Musuh-Musuh Theresa May Bersatu, Bagaimana Akhir Brexit?
Eropa

Musuh-Musuh Theresa May Bersatu, Bagaimana Akhir Brexit?

Berita Internasional >> Musuh-Musuh Theresa May Bersatu, Bagaimana Akhir Brexit?

Kesepakatan Brexit masih juga belum didapatkan, dan musuh-musuh Perdana Menteri Inggris Theresa May telah bersatu. Ada empat kemungkinan yang mungkin muncul dari akhir upaya Inggris meninggalkan Uni Eropa ini. Salah satunya adalah Referendum Brexit kedua.

Oleh: Emma Ross-Thomas (Bloomberg)

Perdana Menteri Inggris Theresa May telah menyatukan sayap oposisi di Partai Konservatif yang menentang rencana Brexit-nya. Ketika dia mendekati terwujudnya kesepakatan dengan Uni Eropa di Brussels, kemungkinan mendapatkan persetujuan dari Parlemen Inggris tampaknya justru akan lebih sulit.

Berikut adalah empat cara bagaimana akhir Brexit akan terwujud:

Partai Konservatif Inggris kembali sesuai ekspektasi

Pemerintah Inggris berharap bahwa ketika kesepakatan sudah terwujud, anggota parlemen dari Partai Konservatif akan kembali sesuai ekspektasi. Para pendukung Brexit pada akhirnya akan melihat kesempatan mereka untuk memenuhi ambisi jangka panjang meninggalkan Uni Eropa, dan para anggota parlemen akan memberitahu mereka bahwa mereka berisiko kehilangan kesempatan itu selamanya jika kesepakatan ditolak.

Anggota Partai Konservatif pro-Uni Eropa akan mengetahui bahwa kesepakatan tersebut melindungi industri-industri utama, dan akan diberitahu bahwa mereka berisiko mendapatkan bencana Brexit tanpa kesepakatan jika mereka memberikan suara menolaknya.

Wakil de facto May, David Lidington, menyimpulkan pendekatan ini pekan lalu, mengatakan bahwa adanya kesepakatan “akan menciptakan dinamika baru.”

“Hal ini tidak lagi menjadi pertanyaan dari beberapa hasil yang diprediksi,” katanya. “Saya pikir kemudian orang perlu bertanya pada diri mereka sendiri, apa yang menjadi keuntungan bagi rakyat yang memilih mereka ke Westminster? Saya berharap dan percaya bahwa kami dapat mengamankan mayoritas di Parlemen.”

Baca Juga: Opini: Mengapa Inggris Harus Lakukan Pemungutan Suara Brexit Lagi

Kembali ke bilik suara

Prediksi Lidington tampaknya tidak didukung dengan data, setidaknya untuk saat ini. Aritmatika parlementer mengarah pada kekalahan bagi May, dan angkanya terus memburuk. Pengunduran diri Jo Johnson, anggota parlemen pro-Uni Eropa saudara salah satu pendukung utama Brexit Boris Johnson, setidaknya telah mengurangi satu suara bagi May, dan argumennya untuk menentang kesepakatan Brexit May dan mendukung referendum kedua dapat menginspirasi anggota parlemen yang lain.

Jika kesepakatan May ditolak, kekacauan akan terjadi. Empat kemungkinan yang akan terjadi ialah: anggota parlemen kembali melakukan pemungutan suara, pemilihan umum, referendum kedua, atau jatuh tanpa kesepakatan ke dalam limbo hukum yang mungkin akan mendatangkan malapetaka ekonomi. Di sinilah para juru kampanye referendum kedua melihat peluang mereka.

Untuk saat ini, tidak ada bukti akan adanya mayoritas di Parlemen untuk referendum kedua. Tapi terdapat mayoritas untuk menghindari Brexit tanpa kesepakatan. Dan syarat untuk melakukan referendum lain, yakni mayoritas sederhana, jauh lebih mudah untuk dijangkau daripada dua pertiga mayoritas yang diperlukan untuk pemilihan umum.

“Keputusan Jo Johnson juga merupakan pengingat bahwa dukungan untuk referendum jauh lebih dalam dari yang terlihat. Hanya sembilan anggota Partai Konservatif di antara lebih dari 100 anggota parlemen yang secara terbuka mendukung ide tersebut.

Jika Majelis Rendah Parlemen Inggris menolak kesepakatan May, lebih banyak lagi anggota Konservatif yang akan keluar untuk suara orang-orang,” kata Mujtaba Rahman dari Eurasia, sebuah perusahaan riset politik.

Pemimpin Partai Buruh Jeremy Corbyn memupus harapan banyak pihak minggu lalu ketika dia mengatakan Brexit “tidak dapat dihentikan.” Tetapi Rahman berpendapat bahwa akan ada tekanan terhadapnya dari para aktivis dan anggota parlemen Partai Buruh untuk memberikan suara kedua jika alternatifnya ialah Brexit tanpa kesepakatan.

Pihak Corbyn bertekad untuk mencoba memaksa pemilihan untuk mencoba memenangkan kekuasaan. May dan para anggota parlemennya bahkan mengancam anggota Konservatif yang membangkang dengan pemilihan umum yang lebih cepat jika mereka menentang rencana Brexit-nya, dan ada laporan bahwa para asisten May mempermainkan skenario itu.

Jalan menuju referendum kedua

Para anggota parlemen yang menginginkan referendum kedua di Brexit melihat tiga peluang untuk membuat amandemen  yangmemungkinkan pemilihan umum baru.

  1. Mengubah mosi Theresa May untuk meminta persetujuan dari kesepakatan apapun yang dia dapatkan, paling lambat bulan Desember 2018.
  2. Jika May tidak dapat mencapai kesepakatan atau jika Parlemen menolak rencana yang dia bawa dari Brussels, dia harus membuat pernyataan pada tanggal 21 Januari 2018 tentang bagaimana dia berencana untuk melanjutkan. Secara teori, sebuah mosi pada pernyataan itu akan “menjadi syarat netral,” yang artinya tidak dapat diubah. Dalam praktiknya, para backbencher (anggota parlemen yang tidak menjabat sebagai menteri) percaya bahwa Ketua Majelis Rendah Parlemen John Bercow akan mengizinkannya untuk diubah.
  3. Jika kesepakatan May disetujui, May harus lulus dari “Implementasi Rancangan Undang-undang” Brexit. Anggota parlemen bisa mengubah hal ini juga.

Parlemen memberikan suara untuk kesepakatan itu, dan pasar bereaksi secara dramatis. Terdapat peluang di luar bahwa para pelaku perdagangan akan berakhir dengan memaksa kesepakatan. Rupert Harrison, ahli strategi makro di BlackRock dan mantan penasehat untuk mantan Menteri Keuangan Inggris Raya George Osborne, memprediksi Parlemen akan kembali lagi, dan kembali sesuai ekspektasi untuk kedua kalinya di bawah beban Poundsterling yang jatuh.

Baca Juga: Anggaran Terakhir Inggris Sebelum Brexit, Apa yang Harus Diperhatikan?

Brexit tanpa kesepakatan

Para anggota parlemen memilih kesepakatan itu. May mengatakan dia telah melakukan yang terbaik, Uni Eropa bermain terlalu berlebihan dan perjanjian yang ditawarkan adalah “kesepakatan buruk” yang May selalu bersumpah jauh lebih buruk daripada “Brexit tanpa kesepakatan.” Pemerintah mulai mengambil langkah serius untuk mempersiapkan kekurangan makanan terburuk, penundaan pasokan medis, dan kemacetan di pelabuhan.

Kini semuanya tergantung pada Parlemen, di mana paling banyak 80 anggota parlemen menganggap kebijakan itu tanpa kesepakatan adalah hal yang baik, untuk mencoba menghentikannya terjadi. Inggris meninggalkan Uni Eropa pada tanggal 29 Maret 2019 dengan atau tanpa kesepakatan untuk mengurangi dampak-dampak buruk yang bisa terjadi.

Keterangan foto utama: Seorang delegasi duduk di sebelah tanda “Kesepakatan Brexit Terbaik” selama konferensi tahunan Partai Konservatif di Birmingham. (Foto: Bloomberg/Chris Ratcliffe)

Musuh-Musuh Theresa May Bersatu, Bagaimana Akhir Brexit?

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top