Ekonomi
Berita Politik Indonesia

Menkeu Sri Mulyani: Indonesia Waspadai Perkembangan Ekonomi

Berita Internasional >> Menkeu Sri Mulyani: Indonesia Waspadai Perkembangan Ekonomi

Menteri Keuangan Indonesia mengatakan, wajar bagi negara berkembangan untuk mengalami defisit perdagangan. Namun, Sri Mulyani mengatakan dia asiap memberlakukan kembali pajak impor tinggi untuk mencegah defisit makin lebar. Indonesia telah berhasil lolos dari perlemahan mata uang yang terjadi tahun lalu.

Baca juga: ‘Jokowinomics’ dan Masa Depan Ekonomi Indonesia

Oleh: Stefania Palma (Financial Times)

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan dia siap untuk memberlakukan kembali pajak impor yang lebih tinggi untuk mencegah melebarnya defisit perdagangan Indonesia jika Indonesia tidak dapat meningkatkan ekspor dalam menghadapi perlambatan ekonomi global.

Pemerintah Indonesia telah menaikkan tarif untuk kurang lebih 1.100 barang pada tahun 2018 setelah rupiah anjlok ke level terendah sejak krisis keuangan Asia 1997-98. Peristiwa itu memaksa Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga enam kali dalam beberapa bulan dari 4,25 persen menjadi 6 persen untuk menghentikan penurunan mata uang.

Baik melalui pajak impor atau peningkatan pendapatan ekspor, “kami akan memastikan untuk menggunakan alat fiskal untuk mendukung ekspor kami”, Sri Mulyani Indrawati mengatakan kepada Financial Times.

“Jika perlu, ketika ekspor tidak bisa memenuhi tujuan itu… maka kita harus memiliki kemauan untuk menerima bahwa defisit transaksi berjalan hanya dapat dipersempit dengan memotong impor,” tambah Sri Mulyani, yang disebut-sebut sebagai kandidat yang akan menggantikan Jim Yong Kim sebagai presiden Bank Dunia.

Komentar Sri Mulyani tersebut datang ketika Indonesia—pasar terbesar di Asia Tenggara dan negara terpadat keempat di dunia—mengumumkan rekor defisit perdagangan Indonesia sebesar $8,57 miliar di tahun 2018, menurut Reuters, dengan ekspor yang lemah karena berkurangnya permintaan dari pasar-pasar terpentingnya.

Namun, Sri Mulyani berpendapat bahwa normal bagi negara berkembang untuk memiliki defisit perdagangan.

Modal mengalir keluar dari Indonesia pada tahun 2018 menyusul kenaikan suku bunga di AS dan rupiah merosot. Pada satu titik, rupiah kehilangan hampir 13 persen dari nilainya di awal tahun, menurut Reuters—meningkatkan kekhawatiran tentang kemampuan pemerintah Indonesia untuk membiayai melebarnya defisit transaksi berjalan.

Baca juga: Dinamika Ekonomi Indonesia Tahun 2019

Tetapi kebijakan tanggapan Indonesia terhadap penurunan mata uang itu tampaknya tepat. Modal telah mengalir kembali ke Indonesia, senilai $7,9 miliar telah kembali ke pasar pada November 2018, menurut Bank Indonesia.

Merosotnya rupiah juga telah pulih, dengan mata uang bangkit kembali sekitar 7 persen dari nilainya, dari titik terendah tahun lalu yaitu lebih dari Rp15.200 terhadap dolar pada Oktober.

Sri Mulyani mengatakan Indonesia tetap perlu “waspada”. Tetapi, krisis keuangan Asia “pasti” tidak mungkin terjadi lagi, mengingat Indonesia sekarang memiliki nilai tukar yang fleksibel, bank sentral yang independen, posisi fiskal yang lebih kuat dan lebih banyak ruang untuk mengeluarkan kebijakan demi membendung volatilitas.

Keterangan foto utama: Sri Mulyani Indrawati mengatakan jika Indonesia tidak dapat meningkatkan ekspor maka satu-satunya alternatif adalah memotong impor (Foto: AFP)

Menkeu Sri Mulyani: Indonesia Waspadai Perkembangan Ekonomi

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top