Boeing 737 MAX 8
Berita Politik Indonesia

Ikuti China, Indonesia Berhenti Gunakan Boeing 737 MAX 8

Berita Internasional >> Ikuti China, Indonesia Berhenti Gunakan Boeing 737 MAX 8

Maskapai penerbangan Indonesia memutuskan untuk menghentikan penggunaan pesawat Boeing 737 MAx 8, setelah Ethiopian Airlines jatuh di Addis Ababa, Minggu (10/3), jenis pesawat yang sama dengan pesawat Lion Air yang jatuh beberapa bulan lalu di Laut Jawa. Langkah itu mengikuti keputusan China yang melakukan tindakan tajam yang sama segera setelah pesawat Ethiopian Airlines jatuh. Para pakar penerbangan terpecah mengenai keputusan ini.

Baca juga: China Hentikan Operasi Boeing 737 MAX 8 Setelah Ethiopian Airlines Jatuh

Oleh: Trefor Moss, Robert Wall, dan Wenxin Fan (The Wall Street Journal)

Indonesia baru-baru ini bergabung dengan China dalam berhenti menggunakan pesawat Boeing 737 MAX 8 hari Senin (11/3), setelah kecelakaan mematikan Ethiopian Airlines hari Minggu (10/3). Langkah tersebut menjadi sebuah perubahan drastis dari praktik keselamatan udara tradisional yang memecah-belah para ahli dan meningkatkan tekanan pada perusahaan pembuat pesawat Amerika Serikat, Boeing.

Saham Boeing turun hampir 7 persen dalam perdagangan hari Senin (11/3). Dalam sebuah pernyataan, perusahaan itu mengatakan bahwa penyelidikan masih dalam tahap awal dan bahwa informasi yang tersedia tidak menjamin adanya panduan baru untuk maskapai.

Hari Minggu (10/3) malam di Washington, seorang juru bicara Administrasi Penerbangan Federal (FAA), yang sebelumnya mengatakan badan tersebut sedang memantau perkembangan dan berencana untuk membantu penyelidikan Ethiopia, tidak memberikan komentar lebih lanjut.

Ethiopian Airlines mengatakan hari Senin (11/3) bahwa para penyelidik telah menemukan kedua kotak hitam pesawat itu. Perangkat tersebut menyimpan data penting penerbangan, termasuk percakapan kokpit dan ribuan parameter pesawat seperti kecepatan yang akan membantu penyelidik menentukan penyebab kecelakaan.

Maskapai penerbangan China dan Indonesia merupakan salah satu pelanggan terbesar Boeing, ketika risiko industry ini tengah berisiko tinggi. Bulan Januari 2019, Boeing telah mengirimkan 350 pesawt 737 MAX dan memesan sekitar 5.000 lebih banyak, menjadikan pesawat jenis ini sebagai pusat bagi rencana banyak maskapai penerbangan global serta bisnis Boeing.

“Tindakan China dalam berhenti menggunakan (Boeing 737 MAX 8) jelas telah meningkatkan tekanan pada Boeing,” kata Richard Aboulafia, wakil presiden di Teal Group, perusahaan intelijen penerbangan Amerika Serikat. Boeing perlu memberikan bukti keselamatan pesawat yang cepat dan meyakinkan. Jika tidak, “kerusakan bisa menjadi lebih serius, dalam hal penjualan maupun reputasi,” tuturnya.

Administrasi Penerbangan Sipil China hari Senin (11/3) memerintahkan seluruh maskapai untuk menunda penggunaan 737 MAX 8, tak seperti biasanya. Biasanya, penangguhan akan mengikuti instruksi dari regulator di negara yang mengeluarkan sertifikasi jenis pesawat, dalam hal ini Administrasi Penerbangan Federal (FAA) Amerika Serikat.

Ethiopian Airlines juga telah berhenti menggunakan armada pesawat MAX sehari setelah pesawat jatuh beberapa menit setelah lepas landas dari Addis Ababa, Ethiopia, menewaskan semua 157 orang di dalamnya, bencana mematikan kedua yang melibatkan model baru tersebut dalam beberapa bulan terakhir. Di Indonesia, pesawat 737 MAX 8 milik maskapai Lion Air jatuh bulan Oktober 2018, menewaskan 189 orang di dalamnya. Penerbangan Lion Air JT610 tersebut mengalami informasi sensor yang tidak dapat diandalkan sebelum jatuh di Laut Jawa. Kedua pesawat itu jatuh tak lama setelah lepas landas, tampaknya jatuh dari langit dengan kecepatan tinggi.

Boeing mengatakan sedang dalam pembicaraan dengan regulator dan maskapai penerbangan tentang kekhawatiran yang mungkin mereka miliki. “Kami sedang mengambil setiap langkah untuk sepenuhnya memahami semua aspek kecelakaan ini, bekerja sama dengan tim penyelidik dan semua pihak berwenang yang terlibat,” menurut pernyataan resmi Boeing.

Sebelum para penyelidik Amerika Serikat mencapai lokasi kecelakaan di Ethiopia atau Boeing mengeluarkan pembaruan kepada maskapai tentang kecelakaan itu, pihak berwenang China telah berhenti menggunakan semua pesawat 737 MAX di negara itu. Tiga belas maskapai penerbangan China sebelumnya mengoperasikan 96 pesawat 737 MAX, berdasarkan data resmi.

Baca juga: Kecelakaan Lion Air JT610: Perubahan Sistem Boeing yang Persulit Pilot

Banyak maskapai terbesar yang menggunakan 737 MAX masih terus menerbangkan pesawat Boeing tersebut hingga hari Senin (11/3), termasuk Air Shuttle ASA dari Norwegia serta SpiceJet dan SilkAir dari India, cabang regional dari Singapore Airlines. FlyDubai dari Dubai, pelanggan terbesar 737 MAX di Timur Tengah, mengatakan sedang memantau situasi tetapi tetap percaya diri dengan kelayakan terbang armadanya, dengan penerbangan masih terus beroperasi.

Analis penerbangan terpecah-belah karena keputusan China untuk berhenti menggunakan pesawat tersebut. “Saya tidak yakin bahwa berhenti menggunakan pesawat itu adalah tindakan yang benar,” kata Geoffrey Thomas, kepala editor Airline Ratings yang mempelajari keselamatan maskapai penerbangan, menambahkan bahwa upaya tersebut dibenarkan hanya jika ada bukti masalah sistemik. “Mereka sangat, sangat berhati-hati, mungkin terlalu berlebihan.”

Sistem yang membantu mencegah pesawat Boeing 737 Max 8 yang baru dari mengalami stall berpotensi terkait dengan kecelakaan Lion Air JT610 yang fatal di Indonesia. Robert Wall dari WSJ menjelaskan apa yang kita ketahui tentang fitur keamanan. (Foto: Getty Images)

Tindakan China mungkin tidak biasa, tetapi tidak ada preseden baru untuk membandingkannya, kata Graham Braithwaite, direktur sistem transportasi di Universitas Cranfield Inggris. “Dengan tidak adanya informasi tentang penyebabnya, tetapi dengan laporan awal menunjukkan kemungkinan adanya kesamaan dengan kecelakaan di Indonesia, regulator China memiliki hak untuk menuntut tindakan pencegahan dengan berhenti menggunakan pesawat tersebut sampai hal ini diselesaikan,” katanya.

Dalam memerintahkan maskapai domestik untuk berhenti mengoperasikan 737 MAX pada pukul 6 malam hari Senin (11/3) waktu setempat, regulator China mengutip kesamaan antara penyebab jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines dan Lion Air. Li Jian, wakil direktur otoritas penerbangan, menanggapi beberapa insiden yang sebelumnya tidak dilaporkan di mana pilot 737 MAX China telah menerima pembacaan yang tidak dapat diandalkan dari sensor yang mereka andalkan untuk memastikan pesawat akan terbang pada sudut yang benar.

“Kami tidak yakin apakah pilot memiliki keberanian atau kemampuan untuk menerbangkan pesawat tersebut,” kata Li.

Baca juga: Pesawat Ethiopian Airlines Jatuh, Semua 157 Penumpang dan Awak Tewas

Setelah kecelakaan Lion Air JT610, dalam beberapa pekan FAA dan Boeing diharapkan dapat mengumumkan perbaikan perangkat lunak untuk sistem kontrol penerbangan otomatis yang diduga mengalami kegagalan saat kecelakaan. Perubahan awaln diharapkan terjadi awal Januari 2019, tetapi diskusi antara regulator dan Boeing tak kunjung tuntas, sebagian tentang perbedaan pendapat dalam masalah teknis dan mesin, menurut seseorang yang akrab dengan rincian pada saat itu.

Kontributor artikel: Andy Pasztor, I Made Sentana, Gaurav Raghuvanshi, Mike Cherney, dan Fanfan Wang.

Keterangan foto utama: Sebuah penyelidikan telah diluncurkan setelah pesawat Boeing 737 MAX 8 milik maskapai Ethiopian Airlines jatuh tak lama setelah lepas landas hari Minggu, 10 Maret 2019, menewaskan semua penumpang. Reporter dirgantara WSJ Robert Wall membahas kemungkinan fokus penyelidikan dan banyak hal lain. (Foto: Getty Images.)

Ikuti China, Indonesia Berhenti Gunakan Boeing 737 MAX 8

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top