Menlu Saudi ‘Lebanon Hanya akan Bertahan jika Hizbullah Melucutkan Senjata’
Timur Tengah

Menlu Saudi: ‘Lebanon Hanya akan Bertahan jika Hizbullah Melucutkan Senjata’

Home » Featured » Timur Tengah » Menlu Saudi: ‘Lebanon Hanya akan Bertahan jika Hizbullah Melucutkan Senjata’

Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adel Al-Jubeir, mengatakan pada Jumat (1/12), bahwa Lebanon telah “dibajak” oleh Hizbullah dan hanya dapat bertahan jika kelompok yang didukung Iran tersebut melucutkan senjata mereka. Menurutnya, selama terdapat sebuah kelompok militan yang bersenjata, maka perdamaian tidak akan terwujud di Lebanon.

Oleh: Reuters

Menlu Saudi ‘Lebanon Hanya akan Bertahan jika Hizbullah Melucutkan Senjata’

Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel Al-Jubeir pada “Rome 2017 MED, Dialog Mediterania” di Roma, Italia, pada tanggal 1 Desember 2017. (Foto: REUTERS/Remo Casilli)

ROMA (Reuters)—Menteri Luar Negeri Arab Saudi mengatakan pada Jumat (1/12), bahwa Lebanon telah “dibajak” oleh Hizbullah dan hanya dapat berkembang jika kelompok yang didukung Iran tersebut melucutkan senjata mereka.

Kelompok militan Muslim Syi’ah tersebut didirikan oleh Garda Revolusi Iran (IRGC) pada tahun 1980-an, dan terus berkembang dalam pengaruh dan pembagian kekuasaan dengan pemerintah Beirut, serta memberikan dukungan penting bagi Presiden Bashar Al-Assad dalam perang sipil Suriah.

Kekuatannya yang terus berkembang telah membuat Arab Saudi waspada, mengingat Arab Saudi adalah kerajaan Muslim Sunni yang merupakan saingan berat Syi’ah Iran dalam memberikan pengaruh regional.

“Lebanon hanya akan bertahan dan sejahtera jika Hizbullah melucutkan senjata,” ujar Menteri Luar Negeri Adel Al-Jubeir dalam sebuah konferensi pers di Italia. “Selama anda memiliki sebuah kelompok militan yang bersenjata, anda tidak akan mendapatkan perdamaian di Lebanon.”

Jubeir mengatakan bahwa situasi di Lebanon sangatlah “tragis”, dan menuduh Iran memicu kerusuhan di Timur Tengah.

“Sejak tahun 1979, Iran benar-benar dapat lolos dari pembunuhan di wilayah kami, dan hal ini harus dihentikan,” ujarnya.

Satu bulan yang lalu, Saad Al-Hariri mengundurkan diri sebagai Perdana Menteri Lebanon ketika ia berada di Arab Saudi,  yang memicu krisis politik di Beirut dan mendorong Lebanon menuju garis terdepan dalam perlawanan regional.

Arab Saudi membantah telah memaksa sekutu lamanya tersebut untuk mengundurkan diri, dan Hariri saat ini telah kembali ke Beirut, dan menunjukkan bahwa ia mungkin akan menarik pengunduran dirinya.

Menlu Saudi ‘Lebanon Hanya akan Bertahan jika Hizbullah Melucutkan Senjata’

Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel Al-Jubeir pada “Rome 2017 MED, Dialog Mediterania” di Roma, Italia, pada tanggal 1 Desember 2017. (Foto: REUTERS/Remo Casilli)

Di tempat lainnya di wilayah tersebut, Arab Saudi khawatir bahwa Hizbullah dan Iran mencoba untuk mengendalikan negara tetangganya Yaman, dengan mendukung pasukan Houthi melawan koalisi militer yang dipimpin Riyadh.

Hizbullah membantah telah bertempur di Yaman, mengirimkan senjata kepada Houthi, atau menembakkan rudal ke Arab Saudi dari teritori Yaman. Jubeir menolak hal tersebut dan mengatakan bahwa negaranya tidak akan mundur dalam konflik ini.

“Houthi tidak diperbolehkan untuk mengambil alih sebuah negara,” ujarnya.

Jubeir mengatakan bahwa negaranya hanya memiliki hubungan yang buruk dengan dua negara—Iran dan Korea Utara. Ia mengatakan bahwa Riyadh tidak memiliki hubungan dengan Israel—yang memiliki kekhawatiran yang sama dengan Saudi terkait Iran—karena mereka menunggu kesepakatan damai dengan Palestina.

Ia mengatakan bahwa semua orang tahu solusi seperti apa yang harus diambil dalam konflik yang telah berlangsung selama berpuluh-puluh tahun lamanya tersebut. “Ini bukanlah hal yang sulit,” ujarnya, dan menambahkan bahwa ia menunggu Amerika Serikat (AS) untuk mengajukan solusi baru.

Salah satu masalah yang paling sulit yang dihadapi oleh para negosiator adalah penyebaran para pemukim Yahudi di seluruh wilayah yang ingin dijadikan sebagai negara Palestina di masa mendatang.

Jubeir mengatakan bahwa ia memperkirakan bahwa kesepakatan pada akhirnya akan menetapkan batas negara Palestina pada garis yang berlaku sebelum perang tahun 1967, ketika Israel menguasai Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Namun begitu, ia mengatakan bahwa terdapat penyesuaian bagi para pemukim: “Tujuh puluh persen dari para pemukim yang berada di “Garis Hijau” (tahun 1967) tetap berada di Israel, dan 30 persen lainnya—jika anda memberikan mereka kompensasi dan rumah, maka mereka dapat pindah ke Israel.”

 

Laporan oleh Crispian Balmer; Penyuntingan oleh Kevin Liffey

 

Menlu Saudi: ‘Lebanon Hanya akan Bertahan jika Hizbullah Melucutkan Senjata’
Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top