Muslim Cyber Army Ditangkap Karena Salah Pelabelan
Titik Balik

Muslim Cyber Army Ditangkap Karena Salah Pelabelan

Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Pol Fadil Imran (tengah) didampingi Kasubdit 1 Dittipid Siber Bareskrim Polri Kombes Pol Irwan Anwar (kanan) dan Analis Kebijakan (Anjak) Divisi Humas Mabes Polri Kombes Pol Sulistyo Pudjo. (Foto: Antara Foto/Reno Esnir)
Berita Internasional >> Muslim Cyber Army Ditangkap Karena Salah Pelabelan

Masyarakat umum yang menjadikan media massa sebagai sumber utama informasi bagi dirinya, atau sudah bermedia sosial namun tidak memahami agenda setting dari media massa, akan mudah dikelabui, dan persepsi masyarakat terhadap Muslim Cyber Army khususnya, dan muslim umumnya, menjadi buruk. Opini oleh Muhammad Hanif Priatama.

Oleh: Muhammad Hanif Priatama

Ketika “The Family MCA” dibongkar polisi, media massa bersegera berlomba-lomba memberitakannya, seperti menemukan ‘cacat’ yang menarik perhatian banyak orang. Apalagi, arti ‘Cyber Army’ mengandung militansi, sedangkan publik sudah tercekoki dengan ketakutan atas gerakan radikalisme dan terorisme yang sama-sama militan, dan dicitrakan terkait Islam.

Berdasarkan penuturan seorang pengamat di salah satu acara televisi swasta, Muslim Cyber Army (MCA) muncul secara spontan karena terjadi ‘pembusukan’ karakter di dunia maya yang menimpa tokoh-tokoh Muslim. Sebagai bentuk solidaritas, maka muncul akun-akun milik orang-orang Muslim yang berusaha menangkis fitnah-fitnah dari akun-akun (sebagian anonim) di dunia maya. Walau sudah pernah diberi peringatan agar tidak menggunakan label apapun, nama MCA tetap muncul.

    Baca Juga : Indonesia Butuh China untuk Kembali pada Rencana Pembangunan Infrastruktur

Melabeli diri dengan MCA barangkali terinspirasi dari pihak yang kebetulan menjadi ‘lawan’ setelah terjadi polarisasi besar-besaran di ranah media sosial. Beberapa kelompok akun yang melabeli dirinya dengan identitas tertentu (contoh : Jasmev, Bejo, FNI, dan lain-lainnya), kemudian secara serentak menyerang suatu akun (mem-bully) sasarannya. Kebetulan, beberapa diantara kelompok tersebut secara terang-terangan memihak kepada kontestan politik, serta melakukan kampanye baik positif maupun negatif.

Pelabelan tanpa organisasi muncul secara spontan, bisa berlanjut ke arah pembentukan organisasi/komunitas,  atau bisa juga hilang tak berbekas. Contoh, dari gerakan umat yang berkumpul di Monas pada 21 Desember 2016 dan dikenal sebagai gerakan 212, melahirkan beberapa organisasi seperti Koperasi 212, Alumni 212, bahkan Presidium 212.

Pelabelan semacam itu ada kelemahannya, yaitu mudah sekali disusupi atau bahkan ‘dibajak’ oleh orang yang punya kepentingan berlawanan. Bisa jadi, tiba-tiba ada yang mengaku dan membentuk organisasi, “The Family 212” misalnya, kemudian menjalankan operasi ‘playing victim’ atau ‘jebakan betmen’ agar citra 212 menjadi buruk di mata khalayak.

Kalau berangkat dari organisasi yang legal (misal seperti NU, Muhammadiyah, FPI, dan lain-lain), kemudian ada yang mengaku-aku, maka akan segera dapat diklarifikasi. MCA bukan organisasi, hanya label, sehingga siapapun dapat membuatnya tanpa ada yang menyangkalnya secara resmi.

Para penggiat media sosial akan dengan mudah menilai apakah MCA itu ‘jadi-jadian’ atau bukan. Namun, masyarakat umum yang menjadikan media massa sebagai sumber utama informasi bagi dirinya, atau sudah bermedia sosial namun tidak memahami agenda setting dari media massa, akan mudah dikelabui, dan persepsi masyarakat terhadap MCA khususnya, dan muslim umumnya, menjadi buruk.

Ini disebut bumerang, ketika ingin ‘membariskan’ dengan membentuk gerakan berlabel, maka seperti membuka peluang untuk dijadikan titik serangan balik yang mematikan. Berbeda jika gerakan tersebut datang tanpa label, persis seperti peristiwa 212 yang hampir tanpa celah karena murni pembelaan terhadap agama.

Karena sudah terjadi pembusukan nama, maka label MCA sebaiknya ditinggalkan dan tak perlu diingat-ingat lagi. Bahkan, agar jangan sampai terulang, sebaiknya tidak membuat label-label baru. Kalau memang seorang muslim ingin berjuang melawan fitnah di dunia maya, cukup bawa identitas diri, dan kalaupun ingin ‘membariskan’ dengan rekan-rekan yang lain, cukup dengan label Muslim. Titik.

Tidak usah pedulikan jika pihak-pihak yang mengacau punya barisan dengan label apapun. Karena, membuat label sama artinya mengkotak-kotakkan masyarakat. Semakin besar kotaknya, semakin tebal dinding-dinding yang membatasi interaksi sehingga hanya berujung pada permusuhan tiada henti. Apakah mau keadaan seperti ini menimpa negeri tercinta ini seterusnya?

    Baca Juga : Australia Desak Indonesia untuk Tidak Berikan Keringanan terhadap Abu Bakar Baasyir

Selain itu, Allah yang telah memberi label sejak dulu. Berjuanglah dengan label Allah itu, yaitu sebagai Muslim. Niscaya Allah memberi kemudahan, perlindungan dan pertolongan.

“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” [QS Al-Hajj, 22:78]

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Pol Fadil Imran (tengah) didampingi Kasubdit 1 Dittipid Siber Bareskrim Polri Kombes Pol Irwan Anwar (kanan) dan Analis Kebijakan (Anjak) Divisi Humas Mabes Polri Kombes Pol Sulistyo Pudjo. (Foto: Antara Foto/Reno Esnir)

Muslim Cyber Army Ditangkap Karena Salah Pelabelan

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top