Citra Satelit Tunjukkan Bentuk Terbaru Anak Krakatau
Berita Politik Indonesia

Citra Satelit Tunjukkan Bentuk Terbaru Anak Krakatau

Citra satelit gunung berapi Anak Krakatau di lepas pantai Indonesia, saat meletus. (Foto: via CNN)
Berita Internasional >> Citra Satelit Tunjukkan Bentuk Terbaru Anak Krakatau

Citra satelit dari Planet Labs menunjukkan gunung berapi Anak Krakatau sebelum dan sesudah letusan tanggal 22 Desember 2018, yang menyebabkan tsunami di Selat Sunda dan menewaskan sedikitnya 426 orang. Ketinggian gunung berapi itu turun dari 338 meter (1.108 kaki) di atas permukaan laut, menjadi 110 meter (360 kaki).

Oleh: Euan McKirdy (CNN)

Baca Juga: Setelah Anak Krakatau, Gunung Agung Kembali Erupsi

Citra satelit baru menunjukkan besarnya perubahan yang disebabkan oleh runtuhnya gunung berapi Indonesia, yang menyebabkan tsunami pada akhir Desember tahun lalu.

Foto-foto yang diambil oleh satelit Planet Labs menunjukkan gunung berapi Anak Krakatau sebelum dan sesudah letusan 22 Desember 2018, yang menyebabkan bongkahan kerucut gunung berapi seluas 64 hektar runtuh ke laut.

Letusan tambahan minggu berikutnya juga menyebabkan gunung berapi itu kehilangan volume dari 150 juta menjadi 180 juta meter kubik (5,3 miliar menjadi 6,4 miliar kaki kubik), kata laporan itu.

Volumenya sekarang 40 juta hingga 70 juta meter kubik (1,4 miliar hingga 2,5 miliar kaki kubik), kata Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Indonesia dalam sebuah laporan.

Gunung berapi itu—yang terletak sekitar 50 kilometer di sebelah barat provinsi Jawa, Indonesia—kehilangan dua pertiga ketinggiannya setelah letusan dan keruntuhan selanjutnya, menurut laporan badan tersebut.

Ketinggian gunung berapi itu turun dari 338 meter (1.108 kaki) di atas permukaan laut, menjadi 110 meter (360 kaki).

Baca Juga: Erupsi Penyebab Tsunami Pangkas Dua Pertiga Tinggi Anak Krakatau

Anak Krakatau

Pemandangan udara Anak Krakatau saat letusan di Selat Sunda di Lampung Selatan, Indonesia. (Foto: Reuters)

Kondisi berbahaya

Letusan tersebut terjadi pada saat air pasang selama bulan purnama, di mana Selat Sunda—yang membentang antara Jawa dan Sumatra—juga mengalami musim hujan yang tinggi, kata pemerintah dan badan penyelamat.

Faktor-faktor ini menyebabkan gelombang setinggi tiga meter (10 kaki) menabrak Selat Sunda, menyapu rumah-rumah dan hotel-hotel di tepi pantai, dan menewaskan sedikitnya 426 orang, menurut pihak berwenang Indonesia, yang telah sedikit merevisi jumlah korban, dari yang sebelumnya berjumlah 430 orang.

Pihak berwenang Indonesia telah dikritik habis-habisan karena kondisi sistem deteksi dan peringatan tsunami negara itu, yang sebagian besar sudah tidak berfungsi sejak setidaknya tahun 2012.

Presiden Indonesia Joko Widodo, memerintahkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk membeli detektor tsunami “yang dapat memberikan peringatan dini kepada masyarakat.”

Wartawan CNN James Griffiths dan Yosef Riadi berkontribusi untuk laporan ini.

Keterangan foto utama: Citra satelit gunung berapi Anak Krakatau di lepas pantai Indonesia, saat meletus. (Foto: via CNN)

Citra Satelit Tunjukkan Bentuk Terbaru Anak Krakatau

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top