Kongres Amerika
Amerika

Mengapa Arab Saudi Membenci Wanita Muslim di Kongres Amerika

Berita Internasional >> Mengapa Arab Saudi Membenci Wanita Muslim di Kongres Amerika

Tidaklah mengherankan bahwa mesin propaganda Arab Saudi mengecam keberadaan Representatif DPR Amerika Serikat Ilhan Omar dan Rashida Tlaib. Tetapi mengapa Arab Saudi dan para sekutunya harus takut pada Muslim di Kongres  Amerika? Mereka takut akan efek Khashoggi, bahwa akan ada terlalu banyak Muslim yang mengungkapkan dan mengkritik tirani mereka.

Baca juga: Anggota Kongres Amerika Rashida Tlaib Hapus Israel dari Peta Kantornya

Oleh: Hamid Dabashi (Al Jazeera)

“Arab Saudi Menyatakan Perang terhadap Anggota Kongres Wanita Muslim Amerika,” demikian bunyi judul yang muncul di majalah Foreign Policy baru-baru ini, di mana kita menemukan bahwa: “Kerajaan-kerajaan Teluk Arab menggunakan rasisme, kefanatikan, dan berita palsu untuk mengecam politisi pencetak sejarah terbaru di Washington.” Ini masalah serius.

Dua wanita Muslim yang menjadi pusat perhatian mesin propaganda Arab Saudi adalah warga Amerika keturunan Palestina, Rashida Tlaib, representatif AS yang baru terpilih untuk distrik ke-13 Michigan, dan warga Somalia-Amerika Ilhan Omar, representatif AS yang baru terpilih untuk distrik ke-5 Minnesota.

Secara alami, banyak kaum konservatif rasis di Amerika Serikat kecewa dengan terpilihnya dua wanita Muslim ke Kongres AS, dan reaksi xenofobik mereka sudah bisa ditebak. Tetapi kecaman media dan komentator yang berafiliasi dengan Arab Saudi merupakan suatu hal yang baru.

Jadi, mengapa Arab Saudi, atau tirani lainnya di dunia Arab dan Muslim yang keberadaannya sangat bergantung pada kemurahan hati militer AS, menentang keberadaan kedua anggota Kongres AS yang baru terpilih ini? Bukankah Arab Saudi merupakan “Penjaga Dua Tempat Suci yang Mulia,” sebagaimana mereka menyebut dirinya sendiri dan dengan demikian memberi selamat pada diri mereka sendiri? Bukankah mereka seharusnya menjadi pelindung dan pendukung semua Muslim di seluruh dunia?

Menurut Foreign Policy, “akademisi, kanal media, dan komentator yang dekat dengan pemerintah Teluk Persia telah berulang kali menuduh Ilhan Omar, Rashida Tlaib, dan Abdul El-Sayed (yang gagal menjadi gubernur Michigan) sebagai anggota rahasia Ikhwanul Muslimin yang memusuhi pemerintah Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.”

Kebencian terhadap Ikhwanul Muslimin

Munculnya Ikhwanul Muslimin sebagai monster menakutkan di Amerika Serikat mendahului kekayaan sesaat anggota terkemuka dan Presiden Mesir yang telah digulingkan, Mohamed Morsi. Namun, di dunia Arab, setelah Musim Semi Arab, rezim berkuasa Bahrain, Mesir, Suriah, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab menganggap Ikhwanul Muslimin sebagai musuh nomor satu mereka. Karena Hamas (yang dianggap sebagai cabang organisasi Ikhwanul Muslimin), Israel juga bergabung dengan negara-negara Arab tersebut dalam ketakutan dan kebencian mereka terhadap politik Islam.

Melalui ketidaktahuan yang disengaja dan diwajibkan, pemerintah-pemerintah tersebut mengurangi seluruh spektrum perlawanan terhadap tirani mereka dan mengalihkan ke Ikhwanul Muslimin.

Arab Saudi dan sekutunya, UEA dan Mesir pada khususnya, telah meluncurkan kampanye ganas dan mematikan terhadap Ikhwanul Muslimin. Tapi ini bukan alasan mengapa mereka mengecam keberadaan dua wanita anggota Kongres AS.

Artikel lain yang diterbitkan di MinnPost menjelaskan: “Loyalis Saudi tidak salah bahwa Omar adalah kritik yang gigih terhadap rezim Saudi. Baru-baru ini, dia mengutuk kerajaan atas dua krisis yang menarik perhatian internasional terhadap rezim Arab Saudi yang penuh rahasia: perang di Yaman dan kematian jurnalis Jamal Khashoggi.”

Karena keterbukaan dan kritik mereka, Omar dan Tlaib dianggap apa yang disebut oleh Profesor Mahmoud Mamdani dari Universitas Columbia sebagai “Muslim jahat,” dalam penelitiannya yang luar biasa dan bukunya yang akan segera terbit. Sebaliknya, Muslim yang baik, seperti Arab Saudi dkk, adalah mereka yang diam-diam menyaksikan pembantaian warga Yaman dan memutilasi jenazah Khashoggi sambil bergegas merencanakan perjalanan haji mereka.

Memperhatikan serangan-serangan ganas terhadap para anggota legislatif muda Muslim di Kongres AS yang baru, Profesor Mohammad H. Fadel dari Universitas Toronto menunjukkan sebuah masalah penting: “Kesediaan mengejutkan untuk menyerang Muslim-Amerika dan Arab-Amerika dan merangkul Islamofobia Amerika mengungkapkan lebih dalam dan keadaan yang lebih menyedihkan antara dunia Arab dan para ekspatriatnya.”

Tetapi mengapa Arab Saudi dan para sekutunya harus takut pada Muslim Amerika? Mereka takut akan efek Khashoggi, bahwa akan ada terlalu banyak Muslim yang mengungkapkan dan mengkritik tirani mereka.

Fenomena puncak gunung es Muslim Amerika

Sementara Arab Saudi dan para sekutu mereka sangat takut terhadap hanya dua wanita Muslim, ada indikasi kuat bahwa lebih banyak pribadi seperti itu akan bergabung dengan Kongres AS di tahun-tahun mendatang.

Kongres ke-116, di mana Omar dan Tlaib sekarang menjadi anggota, adalah jajaran kongres yang paling beragam dalam sejarah AS, dengan sejumlah orang Latin, Afrika-Amerika, dan Asia-Amerika, serta wanita Muslim dan Pribumi Amerika pertama yang dilantik.

Sebelum itu, Kongres ke-115, dan sebelumnya, ke-114, juga dianggap paling beragam dalam sejarah AS.

Meningkatnya keberagaman perwakilan politik di AS adalah tren yang jelas dan Muslim Amerika adalah bagian darinya. Saat ini, ada sekitar 3,4 juta Muslim yang tinggal di AS (hanya lebih dari satu persen dari populasi AS), tetapi generasi muda di antara mereka muncul sebagai sosok yang sangat terlibat dalam arena publik dan politik.

Mayoritas Muslim Amerika (76 persen) adalah imigran generasi pertama atau kedua, banyak dari mereka (atau orang tua mereka) berasal dari tanah yang menderita di bawah penguasa lalim. Pemuda Muslim Amerika, yang aktif secara politik di dalam negeri, juga sangat vokal tentang tirani di tanah air mereka (seperti halnya Omar dan Tlaib, dan seperti halnya yang diusahakan Khashoggi semasa hidupnya), siap mengungkapkan korupsi mendalam dan kejahatan dari para rezim yang memerintah mereka.

Inilah yang menakutkan bagi tidak hanya elit Arab Saudi tetapi juga rezim Mesir, Emirat, Iran, dan lain-lain di dunia Arab dan Muslim yang membenci kebebasan berekspresi. Mereka sangat ingin orang-orang Muslim Amerika yang blak-blakan tersebut pulang ke rumah di mana mereka dapat menangkap, memenjarakan, menyiksa, dan membunuh mereka dengan damai.

Muslim yang tinggal di AS bermunculan sebagai fenomena yang tak lazim. Jumlah mereka yang kecil bukanlah bagian yang signifikan dari populasi, tetapi perlawanan kumulatif mereka terhadap Islamofobia jahat yang akan terjadi di negara baru mereka menjadikan mereka warga negara yang lebih kuat dalam demokrasi Amerika yang rapuh.

Peluang bersejarah ini telah mengubah umat Muslim yang tinggal di AS (maupun di Kanada, Eropa, dan Australia), di mana mereka menghadapi xenofobia rasis setiap hari, sebagai agen yang lebih kuat dalam sejarah masing-masing. Dengan demikian, mereka menjadi ancaman serius bagi negara asal mereka maupun para tiran menyedihkan yang memerintah mereka.

Hari ini, tidak hanya Arab Saudi, tetapi juga Iran, Mesir, Turki, atau Pakistan telah kehilangan klaim eksklusif mereka tentang apa artinya menjadi seorang Muslim. Muslim di seluruh dunia yang tidak hidup di bawah tirani memiliki klaim yang sama, jika tidak lebih besar, tentang agama mereka.

Implikasi teologis dan politis dari perubahan demografis kecil ini sangat besar. Dalam pengertian ini, kebencian Arab Saudi terhadap dua wanita anggota kongres Muslim Amerika hanyalah fenomena puncak gunung es.

Aliansi Arab Saudi-Zionis

Bukan kebetulan bahwa wanita Muslim yang sama-sama dibenci oleh Arab Saudi dan sekutu mereka menjadi sasaran mesin propaganda dari kelompok-kelompok besar Zionis, yang mencemarkan nama baik mereka dan menjelekkan mereka karena mereka mengambil sikap berprinsip terhadap Israel, mengkritik kebijakannya dan mendukung gerakan Boikot, Divestasi, Sanksi (BDS).

Aliansi Arab Saudi-Zionis sekarang mengalir jauh ke jantung dunia Arab dan Muslim. Rezim yang berkuasa dari Arab Saudi hingga Chad meletakkan semua telur mereka di keranjang Zionis, berharap bahwa tindakan ini akan memastikan kelangsungan hidup mereka.

Langkah tersebut terbukti  buruk, karena kekuatan Zionis atas politik AS ditantang secara serius, dan Muslim menjadi bagian dari kebangkitan kemauan demokrasi (democratic will) yang akan mengikutsertakan aspirasi demokrasi negara-negara Muslim dalam agenda mereka.

Baca juga: 2 Wanita Muslim Pertama Terpilih di Kongres Amerika: 6/11 Jadi Tanggal Bersejarah

Selain Islamofobia yang dihasut oleh Zionis di Eropa, Australia, dan Amerika Utara, umat Islam di benua Amerika menghadapi bahaya pelecehan lain: Islamofobis rasis yang menyalahgunakan kritik sah terhadap negara-negara Arab dan Muslim dalam skema propaganda mereka yang mengobarkan perang (warmongering). Pertanyaan krusial tentang hak-hak perempuan sangatlah rentan terhadap pelecehan ini dan sering kali dimasukkan dalam demonisasi agresif bukan hanya terhadap rezim yang berkuasa (yang bertanggung jawab atas pelanggaran hak-hak ini), tetapi juga keseluruhan budaya Muslim dan Arab.

Dengan Islamofobia di satu sisi, feminisme borjuis yang melayani mesin perang di sisi lain, dan aliansi Saudi-Zionis yang bertujuan untuk membungkam dan membunuh suara-suara perbedaan pendapat Muslim, Muslim yang tinggal di AS dan di tempat lain tampaknya akan menghadapi banyak tantangan.

Tidak ada yang meremehkan kekuatan institusional dan propaganda dari kekuatan jahat ini. Kita harus merayakan terpilihnya dua wanita Muslim ke Kongres AS, tetapi kita tidak boleh terlalu optimis tentang keberhasilan mereka dalam semalam.

Islamofobia, xenofobia, serta sikap Arab Saudi dan para sekutu regional mereka yang selalu waspada adalah pertanda baik, tetapi pertempuran di depan sangatlah dahsyat dan kejam. Lagipula, untuk setiap Ilhan Omar dan Rashida Tlaib di Kongres AS, ada sekelompok besar Nancy Pelosi dan Chuck Schumer di kantong belakang kekuatan regresif, Islamofobia, dan zionis.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Hamid Dabashi adalah Profesor Hagop Kevorkian untuk Studi Iran dan Sastra Komparatif di Universitas Columbia.

Keterangan foto utama: Ilhan Omar dan Rashida Tlaib dilantik sebagai anggota Kongres Amerika Serikat pada tanggal 3 Januari 2019. (Foto: AP Photo/Carolyn Kaster)

Mengapa Arab Saudi Membenci Wanita Muslim di Kongres Amerika

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top