Mike Pompeo: Kerja Sama Amerika Serikat-Arab Saudi adalah Hal Vital
Opini

Mike Pompeo: Kerja Sama Amerika Serikat-Arab Saudi adalah Hal Vital

Berita Internasional >> Mike Pompeo: Kerja Sama Amerika Serikat-Arab Saudi adalah Hal Vital

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo menuliskan argumennya di surat kabar Wall Street Journal. Isinya adalah, ia memberikan pembelaan atas pembelaan Donald Trump dan administrasinya terhadap perbuatan Mohammed bin Salman. Menurutnya, Amerika Serikat tidak membenarkan pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi, tetapi kerajaan Arab Saudi adalah kekuatan yang kuat untuk stabilitas Timur Tengah.

Oleh: Mike Pompeo (Wall Street Journal)

Baca Juga: Mike Pompeo Cari Persatuan Sekutu untuk Hadapi Korea Utara

Upaya administrasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk membangun kembali kemitraan AS-Arab Saudi tidak populer di ruang-ruang pertemuan di Washington, di mana politisi dari kedua belah pihak telah lama menggunakan catatan hak asasi manusia kerajaan untuk menyerukan penurunan aliansi. Pembunuhan bulan Oktober 2018 terhadap warga negara Arab Saudi Jamal Khashoggi di Turki telah memperkeruh Capitol Hill dan peliputan media. Namun mengurangi kualitas hubungan AS-Saudi akan menjadi kesalahan besar bagi keamanan nasional AS dan sekutu-sekutunya.

Kerajaan Arab Saudi adalah kekuatan yang kuat untuk stabilitas di Timur Tengah. Arab Saudi bekerja untuk mengamankan demokrasi Irak yang rapuh dan menjaga agar pemerintah Irak terikat pada kepentingan Barat, bukan kepentingan pemerintah Iran. Pemerintah Arab Saudi membantu mengelola banjir pengungsi yang melarikan diri dari perang saudara Suriah dengan bekerja sama dengan negara-negara tuan rumah, bekerja sama erat dengan Mesir, dan membangun hubungan yang lebih kuat dengan Israel.

Arab Saudi juga telah menyumbangkan jutaan dolar untuk upaya yang dipimpin AS untuk memerangi ISIS dan organisasi teroris lainnya. Produksi minyak dan stabilitas ekonomi Arab Saudi adalah kunci bagi kemakmuran regional dan keamanan energi global.

Apakah suatu kebetulan bahwa orang-orang yang menggunakan pembunuhan Khashoggi untuk menghantam kebijakan Arab Saudi yang diusung Presiden Trump adalah orang yang sama yang mendukung pendekatan mantan Presiden AS Barack Obama dengan Iran, sebuah rezim yang telah membunuh ribuan orang di seluruh dunia, termasuk ratusan orang Amerika, dan bertindak brutal terhadap orang-orang mereka sendiri?

Di manakah ruang gema ini, di manakah manifestasi hak asasi manusia ini, ketika Obama memberi para mullah bertumpuk-tumpuk uang tunai untuk melaksanakan pekerjaan mereka sebagai negara sponsor terorisme terbesar di dunia?

Arab Saudi, seperti AS, dan tidak seperti para kritikus tersebut, mengakui ancaman besar yang ditimbulkan Republik Islam Iran kepada dunia. Iran modern adalah, dalam istilah Henry Kissinger, sebuah gerakan, bukan sebuah bangsa. Tujuannya adalah untuk menyebarkan revolusi Islam dari Iran ke Suriah, untuk menghancurkan Israel, dan untuk menundukkan siapa saja yang menolak untuk tunduk, dimulai dengan rakyat Iran. Iran yang berani akan menyebarkan lebih banyak lagi kematian dan kehancuran di Timur Tengah, memicu perlombaan senjata nuklir regional, mengancam jalur perdagangan, dan menimbulkan terorisme di seluruh dunia.

Salah satu tindakan pertama Mohammad bin Salman sebagai putra mahkota Arab Saudi adalah upaya untuk membasmi pengaruh destabilisasi Iran di Yaman, di mana pemberontak Houthi yang didukung Iran merebut kekuasaan pada tahun 2015. Pemerintah Iran membangun entitas seperti Hesbollah di Semenanjung Arab: kelompok militan dengan kekuatan politik yang dapat menyandera pusat populasi Saudi, ketika rudal Hezbollah di Lebanon selatan mengancam Israel.

Kaum Houthi telah menduduki wilayah Saudi, merebut pelabuhan utama, dan dengan bantuan Iran, meningkatkan penargetan rudal balistik mereka sehingga mereka dapat menembak bandara internasional Riyadh, di mana puluhan ribu orang Amerika melakukan perjalanan. Sementara itu, Iran tidak menunjukkan minat yang tulus dalam solusi diplomatik terhadap konflik Yaman.

Administrasi Trump telah mengambil banyak langkah untuk mengurangi penderitaan perang, penyakit, dan kelaparan di Yaman. Kami telah berupaya meningkatkan penargetan Saudi untuk meminimalisir korban sipil, dan kami telah menyalurkan bantuan kemanusiaan melalui teladan kami yang murah hati.

AS dengan senang hati mengumumkan bahwa kami menyediakan hampir 131 juta Dolar AS bantuan makanan tambahan untuk Yaman, sehingga total bantuan kemanusiaan menjadi lebih dari 697 juta Dolar AS selama 14 bulan terakhir. Dana tersebut disediakan untuk Program Pangan Dunia dan organisasi lain yang bekerja untuk memberi makan orang-orang Yaman.

Tanpa upaya AS, jumlah korban tewas di Yaman akan jauh lebih tinggi. Tidak akan ada negosiator yang cukup jujur untuk mengelola perselisihan antara Arab Saudi dan mitra koalisi Teluk, yang pasukannya sangat penting untuk upaya perang. Iran tidak berminat meredakan penderitaan orang Yaman. Para mullah bahkan tidak peduli pada rakyat jelata Iran. Kerajaan Arab Saudi telah menginvestasikan miliaran Dolar AS untuk meringankan penderitaan di Yaman. Iran telah berinvestasi sebanyak nol sen.

Yaman juga merupakan front penting dalam perang melawan teror, dan tetap menjadi demikian di seluruh administrasi kepresidenan kedua belah pihak. Kelompok yang sekarang dikenal sebagai Al Qaeda di Semenanjung Arab melancarkan serangan besar pertamanya terhadap Amerika pada bulan Oktober 2000, ketika operasinya mengebom USS Cole sementara kapal perusak itu berlabuh di pelabuhan Aden di Yaman. Serangan itu menewaskan 17 pelaut dan 39 orang lainnya terluka.

AQAP sejak itu telah mencoba melakukan beberapa serangan terhadap tanah air dan kepentingan sekutu AS, dari upaya teroris Nigeria, Umar Farouk Abdulmutallab yang mengebom Northwest Airlines Flight 253, dalam perjalanan dari Amsterdam ke Detroit pada hari Natal tahun 2009, ke pembantaian tahun 2015 di kantor Charlie Hebdo di Paris. ISIS juga mempertahankan kehadirannya di Yaman, dari mana ia berusaha menyerang AS dan negara-negara sekutu kami.

Meninggalkan atau mengurangi kualitas aliansi AS-Saudi juga tidak akan melakukan apapun untuk mendorong pemerintah Arab Saudi ke arah yang lebih baik di dalam negeri. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk menjamin kebebasan yang selalu diperjuangkan Amerika dan Presiden Trump. Namun putra mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman telah menggerakkan negara ke arah reformis, mulai dari memungkinkan perempuan untuk mengemudi dan menghadiri acara olahraga, hingga membatasi polisi agama dan menyerukan kembali ke Islam moderat.

AS tidak memaafkan pembunuhan Khashoggi, yang pada dasarnya tidak konsisten dengan nilai-nilai Amerika, sesuatu yang saya katakan kepada pemimpin Saudi secara pribadi dan juga publik. Presiden Trump telah mengambil tindakan sebagai tanggapan.

Dua puluh satu orang Saudi yang dicurigai bertanggung jawab dalam pembunuhan itu dianggap tidak memenuhi syarat untuk masuk ke AS dan visa mereka telah dicabut. Tanggal 15 November 2018, pemerintah AS memberlakukan sanksi terhadap 17 warga Saudi di bawah Perintah Eksekutif 13818, yang didasarkan pada Undang-undang Akuntabilitas Hak Asasi Manusia Global Magnitsky.

Kami telah berupaya memperkuat dukungan untuk respon ini, dan beberapa negara, termasuk Prancis dan Jerman, telah mengikuti. Administrasi Trump akan mempertimbangkan tindakan hukuman lebih lanjut jika lebih banyak fakta tentang pembunuhan Khashoggi terungkap.

Berbagai kritikus terhadap aliansi AS-Saudi dapat meninjau kembali esai berpengaruh tahun 1979 oleh Jeane Kirkpatrick yang berjudul “Kediktatoran dan Standar Ganda,” yang menganalisis kegagalan pemerintahan mantan Presiden AS Jimmy Carter untuk membedakan antara otokrat yang bersahabat dengan kepentingan AS dan mereka yang dengan keras kepala bertentangan. Kecenderungan ideologis Carter telah membutakannya bagi kepentingan keamanan nasional AS dan menghambatnya dari menempatkan kepentingan Amerika terlebih dahulu.

“Idealisme liberal,” Kirkpatrick mengamati, “tidak perlu identik dengan masokisme, dan tidak perlu tidak sesuai dengan pembelaan kebebasan dan kepentingan nasional.” Sungguh pengingat yang tepat waktu bagi para kritikus yang mengecam pendekatan pragmatis Presiden Trump, yang juga tepat, ke hubungan Amerika Serikat dan Arab Saudi hari ini.

Baca Juga: Mike Pompeo Menuduh Karavan Migran Hasut Kekerasan untuk Tujuan Politik

Mike Pompeo adalah Menteri Luar Negeri Amerika Serikat.

Keterangan foto utama: Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan putra mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman di Gedung Putih, tanggal 14 Maret 2017. (Foto: /AFP/Getty Images/Nicholas Kamm)

Mike Pompeo: Kerja Sama Amerika Serikat-Arab Saudi adalah Hal Vital

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top