Moon Jae-In: Master Taktik yang Bisa Bawa Trump dan Kim ke Meja Perundingan
Asia

Moon Jae-In: Master Taktik yang Bisa Bawa Trump dan Kim ke Meja Perundingan

Berita Internasional >> Moon Jae-In: Master Taktik yang Bisa Bawa Trump dan Kim ke Meja Perundingan

Rencana perundingan antara Donald Trump dan Kim Jong Un bisa dibilang dapat terwujud karena Presiden Korea Selatan, Moon Jae In, yang terus berupaya untuk menyerukan reunifikasi Korea. Walau dia mengecam “rezim diktator kejam Korea Utara” selama kampanyenya, namun Moon juga berpendapat bahwa Korea Selatan harus “merangkul Korea Utara untuk mencapai penyatuan kembali suatu hari”.

Oleh: David Dodwell (South China Morning Post)

Jika ada yang didapatkan dari kesepakatan luar biasa dalam pertemuan Donald Trump dengan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un di bulan Mei mendatang, hal itu adalah pujian abadi untuk Trump.

Tapi mungkin lebih dari segalanya, pertemuan ini akan terjadi karena visi seumur hidup yang tak tergoyahkan dan taktik yang tidak konvensional oleh Moon Jae-in—seorang pengacara hak asasi manusia berusia 65 tahun yang menjadi presiden Partai Demokrat Korea Selatan kurang dari setahun yang lalu.

Begitu banyak yang sudah terjadi sejak pertarungan saling ejek antara Trump dan Kim sejak bulan September tahun lalu, ketika Kim memanggil Trump “orang tua pikun yang gila”, dan Trump membalas Kim dengan menyebutnya “manusia roket kecil”, dengan membual bahwa Trump memiliki tombol nuklir yang lebih besar dan lebih kuat.

    Baca Juga : Campur Tangan Rusia dalam Pemilu Amerika, Putin: ‘Saya Tidak Peduli’

Dan hampir semua perubahan itu terjadi karena Presiden Moon.

Banyak komentator selama beberapa hari terakhir ini menekankan risiko besar yang sekarang diambil oleh Presiden Moon dan Trump, jika inisiatif tawaran perdamaian dengan Pyongyang menjadi bumerang.

Tapi setidaknya pertemuan itu telah menghancurkan diplomasi yang berulang-ulang dan tanpa arah selama beberapa dekade terakhir. Pertemuan ini mungkin tidak menghasilkan sesuatu yang baru, tapi setidaknya pertemuan ini bisa memecahkan kebuntuan yang membosankan dan dapat diprediksi.

Dan sebelum kita mulai menyerukan Hadiah Nobel Perdamaian untuk Trump, mari kita mengingat dengan saksama peran transformatif yang dimainkan pada bulan lalu oleh Moon—yang merupakan anak dari pengungsi Korea Utara—yang telah menghabiskan sebagian besar masa lalunya untuk mengkomunikasikan reunifikasi Korea.

Moon Jae-In: Master Taktik yang Bisa Bawa Trump dan Kim ke Meja Perundingan

Pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un, dan Presiden AS Donald Trump: sebuah pertemuan di bulan Mei? (Foto: KCNA/AFP/Saul Loeb)

Mentor politiknya yaitu Kim Dae-jung dan Roh Moo-hyun, adalah perancang dari “kebijakan sinar matahari” yang ditujukan untuk penyatuan Korea.

Kim Dae-jung memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian sendiri atas upayanya membangun hubungan damai dengan Korea Utara, dan Roh mempertahankan warisannya sampai dia jatuh dari jabatannya di tahun 2008.

Moon adalah Kepala Staf Roh pada tahun 2003 sampai 2008, jadi ia memainkan peran penting pada saat pembicaraan diplomatik itu, reuni keluarga, dan proyek ekonomi gabungan yang diperjuangkan Roh.

Tidak mengherankan jika janji pertama Moon ketika terpilih pada bulan Mei tahun lalu adalah untuk melakukan “pendekatan baru terhadap Korea Utara, sambil menyeimbangkan hubungan dengan Amerika Serikat dan China”.

Walau dia mengecam “rezim diktator kejam Korea Utara” selama kampanyenya, namun Moon juga berpendapat bahwa Korea Selatan harus “merangkul Korea Utara untuk mencapai penyatuan kembali suatu hari”.

The New York Times mengatakan bahwa terpilihnya Moon “mengacak geopolitik senjata nuklir Korea Utara. Pemerintah Trump… sekarang menghadapi prospek sekutu penting yang melanggar dan menerapkan pendekatan yang lebih mendamaikan.”

Moon Jae-In: Master Taktik yang Bisa Bawa Trump dan Kim ke Meja Perundingan

Presiden Korea Selatan Moon Jae-in (kanan), berpose dengan Kim Yo-jong, saudara perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, untuk sebuah foto di Seoul pada bulan lalu. Kim Yo-jong menjadi anggota pertama keluarga penguasa Korea Utara yang berkunjung ke Korea Selatan sejak berakhirnya perang Korea. (Foto: AFP/KCNA)

Tergesa-gesa memang, meski terdapat retorika yang semakin memanas pada bulan September.

Walau Moon mematuhi sanksi PBB yang diperketat—yang menunjukkan beberapa tanda bahwa mereka akan lebih mencekik Korea Utara yang sudah kekurangan dana—namun Moon terus berupaya untuk mengadakan kesepakatan dan perundingan.

Walau pertukaran diplomatik Korea Utara-Korea Selatan telah melonjak tanpa disadari, namun keputusan imajinatif untuk mengundang atlet Korea Utara ke Olimpiade Musim Dingin sebagai bagian dari tim Korea yang bersatu, dan untuk mengundang Kim Yo-jong—saudara perempuan pemimpin Korea Utara—sebagai kepala delegasi ke Olimpiade, sepertinya memiliki dampak yang menggemparkan.

Kim Yo-jong adalah anggota pertama dari keluarga Kim yang pertama kali datang ke Korea Selatan sejak pertempuran berakhir di Semenanjung Korea pada tahun 1950-an.

Trump menegaskan bahwa saat menyetujui untuk bertemu dengan Kim, dia tidak membuat kesepakatan. Korea Utara juga tidak membuat komitmen apa pun, meski ancaman peluncuran rudal tidak terdengar lagi sejak pengumuman Olimpiade.

Tetapi jika momentum itu harus dibuat, dan kita tidak ingin kembali ke siklus negosiasi yang terus berulang dan tak ada habisnya selama beberapa tahun terakhir, maka kesepakatan akan banyak dibutuhkan—dan bukan hanya oleh Korea Utara dalam hal program nuklir mereka.

Meskipun tidak ada hal spesifik yang disebutkan sejauh ini, namun tidak mungkin untuk mempercayai bahwa Kim dan tim militernya akan menghentikan senjata pencegahan nuklir mereka tanpa komitmen penarikan pasukan Amerika Serikat (AS) dari Korea Selatan.

Itu berarti sistem pertahanan rudal Amerika, yang dikenal sebagai Terminal Pertahanan Area Dataran Tinggi (THAAD)—yang diperkirakan telah disahkan menjelang pemilu Moon—akan segera menjadi masalah di meja perundingan.

Walau Moon telah berhasil mengubah diskusi, namun penting untuk diingat bahwa konflik ini telah terjadi sejak tahun 1950 antara Amerika Serikat dan China, seperti yang terjadi antara Korea Utara dan Korea Selatan.

Kejahatan dan kecurigaan yang secara historis terjadi antara AS dan China memastikan bahwa Korea Utara tetap berada di tempat penyangga, menjaga pasukan AS sejauh mungkin dari perbatasan China dengan Korea sejauh 1.400 kilometer.

Dinasti Kim yang eksentrik juga menjadi penyangga penting bagi AS, yang menjaga pasukan China jauh dari Seoul.

Sejauh ini, China tampaknya senang dengan perkembangan dalam beberapa bulan terakhir, tidak hanya karena hal itu mengurangi bahaya kesalahan militer yang begitu dekat dengan perbatasannya, namun juga karena dampak jangka panjang dari kemajuan negosiasi yang substantif.

Pemerintah China tentu saja akan senang melihat Korea Utara yang melakukan denuklirisasi, dan bahkan lebih senang melihat pembongkaran THAAD, dan akhirnya penarikan tentara AS. Kebijakan “Tiga Tidak” yang sudah ada sejak lama, melekat dengan kuat: Tidak ada nuklirisasi; Tidak ada perang; Tidak ada kekacauan.

Hidup akan menjadi lebih rumit jika isu reunifikasi menjadi kenyataan. Bagi kebanyakan pengamat, hal itu secara tegas berarti bahwa Korea Selatan yang kaya, berasumsi akan memiliki kekuasaan dan kontrol atas Korea Utara yang miskin—seperti Jerman Timur yang diserap oleh Jerman Barat.

    Baca Juga : Trump: ‘Perundingan dengan Korea Utara Bisa Ciptakan Kesepakatan Terbaik di Dunia’

Lagipula, pada tahun 2016, PDB Korea Utara yang sebesar $28,5 miliar merupakan sebuah ketimpangan karena angka itu merupakan 2 persen dari Korea Selatan yang PDB-nya sebesar US$1,4 triliun. Ekspornya—senilai kurang dari US$3 miliar dan sebagian besar hanya ke China saja—hanya mencakup hampir setengah persen dari Korea Selatan yang ekspornya senilai $495 miliar.

Kim Jong-un jelas memiliki gagasan yang sangat berbeda, mungkin percaya bahwa negara tersebut dapat disatukan kembali dengan persyaratannya sendiri (nuklir). Dan China mungkin akan bersimpati.

Banyak yang perlu terjadi sebelum merasa nyaman untuk melihat pasukan Korea Selatan berada di perbatasan Liaoning dan Jilin.

Saya terdorong dan terkesan dengan keputusan Trump untuk bertemu Kim. Saya bahkan lebih terkesan dengan Presiden Moon. Tapi terlalu dini untuk optimis. Terdapat perjalanan panjang dan sangat penuh harapan di masa depan.

David Dodwell meneliti dan menulis tentang tantangan global, regional, dan Hong Kong dari sudut pandang Hong Kong.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Seorang penumpang kereta Korea Selatan membaca sebuah surat kabar dengan judul berita utama mengenai pertemuan puncak antara pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dan Presiden AS Donald Trump. (Foto: AP)

Moon Jae-In: Master Taktik yang Bisa Bawa Trump dan Kim ke Meja Perundingan

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top