Ethiopian Airlines Jatuh
Asia

China Hentikan Operasi Boeing 737 MAX 8 Setelah Ethiopian Airlines Jatuh

Berita Internasional >> China Hentikan Operasi Boeing 737 MAX 8 Setelah Ethiopian Airlines Jatuh

Ethiopian Airlines jatuh setelah terbang selama enam menit di Addis Ababa, Ethiopia. Kecelakaan naas itu membuat pemerintah China segera mendaratkan dan menghentikan operasi seluruh pesawat Boeing 737 MAX 8 mereka. Pesawat dengan jenis yang sama juga mengalami kecelakaan tahun lalu, milik Lion Air Indonesia.

Baca Juga: Lion Air Jatuh Garisbawahi Buruknya Catatan Keselamatan Indonesia

Oleh: Dave Makichuk (Asia Times)

Ethiopian Airlines jatuh. Penerbangan 302 dengan 157 penumpang dan awak dari 35 negara telah terbang selama enam menit sebelum pesawat itu, Boeing 737 MAX 8 yang baru berumur satu bulan, jatuh menabrak ladang kosong dekat Addis Ababa pada hari Minggu pagi (10/3) pukul 8:44 pagi, tanpa ada korban yang selamat.

CEO Ethiopian Airlines, Tewolde Gebremariam, tertegun setelah mengunjungi lokasi kecelakaan. Sementara itu, maskapai penerbangan China segera mendaratkan pesawat-pesawat Boeing 737 MAX 8 mereka.

Pejabat China mengutip kecelakaan sebelumnya yang melibatkan model yang sama di Indonesia. Memperhatikan “kesamaan” antara dua kecelakaan itu, Administrasi Penerbangan Sipil China mengatakan maskapai penerbangan domestik memiliki waktu hingga 6:00 sore waktu setempat untuk memberhentikan pengoperasian semua pesawat 737 MAX 8 mereka.

“(Operasi hanya akan dilanjutkan setelah) adanya konfirmasi mengenai langkah-langkah yang relevan untuk secara efektif memastikan keselamatan penerbangan,” kata pemerintah dalam sebuah pernyataan. Otoritas penerbangan China akan menghubungi Administrasi Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) dan Boeing, tambahnya.

Ekonomi terbesar kedua di dunia ini adalah pasar penting bagi raksasa pesawat Amerika Serikat itu, dengan sekitar seperlima pengiriman pesawat penumpang Boeing 737 MAX ke seluruh dunia dikirim ke China.

Baca Juga: Lion Air Pertimbangkan Batalkan Pesanan Boeing Usai Tragedi JT610

Maskapai China telah memiliki 76 armada itu dan telah memesan 104 tambahan, menurut data dari situs web Boeing.

Namun tragedi terbaru ini telah merugikan China. Delapan warga negara China termasuk di antara 157 korban tewas dalam bencana Ethiopia itu.

Pada akhir Januari, 350 dari pesawat berbadan sempit dan bermesin ganda itu dikirimkan ke pelanggan dari 5.011 pesanan dari Boeing.

Pilot Yared Getachew memiliki “catatan terbang yang sangat baik, dengan lebih dari 8.000 jam pengalaman,” kata CEO Gebremariam, ketika dia memandangi puing-puing dan kantong mayat―benturannya sangat keras, menurut semua pengakuan.

Itu adalah penerbangan yang biasanya hanya akan memakan waktu beberapa jam untuk mencapai Nairobi, penerbangan yang tampaknya sederhana untuk para penumpang, yang sebagian besar merupakan warga negara asing. Pilot telah mengirim panggilan darurat, meminta untuk kembali ke Addis Ababa, dan diberi izin. Namun, mereka tidak berhasil kembali. Mereka bahkan masih jauh dari Addis Ababa.

Menakutkan dan menghantui Boeing dan pejabat penerbangan di seluruh dunia, kecelakaan ini sangat mirip dengan kecelakaan Lion Air MAX 8 di Indonesia beberapa bulan yang lalu. Banyak pejabat penerbangan menduga bahwa kecelakaan itu disebabkan oleh masalah perangkat lunak yang tidak diinformasikan kepada pilot pada waktu itu, yang disebut Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS), atau Sistem Augmentasi Karakteristik Manuver.

Menyusul tragedi itu, FAA mengeluarkan arahan kelayakan terbang darurat, memperingatkan kemungkinan kesalahan dalam sistem angle of attack (AOA) yang dapat menyebabkan pesawat dengan keras menukik ke bawah.

Mereka menyebutnya “stabilizer runaway“. Alat itu bisa dihentikan dengan menggunakan sakelar, katanya. Ini tidak dihentikan dengan menarik kuk―karakteristik yang berlawanan dengan intuisi pilot.

Menurut Seattle Times, investigasi kecelakaan Lion Air oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi menemukan indikasi bahwa komputer pesawat menerima pembacaan angle of attack (AOA) yang salah yang mungkin memicu MCAS―yang akan menyebabkan hidung pesawat turun dan terus seperti itu selama sistem itu aktif.

Penerbangan Lion Air itu hanya berlangsung 11 menit sebelum hilang kendali dan jatuh ke Laut Jawa, menewaskan 189 orang di dalamnya.

Pesawat Ethiopia itu sebelumnya terbang ke Johannesburg dan kembali ke Addis Ababa, kata para petugas. Pesawat itu kembali ke Addis Ababa sekitar pukul 6 pagi hari Minggu (10/3). Yang mencurigakan, Bebremariam mengatakan, baik pilot maupun staf pemeliharaan darat tidak melaporkan adanya masalah apa pun.

“Pemeriksaan pemeliharaan rutin tidak menemukan adanya masalah,” kata Gebremariam kepada Times. “Ini pesawat baru, terawat dengan baik,” baru terbang selama 1.200 jam. Angka itu termasuk sangat sedikit dalam penerbangan komersial.

Data pelacakan penerbangan dari FlightRadar24 mengungkapkan bahwa kecepatan vertikal pesawat―tingkat pendakian atau penurunan―bervariasi dari 2.624 kaki per menit hingga minus 1.216 dalam beberapa menit setelah lepas landas.

Boeing segera mengirim tim teknis untuk menyelidiki kecelakaan itu, tetapi itu mungkin tidak cukup untuk menghentikan masalah keamanan di seluruh dunia. China segera melarang pengoperasian semua pesawat MAX 8 di perusahaan-perusahaan penerbangan China, dengan Boeing 737 800 mengambil alih rute untuk Air China, China Eastern Airlines, dan China Southern Airlines. Organisasi penerbangan lain menyusul.

Baca Juga: Lion Air Berencana Batalkan Pesanan, Boeing Bela Keamanan Pesawatnya

WestJet Airlines di Kanada, yang mengoperasikan 13 pesawat MAX 8, lebih berhati-hati.

“WestJet menyampaikan belasungkawanya kepada kerabat dan keluarga penumpang dan awak pesawat Ethiopian Airlines 302,” kata juru bicara Lauren Stewart. “Kami sedang memantau situasi dengan cermat dan tidak akan berspekulasi tentang penyebab insiden itu.”

Namun, beberapa wisatawan Kanada menyatakan keraguan mereka atas perkembangan Ethiopia, meskipun 18 warga negara Kanada tewas dalam penerbangan tersebut. Seorang pria yang tidak disebutkan namanya mengatakan dengan datar, ia “tidak akan bepergian menggunakan MAX 8 itu,” menggemakan keprihatinan penumpang maskapai lain di seluruh dunia.

Kantor kejaksaan Paris juga secara resmi membuka penyelidikan atas kecelakaan Ethiopian Airlines karena ada warga Prancis di antara 157 korban tewas―prosedur standar, kata seorang pejabat.

Beberapa ahli percaya dampaknya bahkan bisa lebih besar dan merugikan untuk Boeing.

“Penerbangan Lion Air adalah masalah besar bagi Boeing, tetapi mereka berhasil mengatasinya,” mantan Inspektur Jenderal Departemen Transportasi Amerika Serikat Mary Schiavo mengatakan kepada CNN. “Mereka mengeluarkan peringatan darurat mengenai pelatihan, dan industri terus berjalan. Namun setelah kecelakaan kedua ini, menurut saya semua orang tidak akan lupa.

“Persamaan kecelakaan ini dengan kecelakaan Lion Air terlalu banyak sehingga sulit untuk berlalu tanpa perhatian,” tambah Schiavo.

Sementara para pemimpin Ethiopia menyatakan hari berkabung, AP melaporkan bahwa badan migrasi PBB memperkirakan ada sekitar 19 karyawan yang berafiliasi dengan PBB tewas dalam kecelakaan itu. Penumpang dalam penerbangan itu termasuk penumpang dari China, Amerika Serikat, Arab Saudi, Nepal, Israel, India, Somalia, Kenya, dan Kanada.

Di depan bandara Addis Ababa, seorang jurnalis AP melihat seorang wanita yang putus asa menelepon nomor ponsel anaknya berulang-ulang.

“Di mana kamu, anakku?” katanya, sambil menangis. Tidak ada Jawaban.

Keterangan foto utama: Pesawat pesawat Boeing 737 Max bersiap untuk lepas landas. (Foto: Twitter)

China Hentikan Operasi Boeing 737 MAX 8 Setelah Ethiopian Airlines Jatuh

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top