Jenderal Top Amerika Cemaskan Kembalinya ISIS
Amerika

Jenderal Top Amerika Cemaskan Kembalinya ISIS

Kepala Komando Pusat AS Jenderal Joseph Votel memberikan kesaksian di hadapan House Armed Services Committee pada tanggal 7 Maret 2019. (Foto: AP/Susan Walsh)
Berita Internasional >> Jenderal Top Amerika Cemaskan Kembalinya ISIS

Bertentangan dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengatakan bahwa ISIS hampir kalah dan telah kehilangan 100 persen wilayah yang pernah dikuasainya di Suriah, Kepala Komando Sentral AS Jenderal Joseph Votel menegaskan perjuangan melawan ISIS dan ekstremisme brutal masih jauh dari selesai, dan bahkan menyebutnya sebagai masalah generasi yang serius, bila Amerika tak mampu menanganinya dengan benar.

Oleh: Joe Gould  (Defense News)

Baca Juga: Kebencian yang Mendarah Daging: ISIS Masih Hidup di Sudut-Sudut Irak

Terlepas dari kekalahan teritorial ISIS, kelompok tersebut tidak menyerah dan akan berubah menjadi pemberontakan yang ditandai dengan pembunuhan, serangan bom, dan penyergapan, seperti yang disampaikan oleh jenderal top Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah kepada Kongres pada hari Kamis (7/3).

“Hilangnya kekhalifahan fisik adalah pencapaian militer yang monumental, tetapi perjuangan melawan ISIS dan ekstremisme brutal masih jauh dari selesai,” kata Kepala Komando Sentral AS Jenderal Joseph Votel kepada House Armed Services Committee.

Pejuang ISIS “tetap tidak menyerah, tidak hancur dan sudah diradikalisasi,” katanya, mencatat bahwa mereka dengan lihai melindungi keluarga dan kemampuan mereka dengan melebur ke daerah-daerah terpencil dan kamp-kamp bagi para pengungsi, “menunggu waktu yang tepat untuk bangkit kembali.”

“Kita perlu menjaga kewaspadaan untuk menyerang organisasi yang sekarang tersebar luas dan terpecah ini, yang mencakup para pemimpin, pejuang, fasilitator, dan tentu saja ideologi beracun mereka,” kata Votel, menyebutnya “masalah generasi yang serius, jika tidak ditangani dengan benar.”

Penilaiannya bertentangan dengan Presiden AS Donald Trump, yang mengatakan dalam beberapa pekan terakhir bahwa kelompok ISIS berada di ambang pemberantasan dan telah kehilangan 100 persen wilayah yang pernah dikuasai di Suriah. (Votel mengatakan bahwa ISIS masih menguasai wilayah satu mil dari 34.000 mil persegi yang pernah dikuasai).

Baca Juga: Pertempuran Terakhir ISIS: Ratusan Militan di Baghouz Suriah ‘Menyerah’

Asap dan api mengepul setelah penembakan pada serangan terakhir kelompok ISIS dari Baghouz, di provinsi timur Suriah, Deir Ezzor, pada 3 Maret 2019. (Foto: AFP via Getty Images/Delil Souleiman)

Pada bulan Desember, Trump mengumumkan bahwa ia menarik semua pasukan Amerika keluar dari Suriah, namun kemudian berbalik arah dan setuju untuk mempertahankan sisa pasukan yang mungkin mencakup beberapa ratus pasukan, sebagai bagian dari upaya internasional untuk menstabilkan Suriah timur laut.

AS dan negara-negara barat lainnya mendukung kelompok Suriah yang dikenal sebagai Pasukan Demokrat Suriah, atau SDF, yang terdiri dari pejuang Kurdi dan Arab lokal yang telah memerangi ISIS selama lebih dari tiga tahun.

Pada hari Kamis, Votel meramalkan bahwa pada fase berikutnya, para pejuang ISIS mungkin menggunakan taktik “tingkat rendah,” tetapi ia menyatakan keyakinannya pada pasukan kecil AS, yang didukung oleh sekutu dan kemampuan untuk mengerahkan pasukan dari tempat lain di wilayah tersebut.

“Kita harus terus menekan ini,” katanya.

Anggota parlemen yang demokratis mengkritik pemerintah karena tidak berkonsultasi dengan sekutu dan pemimpin militer sebelum mengumumkan pada Desember, di Twitter, bahwa ISIS dikalahkan dan pasukan AS akan meninggalkan Suriah.

Dalam dialog dengan Ketua Komite Layanan Angkatan Bersenjata Adam Smith, Votel menawarkan jaminan bahwa penarikan akan didorong oleh kekalahan ISIS, dan bukan jadwal waktu yang sewenang-wenang.

“Tidak ada tekanan pada saya untuk memenuhi tanggal tertentu pada waktu tertentu ini,” kata Votel, menguraikan rincian lebih lanjut ke sesi tertutup.

Smith mempertanyakan apakah kebutuhan militer benar-benar mendorong pengambilan keputusan pemerintah.

“Apa yang tampaknya mendorong penarikan itu adalah keputusan Presiden yang hanya sepersekian detik untuk mengirimkan tweet bahwa kami akan keluar dari Suriah,” kata Smith. “Persepsi publik, persepsi internasional adalah bahwa sebelum tweet itu, (penarikan pasukan) itu tidak direncanakan.”

Anggota panel, Perwakilan Mac Thornberry, mengatakan bahwa penting untuk mempertahankan tekanan pada ISIS, tetapi ia optimis bahwa sekutu akan bergabung dengan sisa-sisa pasukan Amerika di Suriah dan bahwa kekuatan semacam itu akan cukup untuk fase berikutnya.

Baca Juga: Pasukan Suriah: Serangan terhadap Kantong Terakhir ISIS akan Segera Usai

“Saya tidak tahu apakah itu cukup (tentang kehadiran pasukan); waktu akan menjawabnya,” kata Thornberry, “tapi apa yang sangat saya syukuri adalah bahwa kita akan terus hadir untuk melakukannya, alih-alih sepenuhnya pergi, yang merupakan ketakutan terbesar saya.”

Associated Press berkontribusi pada laporan ini.

Keterangan foto utama: Kepala Komando Pusat AS Jenderal Joseph Votel memberikan kesaksian di hadapan House Armed Services Committee pada tanggal 7 Maret 2019. (Foto: AP/Susan Walsh)

Jenderal Top Amerika Cemaskan Kembalinya ISIS

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top