Mengapa Indonesia Bertempur Layaknya Avenger untuk Globalisasi
Berita Politik Indonesia

Mengapa Indonesia Bertempur Layaknya Avenger untuk Globalisasi

Berita Internasional >> Mengapa Indonesia Bertempur Layaknya Avenger untuk Globalisasi

Indonesia merengkuh globalisasi, mereka menyukainya, dan memperjuangkannya. Sementara negara-negara lain mulai merasakan ketidaksukaan terhadap pasar yang terbuka, Indonesia tidak merasakan antipati yang sama. Hal ini berhubungan erat dengan sejarah dan pengalaman Indonesia jatuh bangun akibat globalisasi

Oleh: Peter Vanham (World Economic Forum)

Baca Juga: Vietnam: Negara Padat Paling Terglobalisasi dalam Sejarah Dunia Modern

Ini adalah momen yang luar biasa: selama pidatonya di Forum Ekonomi Dunia tentang ASEAN September ini, Presiden Indonesia Joko Widodo mengatakan dia adalah seorang Avenger, yang berjuang untuk perdagangan bebas. “Saya dan rekan-rekan Avenger saya siap untuk mencegah Thanos dari memusnahkan setengah dari populasi,” katanya. “Kita harus mencegah perang dagang menjadi perang tanpa batas.” (Dia tidak mengatakan siapa Thanos-nya.)

Ini tidak biasa, tentu saja, bagi setiap figur publik untuk membandingkan dirinya dengan seorang pahlawan aksi. Tetapi mungkin yang lebih luar biasa lagi adalah bahwa seorang presiden dari pasar besar yang sedang berkembang seperti Indonesia akan berbicara dengan sangat baik tentang globalisasi.

Apa yang menjelaskan antusiasme Indonesia untuk berdagang? Dan mengapa warga dan presidennya menjadi seperti pembela konsep yang telah menjadi sengketa di negara lain?

Yang pasti adalah bahwa warga Indonesia setuju dengan pandangan presiden terhadap globalisasi, walau hal ini hanya disetujui oleh sedikit pihak lainnya. Dalam jajak pendapat YouGov, 72 persen orang Indonesia mengatakan bahwa mereka menganggap globalisasi sebagai “kekuatan untuk kebaikan” di dunia. Dalam jajak pendapat yang sama, rekan-rekan mereka di Inggris (46 persen), Amerika Serikat (40 persen) dan Perancis (37 persen) menunjukkan diri mereka kurang antusias.

Mengapa demikian? Tentu saja ada manfaat yang dibawa globalisasi akhir-akhir ini. Akan ada penjelasannya di bawah. Tapi ada baiknya juga untuk mundur dan melihat peran Indonesia di dunia.

Presiden Joko Widodo mengibaratkan dirinya sebagai seorang Avenger yang berjuang untuk perdagangan bebas

Indonesia adalah semesta perdagangannya sendiri. Negara kepulauan terbesar di dunia, terdiri dari 13.000 pulau dan memiliki 260 juta penduduk. Negeri ini adalah negara terpadat ke-4 di dunia, membentang lebih dari 5.000 kilometer dari Samudra Hindia ke Pasifik Selatan. Ledakan penduduk, seperti di tempat lain, terjadi baru-baru ini. Tetapi geografinya tidak. Ini membantu menjelaskan kebiasaan orang Indonesia yang sudah mendarah daging untuk berlayar dan berdagang.

Dari zaman dulu, rempah-rempah Indonesia seperti pala, bunga pala, dan cengkeh telah diperdagangkan dari pulau-pulau Maluku ke tidak hanya bagian lain di Indonesia seperti Jawa dan Sumatra, tetapi juga ke tempat-tempat jauh termasuk India, Yunani dan Roma. Perdagangan untuk orang Indonesia, dari dulu sampai sekarang, adalah fakta kehidupan. Anda membutuhkannya untuk mendapatkan barang-barang bagus; Anda memperoleh dari membeli dan menjual. Itu tertanam dalam budaya Indonesia.

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia (Foto: Reuters/Henning Gloystein/RC198845B670)

Orang Indonesia juga tahu bahwa perdagangan dan pertukaran bukan hanya tentang barang. Para pedagang Muslim, terutama, datang ke Indonesia pada abad pertengahan, dan kehadiran mereka masih berlangsung hingga hari ini. Mereka tidak hanya datang berdagang tetapi juga meninggalkan agama mereka.

Pada tahun 2018, Indonesia adalah negara dengan penduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia. Pertukaran agama terjadi di samping pertukaran barang, dan telah berlangsung dengan baik di Indonesia.

Indonesia, akhirnya, juga merupakan episentrum gelombang pertama globalisasi sejati. Marco Polo, pedagang dari Venesia, tinggal di Sumatra dan menulis tentang perdagangan cengkehnya. Beberapa abad kemudian, para pedagang Portugis menuju ke kepulauan rempah-rempah di Indonesia ketika mereka mencoba mengelilingi dunia. Salah satunya berhasil, dan lahirlah era baru.

Untuk sementara, gelombang globalisasi itu sebagian besar saling menguntungkan. Perusahaan-perusahaan India Timur, Inggris, dan Belanda, terutama, datang ke Indonesia untuk berdagang rempah-rempah pada awalnya. Tetapi keadaan berubah secara dramatis dan ketika era penjajahan mencapai puncaknya, Belanda menduduki seluruh negeri dan menaklukkan penduduknya, sampai akhirnya menyerahkan klaim kolonial mereka untuk selamanya setelah Perang Dunia II.

Seorang pengemudi Go-Jek membayar menggunakan Go Pay di festival makanan Jakarta pada bulan Oktober. (Foto: Reuters/Beawiharta)

Dengan sejarah perdagangan yang begitu mendalam, apakah mengejutkan bahwa orang Indonesia saat ini sangat memeluk globalisasi?

Di satu sisi, Anda bisa mengatakan itu. Sadar akan pro dan kontra keterbukaan, Indonesia telah memiliki pendekatan yang jauh lebih berhati-hati untuk berdagang di zaman modern. Di tahun 2016, Indonesia berada di peringkat ke-108 (dari 140 negara) pada Indeks Konektivitas Global DHL, yang mengukur arus perdagangan, modal, informasi, dan orang-orang.

Tetapi meskipun skornya rendah, Indonesia benar-benar memiliki perdagangan yang adil sejak kemerdekaan. Setelah berfokus pada swasembada, produksi minyak dan pertanian selama beberapa dekade pertama setelah tahun 1950, di tahun 80-an dan 90-an orang Indonesia menerapkan langkah-langkah untuk melakukan industrialisasi dan membuka perdagangan mereka sekali lagi. Indonesia menurunkan tarif ekspornya, menarik investasi asing dan manufaktur mulai tumbuh.

Indonesia, perlahan tapi pasti, melakukan transformasi negara. Semakin banyak penduduk yang mulai bekerja di pabrik-pabrik pakaian, kimia, dan elektronik yang berfokus pada ekspor. Dalam periode ini, hal itu mengarah pada efek klasik industrialisasi dan globalisasi: produktivitas yang lebih tinggi, upah sedikit lebih tinggi, perjuangan atas standar buruh dan upah, dan kemudian, sekali lagi, upah yang lebih tinggi.

Terpukul keras oleh krisis keuangan Asia pada 1997-1998, keuntungan ekonomi yang dihasilkan selama dekade sebelumnya menguap. Butuh waktu bertahun-tahun untuk pulih. Itu menjadi pengingat, bahwa orang Indonesia membutuhkan hubungan perdagangan dan keuangan global setelah berabad-abad, bahwa globalisasi tidak hanya membawa kekayaan tetapi juga risiko.

Namun, kondisi keseluruhannya sejak saat itu positif. Sejak tahun 2000, tingkat pertumbuhan PDB Indonesia hampir konsisten antara 4 dan 6 persen, memungkinkan banyak penduduk untuk naik ke kelas menengah. Sebagai persentase dari PDB, perdagangan meningkat dari 30 persen pada 1980-an menjadi 60 persen pada tahun 2000-an.

Selama periode yang sama, PDB naik enam kali lipat. PDB per kapita pada tingkat paritas daya beli pada US$13.000, dan tingkat kemiskinan menurun—meskipun masih cukup besar. Pertumbuhan ini menjadikan Indonesia sebagai negara “industri baru”, dan anggota G20.

Baca Juga: Opini: Indonesia dan Globalisasi

Pembeli di pasar Jakarta menjelang festival Muslim Idul Fitri. (Foto: Reuters/Agoes Rudianto)

Indonesia juga berhasil memasuki Revolusi Industri Keempat—era teknologi dan AI. Indonesia menjadi “Pelopor Teknologi” di Forum Ekonomi Dunia, dengan adanya aplikasi pajak online, OnlinePajak, dan empat “unicorn”, start-up inovatif senilai US$1 miliar atau lebih: Go-Jek, Traveloka, Tokopedia dan Bukalapak. Perusahaan-perusahaan ini juga berkontribusi terhadap globalisasi: sebagian besar didanai sebagian oleh dana investasi asing, atau beroperasi di beberapa negara lain di luar Indonesia, termasuk Vietnam, Thailand, Filipina, dan Malaysia.

Namun, pelajaran dari masa lalu tidak akan pernah terlupakan. Saat ini, Indonesia adalah contoh menarik dari bagaimana menyeimbangkan globalisasi dengan pembangunan nasional. Menurut Kyunghoon Kim, seorang peneliti di King’s College di London, bahkan Joko Widodo, presiden “Avenger” globalisasi Indonesia, memprioritaskan negaranya sendiri dalam tiga cara.

Pertama,  Jokowi menekankan pada kemandirian, seperti yang dilakukan pendahulunya. Daging sapi dan ponsel pintar dari luar negeri bagus, tapi lebih bagus yang dari dalam negeri. Kedua, kebijakan Indonesia memiliki banyak karakteristik kapitalisme negara, dengan perusahaan-perusahaan BUMN yang kuat yang bertanggung jawab atas prioritas nasional. Dan ketiga, Indonesia terus mencengkeram sumber daya ekonomi, terutama di kelautan dan perikanan.

Indonesia juga telah belajar bagaimana cara untuk “memagari” keterbukaan mereka atas perdagangan dan globalisasi. Untuk menyeimbangkan ketergantungan yang berlebihan pada perdagangan dengan negara-negara saudara Asia-nya yang lebih besar, China dan Jepang, Indonesia merengkuh ASEAN, kelompok perdagangan regional yang terdiri dari 10 negara. Indonesia juga berhasil menjadikan Eropa dan Amerika Serikat pasar ekspor yang penting, seperti yang ditunjukkan oleh data dari MIT.

Hal itu, pada akhirnya, bisa memecahkan misteri tentang Indonesia dan kecintaan mereka pada globalisasi. Warga Indonesia mendukung globalisasi, karena mereka tahu keuntungan dari perdagangan dan jual beli, telah mengalami hal itu sejak abad pertengahan dan era modern. Namun mereka juga tahu bahaya dan risikonya, yang juga telah mereka pelajari dalam rentang empat abad terakhir, berakhir dengan krisis Asia.

Perilaku negara ini terhadap globalisasi telah menarik pengamat pada kesimpulan bahwa Indonesia mengkhotbahkan globalisasi, namun menerapkan ekonomi populis. Hal ini bukan sedikit berlebihan. Namun, walau mereka mendukung globalisasi dalam jumlah besar, polling YouGov yang sama juga menunjukkan dualisme atau kekhawatiran mendalam tentang perdagangan.

Langsung setelah mereka ditanya tentang globalisme sebagai hal baik, polling bertanya apakah Indonesia harus bisa memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa mengandalkan impor dari negara-negara lain. Luar biasanya, 78 persen setuju.

Warga Indonesia seperti para Avengers yang berjuang demi globalisasi, Anda bisa menganggapnya begitu. Namun ketika pertempuran telah dimenangkan, mereka juga percaya planet Avengers Indonesia harus bisa mengandalkan dirinya sendiri dan bertahan sendiri.

Seiring dunia masih berusaha merumuskan seperti apa Globalisasi 4.0 seharusnya terlihat–dan bagaimana menghadapi perlawanan populis terhadap gelombang globalisasi sebelumnya–hal ini bisa jadi cara yang ketiga yang menarik.

Madeleine Hillyer berkontribusi terhadap artikel ini.

Keterangan foto utama: Kepulauan terbesar di dunia memiliki hubungan yang panjang dan kompleks dengan perdagangan global. (Foto: Reuters/Beawiharta)

Mengapa Indonesia Bertempur Layaknya Avenger untuk Globalisasi

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top