Krisis Venezuela
Amerika

Krisis Venezuela: Juan Guaidó Cemooh Ancaman ‘Perang Sipil’

Berita Internasional >> Krisis Venezuela: Juan Guaidó Cemooh Ancaman ‘Perang Sipil’

Nicolás Maduro, presiden Venezuela yang dianggap tidak sah oleh sebagian dunia internasional, bahwa krisis di negaranya bisa memicu perang sipil. Namun ucapannya itu dicemooh oleh Juan Guaido, pemimpin oposisi yang oleh Amerika Serikat dan sebagian Uni Eropa dianggap sebagai presiden sementara Venezuela. Krisis Venezuela telah menciptakan protes besar-besaran yang menuntut agar Maduro turun.

Baca Juga: Krisis Venezuela: Siapa, Mengapa, dan Apa Penyebabnya?

Oleh: BBC News

Pemimpin oposisi Venezuela, Juan Guaido, telah menampik peringatan dari Presiden Nicolás Maduro bahwa Krisis Venezuela dapat memicu perang sipil. Guaido telah menyatakan dirinya sebagai presiden sementara dan memenangkan dukungan dari negara-negara besar termasuk Amerika Serikat.

Maduro mengatakan bahwa akan adanya perang atau tidak tergantung pada “kegilaan” Amerika Serikat dan sekutunya. Tapi Guaido mencemooh saran itu, menyebutnya sebagai “penemuan” saingan presidennya.

Pada hari Senin (4/2), tekanan semakin meningkat pada Maduro ketika lebih dari setengah negara yang membentuk Uni Eropa mengatakan mereka mengakui Guaido sebagai pemimpin sementara.

Hal itu terjadi setelah penolakan tenggat waktu yang ditetapkan oleh Inggris, Prancis, Jerman, Spanyol dan lainnya untuk Presiden Maduro agar mengadakan pemilu baru.

Dia bulan lalu disumpah untuk periode jabatan presiden kedua setelah pemilu yang kontroversial, para pemimpin oposisi tidak bisa bersaing dengannya karena mereka berada di penjara atau berusaha memboikot pemilu itu.

Sebagai tanggapan, Guaido, yang merupakan ketua Majelis Nasional Venezuela, mengatakan konstitusi memungkinkan dia untuk mengambil alih kekuasaan sementara ketika presiden dianggap tidak sah.

Mengapa perang sipil diangkat?

Guaido mengomentari sebuah wawancara yang diberikan Maduro pada hari Minggu (3/2).

Baca Juga: Apa Selanjutnya untuk Venezuela? Ini 4 Kemungkinan Terbesar

Saat ditanya di televisi Spanyol apakah krisis di Venezuela dapat menyebabkan perang sipil, Maduro mengatakan “tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan itu dengan pasti”.

“Semuanya tergantung pada tingkat kegilaan dan agresivitas kekaisaran utara (Amerika Serikat) dan sekutu Baratnya.

“Kami meminta agar tidak ada yang campur tangan dalam urusan internal kami … dan kami tengah mempersiapkan diri untuk membela negara kami.”

Amerika Serikat mengatakan penemuan militer tetap menjadi “pilihan”.

Namun dalam pidatonya pada hari Senin (4/2), Guaido mengatakan: “Tidak ada kemungkinan perang sipil di Venezuela, itu adalah ciptaan Maduro.”

Dia juga menuduh pemerintah Maduro berusaha untuk menaikkan dana publik ke Uruguay senilai $1,2 miliar, tetapi tidak menawarkan bukti.

Bagaimana seluruh dunia melihat krisis itu?

Setidaknya 17 negara Uni Eropa secara resmi mengakui Guaido sebagai presiden sementara Venezuela. Banyak yang mengeluarkan pernyataan yang mendesak Maduro untuk mengadakan pemilu baru.

Negara-negara Uni Eropa lainnya, seperti Yunani dan Irlandia, telah menuntut diadakannya pemilu baru namun tidak lagi mengakui Guaido.

Baca Juga: Donald Trump Mainkan Permainan Berbahaya dengan Venezuela

Sementara itu, Maduro tetap mempertahankan dukungan dari sekutu yang kuat, terutama China dan Rusia, yang menuduh negara-negara Uni Eropa mencampuri urusan Venezuela dan berusaha untuk “melegitimasi kekuasaan yang dirampas”.

Presiden Venezuela juga mempertahankan dukungan penting dari militer.

Dalam pidatonya, Guaido, yang sedang mencoba untuk mengorganisir pengiriman bantuan, mengatakan militer menghadapi “pilihan yang penting” ketika bantuan tiba di perbatasan.

Perwakilannya akan menjadi tuan rumah pembicaraan darurat mengenai pengiriman bantuan di konferensi yang akan diadakan pada 14 Februari di Washington, lapor AFP. Maduro telah menolak bantuan untuk masuk ke negara itu, mengatakan hal itu akan menjadi dalih untuk intervensi militer.

Mengapa tidak ada persatuan dari Uni Eropa?

Oleh Gavin Lee, reporter BBC Eropa

Uni Eropa biasanya tidak membuat keputusan apakah akan atau tidak mengakui suatu pemerintahan.

Walaupun telah mereka tindakan dari masing-masing negara anggota, upaya terkoordinasi oleh Inggris, Prancis, Jerman dan Spanyol untuk membujuk semua negara Uni Eropa untuk menunjukkan sikap yang sama.

Sejauh ini lebih dari setengah dari 28 negara anggota Uni Eropa menyatakan pengakuan mereka terhadap Guaido sebagai pemimpin sementara.

Baca Juga: PBB: Hadapi Krisis, 3 Juta Warga Venezuela Telah Bermigrasi Sejak 2015

Anggota Uni Eropa lain berhati-hati, khawatir tentang penetapan preseden untuk mengakui pemimpin yang memproklamirkan diri itu.

Pemerintah koalisi populis Italia terbagi, dan tidak mungkin mendukung rencana terkoordinasi karena para pemimpin setengah dari koalisi yang berkuasa, Gerakan 5 Bintang, telah menyatakan bahwa bukan “hak Uni Eropa untuk memberi tahu bangsa lain apa yang harus dilakukan”.

Apa latar belakangnya?

Maduro, yang menjabat pada tahun 2013 setelah kematian Hugo Chavez, telah dikecam karena dugaan pelanggaran hak asasi manusia dan karena penanganannya yang buruk terhadap ekonomi.

Ada kekurangan barang-barang dasar seperti obat-obatan dan makanan, dan tingkat inflasi tahun lalu sangat tinggi, menaikkan harga barang-barang sampai dua kali lipat di setiap 19 hari.

Banyak orang memilih untuk meninggalkan Venezuela.

Menurut angka PBB, tiga juta orang Venezuela telah meninggalkan negara itu sejak tahun 2014 ketika krisis ekonomi mulai berdampak.

Keterangan foto utama: Pemimpin oposisi Juan Guaido telah menyerukan protes massal terhadap Presiden Venezuela Nicolás Maduro pada Rabu (23/1). (Foto: EPA/Kristen Hernandez via Shutterstock)

Krisis Venezuela: Juan Guaidó Cemooh Ancaman ‘Perang Sipil’

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top