Wanita Afghanistan
Timur Tengah

Amerika Tak Pernah Beri Wanita Afghanistan Kesempatan

Berita Internasional >> Amerika Tak Pernah Beri Wanita Afghanistan Kesempatan

Memperjuang nasib wanita Afghanistan adalah salah satu alasan Amerika Serikat datang ke negara itu dan mencoba menyingkirkan Taliban. Namun kini, setelah belasan tahun perang, pasukan AS akan angkat kaki, tapi tidak ada jaminan yang diberikan kepada para wanita yang kehidupan mereka telah jauh lebih baik dibanding ketika milisi Taliban menguasai negara itu. Seandainya dari awal AS mau mengeluarkan biaya untuk meningkatkan standar hidup wanita Afghanistan dan memberi mereka pendidikan, biaya yang mereka keluarkan untuk perang terpanjang ini akan jauh lebih sedikit.

Baca juga: Mengapa Taliban Gagal Menguasai Afghanistan Kembali

Oleh: Sophia Jones dan Christina Asquith (Foreign Policy)

Parwin tengah sekarat karena kanker, waktunya di dunia hampir habis. Tidak ada radiasi yang tersedia, dan kemoterapi mungkin tidak akan menyelamatkannya. Tapi bukan hanya hidupnya yang dia khawatirkan—ini adalah masa depan putrinya Fatema, yang telah merencanakan untuk pergi ke perguruan tinggi untuk menjadi bidan.

Jika Parwin meninggal karena kanker payudara, suaminya kemungkinan akan mengeluarkan Fatema dari sekolah dan menikahkannya. Berkurang satu tanggungan bagi keluarga mereka yang kesulitan. Berkurang satu ibu untuk menjaga keluarga bersama. Berkurang satu calon bidan terlatih.

Kisah Parwin adalah salah satu dari ribuan kisah yang sama di Afghanistan, di mana dampak dari kematian seorang wanita bukan hanya masalah medis yang merugikan keluarga—itu adalah kekuatan yang menyebabkan ketidakstabilan yang melemahkan negara secara keseluruhan. Dan dengan Taliban yang tengah bernegosiasi untuk naik ke kekuasaan, inilah saatnya untuk mengenali hubungan kritis antara kesehatan perempuan dan keamanan nasional.

Para pejabat Amerika Serikat mengumumkan pada hari Senin (28/1) bahwa mereka secara tentatif telah menyetujui tahap awal dari rencana untuk menarik semua pasukan Amerika Serikat jika Taliban setuju untuk menjaga Afghanistan dari “menjadi platform bagi kelompok-kelompok teroris internasional,” di antara konsesi lain, diplomat Amerika Serikat dan perunding utama Zalmay Khalilzad mengatakan pada The New York Times.

Tetapi walaupun ada keinginan untuk mencapai perdamaian setelah puluhan tahun pertumpahan darah, warga Afghanistan—khususnya perempuan Afghanistan, yang belum menjadi bagian dari perundingan—khawatir bahwa hak yang telah mereka peroleh dengan susah payah dan kemajuan yang telah dicapai akan hilang akibat dampak dari dari keluarnya Amerika Serikat.

Meskipun Amerika Serikat telah menghabiskan lebih dari $132 miliar untuk rekonstruksi di Afghanistan, dan sekitar $800 miliar untuk perang, Taliban mengendalikan lebih banyak wilayah sekarang daripada pada tahun 2001. Telah ada peningkatan yang signifikan dalam bidang kedokteran, pendidikan, dan keadilan sejak Taliban berkuasa—garis dasar suram untuk mengukur keberhasilan—tetapi ribuan warga Afghanistan di seluruh negeri masih kekurangan akses ke kebutuhan dasar.

Kematian selama kehamilan dan persalinan serta kanker payudara masih merupakan dua pembunuh utama wanita Afghanistan. Bagi wanita seperti Parwin, kenyataan pahitnya adalah bahwa Afghanistan hanya memiliki satu ahli onkologi untuk seluruh negeri. Ini semua memunculkan pertanyaan: Apakah Amerika Serikat berinvestasi lebih banyak dalam kesehatan wanita—dan wanita, pada umumnya—akankah hal itu meninggalkan suatu negara dengan pijakan yang jauh lebih kuat?

Bagaimana jika, 17 tahun yang lalu, Amerika Serikat memutuskan bahwa perempuan adalah kunci untuk menstabilkan dan membangun kembali Afghanistan, seperti yang ditunjukkan oleh sejumlah bukti? Amerika Serikat hanya menghabiskan setetes anggaran perang untuk meningkatkan kesehatan wanita, stabilitas ekonomi, dan program-program tata pemerintahan yang baik. “Saya tidak tahu mengapa masalah kesehatan wanita Afghanistan tidak ditanggapi dengan serius oleh komunitas internasional,” kata Belquis Ahmadi, seorang petugas senior di Institut Program Perdamaian Afghanistan Amerika Serikat. “Jika saya adalah agen donor, itu akan menjadi prioritas utama saya.”

Seorang spesialis mammogram memeriksa seorang pasien di depan mesin sebelum dia meninggalkan ruangan di Rumah Sakit Istiqlal di Kabul pada 20 Desember 2017. Fasilitas mammogram publik ini adalah fasilitas satu-satunya di negara ini yang menawarkan diagnosis klinis gratis untuk kanker payudara tahap awal (Foto: Foreign Policy/Kiana Hayeri)

Maihan Abdullah, kepala Program Pengendalian Kanker Nasional Afghanistan, telah menyaksikan secara langsung dampak destabilisasi perempuan yang meninggal dalam ribuan kasus kanker payudara. Dia melihat anak-anak menjadi yatim piatu atau terabaikan karena para ibu sekarat karena kanker payudara. Anak-anak itu sering berakhir terlantar di jalanan, katanya, terpaksa mengemis untuk bertahan hidup dan berisiko direkrut oleh geng dan kelompok militan. “Seluruh keluarga bergantung pada seorang wanita,” kata Abdullah, terutama ketika perang telah membunuh begitu banyak pria Afghanistan, memaksa wanita untuk menavigasi masyarakat yang didominasi pria.

Ketika Amerika Serikat telah berinvestasi dalam kesehatan wanita Afghanistan—yang memakan biaya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan anggaran perangnya—hasilnya sangat luar biasa, terutama upaya untuk mengekang tingkat kematian ibu yang mengkhawatirkan. Meskipun kematian ibu masih menjadi alasan terbesar kematian di kalangan perempuan, angka kematian ibu selama kehamilan dan persalinan telah menurun secara signifikan sebagai hasil dari upaya Amerika Serikat dan internasional untuk mendukung dan mendanai pelatihan dan upaya kebidanan Afghanistan.

Bank Dunia memperkirakan bahwa 1.340 wanita meninggal untuk setiap 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1990, dibandingkan dengan 396 pada 2015, meskipun keakuratan statistik Bank Dunia dan Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) dipertanyakan. Kematian bayi juga menurun, meski masih tinggi. Jutaan anak perempuan yang bersekolah lebih banyak, meskipun sekitar 40 persen anak-anak usia sekolah masih belum bersekolah, dan setidaknya 85 persen anak perempuan di provinsi selatan seperti Helmand dan Kandahar masih belum menerima pendidikan.

Pemerintah Afghanistan telah berhasil mengesahkan undang-undang untuk melindungi perempuan, seperti UU Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan yang ditandatangani menjadi undang-undang pada tahun 2009, meskipun seringkali tidak ditegakkan dan banyak perempuan masih menemukan diri mereka tanpa perlindungan. Dan perempuan menempati hampir sepertiga kursi di parlemen Afghanistan, meskipun anggota parlemen perempuan secara rutin tidak diikutkan dalam negosiasi dan percakapan yang dapat menentukan masa depan negara itu.

Namun demikian, lebih dari 17 tahun setelah milisi Afghanistan yang dipimpin Amerika Serikat mengusir Taliban keluar dari Kabul, pemberdayaan perempuan—yang disebut-sebut oleh pemerintah Amerika Serikat sebagai alasan untuk menyerang, menduduki, dan tetap di Afghanistan—sebagian besar masih dipandang oleh masyarakat Afghanistan sebagai “permainan yang berat sebelah, dan karenanya merupakan kerugian bagi pria,” menurut laporan Asia Foundation baru-baru ini.

Parwin dan dua anaknya di Kabul pada 17 Juli 2017. Putrinya Fatema baru-baru ini lulus dari sekolah menengah dan ingin melanjutkan ke universitas untuk menjadi bidan (Foto: Foreign Policy/Kiana Hayeri)

Namun, salah satu pelajaran utama dari dua dekade terakhir adalah bahwa keamanan sulit dipupuk dan dipertahankan ketika sebagian besar masyarakat tidak berdaya dan putus asa. Strategi yang paling efektif untuk memerangi terorisme adalah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, akses ke pendidikan, dan peluang—dan di Afghanistan, perempuan adalah salah satu kendaraan terpenting untuk stabilitas ekonomi dan sosial seperti itu.

Ibu-ibu seperti Parwin, berada di garis depan perang Afghanistan melawan kemiskinan, buta huruf, dan kesehatan yang buruk, yang bertanggung jawab untuk memupuk jenis emosi dan stabilitas rumah tangga yang diakui para ahli membantu menjaga terorisme. Sebagian besar ibu yang mengabdikan hidup mereka untuk “kerja tak kasat mata,” seperti memastikan anak-anak mereka makan, berpakaian, terawat, dan bahkan, memastikan anak mereka menerima pendidikan—seperti halnya para ibu yang mendidik anak perempuan mereka sembunyi-sembunyi ketika Taliban melarang pendidikan untuk anak perempuan dan perempuan.

Namun, strategi Amerika Serikat untuk memajukan prospek ekonomi wanita Afghanistan sebagian besar berupa pembayaran jutaan dolar untuk satu litani kontraktor dan organisasi internasional, banyak yang dikirim sementara ke Afghanistan dan dengan tingkat keberhasilan yang terbatas, dengan hanya fokus pada upaya memperkuat upaya yang dipimpin oleh masyarakat dan untuk warga Afghanistan.

Program USAID senilai $216 juta yang disebut Promote, yang awalnya digadang-gadang sebagai salah satu upaya pemberdayaan perempuan terbesar di dunia, gagal karena SIGAR, dan ibu negara Rula Ghani sendiri, tak cukup mendukung perempuan Afghanistan. Program itu adalah “contoh dari apa yang salah dengan rekonstruksi di Afghanistan,” John Sopko, kepala SIGAR, mengatakan kepada Times. Sebagian besar uangnya digunakan untuk mengundang orang Amerika dan orang asing untuk melatih para wanita. Dan biayanya sangat besar untuk menampung, mengamankan, dan mempekerjakan orang Amerika di Afghanistan.

Upaya-upaya ini seringkali gagal menjangkau para wanita yang kritis terhadap stabilitas Afghanistan dan sangat membutuhkan bantuan. Pertimbangkan Sherbano, seorang wanita berusia akhir 20-an yang sedang sekarat karena kanker payudara. Dia menemukan benjolan saat menyusui bayinya yang kedelapan, tetapi dia tidak menemukan dokter wanita di dekat rumahnya di Helmand.

Secara budaya, wanita Afghanistan biasanya tidak bisa atau tidak menunjukkan bagian tubuh yang sensitif seperti itu kepada pria yang bukan anggota keluarga. Sebagai gantinya, dia menunggu berbulan-bulan sebelum akhirnya menemui seorang perawat wanita, yang menggambarkan gejalanya kepada seorang dokter pria. Dia merekomendasikan agar Sherbano pergi ke Pakistan, di mana terdapat lebih banyak investasi di sektor medis dan dia dapat mengakses fasilitas diagnostik dan perawatan yang lebih baik, tetapi mereka tidak memiliki uang.

Suaminya berhasil mengumpulkan beberapa ratus dolar dengan menjual anggur dari tanaman rambat di depan rumah mereka yang berlumpur untuk membawanya ke Rumah Sakit Jamhuriat di ibukota. Jamhuriat memiliki satu-satunya bangsal onkologi di negara itu, di mana pasien terkadang harus tidur dua di tempat tidur. Di sana, dia menunggu di trotoar di luar sebelum didiagnosis menderita kanker payudara stadium akhir—hukuman mati. “Dalam masyarakat kita, kanker berarti kematian,” kata Zohra Ghior saat dia berjalan di aula berdinding biru rumah sakit.

Bahara, seorang bidan, menjelaskan tentang kanker payudara dan pemeriksaan diri di bangsal ibu dan anak di Rumah Sakit Regional Badakhshan di Faizabad, provinsi Badakhshan, pada 1 September 2018. (Foto: Foreign Policy/Kiana Hayeri)

Sebelum perundingan terakhir antara Amerika Serikat dan Taliban, pemerintah Afghanistan dan organisasi kesehatan Amerika Serikat bernama Global Medical Partners berencana untuk menginvestasikan sekitar $25 juta dalam pendanaan swasta ke dalam pendeteksian dan perawatan kanker payudara.

Baca juga: Untuk Perlambat Kepergian AS, Afghanistan Tawarkan Pengurangan Biaya

Jika kondisi seperti ini tidak berubah menjadi lebih baik, Abdullah mengatakan ribuan wanita akan terus meninggal setiap tahun karena kanker payudara, terlepas dari upaya terbaik dari para dokter dan perawat yang sering membayar obat kemoterapi dengan kantong mereka sendiri untuk menyelamatkan wanita.

Kesepakatan damai yang tergesa-gesa dengan Taliban yang tidak menjamin hak-hak untuk ditegakkan, dikhawatirkan dapat mengembalikan batasan-batasan terhadap perempuan dan masyarakat pada umumnya. Wanita-wanita seperti Parwin, Sherbano, dan Abida yang berusia 25 tahun, ibu dari lima anak—empat di antaranya anak perempuan—yang kematiannya akan memiliki konsekuensi jangka panjang pada keluarga, komunitas, dan bisa dibilang seluruh negeri. “Saya telah menyerahkan kesehatanku kepada Tuhan,” kata Abida, tangannya, yang diinfus, memegang tasbih.

Abida mungkin selamat dari serangan roket yang menghancurkan rumah keluarganya di Jalalabad bertahun-tahun lalu, memotong empat jari kakinya dan menutupi tubuhnya dengan bekas luka. Tapi kanker payudara-lah yang akan membunuhnya.

 

Sophia Jones adalah editor senior Fuller Project for International Reporting yang meliput gender dan keamanan global. @sophia_mjones

Christina Asquith adalah pemimpin redaksi dan salah satu pendiri Proyek Fuller untuk Pelaporan Internasional. @ChristinaAsquit

Keterangan foto utama: Seorang anak perempuan berusia 11 tahun merawat ibunya ketika dia menerima dosis pertama kemoterapi di Rumah Sakit Jamhuriat di Kabul pada 15 Juli 2017. Ketika Fatema yang berusia 38 tahun itu didiagnosis menderita kanker payudara, butuh tujuh bulan untuk mengumpulkan uang yang dibutuhkan untuk operasi, dan dia terpaksa menunda perawatan lanjutan sampai dia bisa meminjam uang untuk membayarnya. (Foto: Foreign Policy/Kiana Hayeri)

Amerika Tak Pernah Beri Wanita Afghanistan Kesempatan

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top