Michelle Bachelet
Amerika

Klaim Bias Israel, AS Coba Gagalkan Penunjukan KT HAM PBB Michelle Bachelet

Berita Internasional >> Klaim Bias Israel, AS Coba Gagalkan Penunjukan KT HAM PBB Michelle Bachelet

Dalam memo rahasia yang ditulis oleh Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB Nikki Haley untuk Sekretaris Jenderal PBB António Guterres, pemerintahan Trump merupaya melancarkan kampanye untuk gagalkan penunjukan Michelle Bachelet sebagai komisaris tinggi PBB untuk HAM. AS mengklaim Bachelet memiliki bias terhadap Israel. PBB meneliti catatan hak asasi manusia dari semua negara anggotanya.

Baca juga: Komisaris HAM PBB Khawatir akan Kemungkinan ‘Runtuhnya’ PBB

Oleh: Colum Lynch (Foreign Policy)

Tahun lalu, pemerintahan Trump melancarkan kampanye untuk menggagalkan penunjukan mantan Presiden Chili Michelle Bachelet sebagai komisaris tinggi PBB untuk hak asasi manusia (KT HAM PBB), mengklaim pandangan politiknya tentang Israel bermasalah dan menunjukkan foto-foto di mana ia berfoto bersama “diktator Amerika Latin.”

Upaya itu didokumentasikan dalam memo rahasia tanggal 6 September yang Nikki Haley, duta besar Amerika Serikat untuk PBB, tulis kepada Sekretaris Jenderal PBB António Guterres, yang merinci keberatan Amerika Serikat dan Israel atas penunjukan Michelle Bachelet dan cara penunjukannya.

Dalam memo itu, yang ditinjau oleh Foreign Policy, Haley mengeluh bahwa pertanyaan yang diajukan AS berulang kali tentang kualifikasi politik Bachelet untuk pekerjaan itu diabaikan. Sementara memo itu tidak mengatakan bahwa Amerika Serikat secara eksplisit meminta PBB untuk menggagalkan penunjukan Bachelet, memperjelas bahwa AS dengan tegas menentangnya dan mencoba untuk menghentikan proses penunjukkan itu.

Misi AS untuk PBB menolak untuk membahas klaim spesifik dalam memo itu, tetapi seorang juru bicara dari misi itu mengatakan kekhawatiran AS dengan nominasi Bachelet bukanlah hal baru. “Kami dengan tepat menyatakan keprihatinan ini sebagai tambahan atas keprihatinan kami dengan proses pengangkatannya seperti yang kami lakukan untuk setiap orang yang ditunjuk untuk menjabat jabatan PBB tingkat tinggi—melalui komunikasi pribadi langsung dengan kantor sekretaris jenderal,” kata juru bicara itu.

Seorang juru bicara Departemen Luar Negeri menambahkan bahwa “tidak mengherankan jika Amerika Serikat menilai dengan cermat kualifikasi individu yang dipertimbangkan untuk posisi senior PBB. Semua negara anggota PBB melakukannya sesuai dengan kepentingan mereka sendiri, dan tidak ada yang harus meminta maaf untuk itu.”

Kampanye melawan Bachelet muncul pada saat pemerintahan Trump semakin memusuhi lembaga-lembaga HAM PBB, yang dikeluhkannya bias terhadap Israel dan menarik perhatian yang berlebihan terhadap pelanggaran hak asasi manusia oleh Amerika Serikat.

PBB meneliti catatan hak asasi manusia dari semua negara anggotanya.

Amerika Serikat telah sering bentrok dengan komisioner tinggi PBB sebelumnya, termasuk pendahulu Bachelet, Jordan Jordan Zeid Ra’ad Al Hussein, yang secara teratur mengkritik serangan verbal Presiden Donald Trump terhadap wartawan dan migran.

Pemerintahan Trump menarik diri dari Dewan Hak Asasi Manusia yang beranggotakan 47 orang pada Juni 2018, mengutip apa yang dipandangnya sebagai bias terhadap Israel dan sejarah memperluas keanggotaan ke negara-negara dengan catatan hak asasi manusia yang mengerikan.

Pemerintahan Trump juga mencari-cari kesalahan Bachelet, seorang mantan tahanan politik yang terpilih sebagai presiden wanita pertama Chili pada tahun 2006.

Pada tahun 2010, Bachelet menjabat sebagai kepala UN Women, lembaga PBB yang ditugasi mempromosikan kesetaraan perempuan. Dia terpilih untuk masa jabatan kedua sebagai presiden Chili pada tahun 2013. Saat menjabat, ia mendapat tuduhan bahwa putranya menggunakan pengaruhnya untuk mendapatkan pinjaman untuk perjanjian tanah yang menguntungkan, tetapi dia tetap menjadi selebritas di kalangan diplomatik.

Setelah pidato pelantikan Bachelet, Haley mengeluarkan kecaman pedas terhadap mantan pemimpin Chili itu.

“Komisaris Tinggi Bachelet melanjutkan kegagalan masa lalunya, memvalidasi keputusan AS untuk mundur. Dia mengkritik Israel dan Amerika Serikat sementara mengabaikan beberapa pelanggar hak asasi manusia terburuk di dunia,” kata Haley dalam pernyataan 12 September. “Dengan krisis hak asasi manusia yang serius di seluruh dunia, sangat disesalkan bahwa Komisaris Tinggi yang baru mengikuti jalur bias yang sama dari para pendahulunya, memilih untuk menampar Israel dan Amerika Serikat.”

Pidato Bachelet tidak hanya mengkritik Israel dan Amerika Serikat, tapi juga mengenai pelanggaran hak asasi manusia di banyak negara lain, termasuk China, Iran, Nikaragua, Arab Saudi, dan Venezuela.

Mei lalu, kepala staf Haley saat itu, David Glaccum, dan asisten AS lainnya, Morgan Viña, menekan kepala staf sekretaris jenderal PBB, Maria Luiza Ribeiro Viotti, untuk mengungkapkan apakah Bachelet adalah kandidat untuk kepala hak asasi manusia PBB “Mereka tidak menerima konfirmasi yang afirmatif,” tulis Haley.

Setelah itu, jelaslah bahwa kepala PBB sedang mencari seorang wanita dari Amerika Latin untuk mengisi pekerjaan itu dan bahwa Bachelet telah muncul sebagai kandidat utama.

Pada pertengahan Juli, Kevin Moley, asisten menteri luar negeri AS untuk urusan organisasi internasional, dan penasihat seniornya, Mari Stull, mengangkat keprihatinan tentang “posisi politik” Bachelet dalam dua pertemuan berbeda dengan David Vennett, mantan anggota tim transisi kebijakan politik Trump yang dipekerjakan oleh Guterres untuk membantu mengelola hubungannya dengan Gedung Putih. Dan Haley mengeluh bahwa Bachelet tidak meminta kunjungan kehormatan ke Amerika Serikat pada tahap awal kampanye.

“Stull kemudian mengirim pesan ke Vennett untuk menyatakan keberatannya,” tulis memo itu. “Ini termasuk foto-foto Bachelet berdampingan dengan para diktator Amerika Latin.” Masih belum jelas pemimpin Amerika Latin mana yang dia maksud.

Baca juga: Rusia: ‘Setelah Amerika Keluar, Suasana Dewan HAM PBB Lebih Konstruktif’

Stull juga menyatakan keprihatinannya kepada seorang kolega tentang peran Bachelet dalam melegalkan aborsi di Chili, sebuah negara Katolik konservatif, menurut sumber diplomatik. Dia menyatakan bahwa Bachelet “mungkin menjadi tokoh global yang kredibel jika dia tidak memutuskan untuk menjadi advokat aborsi terkemuka di dunia,” kata sumber itu kepada Foreign Policy, menambahkan bahwa “tidak mungkin melebih-lebihkan fiksasinya pada satu masalah itu.”

Viña, asisten Haley, terus menekan kasus AS terhadap Bachelet dalam pertemuan 23 Juli dengan Vennett.

“Viña mengatakan kepada Vennett bahwa Israel mengkomunikasikan bahwa Sekretaris Jenderal mempertimbangkan Bachelet dan tidak mendukung dan bahwa kami juga memiliki kekhawatiran,” tulis Haley. “Viña menyampaikan kekhawatiran bahwa Bachelet lemah pada para diktator Amerika Latin dan dia tidak akan membantu masalah-masalah Israel.”

Pada 6 Agustus, Vennett mengirim email kepada Viña yang menunjukkan bahwa Guterres berencana untuk menunjuk Bachelet meskipun ada keberatan dari AS.

Keesokan harinya, Viña menekan Vennett untuk mendesak kepala PBB untuk memperlambat proses penunjukan untuk memungkinkan diskusi lebih lanjut. Haley, sementara itu, memanggil kepala PBB untuk menghentikan proses tersebut. Tetapi pada hari yang sama, Bachelet ditawari pekerjaan itu.

Berita itu membuat marah Haley, yang membatalkan permintaannya untuk panggilan telepon ke Guterres.

“Ini bukan cara yang baik untuk membangun kepercayaan dan kepercayaan diri. Anda tahu kami tidak dapat mendukung Bachelet untuk OHCHR (Kantor Komisaris Tinggi untuk Hak Asasi Manusia), bukan?” Kelley Currie, perwakilan AS untuk Dewan Ekonomi dan Sosial PBB, menulis dalam pesan teks kepada Vennett. Tetapi pada saat itu, penunjukan Bachelet sudah diumumkan kepada pers.

Guterres berusaha untuk meluruskan masalah ini dalam email tanggal 8 Agustus ke Haley, mengatakan kepada diplomat top AS itu bahwa “ia baru mengetahui mengenai kekhawatiran AS seputar proses pemilihan kandidat OHCHR” dua hari sebelumnya—beberapa minggu setelah Amerika Serikat mulai mengajukan kekhawatiran.

Tampaknya hal itu tidak memuaskan Haley, menyimpulkan memonya dengan mengatakan, “Saya harap lini waktu ini memberikan klarifikasi untuk Anda dan tim Anda dan mencerminkan betapa pentingnya konsultasi pada penunjukan ini bagi kami dan kekecewaan kami tentang buruknya proses penunjukkan ini.”

Keterangan foto utama: Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Michelle Bachelet menghadiri hari pembukaan sesi ke-39 Dewan HAM PBB di Jenewa pada 10 September 2018. (Foto: AFP/Getty Images/Fabrice Coffrini)

Klaim Bias Israel, AS Coba Gagalkan Penunjukan KT HAM PBB Michelle Bachelet

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top