Benny Wenda
Berita Politik Indonesia

Indonesia Kecam Vanuatu karena Selundupkan Benny Wenda ke Pertemuan PBB

Para pendukung kemerdekaan Papua Barat memegang petisi. (Foto: Twitter/Free West Papua)
Berita Internasional >> Indonesia Kecam Vanuatu karena Selundupkan Benny Wenda ke Pertemuan PBB

Pemerintah Indonesia telah mengecam Vanuatu karena menyelundupkan aktivis Papua dan pemimpin kemerdekaan Papua Barat yang diasingkan, Benny Wenda, untuk bertemu dengan kepala hak asasi manusia PBB. Pada kesempatan itu, Benny Wenda menyampaikan petisi dengan 1,8 juta tanda tangan yang menuntut referendum kemerdekaan kepada Kepala Hak Asasi Manusia PBB Michelle Bachelet, pada Jumat (31/1).

Baca juga: Mengapa Hampir 2 Juta Orang Menuntut Referendum Kemerdekaan Papua Barat

Oleh: Lin Evlin (SBS News/Reuters)

Duta Besar Indonesia untuk PBB, Hasan Kleib, mengecam keras Vanuatu karena membantu pemimpin kemerdekaan Papua Barat yang diasingkan, Benny Wenda, untuk bertemu dengan para pejabat PBB dalam salah satu pertemuan peninjauan berkala.

“(Mereka) dengan sengaja menipu Komisi Tinggi dengan mengambil langkah manipulatif melalui penyelundupan Benny Wenda ke dalam delegasi Vanuatu,” katanya.

Benny Wenda—atas nama gerakan kemerdekaan provinsi Papua Barat—menyampaikan petisi dengan 1,8 juta tanda tangan yang menuntut referendum kemerdekaan kepada Kepala Hak Asasi Manusia PBB Michelle Bachelet, pada Jumat (31/1).

Pada bulan September 2017, Benny Wenda—ketua Persatuan Gerakan Pembebasan Papua Barat (ULMWP)—berusaha untuk mengirimkan petisi kepada komite dekolonisasi PBB tetapi diblokir, di mana komite tersebut mengatakan bahwa Papua Barat berada di luar mandatnya.

Ketua komite tersebut, Rafael Ramirez, mengatakan pada saat itu bahwa mandatnya hanya diperluas ke 17 negara yang diidentifikasi oleh PBB sebagai “wilayah yang tidak memerintah sendiri”.

‘Hari bersejarah’

Indonesia pada prinsipnya telah setuju untuk mengizinkan kantor komisioner HAM PBB masuk ke wilayah Papua, atau Papua Barat.

Benny Wenda menggambarkan hari itu sebagai hari bersejarah bagi dirinya dan orang-orangnya.

“Saya menyerahkan apa yang saya sebut tulang belulang orang Papua Barat, karena begitu banyak orang telah terbunuh.”

Separatis Papua

Pemimpin Organisasi Papua Merdeka Benny Wenda. (Foto: RNZI/Korol Hawkins)

Dia mengatakan bahwa orang Papua Barat tidak memiliki kebebasan berbicara atau berkumpul, dan satu-satunya cara untuk didengar adalah melalui petisi ini, yang ditandatangani oleh hampir tiga perempat dari 2,5 juta penduduk.

“Saya pikir ini adalah pertama kalinya dalam sejarah PBB, (Michelle Bachelet) benar-benar terkejut melihat petisi yang sangat besar, berisi 40 kilogram.”

Baca juga: Tentara Indonesia Tewas Setelah Serangan di Bandara Papua

“Dia akan melanjutkan untuk melihat ini dan kami meminta itu dari orang-orang Papua Barat, kami meminta referendum baru,” katanya kepada SBS News.

Sejak pencaplokan Indonesia atas bekas jajahan Belanda itu dan referendum PBB yang banyak didiskreditkan pada tahun 1960-an, ribuan nyawa telah hilang dan Indonesia secara rutin dikritik karena pelanggaran hak asasi manusia.

Ketegangan meningkat setelah para pemberontak baru-baru ini menewaskan sedikitnya 17 orang yang bekerja membangun jalan sepanjang 4.000 kilometer di Provinsi Papua—sebuah proyek infrastruktur dari Presiden Indonesia, Joko Widodo.

Sebagai tanggapannya, Indonesia meluncurkan penumpasan militer di wilayah tersebut, yang menyebabkan beberapa kematian, dan ribuan orang diduga mengungsi setelah mereka melarikan diri ke hutan.

Saat ini, pada konferensi pers internasional yang diselenggarakan oleh Gerakan Papua Merdeka, mereka untuk pertama kalinya mengambil sikap bersatu dengan sayap militernya, mengakui perang yang sedang berlangsung dengan Indonesia.

Namun, pihaknya menyatakan keinginannya untuk mencari solusi damai yang abadi melalui negosiasi dengan Jakarta.

Keterangan foto utama: Para pendukung kemerdekaan Papua Barat memegang petisi. (Foto: Twitter/Free West Papua)

Indonesia Kecam Vanuatu karena Selundupkan Benny Wenda ke Pertemuan PBB

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top