denuklirisasi Korea Utara
Global

Mike Pompeo: Korea Utara Harus Kurangi Senjata Nuklir hingga 60-70 %

Home » Featured » Global » Mike Pompeo: Korea Utara Harus Kurangi Senjata Nuklir hingga 60-70 %

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo mengatakan pada negosiator Korea Utara, agar mereka menyerahkan lebih dari 60-70 persen hulu ledak nuklirnya dalam 6 hingga 8 bulan ke depan. Namun belum jelas kompensasi apa yang akan diberikan AS atas tuntutan denuklirisasi Korea Utara ini. Beberapa pihak Korea Utara juga mulai merasa kesal, karena didesak terus-menerus oleh Pompeo.

Baca juga: Menlu AS Mike Pompeo: Denuklirisasi Korea Utara Tergantung Keputusan Kim Jong Un

Ditulis oleh Alex Ward

Administrasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah memberikan jadwal resmi untuk memulai proses denuklirisasi Korea Utara, meski pemerintah Korut telah menolaknya beberapa kali. Hal itu menunjukkan bahwa bahkan setelah berbulan-bulan berlangsung pembicaraan, pemerintah AS dan Korut hanya membuat sedikit kemajuan untuk mengakhiri ancaman nuklir Korut.

Rincian jadwal yang diusulkan AS, yang sebelumnya belum pernah dilaporkan, ialah sebagai berikut: Korea Utara menyerahkan lebih dari 60-70 persen hulu ledak nuklirnya dalam 6 hingga 8 bulan ke depan, kemudian AS atau pihak ketiga, kemungkinan negara lain di luar keduanya, akan mengambil alih mereka dan mengambilnya dari Korut. Tidak jelas konsesi apakah, jika ada, yang akan ditawarkan AS sebagai imbalan di luar pencabutan sanksi atau menghapuskan Korut dari daftar negara pendukung terorisme.

Menurut dua orang yang familiar dengan diskusi tersebut, hal ini merupakan rencana yang telah disajikan oleh Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo kepada negosiator Korea Utara beberapa kali selama dua bulan terakhir. Namun, setiap kali perundingan, pihak negosiator Korea Utara yang dipimpin oleh Kim Yong Chol —seorang pembantu utama pemimpin Korea Utara Kim Jong Un— senantiasa menolak proposal Pompeo.

Hal-hal rumit lainnya ialah bahwa Korut belum mengungkapkan kepada AS berapa banyak bom nuklir yang dimilikinya. Jadi, bahkan jika para negosiator Korut setuju dengan jadwal AS dan menyerahkan 60 hingga 70 persen persenjataan nuklirnya sesuai yang disebutkan, fakta jumlah senjata nuklir Korut yang seungguhnya akan sulit untuk diverifikasi.

Memang, sebuah sumber mengatakan kepada saya bahwa tujuan utama Pompeo dalam tahap negosiasi ini hanyalah untuk membuat Korut secara resmi mengungkapkan berapa banyak senjata nuklir yang dimilikinya. Pompeo juga telah menekan Korut untuk sepenuhnya mengungkapkan berapa jumlah total hulu ledak yang dimiliki Korut.

Tanggal 30 Juni 2018, Washington Post melaporkan bahwa para pejabat intelijen AS yakin bahwa rezim Kim tidak akan menyerahkan cadangan nuklirnya dan berusaha menyembunyikan jumlah senjata nuklir sesungguhnya yang dimilikinya; beberapa perkiraan yang ada berkisar antara 65 buah.

Gedung Putih tidak menyangkal bahwa Pompeo telah membuat permintaan berulang kali dan merujuk sang penulis ke Departemen Luar Negeri untuk memberikan komentar. Departemen Luar Negeri AS tidak segera membalas permintaan untuk memberikan komentar.

Tetapi garis waktu ini – dan penolakan Korea Utara – seiring dengan pelaporan sebelumnya tentang negosiasi, termasuk dari Wall Street Journal, Washington Post, dan surat kabar Jepang Asahi Shimbun.

Tidak semua pakar Korea Utara menganggap tawaran AS itu bagus, tetapi ada yang juga yang menganggap demikian. “Hal ini sangat masuk akal bagi kedua belah pihak,” kata Michael Fuchs, pejabat tinggi Asia di Departemen Luar Negeri AS tahun 2013-2016. “Apabila Anda berada dalam administrasi Trump, Anda menginginkan uang muka yang sangat jelas.”

Korea Utara mungkin menyetujui penyerahan hulu ledak sebanyak 60 hingga 70 persen, atau angka yang mendekati, asalkan mendapat sesuatu yang substantif sebagai balasannya, lanjut Fuchs, yang sekarang berada di pusat lembaga pemikir Pusat Kemajuan Amerika di Washington. “Saya bisa membayangkan dunia seperti apa ketika Korut akan setuju untuk melakukan ini,” katanya.

Negosiasi dengan Korea Utara yang Tidak Berjalan Lancar

Sumber-sumber mengatakan kepada spara negosiator Korut mulai marah pada Pompeo karena dia terus mengulangi permintaan itu meskipun telah mendapat banyak penolakan.

Posisi Amerika yang tidak berubah dapat menjelaskan rasa frustrasi Korut yang semakin meningkat terhadap AS. Bulan Mei 2018, pemerintah AS dan Korut mengakhiri negosiasi mereka dua jam lebih awal, meskipun Pompeo meyakinkan di hadapan publik bahwa kedua pihak telah membuat “kemajuan yang bagus.”

Yang lebih buruk lagi, ketika Pompeo berkunjung ke Pyongyang, Korut pada bulan Juli 2018 untuk pertemuan ketiganya, sebagian karena Korut berjanji bahwa Pompeo akan bertemu dengan Kim Jong Un, Kim justru tak muncul sekalipun. Sebaliknya, Kim memilih untuk mengunjungi sebuah peternakan kentang.

Pompeo dan timnya telah mengadakan pembicaraan dengan Korut. Tapi setelah dua hari berlangsungnya negosiasi, Korut menyebut tuntutan Amerika “bagaikan gangster” dan “sangatlah disesalkan,” meskipun tidak jelas apa tuntutan Pompeo. Pompeo menolak karakterisasi tersebut dan mengatakan bahwa tuntutan AS mencerminkan keinginan warga dunia.

Penasehat Keamanan Nasional AS John Bolton juga merasa frustrasi atas kemajuan negosiasi dalam beberapa hari terakhir. Pada hari Selasa (7/8) ia mengatakan kepada Fox News bahwa “Korea Utara belum mengambil langkah-langkah yang kami rasa perlu untuk melakukan denuklirisasi.”

Baca juga: Pompeo: ‘ Tidak Ada Imbalan untuk Korea Utara Tanpa Denuklirisasi Permanen ’

Dia ada benarnya. Sejak pertemuan Trump-Kim di Singapura pada bulan Juni 2018, Korut telah melakukan sangat sedikit upaya untuk benar-benar mengakhiri program nuklirnya. Hingga saat ini, sepertinya pemerintah Korut sengaja mengulur-ulur waktu, alih-alih menyetujui permintaan denuklirisasi Trump. Sebuah surat yang dikirimkan Kim kepada Trump pada bulan Juli 2018 bahkan sama sekali tidak menyebutkan “denuklirisasi.”

Korut telah membuat beberapa konsesi. Tanggal 23 Juli 2018, citra satelit menunjukkan bahwa Korut tengah menghancurkan sebuah situs nuklir miliknya. 4 hari kemudian, Korut mengembalikan 55 jenazah tentara AS yang turut berperang dalam Perang Korea.

Pertanyaannya saat ini ialah apakan Trump atau Pompeo akan mengajukan permohonan yang sama dalam kali berikutnya ketika mereka bertemu dengan Kim maupun Menteri Luar Negeri Korut, serta apakah Korut akan mengabulkan permohonan tersebut. Beberapa pakar berpendapat bahwa mereka harus segera melakukan kesepakatan dengan cara ini.

“Hal tersebut sangatlah menguntungkan bagi kedua belah pihak,” ujar Fuchs kepada penulis.

 

Mike Pompeo: Korea Utara Harus Kurangi Senjata Nuklir hingga 60-70 %
Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top