Minyak Kelapa Sawit
Berita Politik Indonesia

Tolak Rencana Uni Eropa, Indonesia Pertahankan Produksi Minyak Kelapa Sawit

Berita Internasional >> Tolak Rencana Uni Eropa, Indonesia Pertahankan Produksi Minyak Kelapa Sawit

Indonesia menentang rencana Uni Eropa untuk membatas penggunaan minyak kelapa sawit. Indonesia mengatakan, rencana itu itu tidak memenuhi prinsip-prinsip perdagangan bebasnya dan bahwa metode yang digunakan memihak minyak nabati Eropa, seperti minyak biji bunga matahari dan rapeseed. Indonesia adalah penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia.

Oleh: Fransiska Nangoy dan Bernadette Christina Munthe (Reuters)

Baca Juga: Jakarta Didesak untuk Selidiki Proyek Minyak Kelapa Sawit di Papua

Indonesia, produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia, tidak akan menerima rencana Uni Eropa untuk membatasi penggunaan minyak dari tanaman yang menyebabkan deforestasi, dan berpendapat bahwa hasil produksinya yang lebih tinggi membuatnya lebih baik ditempatkan untuk memenuhi permintaan global, kata seorang pejabat senior Indonesia.

Draf Uni Eropa yang mulai berlaku setelah empat minggu konsultasi publik, menyimpulkan bahwa budidaya kelapa sawit menghasilkan deforestasi dan penggunaannya dalam bahan bakar transportasi harus dihapuskan pada tahun 2030.

Indonesia bermaksud untuk menantang rencana tersebut, yang dikenal sebagai RED II, di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dengan dasar bahwa rencana itu tidak memenuhi prinsip-prinsip perdagangan bebasnya dan bahwa metode yang digunakan memihak minyak nabati Eropa, seperti minyak biji bunga matahari dan rapeseed.

“Uni Eropa ingin memposisikan dirinya, terutama dalam situasi global saat ini, sebagai pembela perdagangan bebas tetapi mereka bertindak seperti itu,” kata Mahendra Siregar, staf khusus di kementerian luar negeri.

Siregar mengatakan kerusakan lingkungan juga disebabkan oleh minyak nabati lainnya, sementara hasil produksi kelapa sawit yang lebih tinggi membuatnya lebih baik ditempatkan untuk memenuhi permintaan minyak nabati global yang diperkirakan akan mencapai setidaknya 320 juta ton pada tahun 2025.

Untuk memenuhi permintaan tersebut, kedelai akan membutuhkan area budidaya sepuluh kali luas yang dibutuhkan untuk kelapa sawit dan hingga enam kali lipat untuk rapeseed, kata Siregar.

“Dalam konteks ini, minyak kelapa sawit adalah yang paling berkelanjutan,” kata Siregar, yang juga merupakan direktur eksekutif Dewan Negara-negara Penghasil Minyak Sawit.

Ekspansi kelapa sawit yang cepat dituding sebagai penyebab pembukaan hutan besar-besaran yang menjadi tempat tinggal harimau, orang utan dan gajah yang terancam punah di dua negara penghasil utama, Indonesia dan Malaysia.

Perwakilan Uni Eropa di Jakarta mengatakan kelompok itu menganggap RED II sejalan dengan kewajiban WTO dan Komisi Eropa akan memastikan implementasinya memenuhi rezim perdagangan yang adil dan berdasarkan aturan.

Uni Eropa, dalam usulnya, mengatakan bahwa 45 persen dari lahan tambahan yang digunakan untuk produksi minyak kelapa sawit sejak 2008 sebelumnya merupakan hutan, dibandingkan dengan 8 persen untuk kedelai, tanaman minyak saingan, dan 1 persen untuk bunga matahari dan rapeseed.

Uni Eropa menyumbang sekitar 15 persen dari ekspor minyak kelapa sawit Indonesia tahun 2018, senilai sekitar $19 miliar, menurut data Asosiasi Minyak Sawit Indonesia (GAPKI).

Baca Juga: Malaysia dan Indonesia Tekan Inggris atas Larangan Minyak Kelapa Sawit

Tahun lalu, produsen biodiesel Indonesia melanjutkan ekspor bahan bakar berbasis kelapa sawit ke Eropa setelah WTO memerintahkan Uni Eropa untuk menghapus tarif anti-dumping setelah ditentang oleh pemerintah Indonesia.

Siregar mengatakan Indonesia dan Malaysia didukung oleh ASEAN atas masalah ini selama pertemuan terakhir dengan Uni Eropa di Brussels, yang menghasilkan keputusan untuk membentuk kelompok kerja bersama untuk membahas masalah kelapa sawit.

Keterangan foto utama: Sejumlah besar hutan hujan telah dibuka di seluruh Indonesia untuk membuka jalan bagi perkebunan kelapa sawit. (Foto: Getty)

Tolak Rencana Uni Eropa, Indonesia Pertahankan Produksi Minyak Kelapa Sawit

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top