ISIS
Berita Politik Indonesia

Algojo ISIS Asal Indonesia Terbunuh di Suriah

Berita Internasional >> Algojo ISIS Asal Indonesia Terbunuh di Suriah

Muhammad Saifudding, anggota ISIS asal Indonesia, dikabarkan telah terbunuh dalam pertempuran di Suriah. Saifuddin adalah alat perekrutan untuk ISIS dan muncul di beberapa video di situs-situs radikal. Berbagai video yang beredar termasuk video tahun 2016 yang menunjukkan Saifuddin bersama dua militan lainnya dari Malaysia dan Filipina saat membunuh tiga orang asing, termasuk wartawan Jepang Kenji Goto, yang mengenakan terusan oranye dan dipaksa berlutut sebelum dibunuh.

Baca juga: Saksi Mata Upaya Pembunuhan Pemimpin ISIS: ‘Pertempuran Berlangsung Sengit’

Oleh: Niniek Karmini (The Republic/Associated Press)

Seorang militan Indonesia yang menjadi algojo dan terlihat membunuh orang asing dalam video ISIS tahun 2016 telah terbunuh bulan Januari 2019 dalam pertempuran dengan pasukan yang didukung Amerika Serikat di Suriah, menurut Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dan anggota keluarga pada hari Senin (11/2).

Juru bicara Polri Dedi Prasetyo mengatakan bahwa Muhammad Saifuddin, yang menggunakan alias Abu Walid dan Mohammed Karim Yusop Faiz, terbunuh pada tanggal 29 Januari 2019 di Provinsi Deir Ezzor timur, di mana koalisi internasional berusaha untuk mengalahkan berbagai wilayah kantong yang tersisa dari kelompok ekstremis ISIS.

“Dia terbunuh oleh pecahan peluru dari tank pasukan Suriah dalam pertempuran,” kata Prasetyo kepada Associated Press.

Kakak Saifuddin, Muinudinillah Basri, mengatakan bahwa keluarganya mengetahui kematian itu melalui aplikasi pesan instan. “Ada foto tubuhnya dan saya bisa mengenalinya,” katanya.

Saifuddin adalah alat perekrutan untuk ISIS dan muncul di beberapa video di situs-situs radikal. Berbagai video yang beredar termasuk video tahun 2016 yang menunjukkan Saifuddin bersama dua militan lainnya dari Malaysia dan Filipina saat membunuh tiga orang asing, termasuk wartawan Jepang Kenji Goto, yang mengenakan terusan oranye dan dipaksa berlutut sebelum dibunuh.

Amerika pada bulan Agustus 2018 merujuk pada Saifuddin dan dua pembunuh lainnya dalam video ISIS, Mohammad Rafi Udin dari Malaysia dan Mohammed Reza Lahaman Kiram dari Filipina, sebagai teroris global.

Basri mengatakan bahwa keluarganya belum mendengar kabar dari Saifuddin sejak dia meninggalkan Indonesia untuk bergabung dengan ISIS di Suriah bersama istri dan anak-anaknya sekitar empat tahun lalu.

Mereka percaya Saifuddin awalnya diradikalisasi oleh konflik Kristen-Muslim di wilayah Ambon, Indonesia dari tahun 1999 hingga 2001 bersama dengan saudara kembarnya, yang meninggal dalam konflik tersebut.

Salah satu teman Saifuddin di Indonesia, terpidana militan Sofyan Tsauri, mengatakan bahwa Saifuddin di kalangan radikal dianggap dipercaya oleh pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi sebagai pemimpin militan Islam Asia Tenggara.

Baca juga: Rusia: 27 Anak-Anak Anggota ISIS Telah Tiba dari Irak

Tsauri, mantan anggota jaringan yang berafiliasi dengan al-Qaeda yang bertanggung jawab atas serangan Bom Bali tahun 2002 dan sekarang bekerja sama dengan agen kontraterorisme Indonesia, mengatakan bahwa Saifuddin melarikan diri ke Filipina selatan tak lama setelah Bom Bali dengan dua militan senior Indonesia lainnya. Dia ditangkap di Filipina ketika berusaha untuk kembali ke Indonesia dengan membawa senjata dan bahan peledak serta dijatuhi hukuman sembilan tahun penjara pada tahun 2007.

Setelah menikahi janda seorang pengebom bunuh diri Indonesia setelah pembebasan awal pada tahun 2013, Saifuddin tidak terlacak radar pihak berwenang Indonesia, tetapi muncul kembali beberapa tahun kemudian dalam sebuah video propaganda ISIS yang mendesak umat Islam Indonesia untuk menentang pemerintah dan bergabung dengan jihad kekerasan di Suriah atau Filipina selatan.

“Sejak dulu dia bercita-cita untuk go international,” kata Tsauri. “Dia memiliki rekam jejak yang meyakinkan yang mendapatkan kepercayaan dan posisi penting dalam ISIS.”

Baca juga: Pasukan Demokratik Suriah Luncurkan Pertempuran Terakhir Lawan ISIS

Dalam sebuah konferensi pers pada hari Senin (11/2), Prasetyo mengatakan bahwa polisi awal bulan Januari 2019 menangkap seorang militan Indonesia, Harry Kuncoro, di Bandara Internasional Jakarta, menggagalkan rencananya untuk melakukan perjalanan ke Suriah melalui Iran dengan bantuan Saifuddin. Prasetyo mengatakan bahwa Kuncoro, yang dijatuhi hukuman sembilan tahun penjara pada tahun 2012 karena menyembunyikan tersangka serangan Bom Bali Umar Patek dan memiliki senjata secara ilegal, menggunakan aplikasi pesan instan Telegram untuk berkomunikasi dengan Saifuddin setelah dibebaskan tahun 2018.

Saifuddin mengirim Kuncoro dana sebesar US$2.100 untuk bepergian ke Suriah, menyarankannya untuk melakukan perjalanan melalui Provinsi Khorasan di Iran dan memberinya nomor kontak untuk para militan Indonesia yang tinggal di Khorasan, kata Prasetyo. Dia telah memperoleh paspor dengan menggunakan KTP palsu.

Keterangan foto utama: Gambar menunjukkan mural yang menununjukkan emblem Negara Islam di Hawija, Irak, 5 Oktober 2017 (Foto: Ahmad al-Rubaye/AFP/Getty Images)

Algojo ISIS Asal Indonesia Terbunuh di Suriah

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top