Diminta Mundur, Presiden Sudan Deklarasikan Satu Tahun Darurat Nasional
Afrika

Diminta Mundur, Presiden Sudan Deklarasikan Satu Tahun Darurat Nasional

Presiden Sudan Omar Al-Bashir. (Foto: Getty Images/Ashraf Shazly)
Berita Internasional >> Diminta Mundur, Presiden Sudan Deklarasikan Satu Tahun Darurat Nasional

Presiden Sudan Omar al-Bashir membubarkan pemerintah da n mendeklarasikan darurat nasional selama satu tahun, setelah berbulan-bulan meletusnya protes yang menuntut pemecatannya. Ribuan orang turun ke jalan-jalan di seluruh negeri sejak tanggal 19 Desember, menuntut dia untuk mundur setelah hampir tiga dekade menjabat. Protes tersebut pada awalnya dipicu oleh meningkatnya biaya roti dan bahan bakar di Sudan utara, dan dengan cepat tumbuh menjadi tuntutan untuk lebih banyak kebebasan politik dan mengakhiri pemerintahan Bashir.

Oleh: Al Jazeera

Baca Juga: Pemilu Presiden Nigeria Mendadak Ditunda, Kecewakan Jutaan Warga

Presiden Sudan Omar al-Bashir telah menyatakan darurat nasional selama satu tahun, serta membubarkan kabinetnya dan pemerintah daerah di seluruh negeri.

Dalam pidato yang disiarkan televisi pada Jumat (22/2), Bashir juga meminta parlemen Sudan untuk menunda amandemen Konstitusi yang akan memungkinkannya mencalonkan diri untuk masa jabatan lain dalam Pemilihan Presiden pada tahun 2020.

Mengakui protes populer yang telah mengguncang pemerintahannya dalam beberapa bulan terakhir, pria berusia 75 tahun itu mengatakan bahwa “tuntutan rakyat kita untuk kondisi kehidupan yang lebih baik adalah sah.”

“Saya tidak akan berhenti meminta semua pihak untuk duduk berunding,” kata Bashir, seraya menambahkan bahwa ia akan tetap berada di “pihak para pemuda yang mewakili masa depan Sudan.”

Beberapa jam setelah pengumuman itu, Bashir mengeluarkan dua dekrit yang membentuk pemerintahan sementara yang terdiri dari seorang pejabat senior dari setiap kementerian dan mempertahankan Menteri Pertahanan, Menteri Luar Negeri, dan Menteri Kehakiman. Dia juga menunjuk 16 perwira militer dan dua perwira keamanan sebagai gubernur baru untuk 18 provinsi di negara itu.

Baca Juga: Mengapa China Diam-Diam Hapuskan Sebagian Utang Kamerun

Pidato Bashir pada Jumat (22/2), menyusul berbulan-bulan protes yang dilaksanakan hampir setiap hari yang melawan pemerintahannya, di mana ribuan orang turun ke jalan-jalan di seluruh negeri sejak tanggal 19 Desember, menuntut dia untuk mundur setelah hampir tiga dekade menjabat.

Walau protes tersebut pada awalnya dipicu oleh meningkatnya biaya roti dan bahan bakar di Sudan utara, namun protes itu dengan cepat tumbuh menjadi tuntutan untuk lebih banyak kebebasan politik dan mengakhiri pemerintahan Bashir.

Masa jabatan pemimpin Sudan itu berakhir pada tahun 2020 dan dia telah berulang kali berjanji selama bertahun-tahun untuk tidak mencalonkan diri sebagai presiden. Tanpa mengubah konstitusi negara, ia tidak dapat mencalonkan diri untuk masa jabatan ketiga.

Protes berbulan-bulan

Pengumuman Bashir datang beberapa hari setelah komite parlemen yang ditugaskan mengubah konstitusi untuk mengakhiri batas masa jabatan Presiden Sudan, membatalkan pertemuannya.

Demonstrasi terhadap Bashir berlanjut pada Jumat (22/2).

Pasukan keamanan menembakkan gas air mata untuk membubarkan ratusan pengunjuk rasa yang berbaris dan meneriakkan slogan-slogan anti-pemerintah setelah salat Jumat, di sebuah masjid besar dekat ibu kota Sudan, Khartoum, kata saksi mata.

Para aktivis mengatakan bahwa hampir 60 orang telah terbunuh sejak protes dimulai, sementara pihak berwenang menyebutkan bahwa jumlah korban jiwa mencapai 31 orang.

al-Assad

Presiden Suriah Bashar al-Assad bertemu dengan Presiden Sudan Omar al-Bashir di Damaskus, tanggal 12 Januari 2008. (Foto: Getty Images/AFP/Louai Beshara)

Ratusan pengunjuk rasa—termasuk para pemimpin oposisi, aktivis, dan jurnalis—juga dipenjara oleh Badan Intelijen dan Keamanan Nasional (NISS).

Hiba Morgan dari Al Jazeera—yang melaporkan dari Khartoum—mengatakan bahwa kemungkinan akan semakin sulit bagi para pengunjuk rasa untuk melanjutkan demonstrasi mereka ketika darurat nasional mulai berlaku.

“Sesuai dengan Konstitusi Sudan, darurat nasional memberi polisi, pasukan keamanan, dan militer, hak untuk menggeledah tanpa surat perintah, untuk menyerang rumah-rumah dan menangkap siapa pun yang mereka anggap sebagai ancaman terhadap keamanan nasional dan pembangunan ekonomi dan stabilitas,” ujar Morgan.

“Bashir juga mengatakan bahwa mereka yang memprotes telah didorong oleh agen-agen dengan agenda asing, dan bahwa mereka adalah orang-orang yang ingin mengacaukan negara. Dengan mengatakan itu dan dengan darurat nasional yang berlaku, kemungkinan lebih banyak kekuatan akan digunakan untuk melawan para pengunjuk rasa,” tambahnya.

Namun, penyelenggara protes anti-pemerintah di seluruh Sudan berjanji untuk melanjutkan demonstrasi mereka sampai Bashir mundur.

“Kami menyerukan kepada rakyat kami untuk melanjutkan demonstrasi sampai tujuan utama pemberontakan ini—yaitu pengunduran kepala rezim—tercapai,” kata Asosiasi Profesional Sudan, yang menjadi ujung tombak kampanye tersebut, tepat setelah Bashir mengumumkan darurat nasional di seluruh negeri.

Baca Juga: Takut Serangan Boko Haram, 30.000 Orang Mengungsi dari Kota Rann Nigeria

Peningkatan inflasi

Bashir dicari oleh Pengadilan Pidana Internasional (ICC) atas tuduhan mendalangi genosida di wilayah Darfur, yang ia bantah. Dia telah melobi agar Sudan dihapus dari daftar negara yang dianggap Washington sebagai sponsor terorisme.

Daftar itu telah memblokir investasi dan bantuan keuangan yang diharapkan Sudan, ketika Amerika Serikat mencabut sanksi pada tahun 2017, kata para ekonom.

Sudan telah dengan cepat memperluas pasokan uangnya dalam upaya untuk membiayai defisit anggarannya, yang menyebabkan inflasi meningkat dan penurunan tajam dalam nilai mata uangnya.

Keterangan foto utama: Presiden Sudan Omar Al-Bashir. (Foto: Getty Images/Ashraf Shazly)

Diminta Mundur, Presiden Sudan Deklarasikan Satu Tahun Darurat Nasional

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top