Sengketa Al-Aqsa, Anggota Parlemen Yordania Minta Dubes Israel Diusir
Timur Tengah

Sengketa Al-Aqsa, Anggota Parlemen Yordania Minta Dubes Israel Diusir

Berita Internasional >> Sengketa Al-Aqsa, Anggota Parlemen Yordania Minta Dubes Israel Diusir

Komite Parlemen Palestina Yordania meminta agar dubes Israel diusir setelah penutupan kompleks Masjid Al-Aqsa. Selain tuntutan itu, anggota parlemen Yordania juga menyerukan kembalinya duta besar Yordania ke Tel Aviv, menyusul langkah-langkah terbaru Israel di Al-Aqsa. Komite memperingatkan bahwa tindakan seperti itu “mewakili tahap baru dan berbahaya yang memprovokasi jutaan Muslim di seluruh dunia” dan menimbulkan “perbedaan ras dan sektarian serta dan menghasut ujaran kebencian.” 

Oleh:

Baca Juga: Pasukan Israel Kembali Mengunci Gerbang Kota Tua Masjid Al-Aqsa Yerusalem

Sebuah komite di dalam parlemen Yordania menyerukan pengusiran duta besar Israel dari negara itu, menanggapi langkah-langkah terbaru yang diambil oleh tentara Israel di Yerusalem Timur yang diduduki. Hari Senin (18/2), tentara Israel memasang kunci dan rantai logam di gerbang al-Rahma di kompleks Masjid Al-Aqsa dan mencegah ratusan jamaah Palestina memasuki situs tersebut, sementara beberapa orang  ditangkap di dalam kompleks.

Dalam pernyataan yang dibacakan kepada parlemen Yordania pada hari Selasa (19/2), Komite Parlemen Palestina juga menyerukan kembalinya duta besar Yordania dari Tel Aviv.

“Kami menyerukan kepada pemerintah untuk memanggil kembali duta besar Yordania dari Tel Aviv dan untuk mengusir duta besar Israel di Amman,” demikian bunyi pernyataan itu.

Langkah yang dilakukan untuk melawan langkah-langkah terbaru Israel tersebut belum mendapatkan tanggapan resmi dari para pejabat Yordania.

“Langkah-langkah tersebut bertentangan dengan nilai-nilai hak asasi manusia dan hukum internasional paling mendasar,” menurut pernyataan itu.

Komite memperingatkan bahwa tindakan seperti itu “mewakili tahap baru dan berbahaya yang memprovokasi jutaan Muslim di seluruh dunia” dan menimbulkan “perbedaan ras dan sektarian serta dan menghasut ujaran kebencian.”

Polisi Israel telah memasang kunci di pintu gerbang sebagai tanggapan terhadap anggota Otoritas Wakaf Keagamaan Yerusalem yang melakukan ibadah di sana hari Kamis (14/2) lalu, menurut juru bicara Firas al-Dibs dari otoritas wakaf kepada kantor berita Palestina Maan pada hari Senin (18/2).

Baca Juga: Umat Kristen Yerusalem Peringatkan Upaya Israel Merebut Tanah Mereka

Gerbang Al-Rahma mengarah ke sebuah bangunan yang ditutup oleh Israel pada tahun 2003 setelah menuduh Komite Warisan Islam, yang berkantor pusat di sana, telah melakukan kegiatan politik, demikian menurut laporan Maan. Hari Selasa (19/2), pasukan Israel membuka kembali sebuah gerbang yang terletak di sisi timur kompleks Masjid Al-Aqsa.

Pernyataan anggota parlemen Yordania itu mengakui “upaya kerajaan” yang mengarah pada upaya melepaskan rantai itu.

Menurut laporan media setempat, warga Palestina melakukan ibadah di luar gerbang untuk menekan polisi Israel agar membuka kembali gerbang. Dalam video yang beredar di media lokal, polisi Israel terlihat memukuli dan secara fisik menyerang para warga Palestina yang beribadah ketika mereka mencoba memasuki situs tersebut.

Israel dan Yordania telah menandatangani perjanjian perdamaian pada tahun 1994, tetapi hubungan keduanya sering memburuk di tengah perbedaan atas kebijakan Israel di Yerusalem, di mana Yordania menjadi penjaga situs suci Muslim dan Kristen. Satu-satunya negara Arab lainnya yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel adalah Mesir.

Status quo

Kompleks Masjid Al-Aqsa adalah salah satu masalah paling genting dalam konflik Israel-Palestina. Langkah-langkah keamanan yang diperkenalkan oleh Israel di kompleks itu pada tahun 2017, termasuk pemasangan detektor logam dan pintu putar di pintu masuk kompleks, telah menyebabkan demonstrasi massa. Saat itu, puluhan ribu warga Palestina beribadah di luar kompleks selama hampir dua minggu sebagai aksi protes menentang keputusan tersebut.

Al-Aqsa adalah nama masjid berkubah perak di dalam kompleks seluas 35 hektar yang disebut sebagai al-Haram al-Sharif, “Tanah Suci”, oleh umat Islam. Umat Yahudi menyebutnya sebagai Kuil Gunung (Temple Mount).

Bagi umat Muslim, al-Haram al-Sharif merupakan lokasi situs suci ketiga dalam agama Islam, Masjid Al-Aqsa, serta Kubah Batu, sebuah bangunan dari abad ketujuh yang diyakini sebagai tempat Nabi Muhammad mengawali perjalanan ke surga.

Orang Yahudi percaya bahwa kompleks itu adalah tempat di mana kuil-kuil Yahudi Injili pernah berdiri, tetapi hukum Yahudi dan Rabbinate Israel melarang orang Yahudi memasuki kompleks itu dan berdoa di sana, karena dianggap terlalu suci untuk melangkahkan kaki.

Kompleks Tembok Barat, yang dikenal sebagai Tembok Ratapan untuk orang Yahudi, diyakini sebagai sisa terakhir dari Kuil Kedua. Sementara itu, umat Islam menyebutnya sebagai Dinding al-Buraq dan percaya itu adalah tempat Nabi Muhammad menambatkan al-Buraq, hewan yang dinaiki beliau ke surga dalam perjalanan Isra Mi’raj.

Israel telah menduduki Yerusalem Timur selama Perang Enam Hari 1967. Israel kemudian menganeksasi kota itu pada tahun 1980, mengklaimnya sebagai ibu kota negara Yahudi yang diproklamasikan dalam suatu langkah yang tidak pernah diakui oleh komunitas internasional.

Baca Juga: Pasca Perginya Pemantau, Murid-Murid Palestina Harus Ditemani ke Sekolah

Meski kunjungan Yahudi diizinkan di kompleks tersebut, ibadah umat non-Muslim dilarang sesuai dengan kesepakatan yang ditandatangani antara Israel dan pemerintah Yordania. Namun, pihak berwenang Israel secara rutin telah mengganggu status quo dan mengizinkan pengunjung Yahudi untuk memasuki situs tersebut, seringkali di bawah pengawasan penjaga bersenjata, sekaligus membatasi akses bagi warga Palestina.

Keterangan foto utama: Ribuan warga Palestina berdoa di luar kompleks selama hampir dua minggu sebagai protes terhadap langkah-langkah keamanan yang diperkenalkan oleh Israel pada tahun 2017. (Foto: Reuters/Ronen Zvulun)

Sengketa Al-Aqsa, Anggota Parlemen Yordania Minta Dubes Israel Diusir

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top