Ada Alasan Bagus yang Jelaskan Mengapa Ekonomi Indonesia Rapuh
Asia

Dalam Pertempuran Imbal Hasil Tinggi di Asia, Indonesia Unggul dari India

Berita Internasional >> Dalam Pertempuran Imbal Hasil Tinggi di Asia, Indonesia Unggul dari India

Dalam pertempuran antara dua pasar obligasi besar dengan imbal hasil tertinggi di Asia, Indonesia sekali lagi tampaknya siap untuk mengungguli India. Para investor menghindari obligasi India ketika pemerintah membagikan miliaran dolar dalam bentuk subsidi. Indonesia dan India memiliki defisit transaksi berjalan, sangat sensitif terhadap perubahan dalam kebijakan suku bunga Amerika Serikat, dan menghadapi pemilihan umum pada tahun 2019. 

Oleh: Kartik Goyal (Economic Times)

Baca Juga: Indonesia Kejar Profit $1,6 Miliar dari Ketetapan Label Halal

Dalam pertempuran antara dua pasar obligasi besar dengan imbal hasil tertinggi di Asia, Indonesia sekali lagi tampaknya siap untuk mengungguli India.

Manajer keuangan global semakin menghindari sekuritas India ketika pemerintah Perdana Menteri Narendra Modi membagikan miliaran dolar dalam bentuk pemotongan pajak dan subsidi untuk meningkatkan daya tariknya menjelang pemilihan, mengucurkan target defisit negara dalam prosesnya. Sebaliknya, status fiskal Indonesia yang membaik dan sikap kebijakan moneter yang agresif dalam menghadapi tantangan global telah memoles aset negara di mata investor.

Perbandingan antara dua negara berkembang di Asia tersebut adalah hal yang paling umum mengingat kesamaan mereka, terutama berlaku pada tahun 2019. Indonesia dan India memiliki defisit transaksi berjalan, sangat sensitif terhadap perubahan dalam kebijakan suku bunga Amerika Serikat, dan menghadapi pemilihan umum pada tahun 2019.

“Obligasi Indonesia terlihat lebih menarik mengingat bahwa imbal hasil yang tinggi, perekonomian cenderung berjalan baik, dan keuangan mungkin berada pada posisi relatif yang lebih baik daripada India,” tutur Manu George, direktur pendapatan tetap Schroder Investment Management Ltd., dari Singapura.

Aset di kedua negara akan diuji pekan ini ketika India melaporkan angka inflasi utama dan output pabrik, sementara Indonesia merilis data perdagangan.

Imbal hasil 2028 obligasi India yang diperdagangkan secara luas melonjak 13 basis poin pada tanggal 1 Februari 2019, pada hari pemerintahan Modi mengumumkan rencana untuk menjual sekuritas 7,1 triliun rupee atau US$100 miliar pada tingkat rekor untuk membiayai defisit tahun fiskal yang dimulai pada tanggal 1 April 2019.

Bahkan kejutan penurunan suku bunga oleh bank sentral negara minggu lalu tidak mampu sepenuhnya meredam kerugian, karena kekhawatiran pasokan membebani selera investor. Imbal hasil obligasi serupa yang jatuh tempo di Indonesia telah turun 13 basis poin pada bulan Februari 2019.

Bahkan dengan rally baru-baru ini, sekuritas 10-tahun Indonesia masih membayar sekitar 7,88 persen, tertinggi di Asia. Hal itu membantu menarik sekitar $2 miliar dalam portofolio investasi asing tahun ini, dibandingkan dengan arus keluar sekitar $743 juta untuk India, menurut data yang dikumpulkan oleh Bloomberg.

Para investor juga menghindari obligasi India di tengah meningkatnya ketidakpastian politik menjelang pemilu bulan April-Mei 2019. Meski Modi tetap menjadi favorit utama, cengkeramannya pada kekuasaan tampak lebih lemah menyusul kekalahan regional untuk partainya pada akhir tahun 2018. Di Indonesia, Presiden Joko “Jokowi” Widodo berada dalam posisi yang baik untuk mengamankan masa jabatan kedua dalam Pilpres 2019 bulan April mendatang.

Baca Juga: Jika Jokowi Menang, Analis Perkirakan Pasar Indonesia Meningkat

“Berdasarkan rasio risk-reward, Indonesia mungkin terlihat lebih menarik daripada India menjelang pemilihan umum,” kata Timothy Ash, ahli strategi di BlueBay Asset Management di London. “Profil keuangan publik yang lebih baik dan pengaturan kebijakan moneter dan fiskal yang sangat ortodoks” menjadi pertanda baik bagi aset Indonesia.

Indonesia memperkirakan kekurangan fiskal sebesar 1,84 persen dari Produk Domestik Bruto untuk tahun 2019, sementara India pada bulan Februari 2019 memperluas target defisitnya untuk tahun fiskal sekarang dan yang akan datang menjadi 3,4 persen dari PDB.

Berdasarkan rebound harga sumber daya alam, Indonesia adalah eksportir komoditas bersih, sementara India adalah importir, sedangkan langkah lunak The Fed, yang sebagian besar dipandang lebih bermanfaat bagi perekonomian Indonesia yang sangat rentan terhadap pelarian modal pada tahun 2018, Anda akan memiliki resep untuk kinerja terbaik Indonesia dalam waktu dekat.

“Mengingat sifat kompleks politik India, para investor lebih khawatir tentang ketidakpastian pemilu di India daripada di Indonesia,” kata Vivek Rajpal, ahli strategi rate di Nomura Holdings Inc. di Singapura. Rajpal mengatakan bahwa ia memiliki obligasi overweight Indonesia karena latar belakang global yang jinak yang dipicu oleh perubahan The Fed dalam hal taktik dan penurunan imbal hasil riil Amerika.

Berikut ini adalah data dan peristiwa ekonomi utama di Asia pekan ini:

  • Senin, 11 Februari 2019: Cadangan devisa China, produksi industri Malaysia.
  • Selasa, 12 Februari 2019: Kondisi bisnis Australia, stok uang Jepang, CPI dan produksi industri India, penjualan ritel Singapura, dan perdagangan Filipina.
  • Rabu, 13 Februari 2019: Keputusan suku bunga Selandia Baru, indeks harga produsen Jepang, kepercayaan konsumen Australia, tingkat pengangguran Korea Selatan, PDB Taiwan.
  • Kamis, 14 Februari 2019: PDB Jepang, pembelian obligasi BOJ, ekspektasi inflasi Australia, PDB Malaysia, harga grosir India, angka perdagangan China.
  • Jumat, 15 Februari 2019: CPI China, transaksi berjalan Korea Selatan, PDB Singapura, produksi industri Jepang, data perdagangan Indonesia, dan cadangan FX Thailand.

Baca Juga: Indonesia Capai Pertumbuhan Ekonomi 5,17 Persen Tahun Lalu

Keterangan foto utama: Indonesia. (Foto: Getty Images/Angelus Aguatinus)

Dalam Pertempuran Imbal Hasil Tinggi di Asia, Indonesia Unggul dari India

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top