G7 Nyatakan ‘Dukungan Penuh’ untuk Ukraina dalam Konflik dengan Rusia
Eropa

G7 Nyatakan ‘Dukungan Penuh’ untuk Ukraina dalam Konflik dengan Rusia

Kapal penjaga perbatasan Ukraina berlabuh di pelabuhan Laut Hitam Odessa di Ukraina. (Foto: Reuters/Yevgeny Volokin)
Berita Internasional >> G7 Nyatakan ‘Dukungan Penuh’ untuk Ukraina dalam Konflik dengan Rusia

G7 (yang terdiri dari Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang) mendukung penuh Ukraina dalam konflik terbaru dengan Rusia. Menurut negara-negara anggota G7, dalam krisis terbaru antara kedua negara tersebut, penggunaan kekuatan militer Rusia terhadap kapal-kapal dan pelaut Ukraina ‘tidak memiliki pembenaran.”

Oleh: Tamila Varshalomidze (Al Jazeera)

Baca Juga: Ada Apa dengan Jabat Tangan Hangat Putin dan bin Salman di G20?

Menteri Luar Negeri dari tujuh negara ekonomi terbesar dunia—yang dikenal sebagai Kelompok Tujuh atau G7—telah mengecam tindakan Rusia di Selat Kerch, seiring mereka menegaskan kembali “dukungan tak tergoyahkan mereka untuk kedaulatan dan integritas teritorial Ukraina.”

Pernyataan oleh anggota G7—Amerika Serikat (AS), Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, dan Perwakilan Tinggi Uni Eropa—pada Jumat (30/11), mengatakan bahwa “tidak ada pembenaran” untuk penggunaan kekuatan militer Rusia terhadap kapal dan personel angkatan laut Ukraina.

“Kami mendesak untuk menahan diri, menghormati hukum internasional, dan pencegahan eskalasi lebih lanjut. Kami menyerukan kepada Rusia untuk melepaskan awak dan kapal yang ditahan, dan menahan diri dari melanggar hukum melalui Selat Kerch,” kata pernyataan itu.

“Kami, G7, sekali lagi menegaskan bahwa kami tidak, dan tidak akan pernah, mengakui aneksasi ilegal Rusia di semenanjung Krimea, dan kami menegaskan kembali dukungan tak tergoyahkan kami untuk kedaulatan dan integritas teritorial Ukraina.”

Olexiy Makeyev—Direktur Politik di Kementerian Luar Negeri Ukraina—mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Ukraina membela diri “dari agresi Rusia.”

“Kami mengandalkan dukungan dari mitra Amerika kami, dan kami menikmati dukungan penuh juga dari Uni Eropa,” katanya.

Ukraina mengupayakan dukungan global

Pernyataan G7 datang sehari setelah Presiden AS Donald Trump membatalkan pertemuannya dengan Rusia Vladimir Putin, dan mengatakan bahwa pertemuan yang banyak diantisipasi di G20 itu tidak bisa terjadi sementara pelaut Ukraina masih dalam tahanan.

Rusia pada Minggu (25/11) menahan tiga kapal militer Ukraina yang akan melewati Selat Kerch dalam perjalanan mereka dari Laut Hitam ke Laut Azov—perairan internal kedua negara.

Konfrontasi meningkat setelah Rusia merebut tiga kapal dan menangkap 24 anggota awak Ukraina, yang kemudian berada di bawah penahanan pra-persidangan selama 60 hari dan dikirim ke Moskow.

Ukraina mengatakan, para tahanan itu adalah “tawanan perang” Rusia.

Rusia bersikeras bahwa pelaut Ukraina menyeberang ke perairan Rusia secara ilegal, di mana Putin mengatakan bahwa para penjaga perbatasan “memenuhi tugas militer mereka” ketika merebut kapal tersebut.

Ketika ancaman “perang total” merebak, Kiev mengumumkan darurat militer di 10 dari 27 wilayahnya selama 30 hari “untuk menghindari invasi Rusia habis-habisan.”

Eropa di Bawah Kendali Vladimir Putin

Prajurit Ukraina di atas perahu militer bernama Dondass, yang ditambatkan di Mariupol, Lautan Azov. (Foto: AFP/Getty Images/Sega Volskii)

Pada Jumat (30/11), Presiden Ukraina Petro Poroshenko mengatakan kepada media Sky News Inggris, bahwa keputusan Trump untuk membatalkan perundingan yang dijadwalkan dengan Putin adalah bukti “pengasingan” terhadap Pemimpin Rusia itu.

“Setelah serangan kimia di Inggris, setelah serangan teror pada penerbangan MH17 (Malaysia Airlines), setelah agresi Rusia di timur negara saya, setelah Suriah, setelah semua tindakan penuh bencana ini, Putin berada dalam isolasi,” katanya.

Baca Juga: Donald Trump Menolak untuk Mengutuk Agresi Rusia terhadap Ukraina

Larangan masuknya warga Rusia

Juga pada Jumat (30/11), Ukraina melarang pria Rusia usia antara 16 hingga 60 tahun untuk memasuki negara itu.

Andriy Demchenko—juru bicara layanan perbatasan Ukraina—mengatakan bahwa itu bukan larangan yang menyeluruh.

“Warga Rusia akan melalui wawancara tambahan di perbatasan, dan kunjungan mereka sebelumnya ke Ukraina akan diteliti,” katanya kepada Al Jazeera, dan menambahkan bahwa keputusan untuk memblokir mereka akan diambil berdasarkan kasus per kasus, dengan pengecualian yang diperlukan.

“Pengecualian dapat diterapkan pada individu dengan status diplomatik, personel transportasi, orang dengan tempat tinggal sementara atau permanen di Ukraina, dan mereka yang datang untuk tujuan kemanusiaan,” katanya.

Poroshenko mengatakan bahwa langkah itu akan “mencegah Federasi Rusia membentuk detasemen tentara swasta” di Ukraina, “mirip dengan operasi yang mereka coba lakukan pada tahun 2014.”

Ukraina percaya bahwa warga dan tentara Rusia bertempur bersama pemberontak yang didukung Moskow, yang pada tahun 2014 merebut bagian Ukraina Donetsk dan wilayah Luhansk, dan mendeklarasikan wilayah-wilayah itu independen dari Kiev.

Ukraina juga telah meluncurkan latihan militer di Laut Azov, di mana para prajuritnya memainkan peran dalam menangkis upaya pendaratan Rusia di pantai.

Maria Zakharova—juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia—mengatakan pada Jumat (30/11), bahwa Moskow tidak akan menerapkan larangan perjalanan serupa pada Ukraina karena itu “tidak rasional.”

Dia menuduh Poroshenko menggunakan darurat militer sebagai cara untuk “menaikkan peringkat elektoral yang jatuh”, dalam upaya untuk mendapatkan poin selama “gelombang Russopfobia terbaru.”

Konflik di timur Ukraina telah menewaskan lebih dari 10 ribu orang, termasuk warga sipil.

Keterangan foto utama: Kapal penjaga perbatasan Ukraina berlabuh di pelabuhan Laut Hitam Odessa di Ukraina. (Foto: Reuters/Yevgeny Volokin)

G7 Nyatakan ‘Dukungan Penuh’ untuk Ukraina dalam Konflik dengan Rusia

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top