Mengapa Pemutusan Bantuan Amerika bagi Palestina Bukanlah Ide Buruk
Timur Tengah

Mengapa Pemutusan Bantuan Amerika bagi Palestina Bukanlah Ide Buruk

Situasi warga Palestina di Jalur Gaza makin menyedihkan. (Foto: Days of Palestine)
Berita Internasional >> Mengapa Pemutusan Bantuan Amerika bagi Palestina Bukanlah Ide Buruk

Banyak pengamat menilai pemutusan bantuan oleh AS bagi Otoritas Palestina bisa memicu bencana yang lebih buruk daripada memindahkan ibu kota ke Yerusalem. Namun menurut Alaa Tartir, dihentikannya bantuan ratusan juta dolar tersebut justru berpotensi untuk menjadi berkah bagi Palestina. Bagaimana bisa demikian?

Oleh: Alaa Tartir (Middle East Eye)

Banyak pengamat dan analis memperingatkan bahwa pemotongan bantuan dari Amerika Serikat (AS) untuk Otoritas Palestina (PA) berbahaya dan mungkin mengancam stabilitas. Beberapa bahkan berpendapat bahwa ancaman pemotongan dana Presiden AS Donald Trump kepada orang-orang Palestina lebih berbahaya daripada keputusannya untuk memindahkan Kedubes AS dari Tel Aviv ke Yerusalem.

“Apa menurut Anda keberadaan PA sekarang tinggal menghitung hari?” adalah salah satu pertanyaan paling berulang yang diajukan oleh wartawan selama beberapa hari terakhir setelah pernyataan Trump bahwa “kita membayar ratusan juta dolar Palestina dalam setahun dan tidak mendapat penghargaan atau penghormatan. Mereka bahkan tidak ingin melakukan negosiasi yang lama tertunda.”

Tindakan melawan orang-orang Palestina

Trump melanjutkan dengan mengatakan “dengan orang-orang Palestina tidak lagi mau berbicara damai, mengapa kita harus melakukan pembayaran yang masif ini di masakepada mereka?” Namun, ancaman Trump untuk menarik bantuan ke PA seharusnya tidak mengejutkan.

Bantuan AS selalu digunakan sebagai alat politik, dan persyaratan yang menyertainya biasanya selalu berbahaya dan merusak bagi orang-orang Palestina.

Tapi kalau-kalau ancaman pemotongan bantuan ke PA terwujud, benarkah itu buruk? Saya berpendapat tidak; itu tidak seburuk itu. Bisa dibilang, tindakan pemutusan bantuan itu mungkin terbukti bermanfaat—mungkin tidak dalam jangka pendek, tapi pasti dalam jangka panjang.

Bantuan AS ke Otoritas Palestina sebagian besar bertujuan untuk memperkuat peran PA sebagai subkontraktor terhadap pendudukan Israel, dan telah membuat pendudukan Israel lebih murah dan lebih bertahan lama, yang telah menguntungkan ekonomi Israel, menyebabkan fragmentasi Palestina yang mengakar, dan menolak potensi demokrasi Palestina. Untuk semua alasan ini, memotong bantuan AS kepada PA tidaklah seburuk itu.

Tujuan pertama dan terpenting AS atas Palestina adalah untuk melakukan “pencegahan atau mitigasi terorisme terhadap Israel.” Dengan kata lain, bantuan diberikan kepada Palestina untuk mengamankan Israel; jadi apakah itu bantuan untuk orang Palestina atau untuk Israel?

Presiden A.S. Donald Trump (kanan) menyambut Presiden Palestina Mahmoud Abbas, ketika menghadiri sebuah pertemuan di Gedung Putih. Trump menghapus sebuah tweet yang mengatakan bahwa itu adalah "kehormatan" untuk bertemu dengan pemimpin Palestina.

Presiden A.S. Donald Trump (kanan) menyambut Presiden Palestina Mahmoud Abbas, ketika menghadiri sebuah pertemuan di Gedung Putih. Trump menghapus sebuah tweet yang mengatakan bahwa itu adalah “kehormatan” untuk bertemu dengan pemimpin Palestina. (Foto: Getty Images/Mark Wilson)

Bantuan Palestina untuk keuntungan Israel

Menurut paradigma keamanan Israel-yang-Utama, pemerintah AS menggelontorkan jutaan dolar bantuan keamanan bagi Otoritas Palestina sebagai cara untuk “memberi semangat” pasukan keamanan untuk meningkatkan stabilitas dan keamanan Israel, mengamabkan pemukim Israel dan pemukimannya di wilayah yang diduduki di Tepi Barat.

Logika miring ini berarti bahwa PA menjadi subkontraktor untuk pendudukan Israel, berkat bantuan dan persyaratan AS yang harus dipenuhi.

Bantuan ini tidak hanya menopang pendudukan Israel, tapi juga menguntungkan bagi Israel, bagi ekonomi dan perusahaan Israel. Bantuan AS kepada orang-orang Palestina sering digunakan untuk membayar kreditor PA secara langsung, banyak di antaranya adalah perusahaan Israel yang mengenakan bunga sangat tinggi, dan mengambil keuntungan dari ekonomi PA yang tertawan.

Selain itu, sebagian besar bantuan AS untuk Palestina (hingga 72 persen), terutama bantuan sekuritisasi, berakhir di ekonomi Israel. Oleh karena itu, sebagian besar “bantuan” AS kepada orang-orang Palestina secara efektif diterjemahkan ke dalam dukungan tambahan untuk Israel dan aparat keamanannya.

Bantuan AS juga telah menyebabkan fragmentasi Palestina yang mengakar selama dekade terakhir dan memicu perpecahan antara Tepi Barat dan Jalur Gaza. Selain itu, bantuan tersebut tidak hanya menyangkal potensi demokrasi Palestina namun juga mensponsori munculnya gaya pemerintahan otoriter di Tepi Barat.

Didorong oleh agenda sekuritisasi, proses sekuritisasi yang disponsori AS bertujuan untuk mengkriminalisasi perlawanan terhadap pendudukan Israel dan menekan kebutuhan dan aspirasi rakyat Palestina.

Intervensi bantuan AS

Operasi dan intervensi dari United States Agency for International Development (USAID), dan kantor Koordinator Keamanan AS (USSC), berperan penting dalam menyebabkan semua kerugian ini. Dengan demikian, kedua institusi ini tidak hanya melanggar prinsip-prinsip internasional utama pemberian bantuan, namun juga secara efektif bertindak sebagai pelengkap pendudukan kolonial Israel.

Tentu, kerusakan dan konsekuensi berbahaya dari intervensi bantuan AS ini tidak akan otomatis terhenti jika ancaman Trump untuk memotong bantuan menjadi kenyataan.

Perbaikan yang dibutuhkan lebih kompleks dari itu, karena membutuhkan pembongkaran struktur kompleks, dinamika, dan institusi yang telah terbentuk dengan solid selama seperempat abad yang lalu.

Yang penting pada tahap ini adalah, orang-orang Palestina jangan sampai panik dan mengutuk keberuntungan mereka karena “kehilangan” $300 juta sampai $400 juta setahun; Sebaliknya, mereka harus bertindak—dan mereka memiliki banyak pilihan. Sebagai tindakan awal, mereka harus meminta agar USAID dan USSC bertanggung jawab, dan mereka harus mencabut pembebasan registri yang diberikan almarhum pemimpin Palestina Yasser Arafat kepada USAID untuk beroperasi tanpa pengawasan Palestina.

Seorang anak laki-laki Palestina berdiri bersandar pada kantong bantuan makanan yang diberikan oleh Badan Bantuan dan Perbuatan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) di kota Rafah, di Jalur Gaza Selatan pada tanggal 22 Agustus 2017

Seorang anak laki-laki Palestina berdiri bersandar pada kantong bantuan makanan yang diberikan oleh Badan Bantuan dan Perbuatan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) di kota Rafah, di Jalur Gaza Selatan pada tanggal 22 Agustus 2017. (Foto: AFP)

Bimbingan yang dibalik

Inilah saatnya untuk membalikkan “proses pembimbingan.” Alih-alih USAID membimbing Palestina, sekarang saatnya Palestina melakukan bimbingan yang diperlukan kepada USAID dan badan-badan AS lainnya di industri bantuan di Palestina.

Melakukan hal itu membutuhkan kemauan politik dan keberanian di antara kepemimpinan politik Palestina. Namun, kepemimpinan PA saat ini tetap terpaku pada pendekatan dan formulanya yang gagal.

Ketidakmampuan pimpinan PA melakukan tindakan kecil, seperti mencabut pembebasan registri USAID, mencerminkan krisis legitimasi yang lebih dalam dan menggambarkan langkah taktis oleh pimpinan PA saat ini untuk mengulur waktu, tetap memegang otoritas, atau mengatur ulang kartu ucapan “damai.” Gagasan tersebut harus segera dilawan dan digantikan oleh arahan strategis baru yang didorong oleh rakyat Palestina.

Namun, tantangan utama yang tersisa adalah bagaimana menyalurkan tuntutan dan aspirasi rakyat Palestina kepada institusi pemerintah dan perwakilan yang sah.

Dari perspektif rakyat Palestina, akan ada konsekuensi negatif jangka pendek jika ancaman Trump untuk memotong bantuan terwujud. Namun, penting juga untuk menyadari bahwa bantuan ke PA tidak diterjemahkan secara otomatis menjadi bantuan bagi rakyat Palestina.

Adalah menyesatkan untuk mengasumsikan bahwa bantuan dan manfaatnya memberikan keuntungan bagi rakyat Palestina. Industri bantuan dirancang untuk memberi sedikit keuntungan dan merugikan banyak orang.

Orang-orang Palestina melakukan sholat Jumat di antara puing-puing sebuah masjid yang hancur, di mana hanya menara yang masih berdiri, di Beit Lahiya di Jalur Gaza, Jumat, 23 Januari 2009. Penduduk Gaza melakukan sholat Jum’at saat meriam angkatan laut Israel tidak aktif, ketika kesedihan dan keterkejutan mulai bercampur dengan rasa lega di pesisir pantai yang diterjang oleh serangan udara dan darat Israel saat itu. (Foto: AP/Ben Curtis)

Sam Bahour, ketua Americans for a Vibrant Palestinian Economy, baru-baru ini berpendapat: “Saya tidak akan kehilangan apapun jika Kongres benar-benar menghentikan pendanaan bagi Otoritas Palestina. Itu tidak akan membuat kehidupan sehari-hari lebih mudah di bawah pendudukan, tapi mungkin itu akan membangunkan cukup banyak pemimpin untuk melihat absurditas keberadaan mereka diseret seperti sekawanan domba oleh penggembala Israel mereka.”

Tidur nyenyak saya pun tak akan terganggu. Sementara pemotongan bantuan AS akan memiliki beberapa konsekuensi negatif pada kehidupan di Palestina, prospek jangka panjang mungkin terbukti lebih positif karena tindakan ini akan mendorong PA untuk meninggalkan kerangka model bantuan Kesepakatan Oslo. Saatnya untuk meninggalkan model bantuan Oslo yang gagal dan melupakannya.

Tapi proses peralihan membutuhkan tindakan serius, langkah nyata dan konkret, dan rencana aksi dan penyelamatan untuk transisi menuju formula sebelum adanya solusi dua-negara, dan sebelum adanya kesepakatan Oslo.

Akhirnya, sementara bantuan kemanusiaan itu penting, apa yang lebih penting bagi orang Palestina biasa bukanlah kupon untuk mendapatkan gandum atau sarden, melainkan akar politik untuk melawan penolakan hak mereka.

Sampai akar-akar politik tersebut ditangani dan tidak peduli seberapa besar arus bantuan, orang Palestina biasa tidak akan merasakan hasil bantuan positif, baik itu bantuan Amerika, Eropa, atau Arab.

Ancaman Trump untuk memotong bantuan memberi kesempatan kepada rakyat Palestina untuk menempatkan prinsip penentuan nasib dan martabat sendiri, dalam inti kerangka bantuan dan industri.

Dr Alaa Tartir adalah direktur program Al-Shabaka: The Palestinian Policy Network, dan rekan peneliti di Centre on Conflict, Development and Peacebuilding (CCDP), The Graduate Institute of International and Development Studies (IHEID) di Jenewa, Swiss. Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Situasi warga Palestina di Jalur Gaza makin menyedihkan. (Foto: Days of Palestine)

Mengapa Pemutusan Bantuan Amerika bagi Palestina Bukanlah Ide Buruk

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top