Mobil Buatan Iran dan China Banjiri Suriah yang Dikenai Sanksi
Timur Tengah

Mobil Buatan Iran dan China Banjiri Suriah yang Dikenai Sanksi

Berita Internasional >> Mobil Buatan Iran dan China Banjiri Suriah yang Dikenai Sanksi

Karena sanksi yang dipimpin AS, pengiriman terakhir mobil modern yang datang ke Damaskus adalah pada akhir tahun 2011. Dengan ketidakhadiran mereka mereka, para pembuat mobil Asia telah memasuki medan pertempuran, terutama dari Iran dan China. Meskipun ada ribuan tentara Rusia di wilayah pemerintah, namun pabrikan China-lah yang paling berhasil mengisi celah yang ditinggalkan oleh merek-merek Barat. 

Oleh: Sami Moubayed (Asia Times)

Baca Juga: Peristiwa Langka: Presiden Suriah Bashar Al-Assad Kunjungi Iran

Pada bulan Desember, sebuah video tentang seorang pria Suriah yang memberikan pacarnya mobil Camaro kuning baru di tengah-tengah Lapangan Ummayad di Damaskus, tengah beredar di media sosial. Tapi tindakan romantis tersebut—yang melibatkan model mobil Amerika yang mencolok—segera mendapat perhatian pihak berwenang dan berubah menjadi mimpi buruk bagi pasangan tersebut.

Mobil itu adalah mobil curian, kemungkinan diselundupkan melalui Suriah timur laut, dan plat nomornya diubah, yang berujung pada penyitaan dan penangkapan pria itu. Pihak berwenang diberi informasi oleh dua petunjuk. Salah satunya adalah bahwa itu adalah mobil Amerika, yang kedua adalah tahun produksinya: 2016.

“Tidak ada mobil baru di Suriah—tentu saja tidak ada mobil Amerika,” tawa Abu Hekmat, seorang dealer mobil terkenal di lingkungan Barzeh, utara ibu kota.

“Fakta bahwa itu adalah mobil Amerika juga menimbulkan kecurigaan langsung,” katanya kepada Asia Times, dan menambahkan: “Satu-satunya mobil Amerika baru yang kami miliki adalah yang diselundupkan dari wilayah di mana orang Amerika berpangkalan (di sebelah timur Sungai Eufrat).” Di kota-kota seperti Hassakeh dan Qamishly—yang saat ini berada di tangan milisi Kurdi yang didukung Amerika Serikat (AS)—model tahun 2018 ada di semua tempat, kebanyakan Chevrolet, Range Rover, dan Ford SUV.

Namun, karena sanksi yang dipimpin AS, pengiriman terakhir mobil modern yang datang ke Damaskus adalah pada akhir tahun 2011. Showroom-showroom yang dulunya mengelilingi sekitar kota Harasta di pinggiran Damaskus, kemudian dibakar atau dihancurkan dalam baku tembak dalam pertempuran. Pasukan pemerintah mendapatkan kembali kendali atas daerah itu awal tahun ini, tetapi tidak satu pun showroom dibuka kembali, karena para pembuat mobil internasional berhenti berbisnis dengan Suriah.

Dengan ketidakhadiran mereka mereka, para pembuat mobil Asia telah memasuki medan pertempuran, terutama dari Iran dan China.

Dibuat di Iran

Sebelum pecahnya perang sipil Suriah pada tahun 2011, sebuah mobil eksperimental baru buatan Iran hanya mendapat sedikit minat di antara penduduk Suriah. “Sham”—sebuah usaha patungan antara pemerintah Suriah dan Iran—dijual dengan harga 725.000-875.000 Pound Suriah (sekitar Rp203 juta-Rp246 juta)—harga yang kompetitif pada saat itu. Tetapi sebagian besar warga Suriah lebih menyukai merek Barat, dan karenanya, mobil tersebut tidak laku di Damaskus.

Warga Suriah juga sama-sama tidak antusias dengan Peugeot, yang dirakit secara lokal oleh Iran Khodro, perusahaan Iran yang sama di belakang Sham.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, warga Suriah yang ingin membeli kendaraan baru tidak menemukan pilihan lain. Dan mereka tidak mendapatkan kesepakatan.

Karena devaluasi tajam Pound Suriah, Sham sekarang dijual seharga 8-9 juta Pound Suriah. Ketika dikonversi ke dolar, itu berarti harga telah turun lebih dari $2.000 (sekitar Rp28 juta) sejak perang pecah. Tetapi penduduk Suriah mencari nafkah dalam mata uang lokal, yang membuat mobil ini bahkan tidak terjangkau bagi banyak orang.

Peugeot 206 buatan Iran juga dijual seharga sekitar $12.000 (sekitar Rp168 juta), di mana 407 dijual seharga $14-15.000 (sekitar Rp196 juta-Rp210 juta).

Mobil-mobil buatan Iran ini hanya terjangkau untuk kelas menengah yang jumlahnya menyusut, terlalu mahal untuk orang miskin, dan terlalu murah untuk elit yang berpenghasilan tinggi, yang “lebih suka mengendarai Audi A4 2003 daripada Peugeot Iran yang baru,” menurut Abu Ramez, dealer mobil lain, yang berbasis di Baghdad Street di Damaskus tengah.

Audi A4 atau Nissan Murano bekas harganya antara 8-11 juta Pound Suriah, membuat harganya hampir sama dengan harga untuk mobil Iran baru.

Jika model Iran meningkat popularitasnya, itu mungkin hanya karena mereka adalah satu-satunya yang tersedia di kota untuk sebagian besar warga Suriah.

“Selama lima tahun terakhir, kami menjual sekitar 50 Peugeot Iran… dan sekitar 25 mobil Sham,” kata Abu Ramez. Namun, jika dibandingkan dengan mobil Eropa bekas, penjualan mobil ini “tidak terlalu buruk,” kata dealer itu.

“Mobil-mobil Eropa laku 10-15 mobil saja, hanya karena mereka tidak memiliki dealer lagi di Suriah. Orang lebih suka membeli mobil yang memiliki dealer di Suriah—seperti China. Memperbaiki Audi atau Volkswagen membutuhkan perjalanan ke Lebanon, yang membuatnya sangat mahal.”

Semakin lama sanksi berjalan, semakin sulit perawatan mobil Eropa.

Baca Juga: Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif Mendadak Mengundurkan Diri

China mengalahkan Rusia

Meskipun ada ribuan tentara Rusia di wilayah pemerintah, namun pabrikan China-lah yang paling berhasil mengisi celah yang ditinggalkan oleh merek-merek Barat.

Satu-satunya model mobil Rusia yang populer adalah Lada, yang terutama dikendarai oleh para pengemudi taksi.

“Harga jual mereka adalah 3-4 juta Pound Suriah (sekitar Rp84 juta-Rp112 juta), tetapi mereka menghadapi persaingan kuat dari sekutu mereka, mobil Geely China.” Meskipun mobil Geely dijual seharga dua kali lipat, namun mereka saat ini menguasai industri taksi di kota-kota seperti Damaskus dan Aleppo.

Mobil Oka Rusia manual kecil—yang pernah menjadi kebanggaan negara bekas Uni Soviet itu—juga menghadapi persaingan ketat dari model China seperti Brilliance dan BYD.

“Mobil Oka termasuk yang termurah di Suriah” kata Riad Khoja, dealer Oka yang menjual mobil seharga 2,5 juta Pound Suriah (sekitar Rp70 juta). Khoja mencatat bahwa seluruh stoknya diimpor oleh pengusaha swasta Suriah.

Apa yang lebih disukai orang Rusia untuk mengemudi di Suriah? “Mereka mengendarai Audi,” kata dealer Abu Hekmat dari Barzeh.

Sedan China Brilliance—yang meniru model BMW—adalah produk kelas atas dari sekutu Suriah di Asia tersebut, yang hanya ditandingi oleh BYD Tang SUV.

“Mobil-mobil Brilliance terlihat bagus, dan aman untuk dikendarai,” kata Abu Ramez. Para pendatang baru sangat diminati, terutama dari rumah tangga berpendapatan menengah yang menyukai biaya perawatan yang rendah.

BYD China—yang baru memasuki pasar dua tahun lalu—”sangat populer, karena mereka terlihat persis seperti Audi Q5.” Harga jual saat ini adalah 19 juta Pound Suriah (sekitar Rp533 juta)—yang tertinggi dari semua mobil di pasar non-Amerika dan non-Eropa.

Baca Juga: Bubarnya Perjanjian Nuklir dan Krisis Ekonomi, Presiden Iran Diminta Mundur

Kewaspadaan yang salah

Pasar mobil dalam beberapa tahun terakhir telah melihat sejumlah kewaspadaan yang salah, di mana model domestik dan prospek yang menjanjikan untuk para perakit yang lebih bervariasi, jatuh.

Pada awal tahun 2017, pihak berwenang mengumumkan bahwa mereka bersiap untuk meluncurkan sebuah mobil yang disebut “Syrians” yang akan terjangkau oleh para pegawai pemerintah dengan cicilan bulanan melalui bank-bank yang dikelola pemerintah.

Mobil itu—yang dipasarkan dengan dasbor canggih dan gearbox otomatis—dibandrol dengan harga 8 juta Pound Suriah (sekitar Rp238 juta pada saat itu). Proyek ini tidak pernah melewati tahap perencanaan, karena prioritas medan tempur bergeser untuk Suriah dan Iran, ditambah sanksi baru AS pada awal bulan ini.

Pada pertengahan tahun 2018, sebuah showroom Kia muncul di jalan raya Mezzeh di Damaskus, tidak jauh dari outlet China.

Ini menimbulkan spekulasi bahwa perusahaan raksasa Korea Selatan yang dihormati itu kembali ke Suriah. Namun, segera dijelaskan bahwa mobil-mobil itu tidak datang langsung dari Korea Selatan, tetapi secara serentak dari negara-negara Arab tetangga untuk dirakit dan dijual di Damaskus, sehingga menghindari sanksi pada impor mobil baru.

Keterangan foto utama: Sebuah mobil difoto di jalur produksi di pabrik mobil bersama Suriah-Iran, Siamco, di Damaskus. (Foto: Sputnik/Mikhail Voskresenskiy)

Mobil Buatan Iran dan China Banjiri Suriah yang Dikenai Sanksi

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top