Moon Jae-In Mampu Kembalikan Negosiasi Amerika-Korea Utara
Asia

Moon Jae-In Mampu Kembalikan Negosiasi Amerika-Korea Utara

Berita Internasional >> Moon Jae-In Mampu Kembalikan Negosiasi Amerika-Korea Utara

Presiden Korea Selatan Moon Jae-in bertemu dengan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un hari ini (18/9) di Pyongyang. Hal ini dilakukan untuk mendorong upaya perdamaian di Semenanjung Korea, sekaligus membujuk upaya denuklirisasi Korea Utara. Berbeda dengan Amerika, Korea Selatan kini melunakkan pendekatannya kepada Korea Utara.

Oleh: Scott Snyder (NPR)

Presiden Korea Selatan Moon Jae-in, telah menggandakan upaya untuk mencegah perundingan Amerika Serikat-Korea Utara agar tidak berubah arah. Setelah kunjungan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo pada bulan Agustus 2018 ke Pyongyang dibatalkan,

Moon mengirim tim duta besar khusus ke ibukota Korea Utara tersebut untuk menghidupkan kembali proses diplomatik antara Korut dan Amerika dengan mengamankan penegasan kembali pimpinan Korea Utara Kim Jong Un di hadapan publik tentang komitmennya terhadap denuklirisasi.

Mulai hari Selasa (18/9), Moon akan bertemu Kim di Pyongyang untuk mendorong rekonsiliasi antar-Korea dan membantu mengembalikan dialog AS-Korea Utara ke jalurnya. Sebagai bagian dari pembicaraannya dengan Kim, Moon harus berkeras akan proses koordinasi denuklirisasi dengan Amerika Serikat, bahkan dengan risiko diperbaruinya ketegangan antar-Korea.

Tugas utama Moon di Pyongyang ialah untuk menarik Korea Utara agar bekerja sama dengan Korea Selatan dan Amerika Serikat tanpa menyerah pada seruan Korut untuk bersatu melawan campur tangan dari “kekuatan eksternal.”

Amerika Serikat telah menekan, tanpa hasil, untuk gestur awal dan signifikan Korea Utara sebagai cara untuk memastikan keseriusan Korut tentang denuklirisasi. Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton telah merujuk pada proses denuklirisasi Korut yang akan memakan waktu hanya satu tahun, dan Pompeo dilaporkan telah meminta agar Korut mengirim setidaknya 60 persen hulu ledak nuklir dan bahan fisilnya ke luar Korut sebagai bukti komitmen terhadap denuklirisasi.

Baca Juga: Moon Jae-in Minta Jokowi Bantu Upaya Denuklirisasi Semenanjung Korea

Korea Utara menyebut pendekatan ini “seperti gangster” dan tampaknya menolak proposal itu secara keseluruhan, setelah kunjungan Pompeo pada tanggal 6-7 Juli 2018 ke Pyongyang.

Korea Utara telah menekankan urutan hal-hal yang terdapat dalam pernyataan dari KTT Singapura bulan Juni 2018 antara Kim dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, bersikeras bahwa pembentukan pengaturan perdamaian dan hubungan baru AS-Korut harus dilakukan sebelum pemerintah Korut melangkah menuju denuklirisasi lengkap.

Pemerintah Korut telah mengajukan secara langsung kepada Trump untuk memenuhi janji-janjinya di Singapura dan membuat deklarasi yang secara resmi menyatakan akhir Perang Korea, sebelum Korut mengambil langkah-langkah denuklirisasi.

Menyusul KTT Singapura, Korea Utara memenuhi ikrarnya tentang isu tawanan perang dengan mengembalikan 55 peti jenazah ke Amerika Serikat untuk identifikasi lebih lanjut, sebagai tambahan atas menutup beberapa fasilitas pengujian nuklir dan rudal secara unilateral (dan dapat dikembalikan).

Namun langkah-langkah tersebut tidak mengurangi ancaman Korea Utara atau mengurangi sikap skeptis AS tentang pernyataan terbuka Kim terhadap denuklirisasi pada akhirnya.

Dalam pertemuan pekan ini dengan Kim, Moon akan mengeksplorasi kemungkinan untuk mengaitkan deklarasi akhir perang dengan deklarasi fasilitas nuklir dan rudal Korea Utara. Namun, dia juga akan menghadapi tekanan dari Korut untuk memajukan kerjasama antar-Korea, di tengah kebuntuan yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat.

Sebelum KTT Moon-Kim pada bulan April 2018 di Panmunjom, pemerintahan Moon mengakui bahwa kegagalan kritis dari upaya Korea Selatan di masa lalu untuk mempromosikan keterlibatan dengan Korea Utara ialah bahwa hubungan antar-Korea yang gagal harus bergerak bersama-sama dengan hubungan AS-Korut untuk membuat kemajuan nyata pada perdamaian dan denuklirisasi.

Moon tidak bisa terlalu tergantung pada rekonsiliasi antar-Korea tanpa mengulangi kesalahan masa lalu dan dipermainkan Korut dengan melemahkan aliansi AS-Korsel.

Baca Juga: Bertemu Moon Jae-in, Jokowi Akan Kunjungi Korea Selatan

Keinginan pemerintahan Moon untuk membuka kembali pertukaran ekonomi dengan Korea Utara berisiko membuka celah antara pemerintah Amerika Serikat dan Korea Selatan. Moon membayangkan kerjasama ekonomi dengan pemerintah Korut sebagai solusi atas penderitaan ekonomi Korsel, bahkan ketika Amerika terus menekankan penegakan sanksi sebagai tuas utama yang digunakan untuk menekan Korut untuk melakukan denuklirisasi.

Jadi sementara Moon harus menjembatani kesenjangan kepercayaan AS-Korea Utara, dia juga harus menjaga kepercayaan AS-Korea Selatan. Kesenjangan pada sanksi telah berkembang dengan terungkapnya bahwa perusahaan Korsel melanggar sanksi AS dengan mengimpor batubara Korut.

Amerika curiga bahwa janji Moon untuk membuka kantor penghubung di Kaesong dan membangun kembali jalur kereta api di Korut akan menggarisbawahi kekurangan rezim sanksi, memberikan manfaat ekonomi dan senjata nuklir bagi Kim.

Sementara itu, Presiden China Xi Jinping telah membuka kembali garis hidup ekonomi Korea Utara dan mengubah intimidasi ekonomi menjadi kemitraan geostrategis dengan pemerintah Korut. Hal ini sebagian disebabkan oleh kecemasan bahwa gabungan hubungan antar-Korea dan AS-Korut, yang dilambangkan oleh KTT Singapura, mungkin akan merugikan China.

Pergeseran fokus pemerintah China dari denuklirisasi ke geopolitik dan kemunculan perang dagang China-AS merugikan pemerintah Korsel pada saat koordinasi aliansi AS-Korsel sangat penting.

Menjadi hal yang masuk akal bagi Moon untuk mengambil risiko tambahan untuk menghindari bahaya yang dirasakan dari “kebakaran dan kemarahan” atas konfrontasi AS-Korea Utara. Namun keberhasilan usahanya akan terus bergantung pada kemampuan Amerika dan Korea Selatan untuk berkoordinasi secara efektif.

Apabila Moon secara eksklusif bertahan pada peran polisi yang baik terhadap Korea Utara, Trump akan terus dicap sebagai polisi jahat. Sedikit lebih banyak peran “polisi jahat” dari Moon mungkin akan memberikan ruang bagi Trump untuk menunjukkan fleksibilitas dengan Korut, sementara bersikeras pada kepentingan kedua negara bahwa Kim memenuhi janjinya untuk mewujudkan denuklirisasi sempurna.

Scott Snyder adalah rekan senior untuk Studi Korea di Council on Foreign Relations dan penulis South Korea at the Crossroads: Autonomy and Alliance in an Era of Rival Powers.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Seorang pria berjalan melewati spanduk raksasa di Seoul City Hall yang menunjukkan foto jabat tangan dalam KTT antara Presiden Korea Selatan Moon Jae-in dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, tanggal 13 September 2018. Moon akan terbang ke ibukota Korea Utara pada 18 September 2018 untuk melakukan pertemuan ketiga dengan Kim. (Foto: AFP/Getty Images/Jung Yeon-Je)

Moon Jae-In Mampu Kembalikan Negosiasi Amerika-Korea Utara

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top