LSM Greenpeace menyatakan bahwa “kemenangan pengadilan di Indonesia ini dapat mengirimkan gelombang kejutan ke seluruh dunia mode,” memaksa merk-merk untuk lebih memperhatikan rantai pasokan mereka.

Diluncurkan pada bulan Juli 2011, Kampanye Detox Greenpeace, yang telah menyoroti keadaan menyedihkan di Sungai Citarum, menekan berbagai merk fashion untuk berkomitmen menghentikan pembuangan bahan kimia berbahaya pada tahun 2020, dan bekerja dengan pemasok mereka di seluruh dunia untuk mengungkapkan rilis bahan kimia berbahaya ke masyarakat yang terpapar polusi air.

Inisiatif ini telah membawa komitmen dari merk-merk seperti Valentino, Levi’s, dan Zara untuk bekerja hanya dengan pemasok yang mematuhi standar pengelolaan air limbah, dan memobilisasi lebih dari setengah juta aktivis, perancang busana, blogger, dan perancang untuk menegaskan bahwa produksi busana tidak akan merugikan kelestarian Bumi.

Adi M. Yadi, kepala organisasi akar rumput Pawapeling. (Foto: James Wendlinger)

Adi M. Yadi, yang organisasi akar rumputnya, Pawapeling, juga terlibat dalam kampanye di Jawa Barat, mengatakan hasilnya tidak sedramatis yang diharapkan Greenpeace. Dari tiga pabrik yang diberi penalti, salah satu pabrik berkomitmen untuk melakukan perubahan pada operasinya, satu pabrik lainnya hanya mulai beroperasi dengan nama baru, sedangkan satu pabrik lainnya ditutup, hanya untuk digantikan oleh yang lain.

Adi menjelaskan bahwa cara menipu menyiasati peraturan yang telah ia temui, seperti pabrik yang membayar untuk mendapatkan hasil positif dalam pemeriksaan lingkungan rutin, atau mengubah laporan volume limbah yang mereka hasilkan. “Bisa jadi volume produksi pabrik telah tumbuh tahun itu,” kata Adi, “dan mereka seharusnya berinvestasi dalam sistem pengelolaan air limbah yang lebih besar untuk menangani surplus, tetapi mereka tidak melakukannya. Mereka hanya melaporkan volume sampah biasa dan membuang sisanya.”

Adi juga menyadari adanya korupsi. Para pejabat yang ditugaskan mengarahkan pabrik agar berinvestasi dalam pengelolaan air limbah merekomendasikan agar pekerjaan dilakukan oleh bisnis yang dimiliki oleh anggota keluarga dan teman-teman.

Baca juga: Muncul Perpecahan dalam Upaya Memerangi Sampah Plastik di Indonesia

Terdapat pola pikir, menurut Asep Kusumah tentang sikap yang berlaku dalam industri tekstil lokal, yang telah meluas ke karyawan pabrik di semua tingkatan, meskipun ada undang-undang lingkungan yang jelas. Pemilik pabrik atau pembeli akhir, yang berpikir bahwa proses produksinya bersih dan pakaian mereka dibuat secara etis, mungkin tertipu oleh pelaporan yang salah. “Ada inkonsistensi di tingkat pemilik, manajemen, dan operator. Semuanya berlaku hingga kepada mereka yang menjaga fasilitas.”

Pada akhirnya, bahkan dengan rencana tujuh tahun pembersihan sungai oleh Presiden Joko Widodo yang sekarang telah berlaku selama lebih dari 10 bulan, dan dengan sepatu bot militer Indonesia menggempur tepian sungai, Walhi dan LSM lain tetap tidak optimis bahwa tindakan praktis jangka panjang maupun tindakan tegas akan diambil untuk mengendalikan polusi industri tekstil Jawa Barat.

“Sementara tentara berada di lapangan,” kata Adi, “Menteri Perdagangan telah memberitahu media betapa pentingnya industri ini, dan bahwa mereka akan terus mendukungnya.”

Keterangan foto utama: Sungai Citarum di Jawa Barat, Indonesia, yang tercemar dan tersumbat sampah. (Foto: James Wendlinger)

Membersihkan Sungai Terkotor di Dunia Sekarang Jadi Tugas Militer Indonesia

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top