Australia

Helikopter Australia Digunakan dalam Genosida Papua?

Berita Internasional >> Helikopter Australia Digunakan dalam Genosida Papua?

Sebuah laporan mengklaim Australia menyediakan helikopter untuk Indonesia yang kemudian digunakan untuk melakukan serangan “genosida” di Papua Barat. Komisaris Asian Human Rights Basil Fernando mengatakan, sungguh mengecewakan bagaimana Indonesia dan negara-negara tetangganya telah gagal mengakui apa yang ia katakan sebagai genosida. Pemerintah Australia didesak untuk mendeklasifikasi keterlibatan mereka dengan militer Indonesia sehubungan genosida Papua.

Baca juga: Pemerintah Indonesia Pertimbangkan Keterlibatan Militer Lebih Lanjut di Papua

Oleh: SBS News

Sebuah laporan mengklaim Australia menyedia helikopter-helikopter yang digunakan untuk melakukan serangan “genosida” di Papua Barat pada akhir tahun 1970-an.

Lapora dari Asian Human Rights Commission (Komisi HAM Asia) mengatakan, helikopter-helikopter Australia berada di antara pesawat terbang yang digunakan utuk membawa bom di dataran tinggi Papua.

Laporan mengejutkan itu mengklaim pendukung kemerdekaan Papua Barat dibakar dan direbus hidup-hidupp; wanita-wanita diperkosa, payudara mereka dipotong dan organ dalam dikeluarkan; sementara penduduk desa dipotong-potong dengan pisau cukur dan dipaksa untuk memakan feses para tentara.

Berjudul “The Neglected Genocide – Human Rights abuse agains Papuans in the Central Highlands”, laporan itu memperkirakan lebih dari empat ribu orang dari 15 komunitas dibunuh di antara tahun 1977 dan 1978.

Komisaris Asian Human Rights Basil Fernando mengatakan, sungguh mengecewakan bagaimana Indonesia dan negara-negara tetangganya telah gagal mengakui apa yang ia katakan sebagai genosida.

“Sebegitu besarnya jumlah orang yang dibunuh, tapi tidak ada upaya dari pemerintah Indonesia maupun negara-negara tetangganya—seperti Indonesia—hal ini adalah bagian paling mengejutkan dari laporan ini.”

Militer Indonesia meluncurkan serangan yang dituduhkan tadi sebagai tanggapan atas pemberontakan kemerdekaan Papua Barat setelah pemilihan umum tahun 1977.

Pakar Papua Barat dari University of New South Wales, Profesor Clinton Fernandes, menjelaskan:

“Di tahun 1970-an, militer Indonesia mencaplok Papua Barat dan sebagian warga Papua yang melawan disingkirkan dengan kekuatan. Doktrin angkatan udara Indonesia adalah untuk menghancurkan area pertanian, menghancurkan bahan pangan, hewan ternak, sawah, dan lainnya. Dan mereka menggunakan bahan peledak dan mereka melakukan hal itu dengan tujuan membuat para pemberontak kelaparan agar menyerah.”

Laporan itu mengklaim, dua helikopter yang disediakan oleh Australia digunakan untuk melakukan serangan bom kepada warga di Dataran Tinggi Tengah.

Namun, Profesor Hernandes mengatan sangat sulit mendapatkan gambaran yang lebih lengkap tentang keterlibatan Australia di Papua Barat pada saat itu karena banyak catatan diplomatik yang belum dirilis.

Hal itu masih berlanjut walaupun mereka seharusnya sudah dideklasifikasi sejak lima tahun lalu.

“Tampaknya pemerintah Australia mengklaim masalah keamanan nasional tapi sebenarnya takut menghadapi malu dari apa yang mungkin publik pikirkan tentang hal itu, ketika mereka menyadari betapa dekatnya kita terlibat dengan militer Indonesia.”

Profesor Fernandes mengatakan, apa yang diketahui adalah, bahwa di antara tahun 1975 dan 1978, Australia menghabiskan $26 juta untuk membantu memodernisasi militer Indonesia.

Dia mengatakan, tidaklah mungkin pemerintah Australia tidak mengetahui helikopter mereka digunakan untuk melakukan serangan di Papua Barat.

Baca juga: Mengapa Hampir 2 Juta Orang Menuntut Referendum Kemerdekaan Papua Barat

“Hal itu tidak terbayangkan. Siapapun yang menyediakan helikopter bersamaan dengan intelijen Australia pasti akan menulis laporan mendetail tentang apa yang mereka ketahui, bagaimana kendaraan itu digunakan dan lainnya agar bisa menginformasikan badan intelijen kita tentang doktrin, pelatihan, dan kemampuan operasional dari angkatan udara Indonesia. Birokrat tidak pernah bisa mengatakan mereka tidak tahu apa-apa. Memang mungkin politisi level atas tertentu tidak membaca laporan itu tapi ini adalah alasan lebih bagi pemerintah untuk mendeklasifikasi catatan mereka dari tahun 1970-an.”

Tom Clarka dari Human Rights Law Centre yang berbasis di Melbourne menyerukan agar pemerintah federal meluncurkan tinjauan lengkap terhadap hubungan Australia dengan militer dan pasukan keamanan Indonesia.

Dia mengatakan, bukan hanya ikatan historis kedua negara yang harus dikhawatirkan.

“Densus 88 adalah unit elit kontra-terorisme Indonesia dan densus ini telah dituduh melakukan pelanggaran HAM di Papua Barat beberapa tahun yang lalu. Jadi ini adalah unit yang didukung oleh pemerintah Australia. Jadi, Human Rights Law Centre ingin melihat peninjauan lengkap dari hubungan Australia dengan militer Indonesia untuk memastikan kita tidak sama sekali terlibat dalam pelanggaran HAM.”

Dalam sebuah pernyataan kepada SBS Radio, Departemen Luar Negeri mengatakan, situasi HAM kontemporer di Papua Barat tidak mencerminkan situasi yang digambarkan oleh laporan Asian Human Rights Commission.

Departemen itu mengatakan, mereka tidak bisa mengomentari situasi yang terjadi 35 tahun yang lalu.

Keterangan foto utama: Warga Papua di area pegunungan di tahun 1960-an. (Foto: PBB)

Helikopter Australia Digunakan dalam Genosida Papua?

BERLANGGANAN

2 Comments

2 Comments

  1. fajar timur

    February 9, 2019 at 8:50 am

    tulisan tanpa bukti. provokasi yang akan menimbulkan dosa besar bagi penulis atas akibatnya di belakang hari

  2. Frunze

    February 7, 2019 at 6:13 pm

    Masalahnya kan, foto-foto yang dishare lewat akun TBNPB lewat akun media sosial resmi mereka kebanyakan foto editan, dan foto asli “bom” nya pun sebenarnya cuma smoke grenade atau granat asap yang digunakan oleh anggota TNI untuk menandai LZ (Landing Zone) helikopter yang akan mendarat di tanah terbuka.
    Lucu banget mereka ngefoto granat asap terus granatnya diklaim menimbulkan kerusakan hebat.

Beri Tanggapan!

To Top