Kirim Puluhan Kapal Perang ke Laut China Selatan, Beijing Intimidasi Filipina?
Asia

Kirim Puluhan Kapal Perang ke Laut China Selatan, Beijing Intimidasi Filipina?

Kapal Corvette Angkatan Laut China dengan tipe 056 terlihat di dekat Kepulauan Spratly pada bulan Januari 2019. (Foto: AMTI via SCMP)
Berita Internasional >> Kirim Puluhan Kapal Perang ke Laut China Selatan, Beijing Intimidasi Filipina?

Beijing diduga berupaya mengintimidasi Filipina dengan mengirim puluhan kapal perang ke Laut China Selatan. Jumlah kapal yang dikirim China ke Kepulauan Spratly mencapai 95 unit pada pertengahan Desember, dalam apa yang diyakini para pengawas AS sebagai bagian dari upaya untuk memaksa Manila menghentikan pekerjaan konstruksi di sana. China, Vietnam, dan Filipina diketahui mengklaim rantai pulau tersebut.

Oleh: Catherine Wong (South China Morning Post)

Baca Juga: Indonesia Perkuat Pertahanan Militer di Laut China Selatan

China dilaporkan telah mengirim armada dengan total 100 kapal untuk menghambat pekerjaan konstruksi Filipina di sebuah pulau yang disengketakan di Laut China Selatan.

Beijing mulai mengirim kapal ke Thitu, bagian dari rantai Kepulauan Spratly, menurut Asia Maritime Transparency Initiative (AMTI) yang dijalankan oleh Pusat Studi Strategis dan Internasional yang berbasis di Washington.

Armada kapal tersebut—yang dikirim dari Subi Reef di dekatnya—termasuk kapal-kapal dari angkatan laut dan penjaga pantai bersama dengan puluhan kapal penangkap ikan.

Laporan itu mengatakan bahwa kehadiran mereka adalah bagian dari upaya untuk memaksa Filipina menghentikan pekerjaan di pulau itu; pulau yang juga diklaim China.

Gambar satelit menunjukkan bahwa kapal fregat kelas V Jianghu Angkatan Laut China dan kapal penjaga pantai kelas Zhaoduan mengarungi Thitu pada 20 Desember 2018, ketika jumlah kapal China membludak hingga 95 unit.

Laporan itu mengatakan bahwa kapal perang China hanya berjarak sekitar tujuh mil laut dari kapal frigat Angkatan Laut Filipina, BRP Ramon Alcaraz, pada saat itu.

Pemerintah Filipina mengumumkan pada April 2017 bahwa mereka akan mulai membangun jalan landai di Thitu, yang dikenal sebagai Pagasa di Filipina dan pulau Zhongye dalam bahasa China.

Setelah selesai, jalan landai itu akan memungkinkan kapal-kapal Filipina membawa bahan-bahan konstruksi untuk memperbaiki dan memperpanjang landasan pacu di pulau itu, untuk mengakomodasi pesawat yang lebih besar.

Pekerjaan itu seharusnya sudah selesai pada akhir tahun lalu, tetapi para pejabat Filipina mengatakan bahwa itu telah tertunda oleh cuaca buruk dan laut yang bergejolak. Tetapi AMTI mengatakan bahwa kegiatan China juga berkontribusi pada keterlambatan tersebut.

Menteri Pertahanan Filipina Delfin Lorenzana mengatakan kepada Philippine Daily Inquirer pada Senin (4/2), bahwa jalan itu sekarang diperkirakan akan selesai pada kuartal pertama tahun ini.

“Masalah dengan Pagasa adalah bahwa Anda harus membawa semua yang Anda butuhkan untuk perbaikannya—batangan baja, pasir, kerikil, alat berat,” kata Lorenzana. “Anda membutuhkan jalan pendaratan untuk membawa ini… Jadi saya yakin itu harus selesai pada kuartal pertama tahun ini, jalan ini.”

Lorenzana juga mengatakan bahwa negaranya harus memprotes keputusan Beijing untuk membangun pusat penyelamatan di Fiery Cross Reef—sebuah pos terdepan yang diduduki China dalam rantai Kepulauan Spratly yang juga diklaim oleh Filipina dan Vietnam.

Mengutip gambar satelit, AMTI mengatakan bahwa jumlah kapal China di daerah itu telah naik setidaknya 24 unit pada 3 Desember 2018, sebelum pekerjaan konstruksi terbaru dimulai, dan naik menjadi 95 unit pada 25 Desember. Jumlahnya turun menjadi 42 pada 26 Januari 2019.

Lorenzana mengatakan pada bulan November 2018, bahwa Duta Besar China untuk Filipina sebelumnya mendesaknya untuk membatalkan rencana pekerjaan itu.

Tetapi penurunan jumlah kapal China menunjukkan bahwa “pasukan China telah membentuk sebuah pola pemantauan dan intimidasi, setelah pengerahan besar mereka di awal gagal meyakinkan Manila untuk menghentikan pembangunan,” kata AMTI.

“Tapi rencana itu terus menghadapi penundaan dan cakupannya jauh lebih sederhana daripada yang dilakukan oleh China atau bahkan Vietnam,” kata laporan itu.

Setelah proyek ini selesai, Filipina akan mengklaim kembali delapan hektar tanah di Spratly dalam beberapa tahun terakhir, dibandingkan dengan sekitar 120 hektar oleh Vietnam dan 3.200 oleh China, tambahnya.

Baca Juga: Operasi Kebebasan Navigasi AS Kalah di Laut China Selatan

Keterangan foto utama: Kapal Corvette Angkatan Laut China dengan tipe 056 terlihat di dekat Kepulauan Spratly pada bulan Januari 2019. (Foto: AMTI via SCMP)

Kirim Puluhan Kapal Perang ke Laut China Selatan, Beijing Intimidasi Filipina?

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top