Amerika Serukan Pemulangan Pejuang Asing ISIS yang Ditahan di Suriah
Timur Tengah

Amerika Serukan Pemulangan Pejuang Asing ISIS yang Ditahan di Suriah

SDF mengatakan bahwa mereka menahan lebih dari 900 pejuang asing yang dituduh bergabung dengan ISIS. (Foto: Reuters/Rodi Said)
Berita Internasional >> Amerika Serukan Pemulangan Pejuang Asing ISIS yang Ditahan di Suriah

Amerika menyerukan agar para pejuang asing ISIS yang ditahan di Suriah dipulangkan. SDF sebelumnya mengaku bahwa lebih dari 900 pejuang asing yang diduga bergabung dengan ISIS dan 4.000 anggota keluarga mereka diyakini ditahan oleh pejuang Kurdi di Suriah utara. Namun tidak semua negara ingin menerima mereka kembali, seperti Inggris yang menolak untuk memulangkan warga negara yang bergabung dengan ISIS dan dilaporkan telah melucuti status kewarganegaraan mereka.

Oleh: Al Jazeera

Baca Juga: Komandan Militer AS Peringatkan ISIS Akan Segera Bangkit Kembali

Amerika Serikat (AS) telah meminta negara-negara Eropa dan negara-negara lain untuk memulangkan dan mengadili warga negara mereka yang telah pergi ke Suriah dan bergabung dengan ISIS.

Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin Kurdi mengatakan bahwa mereka telah menangkap lebih dari 3.200 pejuang ISIS di wilayah yang mereka kuasai di timur laut Suriah, di mana lebih dari 900 di antaranya diyakini sebagai pejuang asing. Selain ratusan pria, SDF juga mengatakan telah menahan lebih dari 4.000 anggota keluarga, termasuk orang lanjut usia dan anak-anak.

“Amerika Serikat menyerukan kepada negara-negara lain untuk memulangkan dan mengadili warga negara mereka yang ditahan oleh SDF dan memuji upaya berkelanjutan SDF untuk mengembalikan para pejuang teroris asing tersebut ke negara asal mereka,” tutur Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS Robert Palladino dalam sebuah pernyataan pada Senin (4/2).

Pengumuman itu muncul hanya dua hari sebelum para menteri luar negeri negara-negara sekutu AS akan bertemu di Washington untuk mengadakan pembicaraan mengenai koalisi anti-ISIS, dengan pertanyaan tentang bagaimana melangkah maju tanpa dukungan militer Amerika.

Pertanyaan tentang apa yang harus dilakukan dengan para pejuang asing dalam tahanan telah tumbuh kian sulit sejak pengumuman mengejutkan Presiden AS Donald Trump pada bulan Desember 2018 bahwa ia bermaksud menarik semua pasukan Amerika dari Suriah.

Sangat sedikit negara yang menyatakan kesiapan untuk memulangkan warganya, yang menimbulkan dilema bagi pasukan pimpinan Kurdi, khususnya menjelang penarikan pasukan AS.

Baca Juga: Mosul Irak: Tempat Iblis, Perempuan, dan ISIS Bertemu

ISIS

Sebuah kendaraan militer terbakar di lokasi serangan bom mobil bunuh diri terhadap konvoi militer di Provinsi Hasakah di timur laut Suriah, 21 Januari 2019. (Foto: AFP/Getty Images)

Ancaman keamanan

Pekan lalu, Menteri Dalam Negeri Prancis Christophe Castaner mengatakan kepada media Prancis, bahwa sejumlah pejuang Prancis telah kembali ke rumah dan lebih banyak lagi akan menyusul segera setelah kepergian pasukan Amerika.

Sebuah sumber keamanan Prancis—yang berbicara dengan syarat anonim—mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa 130 orang dapat dipulangkan. Seorang pejabat Prancis lainnya mengatakan bahwa kelompok itu termasuk 70 hingga 80 anak yang ditahan bersama ibu mereka.

Namun, Inggris menolak untuk memulangkan warga negara yang bergabung dengan ISIS dan dilaporkan telah melucuti status kewarganegaraan mereka. El Shafee Elsheikh dan Alexanda Kotey, dua dari apa yang disebut “ISIL Beatles,” julukan yang diberikan oleh sandera mereka karena aksen bahasa Inggris mereka, saat ini ditahan oleh SDF. Pemerintah Inggris mencabut kewarganegaraan Inggris mereka pada tahun 2014 dan mengatakan tidak memiliki kewajiban hukum terhadap para tersangka ISIS. Negara-negara Eropa lainnya sebagian besar tetap diam tentang nasib pria dan wanita yang banyak dianggap sebagai ancaman keamanan.

Kampanye melawan ISIS saat ini difokuskan pada sebidang kecil wilayah terpencil di Suriah timur, di mana ribuan warga sipil terjebak oleh kelompok bersenjata. ISIS mengumumkan kekhalifahan pada tahun 2014 setelah merebut sebagian besar wilayah Suriah dan Irak. Kelompok tersebut mendirikan ibu kota secara de facto di kota Raqqa, Suriah. Namun, ISIS sejak saat itu telah kehilangan semua benteng mereka dan sebagian besar wilayah yang mereka kuasai.

Perang di Suriah meletus setelah pemberontakan terhadap Presiden Suriah Bashar al-Assad pada tahun 2011 ditekan secara brutal. Sejak itu, perang berubah kompleks dan multi-pihak, di mana PBB memperkirakan perang tersebut telah menimbulkan lebih dari 400 ribu kematian, jutaan orang mengungsi, dan menghancurkan banyak infrastruktur negara.

Baca Juga: Trump Salah, ISIS Belum Kalah, Hanya Jadi Ancaman Terbatas

Keterangan foto utama: SDF mengatakan bahwa mereka menahan lebih dari 900 pejuang asing yang dituduh bergabung dengan ISIS. (Foto: Reuters/Rodi Said)

Amerika Serukan Pemulangan Pejuang Asing ISIS yang Ditahan di Suriah

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top