Demonstrasi di Aljazair
Afrika

Presiden Bouteflika Maju untuk Masa Jabatan ke-5, Picu Demonstrasi di Aljazair

Berita Internasional >> Presiden Bouteflika Maju untuk Masa Jabatan ke-5, Picu Demonstrasi di Aljazair

Manajer kampanye Presiden Aljazair mengajukan surat-surat resmi, namun mengatakan akan menyerukan pemungutan suara baru jika terpilih kembali pada bulan April 2019. Pencalonan Abdelaziz Bouteflika telah menuai demonstrasi di Aljazair, dengan massa menyebut presiden itu sebagai lelucon. Bouteflika akan maju kembali untuk masa jabatan kelima.

Baca Juga: Javed Bajwa, Jenderal Pakistan yang Menjinakkan Mohammed bin Salman

Oleh: Djamila Ould Khettab (Al Jazeera)

Manajer kampanye Presiden Aljazair Abdelaziz Bouteflika, yang telah menghadapi hampir dua minggu protes terhadap upayanya mencalonkan diri kembali untuk masa jabatan kelima, mengatakan bahwa pemimpin yang tengah sakit tersebut akan menyerukan pemungutan suara lebih awal jika dia terpilih kembali dalam pemilu bulan April 2019.

Abdelghani Zalene membuat pengumuman pada hari Minggu (3/3) setelah menyerahkan surat-surat pencalonan di kantor Dewan Konstitusi di Aljir atas nama presiden Aljazair berusia 82 tahun tersebut, bahkan ketika ketua komisi pemilihan umum mengatakan bahwa semua calon presiden harus secara resmi mendaftar secara pribadi.

Bouteflika, yang menderita stroke pada tahun 2013 dan hampir tidak terlihat di muka umum sejak itu, terbang ke Swiss untuk melakukan “pemeriksaan kesehatan rutin” tanggal 24 Februari 2019 dan dilaporkan tetap dirawat di Rumah Sakit Universitas Jenewa.

Dalam sebuah surat yang dikaitkan dengan dirinya, Presiden Bouteflika untuk pertama kalinya membahas gerakan akar rumput berskala besar yang belum pernah terjadi sebelumnya yang menyerukan agar dia turun segera dan dengan damai.

“Saya telah mendengar permintaan para demonstran, terutama ribuan anak muda yang bertanya tentang masa depan bangsa kita,” demikian bunyi pernyataan yang dibacakan oleh Zalene di televisi nasional.

“Saya berkomitmen terhadap penyelenggaraan pemilihan presiden lebih awal,” yang tanggalnya akan ditentukan oleh “konferensi nasional” yang diadakan setelah pemungutan suara tanggal 18 April 2019. “Saya berjanji untuk tidak menjadi kandidat dalam pemilihan ini,” kata Bouteflika, sementara menyerukan revisi baru konstitusi.

Reaksi demonstran anti-Bouteflika

Namun, pengunjuk rasa anti-Bouteflika mengecam pengumuman presiden tersebut sebagai “lelucon” dan “tidak berarti.”

“Surat ini menunjukkan bahwa Bouteflika tidak mau mundur,” kata Habib, pengusaha berusia 30 tahun di Aljir. “Presiden dan pemerintahannya siap untuk tetap berkuasa dengan segala cara,” tambahnya. “Kami, orang-orang, akan menjawab suratnya dengan turun ke jalan secara masif dan damai.”

Baca Juga: Rencana Indonesia Melipatgandakan Misi Dagang ke Pasar Muslim Lewat Ekspor

Abderrahmane, seorang insinyur komputer yang tinggal di Blida, setuju. “Isi surat ini tidak memenuhi harapan rakyat,” katanya. “Orang-orang Aljazair sadar dan belum melupakan janji Bouteflika yang dibuat pada tahun 2012, selama pidato publik terakhirnya, ketika dia mengatakan bahwa generasinya harus menyerahkan kekuasaan kepada populasi yang lebih muda. Kami masih menunggunya untuk menepati janjinya.”

Demonstrasi anti-Bouteflika pertama kali terjadi pada tanggal 22 Februari 2019, sekitar dua pekan setelah presiden mengonfirmasi rencananya untuk mencalonkan diri dalam pemilihan tanggal 18 April 2019, dengan banyak pihak menyatakan keraguan atas kemampuannya untuk memimpin negara.

Hari Minggu (3/3), tenggat waktu bagi calon presiden untuk mendaftarkan pencalonan mereka, ratusan demonstran yang kebanyakan anak muda sekali lagi berdemonstrasi menentang rencana Bouteflika, berteriak dan mengelukan slogan-slogan seperti “Tolak Periode Kelima” dan “Tolak Bouteflika, Tolak Said,” merujuk pada adik Bouteflika dan penasihat khusus. Polisi menggunakan gas air mata dan meriam air untuk mencegah para demonstran mencapai kantor Dewan Konstitusi yang dijaga ketat.

Ketidakhadiran Bouteflika dipertanyakan

Zalene, mantan menteri transportasi yang pada hari Sabtu (2/3) menggantikan mantan Perdana Menteri Aljazair Abdelmalek Sellal sebagai kepala kampanye Bouteflika, tidak mengomentari ketidakhadiran presiden setelah menyerahkan surat pencalonan resminya.

Baca Juga: Sejarah Senjata Nuklir Israel yang Tak Pernah Diakui

Namun, ketidakhadiran Bouteflika telah menimbulkan banyak pertanyaan. “Aturannya eksplisit. Untuk pemilihan presiden, semua kandidat harus hadir di Dewan Konstitusi untuk menyerahkan surat pencalonan mereka,” tutur Abdelwahab Derbal, kepala komisi pemilihan umum, kepada wartawan hari Minggu (3/3).

Jika pencalonannya disetujui oleh Dewan Konstitusi, Bouteflika akan menghadapi enam kandidat lain yang telah terdaftar secara resmi, termasuk pensiunan jenderal Ali Ghediri dan pengusaha Rachid Nekkaz.

Namun, mantan Perdana Menteri Ali Benflis, yang berada di urutan kedua dalam pemilihan presiden Aljazair 2014, mengumumkan sebelumnya pada hari Minggu (3/3) bahwa ia tidak akan bergabung dengan pemilihan presiden dan menyerukan boikot pemilihan.

Dua partai oposisi lainnya, Partai Buruh, yang dipimpin oleh Louisa Hanoune, dan Gerakan Masyarakat Islam untuk Perdamaian, juga mengatakan mereka akan memboikot pemilihan.

Keterangan foto utama: Presiden Aljazair Abdelaziz Bouteflika hampir tidak pernah terlihat di publik setelah menderita stroke pada tahun 2013. (Foto: Reuters/Ramzi Boudina)

Presiden Bouteflika Maju untuk Masa Jabatan ke-5, Picu Demonstrasi di Aljazair

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top